
"jika ketika kau lahir orang² tersenyum bahagian dan kau menangis dengan kencangnya, maka buatlah ketika kau pergi dengan tersenyum dan orang yang menangis"
–––––
tepat malam tadi, ayah Gunawan menghembuskan nafas terakhir, tentu itu membuat seluruh keluarga, dan orang terdekat merasa kehilangan, ayah memang dikenal sebagai pribadi yg ramah, sopan, dan sangat baik, tidak pernah mengenal drajat jika berteman, intinya semua orang sangat merasa kehilangan.
Sedikit tidak menyangka bahwa ayah Gunawan bisa mengidam penyakit itu, penyakit yang sungguh serius, Karna jika di lihat ayah selalu terlihat semangat, fresh, sepeti tak memiliki beban, tapi nyatanya, sungguh, pasti itu menyakitkan, dan tak mudah menyembunyikannya dari kedua anaknya, Karna memang, selama ini, hanya sang istri lah yg mengetahuinya.
Reyhan maupun Elisa sama sekali tidak mengetahui, jika ayah tidak drop lalu masuk rumah sakit, mungkin Elisa tidak tau sama sekali, kalau Reyhan, iya sudah mengetahuinya, tidak lama, sekitar beberapa hari sebelum ayah drop, daya tahan tubuh ayah sudah tidak bisa menahan nya lagi.
semua keluarga mengiklankan, karena jika mengingat bagai mana kehidupannya Gunawan sebelum wafat, semoga bisa menjadi tabungan amal nya untuk diakhirat kelak.
Beberapa keluarga sudah berdatangan ke rumah almarhum, sebagiannya lagi masih mengurus perpindahan dari rumah sakit.
hari sudah malam, namun orang² tak ada hentinya mengunjungi kediaman ayah.
tak terkecuali sahabat² dari Reyhan dan Elisa, mereka cukup dekat dgn ayah Gunawan, Karna yang tadi di bilang, ayah silatnya ramah, jadi para kaum muda itu mudah dekat.
sama halnya keluarga, sahabat Reyhan dan Elisa pun di buat terkejut, memang mereka tidak sering kerumahnya dan bertemu langsung dengan ayah Gunawan, jika berkunjung pun mereka pasti akan diam di kamar, tapi jika melihat sekilas, sungguh ayah terlihat seperti baik² saja.
Erin dan Jesi sudah berada di rumah keluarga Gunawan itu, mereka turut bersedih, Erin dan Jesi terus memberikan semangat kepada Elisa yg pastinya sangat terpukul.
(walau memang aku gak tau gimana rasanya di tinggal ortu, dan gak mau juga :(, tapi aku bisa ngerasain perasaan Elisa, pasti sakit, banget!, aku pernah di tinggal sama keluarga aku yang aku sayang bgt, dan itu sakit dan sedih nya sampel sekarang, kalo nginget² bisa nangis nangis, tapi itu lah hidup, harus di jalani, ya..... kita yang masih hidup cuma bisa kirim doa untuk yang sudah lebih dulu pergi kan?,'dan sadar kalo kita juga cepat atau lambat pasti juga akan pergi :))
"ayah......." ucap Elisa yang enggan berpindah dari samping makam zenazah.
"yang sabar ya El, ayah Lo pasti udah tenang di surga sana" terang Jesi yang sungguh tak tega melihat Elisa seperti ini.
"iya El, mending doa in dari pada nangisin" timpal Erin.
Elisa tak bisa menjawab, iya hanya mengangguk lalu tersenyum, sungguh sahabatnya itu sangat mengerti.
tiba² Alandra datang, Jesi yg sebelumnya duduk di sebelah kanan Elisa berpindah ke sebelah Erin yang berada di sebelah kiri Elisa.
__ADS_1
Alandra mengelus puncak kepala Elisa, "kita ke kamar yok, tidur, besok harus bangun pagi²" ucap Alandra memberi pengertian.
Elisa memandang suaminya dengan harga tatapan sayu, Alandra tau Elisa pasti tidak ingin jauh dari ayahnya, tapi Elisa juga harus istirahat.
"iya El, kita juga mau pulang kok" ucap Jesi diangguki oleh Jesi. "besok kita Dateng pagi²" lanjutnya dengan senyum manis.
Elisa mengangguk "kalian pulang hati², tapi besok kalo kalian Dateng gak sekolah dong" ucap Alandra pada sahabat istrinya itu.
"gak usah sekolah aja deh kayaknya kak, nanti minta izin, palingan temen² yg lain nanti Dateng" jawab Jesi lalu pulang bersama Erin, mereka pulangnya pake mobil Jesi, lagi pula gak jauh masih satu komplek sama kediaman Elisa, cuma beda blok.
sebelum itu Jesi dan Erin berpamitan pada sahabatnya itu.
"kamar ya" bujuk Alandra lagi "apa makan dulu?" tanya Alandra mendapatkan gelengan dari Elisa.
"yaudah yu" langsung saja Alandra memapah Elisa menuju kamar yg dulu istrinya tempati sebelum menikah.
dan keadaan di bawah masih di datangi banyak orang, orang² bergantian mengaji dan mendoakan almarhum.
di kamar Alandra tak henti² menenangkan Elisa, sekarang Elisa mulai terlelap dalam pelukan sang suami, Alandra terus mengelus punggung Elisa, sesekali Elis terisak, Alandra terus mencium puncak kepala Elisa sampai keduanya bisa terlelap.
07:00
Elisa sudah menggunakan pakaian serba hitam, begitu juga dengan yg lain.
pukul 9 nanti rencananya ayah akan di kebumikan, di makam keluarga yang tak jauh dari kediaman, tepatnya di tanah kosong yang berjarak 100 meter dari rumah.
orang² terus berdatangan, tak terkecuali teman² sekolah dari Elisa, dan teman² Reyhan.
Elisa tak berhenti menangis di pelukan suaminya, begitu juga bundanya, bunda Laila dipeluk dengan kencangnya oleh sang putra.
Reyhan sekuat tenaga menahan air matanya yg ingin jatuh, ia tak ingin bundanya tambah lemah melihat tangisnya, walau sesekali tanpa izin air mata itu menetes, mana ada anak yang tak menangis ketika di tinggal oleh orang tuanya.
teman² berdatangan, teman seangkatan dan beberapa kakel, sebagai perwakilan OSIS.
__ADS_1
Wajah sedih tampak dari anak muda berpakaian SMA itu, berubah menjadi raut wajah bingung, melihat kedekatan Elisa dan Alandra, mereka tak menyangka, kedekatan mereka sudah sampai sedekat ini, terkecuali Ja'far dan Jaka yang sudah mengetahui itu, gio? dia hanya diam memasang wajah tak peduli.
awalnya gio menolak ikut, tapi Karna paksaan guru nya jadilah ia ikut, itu guru kenapa maksa dah, dipaksa itu kan gak nak:).
Sebentar lagi ayah akan di sholat kan, Elisa sudah berada di di kamar bundanya dengan beberapa keluarga, dan mamah mertuanya -mamah Alandra.
sebenarnya para teman² di sekolah sebagian udah tau kedekatan Elisa dan Alandra, tapi gak nyangka aja gitu sampel dekat sama keluarganya, padahal kan:)......
sekarang ayah ingin di tidurkan di peristirahatan terakhirnya, di sana udah ada beberapa makam, salam satu ya kedua orang tua ayah, atau neneknya Elisa.
Elisa berjalan sambil di pegangin kuat oleh kedua sahabatnya, Alandra ikut mengangkat kranda jenazah.
ketika sudah di kuburkan, Alandra sambil memeluk Elisa menaburkan bunga, Elisa terus menangis tanpa henti, tak terasa Alandra juga meneteskan air mata, memang Alandra belum mengenal lama ayah mertuanya itu, tapi setiap bertemu, Alandra selalu melihat ayah mertuanya seperti papah namun sendiri, bunda sendiri, tak sanggup ikut, Reyhan sedang di peluk oleh Tante Diana adik dari ayah Gunawan, pasalnya setelah di masukan ke dalam kubur, lalu di tutup kembali dengan tanah, seketika Reyhan menangis, padahal ia menahannya sedari tadi, padahal Reyhan berpikir untuk tidak menangis sekarang, nanti saja di kamar, tapi ia sudah tak sanggup lagi menahan ya.
lelaki yg selama ini menjadi contoh untuknya, memberikan panutan, motifasi, dan semangat kini telah pergi selama² nya.
lelaki yang menjadi cinta pertama bagi Elisa, lelaki yg paling mencintainya sejak sebelum lahir, memberikan segalanya, kehangatan, kenyamanan, kebahagiannya.
Elisa dan Reyhan berpikir, lelaki dari kecil memenuhi keinginan mereka, bagai mana dulu lelaki itu membantu mereka berjalan, menguatkan ketika sedang berada di titik terbawah, lelaki yang mementingkan kehidupan mereka sebelum mementingkan kehidupannya. sekarang sudah pergi selama² nya..............
Reyhan bertekat, akan menjaga, adik serta bundanya, ia sungguh tak ingin di tinggalkan lagi.
cukup ayah yang pergi bunda jangan, batin Reyhan mengingat sang bunda.
Hay guys maaf nih lama:')
makasih yg udah nunggu, yg udah like:)
***yang nanya ceritanya up gak? up kok
tapi lagi seret aja otak aku.....
terus tiap Minggu ada aja hafalan sekolah......
__ADS_1
sedikit cerita sebenarnya aku sekolah gak sekolah umum, aku pondok pesantren, tapi bukan yang ngasrama, pulang pergi gitu.... aku sih sekolahnya siang, pagi di rumah, tapi gak bisa nulis juga, paling kalo pagi tuh ya beres² atau gak ngehafal, dan tau lah hafan anak pesantren, tapi aku usahain lebih sering oke;)
oke segitu aja Bey**: