Pedang Iblis

Pedang Iblis
Insiden Sepuluh Juni


__ADS_3


Guntur datang terlambat ke titik pertemuan karena sakit perut paginya yang mendadak. Di sana sudah ada Farel yang tengah bersandar digerbang merah raksasa, ditemani oleh Kale serta Gabriel. Mereka adalah kelompok kecil dari cabang cina yang akan menyelamatkan Indonesia dari kehancurannya.


"Kita akan bertemu dengan kelompok cabang Indonesia dan merencanakan pertahanan kita disana." Ucap Kale. "Semoga kita bisa kembali bertemu disini."


Farel dan Guntur mengangguk, sementara Gabriel tertawa. "Mari kita berikan Seimei Abe satu pelukan hangat." Ucapnya.


Mereka berempat kemudian melakukan titik lompat tanpa menyadari kalau Keshi sedang memperhatikan mereka semua dari jarak yang jauh.


18 jam sebelum serangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Menantuku bersama cucuku mati dibunuh iblis."


"Anakku kemudian pergi meninggalkan rumah ini karena dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian dihari itu. Sementara aku bersumpah untuk melindungi lembah ini sambil terus menunggu kepulangannya yang tak menentu."


"Tadinya ku pikir kau anakku, makanya aku menyelamatkanmu." Jujur Usugurai. "Tapi itu bukan berarti aku menyesali perbuatanku. Aku bersyukur telah menemuimu."


"Karena tanpa disadari, rasa rindu pada anakku perlahan sembuh ketika melihat kegigihanmu." Ungkap Usugurai. "Dari pagi kepagi berlatih, tak satu lukapun kau dapatkan. Kau memang spesial."


Arka terkekeh kecil, lalu menatap bulan purnama. "Aku akan pergi saat tengah malam tiba."


"Aku tahu. Kembalilah saat negerimu sudah terselamatkan." Pinta Usugurai. "Ada satu teknik terakhir yang ingin kuajarkan padamu."


1 detik sebelum penyerangan.


Energi jiwa Arka tiba-tiba berubah drastis. Tanpa berpamitan, pria asing yang tadi duduk disampingnya itu pergi meninggalkan Usugurai sendiri.


"Onimaru?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pedang Onimaru yang disegel di lemari kaca tiba-tiba saja melesat keluar dari akademi sihir dengan menghancurkan semua permukaan yang menghalangi jalannya. Pedang itu seolah ditarik oleh seseorang dari jarak yang sangat jauh, Tanpa mendeteksi energi jiwanya, Keshi sudah tahu betul siapa pelakunya.


"Dia masih hidup." Ucap Keshi. Emosinya meningkat drastis dengan hanya mengingat senyuman tengilnya. "Onimaru Yasutsuna... Dia masih hidup!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kelompok gabungan akademi yang terdiri dari Farel, Guntur, Kale, Gabriel, juga Gere sedang beradu tatap dengan Seimei Abe berserta iblis-iblisnya.


Krakatau yang kini sebesar gedung, berdiri di depan Seimei Abe, sementara Kadita terbang jauh dibelakang tubuhnya untuk berjaga-jaga.


Jakarta ombang-ambing, Banyak daerah kuasanya hancur merata. Pihak militer pun kewalahan, mengamankan presiden menjadi prioritasnya. Namun karena itu, banyak nyawa melayang.


Seimei Abe telah menunjukkan kekuatannya pada dunia. Mereka sudah memberikan serangan pembuka, sekarang mereka berencana untuk mengulang insiden Aceh.


"Serahkan pedang iblis Onimaru pada kami, atau Jakarta akan tenggela--"


Mantra pelindung dibelakang leher Seimei Abe tiba-tiba aktif. Sepertinya tamu tidak diundang telah tiba. "Kau kira aku tidak akan menaruh pelindung di bagian vitalku, Onimaru?"


Garis wajah kelompok gabungan akademi tiba-tiba kembali cerah. "Itu Arka!" Seru Guntur.


Melihat Krakatau yang hendak membantu Seimei Abe, Kale dan Gabriel langsung berlari kearahnya untuk menahannya diikuti oleh penyihir-penyihir lain.


"Jangan dekati aku!" Krakatau menciptakan sebuah ledakan besar yang mampu membuat seluruh kelompok gabungan terpental jauh. Iblis berkepala gunung api yang satu ini tergolong sebagai iblis kelas spesial, sehingga ia mampu menyusahkan para penyihir kelas atas.


Seimei Abe yang tau bahwa dirinya sedang dalam kondisi buruk, kemudian berteleportasi menjauh, lalu menoleh kearah Kadita yang sudah dalam kondisi tidak berkepala.

__ADS_1


"Kau cekatan." Puji Seimei Abe.


Onimaru hanya tersenyum, kemudian kembali menebaskan pedangnya.


Seimei Abe lagi-lagi kabur dengan berteleportasi, ia lalu memanggil Susanoo dari ruang hampa.


"Bekerja samalah denganku, Onimaru. Bersama-sama, kita bisa menjadi yang terkuat!" Bujuk Seimei Abe.


"Ogah." Tolak Onimaru. "Mimpimu konyol! pengecut sepertimu mana bisa menjadi yang terkuat."


"Pengecut?" Seimei Abe merasa terhina. "Susanoo, tolong bunuh dia."


Susanoo mengangkat pedangnya, lalu melesat kearah Onimaru. Keduanya saling mengadukan senjata mereka, menciptakan guncangan besar di kota Jakarta.


"Gawat! Walaupun kita memenangkan pertarungan ini, kita tetap tidak bisa mengurangi skala kerusakannya!" Ucap Farel.


"Tenang. Pak Agung dan Pak Asep sudah memasangkan tirai dewi di sudut-sudut kota." Sahut Kale.


"Tapi serangan Susanoo pada hari itu bisa merusak tirai kalian, bukan?" Bingung Guntur.


"Tirai kali ini 3x lebih kuat karena Pak Agung yang memasangnya." Terang Gere. Mereka berencana untuk mengurung iblis-iblis ini di Jakarta selatan. Memperkecil radius sebisa mungkin, untuk memperkecil tingkat kehancuran.


Reisya berlari, meloncat, dan menyelinap dari rumah kerumah untuk mengevakuasi para warga yang berada di sekitar Andara. Dia memanfaatkan teknik titik lompat untuk meneleportasikan para warga ke luar tirai dengan tepukan.


"Sebisa mungkin, sebanyak mungkin!!" Batin Reisya.


Badai ribut kembali menggelegar. Onimaru dan Susanoo sedang bertarung sengit diatas langit. Walau sebenarnya, pertarungan itu lebih didominasi oleh Susanoo yang bisa menyerang dari jauh.


Onimaru hanya bisa bertahan dengan mengandalkan regenerasinya. Berbeda dengan para penyihir yang memperlukan teknik pembalik, Onimaru hanya menggunakan energi jiwanya untuk menyembuhkan luka mati. Hal tersebut bisa terjadi karena Onimaru adalah iblis, dan semua iblis adalah perwujudan dari energi jiwa negatif. Sehingga mereka bisa menyembuhkan raganya yang fana hanya dengan memanipulasi energi.


"Menyerahlah, Onimaru!" Bujuk Seimei Abe, lagi.


Onimaru terdiam karena dia sedang berpikir keras untuk bisa membalik keadaan. Kematian dan fisik manusia benar-benar membataskan kekuatan murninya. Kepalanya juga melupakan teknik-teknik kuat yang pernah ia miliki.


Onimaru tertawa terbahak-bahak ditempatnya, lalu berkata: "Akan kubuat teknikku sendiri."


Onimaru meluruskan pedangnya keatas langit hitam, kemudian memerintahkan seluruh energi jiwa negatifnya untuk bergerak secara kasar ke ujung pedang.


Susanoo yang menyadari niat Onimaru, kemudian melesat kencang kearahnya.


"Tebasan iblis penembus surga, Onimaru Tenshou!!!"


Onimaru mengayunkan pedangnya kearah Susanoo, tepat sebelum Susanoo menusuknya dengan pedang spiral.


Awan terbelah, memperlihatkan bulan purnama yang sedang terbenam.


Susanoo dimurnikan oleh sesosok iblis. Menyisakan Seimei Abe seorang diri dihadapan Onimaru.


"Skakmat." Ucapnya.


Seimei Abe tertawa, kemudian berkata. "Ak--"


*ZUMMMMMMMNNNN


Krakatau bertubuh raksasa yang sedang meneror Jakarta tiba-tiba lenyap. Kelompok gabungan pun kebingungan.


Dengan mengumpulkan energi jiwa yang cukup, Keshi bisa meledakkan kepala Seimei Abe dengan tekniknya.


"Kita bertemu lagi, Onimaru." Sapa Keshi.

__ADS_1


Kesal karena Seimei Abe dibunuh oleh orang lain, Onimaru pun jengkel. "Enyah dari hadapanku, uban."


"Mari kita selesaikan permainan kemarin." Ajak Keshi.


Tanpa aba-aba, Onimaru langsung menebas dada Keshi. Namun itu tidak menyelesaikan pertarungan, karena Keshi telah mempelajari sihir pembalik dari Yuna khusus untuk pertarungan ini.


"Jangan buru-buru, aku ingin menikmati pertarungan ini." Keshi menciptakan ledakan energi jiwa dari telunjuknya, membuat Onimaru terpental jauh dan menembus gedung-gedung di Kemayoran.


"Gawat! Itu guru Keshi!" Seru Guntur. Membuat semua orang disekitarnya menoleh ketitik yang sama.


"Sial, mereka akan melanjutkan pertarungan kemarin!" Kale dan Gere lari terburu-buru mendekati zona pertarungan itu.


"Percuma." Ucap Gabriel. "Kita tidak bisa melerai dua monster."


Farel yang tadi merenung, kini berlari menuju lokasi Agung. "Jika kita tidak bisa melerai kedua monster, kita harus meminta bantuan kepada monster lain." Pikirnya.


"Pak Agung!" Panggil Farel.


"Farel, ada apa?"


"Kau harus membebaskan guru Kenny!" Pintanya. "Sekarang!"


Agung melirik ke gedung-gedung yang berjatuhan, ledakan yang terdengar berulang-ulang, energi jiwa yang saling bertukar kekuatan. Ia menyadari betapa gentingnya kondisi Jakarta sekarang. Ia pun mengeluarkan kubus kecil dari sakunya, lalu memperbesar ukurannya menggunakan sebuah mantra.


"Maaf." Bisik Agung. "Aku membebaskanmu, Kenny."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


2 jam setelah penyerangan.


Amarah, kebencian, juga dendam yang disimpan begitu lama, diluapkan oleh kedua pihak dalam satu pertarungan. Mereka benar-benar saling melukai dengan tujuan membunuh dan menghancurkan.


Kelemahan dari teknik pembalikan adalah otak dan stok energi jiwa. Saat otaknya di rusak, dan energi jiwa habis, tamat riwayat sang perapal. Namun, Keshi mampu menghindari semua serangan Onimaru yang mengarah ke arah kepalanya dan mengisi ulang energi jiwanya dengan kemampuan mata dewa. Membuat pertarungan itu berlangsung lama, dan tidak dapat dihentikan.


Mereka kembali mengadukan serangan, kemudian terpental jauh. Keduanya lalu saling menatap dari dua gedung yang berbeda.


"Eramu sudah berakhir, Onimaru." Cecar Keshi.


"Takkan berakhir kalau aku masih ada disini." Balasnya.


Mereka sama-sama tersenyum. Mereka menikmati momen ini.


Mereka berdua kemudian melesat ke arah satu sama lain. Namun, seseorang muncul ditengah-tengah mereka, dan menjatuhkan salah satunya dengan teknik sihir.


Keshi memelotot ketika menyadari siapa orang itu. "Kenny?!"


"Kenapa kau menghancurkan kotaku?" Suaranya begitu dingin, membuat mental Keshi surut begitu saja. "Dengan absennya kehadiranku, bukan berarti kau bisa seenaknya diwilayahku."


"Maaf."


"Maaf tidak akan cukup." Tolak Kenny. "Berikan aku matamu."


"Mataku?!"


Kenny berteleportasi kedepan wajah Keshi, lalu mencekiknya dengan agresif. "Kau adalah pengguna tidak becus. Kau tidak berhak memilikinya."


"Lalu, kau merasa berhak?" Argumen Keshi. "Penyerangan di Malaysia, kau--"


"Aku sudah menerima hukumanku." Potong Kenny, ia memperkencang cekikannya. "Sekarang giliranmu, Keshi."

__ADS_1


Kenny mencabut kedua mata Keshi, lalu pergi meninggakannya dalam keadaan buta.


Akhir yang mengenaskan untuk seseorang yang di berkahi. Dikalahkan, direndahkan oleh orang yang lebih diberkahi.


__ADS_2