
Gerbang merah yang menjulang tinggi, tangga-tangga yang begitu banyak, patung dewa dewi terpajang di setiap sudut. Teletak di atas bukit, dekat sebuah desa.
Akademi sihir cabang cina, mereka sudah sampai.
Arka dan teman-temannya diminta untuk langsung bertemu dengan Keshi yang sedang menunggu di aula utama. Untuk menuju kesana, mereka harus melewati banyak tempat. Mulai dari asrama, lapangan-lapangan kecil yang dipakai para murid untuk berlatih, lapangan utama yang digunakan untuk acara formal (seperti turnamen antar murid), kantin, dan lain sebagainya. Jumlah murid di akademi ini jauh lebih banyak dibandingkan jumlah murid akademi sihir cabang Indonesia yang mampu dihitung dengan jari. Hal ini terjadi karena banyaknya fenomena gaib yang melanda Asia timur. Walau begitu, mereka tetap menjadi rahasia. Batas antar dunia masih terjaga.
Gabriel mengetuk pintu Aula, lalu pintu itu pun terbuka. Mereka semua masuk kedalam sana membawa tas dipunggungnya.
"Guru." Panggil Gabriel. Pria itu kemudian membungkukkan badannya dihadapan pria muda, lalu menyingkir dari tempatnya tadi berdiri.
Terlihat lelaki berambut putih, dengan gaun putih suci yang menyapu lantai, tengah berjalan menghampiri Arka juga teman-temannya.
"Selamat datang di akademi sihir cabang cina. Perkenalan, namaku Keshi."
Arka dan teman-temannya nampak terkagum-kagum. "Salam kenal, namaku Farel."
"Guntur."
"Salam kenal juga, saya Arka."
"Wadah Onimaru, ya?" Tebak Keshi. "Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa Kenny menunda eksekusimu. Tapi setidaknya, dengan begitu kita bisa bertemu hari ini."
Arka tertawa canggung, mereka kemudian membahas peraturan yang ada di akademi ini, walau kurang lebih sama dengan di Indonesia.
Mereka lalu di antarkan Gabriel ke kamar asrama mereka yang disatukan. Tidak ada lagi privasi, ketiganya akan semakin dekat karena kurangnya sisa kamar diasrama itu.
"Nanti siang kita akan mulai pelatihannya. Untuk sekarang, nyamankan diri kalian." Pamit Gabriel.
Mereka bertiga kemudian saling tatap. Bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Siang hari telah tiba, pelatihan khusus pun dimulai.
Keshi datang dengan atasan tanktop hitam, celana gombrong putih sebagai bawahan yang membuatnya bebas menggerakan seluruh bagian tubuhnya.
Pria berambut putih itu akan mengajarkan masing-masing dari mereka rasa takut yang baru.
"Hadapi aku dengan seluruh kekuatanmu, Guntur."
Guntur maju dengan kecepatan petirnya, namun Keshi mampu menangkis tiap serangan Guntur dengan sempurna. Pria itu belum memperlihatkan teknik yang ia kuasai, namun tetap saja ia bisa bertukar serangan dengan Guntur.
"Gunakan Soul-mu secara totalitas, jangan takut kehabisan energi jiwa." Nasihat Keshi ditengah pertarungan. "Memang dengan menggunakan Soul, sebagian energi jiwamu akan pergi meninggalkan tubuh, tapi itu bukan berarti seranganmu menjadi terbatas. Kreatiflah dalam memberikan serangan."
Guntur mengeluarkan Soulnya, namun Keshi langsung menemukan kejanggalan.
"Kau tidak bisa mengeluarkan Soul-mu secara menyeluruh?" Tanyanya.
__ADS_1
"Energi jiwaku tidak cukup. Kalau aku mengeluarkan semuanya, aku bisa pingsan." Terang Guntur.
Keshi mengangguk paham, lalu berkata: "Kau memperlukan energi jiwa tambahan."
"Bagaimana caranya?"
"Kau bisa memakan benda terkutuk. Kebetulan kita memiliki beberapa." Ucap Keshi. "Gabriel akan mengantarkanmu kesana, setelah itu kau bisa beristirahat. Kita lanjutkan besok saat energi jiwamu sudah meningkat drastis."
Guntur menurut, lalu pergi mengikuti Gabriel.
"Siapa selanjutnya?" Tanya Keshi.
"Aku." Farel berdiri, lalu berjalan kehadapan sang guru.
"Oh." Keshi terlihat seolah baru menyadari sesuatu. "Kau dari klan Enka, ya?"
"Benar." Jawab Farel, singkat. Dia tidak terlalu menyukai pembicaraan soal klan itu. Karena yang bisa ia ingat hanyalah sebatas kilasan memori yang mengatakan bahwa ayahnya pergi meninggalkannya. Lalu beberapa hari berikutnya, Kenny datang dan membawanya ke akademi.
"Apa kau menguasai teknik itu?"
"Tidak. Tidak ada yang pernah mengajariku." Jujur Farel.
"Sangat disayangkan." Ucap Keshi. "Kalau begitu, teknik sihir apa yang kau kuasai?"
Farel mengaktifkan teknik sihirnya yang merupakan tinju api.
"Itu saja?" Keshi terlihat kecewa. "Tidak bisa menggunakan teknik itu, dan hanya menguasai teknik rendahan seperti ini? Apa potensi yang dilihat olehmu, Kenny?" Batin Keshi.
Farel mengangguk, kemudian memasang kuda-kudanya. Kuda-kuda itu sangat mengerikan, seolah memberitahu lawannya bahwa dia menguasai teknik pertarungan yang luarbiasa hebat. Keshi pun menjadi lebih was-was. Selemah apapun teknik sihir pemuda dihadapannya ini, Kenny melihat potensi tersembunyi didalam dirinya. Keshi harus berhati-hati.
Farel maju dengan tendangan yang diikuti tendangan lain. Api keluar dari kakinya.
"Hmmmmm, gaya bertarungnya memang unik. Tapi ini masih belum cukup." Batin Keshi. Saat ia berusaha menghentikan pergerakan Farel, lelaki itu merubah gerak lajunya, dan mempercepat lemparan pukulannya.
Keshi terpaksa menghindar, ia kemudian melakukan beberapa salto kebelakang untuk menjaga jaraknya dari Farel. Namun pemuda api itu ternyata masih mengejarnya. Satu hantaman kuat yang mengarah ke wajah Keshi hampir membunuhnya. Untung saja ia bisa menghindari serangan itu akibat kekuatan matanya yang bisa memprediksi masa depan.
"Api itu bisa dikonversi menjadi ledakan, dan bila tingkat kekuatan juga level panasnya ditingkatkan, dia bisa menjadi lebih kuat dan lebih cepat." Simpul Keshi, semua itu ia perhitungkan dalam waktu yanh singkat di benaknya.
"Selain itu, perpaduan antara sihir dengan teknik bertarungnya juga sangat pas. Kenny, kau memiliki murid-murid yang hebat!"
Keshi kemudian mengakhiri pelatihan dengan menyengkat kaki Farel yang digunakannya sebagai penumpu.
"Besok, kita akan melatih sihir apimu." Ucap Keshi.
Farel kembali berdiri, kemudian menjabat tangan Keshi.
Arka memperhatikan itu semua dari jauh. Dia tidak dilatih dengan Keshi. Dia dilatih dengan seorang guru tua bernama Kojiro.
__ADS_1
"Kita akan menunggu teman latihanmu." Ucap Kojiro. "Mohon bersabar sebentar lagi."
Arka mengangguk, kemudian kembali menunggu. Mereka saling diam diruangan itu, walau murid-murid lainnya terdengar berisik di luar ruangan.
Arka merasa tidak disukai oleh orang-orang sini. Tatapan mereka merendahkan, cara bicara mereka tidak mengenakan, bisikan-bisikan para murid setiap melihatnya pula sangat berisik. selain itu, ia khawatir akan tertinggal jauh dari teman-temannya, namun ia masih berusaha untuk berpikir positif dan tetap melanjutkan pembelajaran.
*Grekkk
Suara pintu yang digeser membuat keduanya menoleh. Seorang pria berambut hitam dengan poni dibelah dua, menatap balik keduanya. "Maaf, aku terlambat."
Arka berdiri kemudian membungkukkan badannya. "Salam kenal, namaku Arka."
Pria itu melakukan hal serupa. "Aku Kale. Aku juga mantan murid Kenny." Balasnya. "Sepertinya kita tidak sempat bertemu, apakah kau sudah bertemu dengan teman-temanku?"
Arka mengangguk. "Mereka orang-orang hebat."
Kale tersenyum, kemudian mencabut katananya dari selongsong. "Ayo kita berlatih."
Arka kembali mengangguk, lalu mengangkat pedang Onimaru Yasutsuna yang tadi ditidurkan disebelahnya.
Mereka berjalan keluar dari ruangan, pedang iblis di tangan Arka mencuri pandangan dari murid-murid disana. Lihat itu, mereka kembali berbisik.
"Sejujurnya, aku juga baru mendapatkan pedang ini. Jadi aku juga masih awam dan baru mempelajari beberapa teknik pedang." Ungkap Kale. "Apakah menurutmu kita harus menahan diri?"
"Tidak." Jawab Arka. "Serang aku dengan niat membunuh. Hanya dengan begitu, aku akan benar-benar terlatih."
Kale tersenyum, karena ia merasa bahwa ia telah menemukan partner berlatihnya.
Sesaat setelahnya, Arka terbangun di UKS.
"Apa yang terjadi?"
"Dadamu terbuka lebar, semua organmu terbelah dua." Jawab seorang perempuan. Dia berpakaian seperti seorang dokter. "Perkenalkan, namaku Yuna."
Arka melirik kearah wanita itu, lalu kembali menatapi langit-langit. Ia tidak benar-bebar mengingat pertarungannya tadi. Apakah dia benar-benar kalah telak?
"Berapa lama lagi sisa waktuku?" Tanya Arka. dia mengira kalau dia akan mati.
Perempuan itu menertawai pertanyaan lugu Arka. "Kau sudah sembuh."
Arka mengerutkan dahinya. "Tapi kau bilang..."
"Teknik pembalikkan." Potong Kale yang baru datang.
Teknik pembalik adalah teknik sihir yang mengembalikan kondisi tubuh kita seperti sedia kala. Perlu dicatat, tidak semua penyihir bisa melakukannya, dan yang bisa melakukannya pun belum tentu bisa mempraktekannya kepada orang lain seperti Yuna. "Kau terlihat sehat. Siap berlatih lagi?"
Arka mengangguk, lalu berdiri di bantu Kale. "Kemarin, kau sudah bertarung dengan baik." Ucap Kale.
__ADS_1
Mendengar itu, garis wajah Arka langsung berubah. "Ke-- kemarin?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...