Pedang Iblis

Pedang Iblis
Luticia


__ADS_3

Malam hari setelah pertarungan dibawah hujan, Arka terbangun dalam keadaan terikat oleh rantai besi. Dia sedang berada di ruang tahta Lucius Nox Fleuret, dikelilingi oleh keluarga Lucius sendiri. Onyx ada disana, dan terlihat ada dua gadis lainnya. Mereka terlihat sedang berdebat. Lebih tepatnya Lucius dan Onyx.


"Kurung dia dalam sel, sampai kau berhasil mendapatkan pedangnya!" Bentak Lucius. "Interogasi dia setiap hari, siksa kalau tidak menjawab!" Timpalnya.


Onyx menuruti kemauan ayahnya, lalu memerintahkan pasukan berzirahnya untuk membawa Arka pergi dari sana.


"Jangan sentuh aku!" Rewel Arka, meronta-ronta. Dia membuat pasukan-pasukan Onyx kewalahan dan terpaksa bermain kasar.


Dari dua gadis Lucius yang menyaksikannya, satu berkomentar. "Jangan sakiti dia!"


Lucius mendelik kearahnya, lalu berkata. "Kau tidak mengenalnya, Luticia! Jangan ikut campur!"


Gadis bernama Luticia (dibaca lutisia) itu pun terdiam diposisinya. Gadis lain disebelahnya yang merupakan saudarinya nampak menenangkan Luticia dengan memberikannya satu pelukan hangat dibelakang pundak.


Arka kemudian ditarik layaknya seekor anjing. Luticia dan saudarinya hanya bisa menatapi kepergian Arka dengan iba, sementara Onyx pamit dengan raut wajah kecewa. Kecewa kepada Lucius, ayahnya sendiri, yang sedang duduk angkuh di atas tahtanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jojo meraba pelan perban putih yang terikat di perutnya. Luka itu adalah luka pertama yang ia terima. Tidak seharusnya Luka itu berada disana. Tidak seharusnya mereka kalah dalam pertempuran itu.


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri." Ucap Shiro yang baru saja datang keruangan Jojo. Mereka sedang berkumpul di Apartement Lighthouse, markas Seinaru.


Shiro terluka dibagian pundak akibat tembakan senapan Scarlett. Scarlett langsung membantu Onyx saat Kira sudah berhasil dilumpuhkan. Sekarang Kira sedang dalam kondisi sekarat. Kemungkinannya untuk selamat sangat kecil.


"Onyx Lucis Caelum." Sebut Jojo. "Kekuatan apa yang dia punya?"


Shiro nampak murung ketika mengingat wajah Onyx. "Anti sihir."


Jojo nampak terkejut, dan merasa kalau semuanya semakin masuk akal. "Bagaimana cara kerjanya?"


"Aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya, tapi hanya dengan kekuatan fisiklah, kita bisa menang melawannya." Ucap Shiro. "Maaf tidak memberitahukan semua ini lebih awal."


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. "Mereka sudah datang." Ucap Farel.


Satsujin Mashin, adalah mereka yang Farel maksud. Satsujin Mashin merupakan sebuah kelompok pemburu iblis yang bergerak langsung dibawah pemerintahan Saint Angel. Mereka datang untuk membantu Seinaru dalam menentang habis sentralisasi Lucius. Mengingat kalau pasukan Shiro sudah terbabat habis oleh Phoenix.


Satsujin Mashin diketuai oleh Gindaijin Satoru. Pria muda berpakaian brandal yang akrab dipanggil dengan sebutan Gin itu adalah seorang jenius. Membuat dia dan kelompoknya menjadi satu-satunya kelompok pemburu iblis pengguna teknologi canggih.


Tembakan yang berenergi cahaya, pedang lipat, juga sebuah pisau yang dikombinasikan dengan mantra teleportasi. Mereka datang dengan persenjataan yang terbatas, namun pas untuk menghadapi pasukan senapan serbu milik Phoenix.

__ADS_1


Mereka juga membawa kelompok medis yang mampu menyembuhkan luka fatal Kira dan Guntur, juga pasukan-pasukan Seinaru lainnya yang masih selamat.


"Jadi, kalian adalah kiriman dari akademi sihir?" Tanya Jojo, kepada Farel yang sedang mengawasi Guntur dari kejauhan.


"Benar. Maaf kami tidak banyak membantu." Ucap Farel.


"Tidak, bukan salah kalian." Sergah Jojo. "Tidak seharusnya aku jatuh duluan."


Farel melirik Jojo, lalu kembali menghadap depan. "Kau mengenal Arka?" Tanyanya, setelah hening sesaat.


"Ya. Dia anak yang kuat." Ucap Jojo. "Aku harap dia sedang baik-baik saja diluar sana."


"Dia pasti baik-baik saja." Tegas Farel.


Jojo tertawa, lalu menoleh kearah Farel. "Kau dari klan Enka, kan?"


Farel mengangguk.


"Wah, kukira sudah punah." Celetuk Jojo. "Apakah kau menguasai teknik itu?"


Farel menggeleng. Membuat Jojo menghela napasnya karena merasa sedikit kecewa. "Kau tentu tahu, kan? Kalau teknik itu hanya memanfaatkan kekuatan otak."


"Memangnya kau pernah bertemu dengan anggota klan Enka?" Farel penasaran.


"Aku sempat berteman dengan salah satunya. Dia adalah orang yang kuat. Tapi sayangnya dia mati, dibunuh oleh seorang penyihir." Ucap Jojo. Diwajah Jojo, terlukis dendam tipis yang mendalam. "Aku ingat sekali wajah penyihir itu. Dan aku sangat membenci wajah tengilnya."


"Aku sungguh minta maaf." Sahut Farel.


"Tidak apa. Aku cuma bercerita." Jawab Jojo. "Kau harus menguasai teknik itu, Farel."


"Jangan pernah lupakan asal usulmu. Jangan biarkan mereka mati." Nasihat Jojo. "Wariskan teknik itu kepada anakmu, dan ulang seluruh cabang keturunan itu dimulai dari dirimu."


Farel mengeratkan kepalannya, lalu berkata: "Akan kuusahakan."


Dalam waktu bersamaan, Guntur bangkit dari kasurnya dan bertanya: "Dimana Arka?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


3 hari sudah berlalu, dan Arka pun masih kesusahan untuk makan. Ia hanya bisa terdiam di pojokan sel, sambil memikirkan cara untuk menyerang si pemberi makanan, lalu kabur dari sel itu. Tapi saat ia mencoba untuk menarik rantai borgol yang tertempel di tembok sel, rasa-rasanya sangat mustahil. Kemarin pun ia sudah mencoba untuk menghancurkannya dengan kilatan hitam tapi tekniknya tak kunjung keluar.

__ADS_1


"Sepertinya mereka menaruh mantra anti sihir di borgolmu." Hipotesa Onimaru.


"Mantra anti sihir?"


"Ya. Karena selama kehidupanku, hanya mantra itu yang memiliki efek seperti ini."


Arka mendecih. "Berarti kita hanya bisa menunggu, ya..."


Arka kembali duduk dipojokan sel sambil berpikir. Saking banyaknya pikiran, Arka pun tertidur. Selang dua menit setelah Arka tidur, si pemberi makanan pun datang seperti biasa. Tapi, kali ini sedikit aneh. Biasanya si pemberi makanan datang saat jam bayangan matahari di angka jam 12.05, untuk hari ini si pemberi makanan datang jam 10.20. Si pemberi makanan juga tidak memukul pagar besi dari sel milik Arka. Si pemberi makanan hanya membuka pintu sel, lalu masuk. Dan ini adalah yang teraneh, si pemberi makanan... Adalah seorang perempuan berambut pirang.


Arka langsung berdiri dari tempatnya lalu menatap sinis perempuan itu. Arka merasa bahwa ia sudah pernah mengenal perempuan itu. Arka pun teringat dengan perempuan yang berdiri di samping pak tua Lucius.


Ia pun kembali duduk di tempatnya tadi. "Apa yang kau lakukan disini?"


Perempuan itu duduk di dekat pintu sel lalu berkata: "Namaku Luticia nox fleuret."


Arka merendahkan pandangannya, lalu kembali merenung.


"A--Aku akan berusaha untuk membebaskan mu dari sini. Dan-- uhm--Anu..."


Gadis itu gugup. Tapi Mendengarnya saja membuat Arka sedikit terkejut. Ia langsung menatap Luticia dan berkata: "kalau begitu lepaskan borgol ini."


Ia mengarahkan kedua tangannya yang sedang diborgol ke depan Luticia


"Tapi dengan satu syarat!" Ucap luticia yang sedang berusaha terlihat tegas. "Kembalikanlah kota lestallum seperti dulu".


Arka mengangguk. Sebenarnya ia tidak peduli dengan luticia. Saat ini, yang ia pedulikan hanyalah dirinya sendiri.


Arka kembali mendekatkan kedua tangannya ke arah Luticia. "Aku berjanji. Jadi, cepatlah, lepaskan borgol ini." Pinta jovin.


Luticia mengangguk, lalu mengaktifkan kekuatannya. Tiba tiba saja, muncul 6 pedang suci di sekelilingnya. Ia langsung mengambil salah satu pedang itu dan menebas lengan Arka.


"Hei, tungg--"


Arka menjerit, lalu bertukar pikiran dengan Onimaru untuk menyembuhkan lengannya. Mereka bisa bekerja sama karena Onimaru juga tidak ingin ke luar sana. Dia masih berada di fase menunggu.


"Berikan seluruh informasi yang kau ketahui soal Lucius dan Phoenix." Pinta Arka, yang masih mendesis kesakitan karena lukanya tadi.


Luticia mengangguk kencang, lalu mulai menjabarkan semua yang ia ketahui.

__ADS_1


Arka tidak akan menang kalau harus bertabrakan langsung dengan mereka tanpa mengetahui kekuatan mereka. Arka harus bermain cerdas dan bersabar dengan memanfaatkan kelemahan dan kelengahan dari sisi lawan.


__ADS_2