Pedang Iblis

Pedang Iblis
Dibalik Penghalang Kosong


__ADS_3

The Saint dipandang sebagai entitas abadi dan pilar keamanan dalam komunitas penyihir, bukan petarung, atau seseorang yang berinteraksi dengan fungsi dunia sehari-hari. Kemampuan The Saint sangat penting untuk struktur dan organisasi masyarakat penyihir. Mereka telah ada selama berabad-abad dan bertanggung jawab untuk mengajarkan dasar-dasar sihir yang akhirnya berkembang menjadi budaya modern yang mengelilinginya.


The Saint adalah pengguna penghalang paling kuat di antara semua penyihir, namun jelas masih berada 1 kelas dibawah penyihir agung. The Saint menciptakan dan mempertahankan empat penghalang murni yang meningkatkan kesan iblis dan penghalang yang dibuat oleh asisten manajer akademi. Namun, The Saint adalah non-tempur dan tidak menggunakan sihir untuk bertarung. Sejauh pertempuran, Madara memberi tahu sekutunya untuk menganggap The Saint sebagai non-faktor. Meskipun diyakini bahwa The Saint dapat menimbulkan ancaman bagi umat manusia begitu mereka berevolusi dan rasa diri mereka berkurang, The Saint mempertahankan kesadaran diri mereka melalui kekuatan kehendak dan penghalang.


Sebelum kedatangan Madara, Ares menjelaskan kepada Ino didepan para The Saint bahwa dialah yang harus menghadapi Madara sendirian. Ino memperingatkannya terhadap hal ini karena hasilnya hampir 100% pasti kematian baginya. Ares berpendapat bahwa masuk akal baginya untuk pergi lebih dulu, sehingga dia dapat mengeluarkan iblis-iblis Madara dan membuatnya mengungkapkan detail tentang Teknik sihirnya. Dia berharap Madara dapat membuka ekspansi ruangnya, yang akan memberi Ino kesempatan untuk menyerang.


Ino menegaskan kembali bahwa Ares akan mati jika dia menjalankan rencana ini, tapi dia tidak peduli. Dia akan puas, asalkan Madara terbunuh.


Kembali ke alur waktu yang sedang berjalan, pertarungan sedang terjadi, dan itu jelas hanya untuk sepihak karena Ares bahkan tidak dapat mendaratkan satu pukulan pun ke Madara. Di sisi lain, Madara mempertahankan keunggulannya dengan sedikit usaha.


Di tengah pertarungan mereka, Ares bertanya pada Madara apa rencananya untuk Arka. Dia menganggap Madara menyimpan lebih banyak untuk Arka karena dia memperhatikannya selama ini, sambil mengabaikan Ares dan yang lainnya.


Menariknya, Madara memberitahunya bahwa : "Peran Arka hanyalah sebagai wadah. Selama Arka dan Onimaru masih hidup, rantai iblis tidak akan pernah berakhir."


Hal Ini memperbaharui kemarahan Ares, karena Madara membuat seolah-olah hidup Arka adalah penyebab dari semua yang terjadi. Dia menolak ide ini dan terus menyerang tanpa hasil.


"Aku tahu kalau kau hanya pelopor. Tapi sayangnya, aku tidak akan menggunakan teknik sihir lain selain teknik manipulasi iblis untuk melawan serangga kecil sepertimu."


[Manipulasi Iblis : Teknik di mana pengguna dapat memanggil dan mengontrol iblis yang terbentuk secara alami untuk tujuan yang diinginkan. Karena berkontrak dengan Sathanas, Madara dapat menggunakan teknik ini seolah-olah itu adalah teknik bawaannya sendiri. Berkat teknik ini, Madaea terbukti telah memperoleh banyak iblis sebagai familiar pribadinya. Dia telah mengerahkan mereka untuk melawan banyak lawan dan membombardir mereka dengan berbagai Teknik sihir yang berbeda yang dimiliki setiap iblis.]


"Kau tahu kenapa? Karena kau adalah produk gagal."


Madara dengan kejam menyerang Ares dengan segerombolan iblis, menginjak wajahnya ke tanah sambil menekankan apa artinya menjadi penyihir Kelas Khusus. "Menjadi penyihir kelas khusus, Itu berarti memiliki kemampuan spesial untuk menggulingkan suatu negara seorang diri."


"Sementara kau, kau bahkan gagal dalam menggulingkan perasaanmu sendiri."


Mudah baginya, untuk mengalahkan penyihir kelas satu seperti Ares. Ino melihat saat Ares terjatuh, tampaknya benar-benar kalah, tapi ia memutuskan ini belum waktunya untuk menyerang. "Belum. Belum saatnya."


Saat Ares terlihat seperti akan kalah dengan pakaian sobek dan tubuh penuh darah serta luka, Dia menciptakan sebuah keajaiban.


Konversi Darah: Kemampuan Ares memungkinkannya untuk mengubah energi jiwa menjadi darah. Selama Ares memiliki energi jiwa yang cukup, dia dapat mencegah tubuhnya mati karena kehilangan darah. Hal ini membuatnya mampu mengeluarkan gelombang darah secara literal tanpa mengalami disfungsi yang signifikan dalam penampilannya.


Setelah itu, dia melancarkan teknik :


Slicing Exorcism : Melepaskan darah tajam yang terbang dengan cepat di udara dan mengiris target Ares. Dia mampu membentuknya menjadi aliran darah panjang dengan jangkauan luas untuk memukul atau membentuknya menjadi mantra berputar untuk serangan tunggal.


Semua itu Madara hindari menggunakan iblisnya.


"Satu-satunya kesempatanku... Adalah kelengahannya!" Laju serangan dari slicing exorcism meninggalkan jejak partikel darah. Partikel-partikel itu kemudian membentuk bola, bola yang akan menjadi serangan berikutnya. "Supernova!"


Teknik jiwa yang memanipulasi gravitasi menggagalkan serangan tersebut.


"Tak berguna?" Bingung Ares. "Tidak mungkin, itu adalah semburan darah dari semua sisi!"


Melihat kerusakan disekitar Madara, Ares menyimpulkan sesuatu. "Mereka semua dipukul jatuh?!"


"Sialan." Umpat Madara.

__ADS_1


"Akhirnya!" Sorak Ares. "Akhirnya kau menggunakan teknik lain selain manipulasi iblis!!"


Dinding penghalang kosong nampak terbuka. Seseorang memasuki arena.


"Kerja bagus, Ares." Puji Ino, satu-satunya penyihir wanita yang masuk kedalam strata kelas khusus. "Aku menikmati pertarungannya, sekarang serahkan sisanya kepadaku."


"Ino..." Tubuh Ares melemah lalu terjatuh keluar dari penghalang kosong dengan bantuan para The Saint yang mengontrol penghalang itu sendiri dari luar.


"Ino. Si pemilik tinju terkuat." Batin Madara.


Ino berada di peringkat kelas khusus, yang berarti dia memiliki volume energi jiwa yang luar biasa lebih besar daripada penyihir kelas 1. Dia sangat mahir dalam memanipulasi energi jiwanya dan keterampilannya sesuai dengan pangkatnya. Ino dapat dengan mudah beralih antara teknik bawaannya, teknik pembalik, dan teknik anti-ekspansi ruang seperti domain sederhana.


Teknik bawaan Ino memungkinkan dia untuk memberikan massa virtual untuk dirinya sendiri. Massa yang ditambahkan ke serangan Ino memberinya kekuatan penghancur yang menghancurkan, yang mampu dengan mudah mengusir iblis tingkat khusus.


"Gravitasi." Batin Ino. "Tadi itu Gravitasi. Madara memiliki teknik sihir lain selain manipulasi iblis dan itu adalah Gravitasi. Mengingat kalau dia mampu menggunakan teknik pembalik, tidak mungkin rasanya dia membuang teknik sekali pakai dalam situasi seperti itu. Jadi, teknik sihir ketiga Madara adalah, Gravitasi."


"Jika kau tidak memiliki mekanisme penyimpanan eksternal seperti Kenny, kau hanya akan membebani memori otakmu." Analisis Ino. "Tapi mari kita berasumsi kalau dia memiliki teknik sihir ke empat."


Ino melesat ke arah Madara lalu menghajarnya hingga menembus dinding penghalang kosong.


Tangan-tangan Madara patah, namun bukan masalah dengan bantuan sihir pembalik.


"Meski massa-nya ditingkatkan, tapi dia masih bisa bergerak dengan cepat. Maka aku bisa berasumsi bahwa massa yang ditambahkan tidak memiliki efek nyata untuk sang perapal." Teliti Madara. "Karena dia bisa mengabaikan konsep, maka tidak ada iblis tingkat tinggi yang bisa kugunakan untuk melawannya."


"Dan dengan hanya diriku, apakah mungkin untuk memburu hewan buas sepertinya?" Pikir Madara.


"Menurut rencana, aku harus memaksa madara untuk mengekspansi ruangnya. Selanjutnya, Sudutkan dia sampai efek lanjutan dari ekspansi ruang terjadi, dan dia memasuki keadaan di mana sangat sulit untuk menggunakan teknik sihir." Batin Ino. "Bahkan jika aku berada didalam keadaan yang sama, aku masih memiliki Ares."


"Tidak, tidak." Ucap Madara. "Teknik kita tidak cocok untuk bertarung dengan satu sama lain, tapi kau masih belum mengekspansi ruangmu."


"Itu secara tidak langsung mengatakan, bahwa kau tidak percaya diri untuk melakukan pertarungan ruang denganku." Madara menciptakan simbol yang membuka sebuah ruangan lain. "Ekspansi ruang : pohon neraka."


Sebuah pohon hitam dengan wujud mengerikan muncul dibelakang Madara.


"Tetua! Sekarang!"


Salah perhitungan.


Ekspansi ruang milik Madara...


^^^...tidak memiliki penghalang.^^^


"Ekspansi ruang ini seperti milik Onimaru! Apakah mereka menirunya setelah mengetahui kesulitan yang Kenny alami?!" Pikir The Saint.


"Penghalang yang seharusnya dibongkar tidak ada?!" Batin Ino.


Dengan inisiatif, dia menciptakan ekspansi ruang sederhana untuk menyelamatkan dirinya dari efek sure-hit. "Ekspansi ruang sederhanaku menjadi sangat rapuh! ekspansi ruangnya terlalu kuat!"

__ADS_1


Saat Ino ingin menyerang Madara, satu serangan kuat menghantam Ino kebawah hingga mengalami luka yang memicu trauma. Bersamaan dengan itu, penghalang kosong yang mengurung mereka semua dihapus oleh The Saint. Mengakibatkan hancurnya ekspansi ruang Madara.


"Membongkar penghalang kosong dan ekspansi ruangku dalam waktu bersamaan. Kalian memang keras kepala." Ucap Madara. "Tapi sayang sekali, kalian terlambat."


Ino terlihat begitu lemah diatas lantai dengan darah yang menutupi kulitnya. Tangannya remuk dan patah, matanya hilang satu.


"Cukup berikan aku raja manusia. Sisanya aku tidak terlalu peduli--"


"Piercing Blood." Serangan darah yang terkorvengensi, mampu memutar balik keadaan.


Serangan itu mengenai kepala Madara hingga darah merah keluar dari kepalanya.


Saat Madara terfokus pada Ares, Ino kembali bangkit dan menendang wajahnya.


"Dia tidak menaruh massa pada tendangannya, tapi pada kakiku?!" Batin Madara, ketika sadar bahwa dia tidak bisa menggerakan kakinya.


Dengan kekuatan fisik yang sudah ditingkatkan oleh Skala merah mengalir, Ares meninju Madara secara bertubi. Namun, Dampaknya tidak begitu besar sehingga mereka percaya bahwa hanya serangan fisik Ino yang bisa berdampak pada Madara.


Ino kembali memusatkan Massanya pada tinju, tapi itu semua malah menjadi kesalahan fatal bagi keduanya.


Karena teknik sihir gravitasi milik Madara telah pulih.


"Sial! Sial! Sial! Sial!" Batin Ares.


Ketika Madara selamat dari penyergapan, Ino dengan cepat menyimpulkan bagaimana dia berhasil menghindari pukulan fatal. Dia juga menyadari Madara akan mati jika tekniknya dengan kekuatan penuh dan masih terpojok.


Saat Ino dapat mengimbangi pertempuran otak dengan penyihir yang sangat berpengalaman seperti Madara, bahkan dia membuat kesalahan. Ino tidak hanya meremehkan Madara dalam strateginya dengan The Saint, namun ketika Ino mencoba memanfaatkan jeda waktu dalam kemampuan Madara untuk memanipulasi gravitasi, dia menganggap tekniknya dapat berkuasa melalui perlawanan apa pun dari Manipulasi iblis. Meskipun ini adalah asumsi yang aman, itu sembrono dan ternyata salah, yang Ino sendiri sadari dan akui.


Tubuh Ino kini terbelah, dan dalam keadaan tiarap diatas tanah.


Saat Madara hendak berjalan pergi, Ino menggenggam kakinya.


Bahkan dalam kekalahan, Ino dengan cepat melakukan improvisasi manuver untuk menjatuhkan lawannya bersamanya dalam upaya terakhir untuk melakukan apa yang diperlukan demi kebaikan yang lebih besar.


"Massa tidak berpengaruh padaku, tetapi hanya pada kepadatan tertentu." Ucap Ino.


Kepadatan.


Jika tidak ada batas untuk jumlah massa, Ino mampu menciptakan lubang hitam.


Lubang hitam memiliki kepadatan yang luar biasa dan sangat kuat hingga cahaya, bahkan materi yang lebih ringan dari itu tidak dapat menghindari serangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menerima bahkan serangan terkuat Ino, Madara kembali bangkit diatas reruntuhan bangunan dengan pakaian sobek dan badan penuh darah.


"Teknik pembalik?" Tanya The Saint.

__ADS_1


"Gravitasi dari sebelumnya adalah teknik pembaliknya sebenarnya. Teknik sihir yang terukir padaku sebenarnya adalah sistem anti gravitasi. Aku menggunakan tubuhku sebagai ruang untuk menaikkan batas selang waktu teknik pada waktu aktivasi dan hasil yang tidak stabil." Jelas Madara. "Kekuatan yang seharusnya bisa menghancurkan satu dunia berujung gagal karena penghalang milikmu dan keinginannya sendiri."


Madara masuk ke sebuah ruangan, dimana Raja manusia di hibernasi. "Apakah membunuhmu adalah pilihan terbijak?" Monolognya.


__ADS_2