Pedang Iblis

Pedang Iblis
Serangan Pembuka pt.4


__ADS_3

Melihat seorang pria melompat masuk kedalam lubang antarruang yang seharusnya menjadi pintu keluar bagi mereka membuat Farel, Reisya, dan Toru terpatung ditempatnya berdiri dengan wajah ngeri.


"Siapa?!" Batin Farel.


"Manusia? Apakah dia seorang penyihir?" Duga Reisya.


"Mereka tidak berniat untuk kabur, tapi membawa masuk penyihir lain?!" Bingung Kisame.


Toru yang mengetahui identitas lengkap dari orang itu hanya bisa diam.


Dengan kecepatan tinggi, lelaki itu merebut pedang ditangan Reisya. "Apa-apaan? Sedetik yang lalu, dia sedang berada di udara--"


Reisya yang masih menggenggam erat pedang itu dilempar ke sembarang arah oleh Faiz agar melepaskan genggamannya. "Kuat sekali!"


"Rere!" Teriak Farel.


"Aku tidak merasakan energi jiwa. Apakah aku baru saja kalah dalam pertarungan kekuatan?" Batin Reisya.


Walaupun teknik Necro milik nenek Oku akan tetap berlanjut bahkan setelah kematiannya, itu tidak bermaksud bahwa teknik itu akan bertahan untuk selamanya.


Teknik itu akan berakhir saat energi jiwa Ah Sui mencapai batasnya atau seharusnya begitu. Dari awal, jiwa Ah Sui tidak memiliki energi jiwa. Selain itu, tubuh Faiz yang menimpanya tidak mengonsumsi energi jiwa. Oleh karena itu penanda yang menandakan teknik itu telah berakhir tidak pernah ada. Beberapa kebetulan tidak beratur memungkinkan teknik itu merajarela. Faiz sekarang akan bertarung dengan insting sampai wadahnya hancur.


Dia telah menjadi boneka pembantaian.


Memamerkan taringnya, kepada semua penyihir terkuat disekitar.


"Apa-apaan orang ini? Dia tidak memiliki energi jiwa." Batin Kisame. "Membuang waktuku!"


Kisame melancarkan sebuah serangan, dan Faiz meresponnya dengan menghajar wajah Kisame dengan sisi tumpul pedang.


Kisame terlempar jauh, namun Faiz masih mengejarnya.


"Apa-apaan kekuatan itu?!" Batin Kisame sambil melemparkan berbagai macam Shikigami ke arah Faiz untuk memperlambatnya.


Namun, semua itu hanya seekor binatang laut biasa bagi Faiz. Dia menebas semua yang menghalangi jalannya sambil berlari diatas air menuju Kisame.


"Hei, Toru. Dia siapa?" Tanya Reisya yang kagum melihat caranya bertarung.


"Dia adalah hantu." Jawab Toru, sebelum menoleh ke arah Farel. "Farel, apakah kau masih bisa bertahan untuk sebentar lagi?"


"Ya." Sahutnya


"Maafkan aku. Tapi kita harus bertaruh pada pria itu."


Pria yang mendominasi pertarungan didalam ekspansi ruang milik sang iblis.

__ADS_1


"Apakah aku akan kalah dengan orang tak berenergi jiwa?!!" Batin Kisame. "Tidak. Aku bisa merasakan bahwa ekspansi ruang bocah itu (Farel) semakin melemah. Selama aku bisa membangkitkan kembali efek sure-hit ku, aku pasti akan menang!"


Kisame mengeluarkan Shikigami terbesarnya, lalu menggunakan teknik bencana pasang untjk terbang ke atas udara. "Pasti ini pertama kalinya kau melihat hiu terbang, kan?" Ucap Kisame.


Tanpa peduli, Faiz menebas Shikigami terbesar milik Kisame lalu melompat tinggi untuk mengejar Kisame dan menikam kepalanya hingga tewas.


Ekspansi ruang pun hancur, membebaskan mereka semua dari laut merah milik Kisame.


"Dia benar-benar menyucikan iblis itu seorang diri." Gumam Reisya.


"Jika Farel tidak datang, tanpa ragu sedikitpun kita semua pasti sudah mati." Batin Toru lalu menatap wajah Faiz dengan penuh rasa segan. "Sekarang, menuju masalah berikutnya. Apakah dia sekutu, atau lawan?!"


Faiz berjalan kehadapan mereka bertiga.


Berdasarkan insting. Boneka pembantaian akan memamerkan taringnya hanya pada yang terkuat.


Faiz langsung menyeretnya pergi dengan satu lompatam. Bahkan sebelum Farel dapat memproses apa yang terjadi, dia menemukan dirinya berada di luar di jalan. Farel mendarat dengan selamat tetapi dia melihat ke seberang jalan ke arah lawannya dengan ekspresi terkejut. Dia mengklaim tingkat kecepatan yang luar biasa ini bahkan melebihi Kenny.


Saat Reisya hendak mengejar mereka, Toru mencegah wanita itu dengan menggenggam erat pergelangan tangannya. "Kenapa?"


"Itu ide buruk." Jawabnya.


"Memangnya siapa pria itu?!" Tanya Reisya. "Berikan aku nama."


"Dia adalah Shin Faiz Enka, ayah kandung dari Farel."


"Apapun yang akan mereka lakukan, Farel dapat mengatasinya lebih baik. Kita hanya akan memperburuk situasinya jika datang menyusul dan mengganggu mereka." Tutur Toru.


Melihat kondisi dari wilayah disekitar, Toru jadi teringat dengan seseorang. "Gere!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Terlalu cepat! Dalam kondisi seperti ini, aku takkan bisa--" Saat Farel menaruh kedua tangannya didepan wajah sebagai bentuk pertahanan, pria dihadapannya itu menyebut sebuah nama.


"Kenny."


"Hah?!" Farel tidak mempercayai pendengarannya.


"Kenny. Penyihir. Apakah dia datang untuk menjemputmu?" Tanya Faiz.


Farel terbata, karena dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dalam situasi seperti ini. "Apa maksudmu?!"


"Saat kau umur 7 tahun. Apakah dia datang untuk menjemputmu?" Ulang Faiz. "Jawab pertanyaanku."


Dengan canggung, Farel menjawab : "Ya. Dia datang."

__ADS_1


Faiz tersenyum. "Ternyata dia tidak seburuk itu." Gumamnya.


"Tolong sampaikan terimakasih ku padanya, ya. Bocah sialan." Faiz menusuk pelipis kepalanya sendiri, hingga tewas dalam hitungan detik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Arka baru memasuki Istana walikota, dia langsung dipertemukan dengan Erca yang sedang berdiri tegak ditengah lorong.


"Hei, ingin berbicara sebentar?" Tawar Erca.


Arka menatapnya sinis dengan tinju yang sudah mengeras. "Kau membunuh Guntur." Ucapnya.


"Guntur?" Erca nampak memutar balik ingatan dikepalanya. "Oh, si bocah petir. Itu adalah pertarungan termudah yang pernah aku--"


Arka menghantam wajah Erca hingga lelaki itu terlempar ke dinding istana dan terjatuh dengan lemah. "Disinilah aku akan benar-benar menjalankan peranku."


"Hanya regenerasi Onimaru yang bisa menandingi transfigurasi Erca."


"Peranku yang ternyata sangatlah penting... Peranku sebagai seorang wadah dari Onimaru Yasutsuna!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Agung menabrakan iblis elangnya pada kaca ruang tahta untuk bisa masuk kedalam sana lebih cepat dari yang lain dan memberikan serangan langsung kepada Madara.


"?!" saat berada di dalam ruangan itu, yang pertama kali Agung sadari adalah betapa gelapnya tempat tersebut. Melalui pantulan cahaya bulan, dia menemukan tubuh Luticia yang terbalut gaun putih, masih tergeletak diatas lantai penuh darah. "Nona Luticia!"


Agung memberikan bantalan untuk kepala wanita itu, lalu mengeluarkan iblis penyembuhnya yang berbentuk seperti kijang.


"Dia masih bernapas." Batin Agung. "Ajaib sekali, kalau manusia biasa, pasti dia sudah tewas."


"Kau tidak seharusnya berada disini." Ucap seseorang dari balik bayangan gelap. "Kau merusak rencanaku."


Saat dia melangkah mendekat dan mengenai cahaya bulan, jantung Agung melewati satu detakan. "Kau... Bukan Madara."


Agung mengeluarkan iblis kura-kuranya yang memiliki cangkang tebus pandang untuk memberikannya perlindungan yang sangat kokoh. Saat kekuatannya diaktifkan, kura-kura itu akan mengecil sementara cangkangnya akan membesar dan menebal.


"Wajah tambalan..." Agung mengingat laporan serta deskripsi wujud dari iblis yang pada hari itu Arka lawan. "Dia adalah Erca!"


Pemikiran Agung seketika kacau balau. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya. Namun yang paling sering muncul dan membuatnya sesak napas adalah : "Dimana Madara?!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di atas punggung iblis kelalawar raksasa, Madara merapalkan sebuah mantra yang mampu menghancurkan tirai kain dewi ciptaan The Saint yang beberapa hari ini telah melindungi negeri Saint Angel dari para penyihir asing dalam sekali tembak.


Kabar hancurnya tirai pelindung diterima begitu cepat oleh mereka yang ada didalam. Panik terlukis di wajah tiap-tiap individu.

__ADS_1


"Lihat, para penantang sudah tiba." Ucap Madara ketika mendapati Agni dan Ignis yang sedang berdiri di atas daratan, menatap mereka dengan wajah kesalnya. "Aku serahkan mereka padamu, Yuki."


Yuki dengan sangat percaya diri melompat ke bawah sana, untuk melawan dua api bersaudara dalam pertarungan hidup dan mati. "Aku harap kalian cukup kuat." Ucapnya.


__ADS_2