
Erca (Erka) adalah iblis yang sadis dan tidak dewasa, dia suka mempermainkan emosi manusia. Dia percaya dia lahir dari pelanggaran manusia dan menganggap dirinya sebagai manifestasi dari kebencian manusia satu sama lain. Karena itu, Erca percaya bahwa manusia harus dimusnahkan dan iblis harus memerintah menggantikan mereka.
Erca tidak memiliki simpati terhadap nyawa manusia dan tampaknya tidak terlalu menghargai nyawanya sendiri. Dia setia pada tujuannya, percaya bahwa memanggil Holocaust lebih penting daripada kesejahteraannya sendiri. Selama iblis pada akhirnya berkuasa, Erca tidak peduli jika dia ada di sana untuk melihatnya. Tidak seperti sekutunya Susanoo, yang sangat pemarah dan sombong, Erca bisa tetap relatif tenang dan suka bermain. Meski begitu, mereka menyetujui tujuan yang sama dalam hal ras mereka.
Mungkin karena sifat kelahirannya, Erca sangat mahir berinteraksi dan memanipulasi manusia. Dia memangsa kebencian, kesedihan, dan ketidakamanan mereka untuk mengarahkan mereka bertindak sesuai keinginannya, bahkan sampai pada titik di mana mereka bertindak bertentangan dengan akal sehat mereka.
"Bukannya kau sedang ditugaskan untuk memburu pedang iblis di Lestallum?" Tanya Ares.
"Lestallum?" Arka berpikir keras. "Stardust?"
"Aku memang sedang bertugas." Jawab Erca. "Tapi aku juga harus mengawasi pengkhianat-pengkhianat sepertimu."
"Kloning, ya?" Tebak Ares dalam hati.
Transfigurasi. Teknik sihir Erca yang memberinya kemampuan untuk membentuk kembali jiwa. Melakukan hal itu memungkinkannya untuk merusak tubuh korbannya, menyembuhkan lukanya sendiri, mengubah pelengkapnya menjadi senjata, dan berbagai kemungkinan transformasi lainnya yang tak terbatas.
Erca dapat membuat tiruan yang dapat menggunakan Transfigurasi pada dirinya sendiri, tetapi tidak pada orang lain.
Ares memasang kuda-kudanya, diikuti oleh Arka. "Jadi, yang mana?!"
"Yang mana yang tiruan? Yang didepanku ini, atau yang ada di Lestallum?!" Bingung Ares. "Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya dan itu adalah dengan bertarung!"
"Kesempatanku dan Arka untuk selamat dari pertarungan ini sangat besar. Namun itu tidak berarti semua akan berjalan dengan mudah untuk beberapa detik kedepan." Batin Ares. "Paksa dia mundur atau menyucikannya disini. Hanya itu pilihannya."
"Aku harus membuka serangan!"
Tubuhnya yang sudah kering memungkinkan Ares untuk melakukan konvergensi kembali. "Piercing Blood!"
Erca menghindari serangan itu lalu berlari ke arah Ares. Dari titik buta, Arka menghalaunya dengan mendorong leher pria itu ke tembok. "Lari! Ares!"
Ares langsung keluar dari toilet menuju ruangan terbuka. "Jika sesuai dengan informasi, Arka memiliki regenerasi yang kuat. Aku bisa menggunakannya sebagai tumbal!"
*BOOM!
Arka terpental keluar dari toilet menuju ke lorong karena didorong oleh tangan Erca yang membesar. "Apa-apaan?" Arka heran.
"Tiruan!" Simpul Ares ketika melihat kejadian tersebut. "Dia tidak merubah wujud Arka karena dia tidak bisa melakukannya! Dia adalah tiruan!"
Ares kembali menepuk tangannya sambil merapal: "Piercing Blood!" Ares menembak tangan Erca yang membesar itu dengan darah hingga putus untuk membebaskan Arka.
Arka kemudian berlari mendekati Ares dan kabur bersamanya."Jadikan pertarungan ini pertarungan jarak dekat." Titah Ares. "Aku akan membantumu dari belakang."
Arka mengangguk, lalu tiba-tiba saja lantai yang dipijak oleh mereka rubuh. "Celaka! Aku lengah!".
"Selama menahan Arka, dia membuat lubang ke lantai bawah untuk melakukan serangan ini!" Terlihat Erca sedang merubah wujud tangannya menjadi senjata tajam. "Dia akan menyerang kami saat terjatuh?!"
"Ares!" Arka menendang Ares sehingga hanya Arka yang tertebas oleh serangan Erca. Arka kemudian menarik tangan Erca lalu membantingnya ke tembok.
Tak berhenti sampai disitu, Arka yang baru saja mendarat, langsung menghajar Erca dengan kilatan hitam. Tembok mall pun hancur dan mereka berdua keluar dari dalam sana.
Ares nampak kagum. "Kemampuan Arka dalam berpikir sambil bertarung memang hebat. Seperti Kenny, dia cepat tanggap!" Batin Ares.
"Menarik." Gumam Erca. Dia tidak menyangka kalau wadah Onimaru bisa menggunakan teknik yang membendung amarah itu dan memberikan perlawanan yang begitu hebat walau hanya dengan tangan kosong.
__ADS_1
Ares yang masih berada didalam mall kemudian kembali merapalkan piercing blood dan menembaki Erca melalui lubang besar yang telah dibuat oleh Arka.
Arka sendiri pun tidak tinggal diam, dia terus melayangkan tinjunya dengan harapan untuk membunuh Erca.
"Aku takkan kalah!" Batin Arka.
Tubuh Erca tiba-tiba berubah wujud menjadi bola berduri untuk berlindung diri dari serangan beruntun milik Arka. Duri-duri itu menusuk tubuh Arka begitu dalam sampai pergerakannya pun terhenti.
"Takkan kubiarkan." Batin Ares. "Supernova!" Rapalnya.
Bola-bola darah yang melayang di udara meledak dan menghancurkan semua duri milik Erca. Erca pun kembali ke wujud aslinya, lalu menghantam Arka dengan tangannya yang berubah wujud menjadi mallet berduri.
Arka terlempar ke sebuah mobil yang sedang berlalu lalang, tubuhnya kini mendapati banyak lubang dan staminanya hampir mencapai batas. "Jangan tumbang, jangan tumbang!"
Ares berlari ke arah Erca, menggantikan Arka dalam pertarungan jarak dekat.
"Aku memecahkannya." Batin Ares. "Setelah pertarungan dengan Arka, aku berhasil memecahkannya!"
"Meteoric blood!"
Teknik yang mengeraskan darah sang pengguna yang biasanya tidak digunakan oleh pewaris. Ares menggunakannya untuk membuat batu kecil yang terbuat dari darah yang sangat kental dan mengeras. Dia juga menggunakannya untuk mengeraskan darah di dalam tubuhnya untuk memperkuat dirinya meskipun berisiko mengalami trombosis.
Ares menghantam wajah Erca hingga hancur dengan darah yang mengeras pada tangan. Tubuh Erca kemudian merubah bentuknya menjadi sebuah gumpalan dan lenyap.
Ares yang kelelahan memilih untuk duduk sebentar ditempatnya, ia kemudian teringat dengan sobat bertarungnya yang terlempar. "Arka!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau mengganggu saja." Ucap Erca kepada Guntur yang tiba-tiba saja datang untuk melindungi Stardust. Stardust yang sudah lebih dulu berkelahi dengan Erca mengalami luka yang sangat fatal namun berhasil selamat dari kematian sebab dibantu oleh regenerasi jiwa milik Juzumaru.
"Jangan biarkan dia menyentuhmu!" Seru Stardust.
Guntur mengangguk dengan wajah serius. Dia kemudian memasang kuda-kuda bertarungnya yang diajarkan oleh Farel. "Dia tidak akan bisa menyentuhku."
Erca tersenyum girang. "Kau meremehkanku?"
Anak panah yang tercipta dari petir menusuk tubuh Erca hingga tertancap ke atas tanah dengan posisi tubuh telentang.
"Hujan petir."
Puluhan anak panah muncul diatas tubuh Erca, lalu menghujaninya dengan sadis. "Meledak!"
Anak panah itu kemudian menuruti perintah Guntur untuk menciptakan efek ledakan setrum yang mampu membuat tubuh Erca kejang-kejang.
"Setelah semua itu dia masih tidak dapat disucikan?" Bingung Guntur.
"Lumayan, kau lumayan kuat!" Puji Erca. "Dia bahkan sampai memaksaku untuk menarik kembali tiruanku." Batinnya.
"Kerahkan seluruh kekuatanmu, Bocah petir!"
Guntur dengan cepat mengeluarkan wujud dari Soul-nya, lalu melesat ke arah Erca. Dia menyerang Erca dengan serangan bertubi-tubi juga bergantian. Guntur mendominasi menit-menit awal pertarungan, namun hanya tinggal menunggu waktu sampai Erca terbiasa dengan gaya bertarungnya. "Petirku memang terkesan bervariasi juga kuat, namun daya hancurnya akan terus berkurang bila harus dihadapkan dengan iblis yang mampu beradaptasi sepertinya. Yang bisa kulakukan saat ini adalah memakan waktu sambil menunggu Stardust untuk pulih."
Saat Guntur hendak memukul Erca untuk kesekian kalinya dari arah yang berbeda-beda, Erca menggenggam erat tinju Guntur lalu merapal: "Transfigurasi."
__ADS_1
Tangan Guntur seketika berubah wujud menjadi sesuatu yang abstrak, namun untungnya dia berhasil bertukar tempat dengan Soul sebelum seluruh tubuhnya terkena dampak dari teknik mematikan milik Erca.
Tubuhnya berkeringat, darah merah berceceran.
"Silahkan, jaga jarakmu." Ledek Erca. "Hanya itu yang bisa kau lakukan, bukan?"
Guntur diam ditempatnya, meneguk ludah dengan tegang.
"Kau beban bagi akademi." Ucap Erca. "Jangan berbohong dengan diri sendiri. Insiden sepuluh Juni, perang di Lestallum, pembunuhan Seo Yul, kau tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa bersembunyi dibalik punggung Kenny dan kedua temanmu."
"Omong-omong soal temanmu, mereka berdia hampir melampaui Kenny. Sementara kau... Kau masih berada di titik yang sama sejak pertama kali kalian bertemu."
"Guntur! Jangan dengarkan dia!" Seru Stardust.
"Kau hanya penyihir sampah! Bahkan dari sebelum kematian pertamamu!"
Erca berhasil menyentuh leher Guntur yang masih mematung ditempatnya. "Selamat tinggal, Guntur."
"Kekuatan murni yang sangat berpotensi, bukan? Tetapi kalau dia memiliki rasa bimbang yang sama seperti para pendahulu, maka dia hanyalah seorang mangsa bagi para iblis."
Kenny telah memprediksinya dari awal pertemuan.
Leher Guntur tiba-tiba memanjang, kemudian kepalanya membesar dan meledak.
"Guntur!!" Raung Stardust.
Tirai yang awalnya diciptakan oleh Guntur untuk mengurung Erca pun rubuh.
"Wajah putus asa memang nikmat dilihat." Ucap Erca. Dia kemudian kembali menargetkan Stardust.
Namun seseorang muncul tepat waktu, menghalangi jalannya. Dia menebas leher Erca dengan kecepatan yang luarbiasa.
Dia adalah Shiro.
"Kau bisa berdiri?" Tanyanya.
Stardust menggeleng kaku. "Tidak."
"Bawa dia pergi dari sini." Perintah Shiro kepada pasukannya. Melihat tubuh Guntur yang tergeletak diatas tanah dalam keadaan mengenaskan membuat Shiro marah. "Aku akan membunuhmu." Raungnya.
"Tapi aku tidak tertarik denganmu." Jujur Erca.
Shiro mengayunkan pedangnya, dan Erca melompat untuk menghindar. "Reaksinya meningkat?!"
Ia kemudian menendang wajah Shiro lalu lari dan kabur melalui selokan. "Dadah." Ledeknya.
Shiro mendecih, sembari memasukkan pedangnya kedalam selongsong. "Bantu aku untuk mengubur tubuhnya." Ucap Shiro sambil berjalan ke mayat Guntur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lee menghajar Reisya habis-habisan, namun wanita itu masih sanggup berdiri.
"Berhentilah sok tegar!" Batin Lee. "Kau bukan Faiz!"
__ADS_1