Pedang Iblis

Pedang Iblis
Dunia tanpa Malaikat


__ADS_3

Beberapa hari setelah rubuhnya tirai kain dewi, Lestallum dengan beberapa perwakilan negara-negara besar Middle Earth mengadakan sebuah pertemuan di Sydney, Australia. Untuk membicarakan persenjataan militer yang diperlukan oleh pihak manusia dalam melindungi negaranya masing-masing dari serangan iblis-iblis Dark Territory.


Dengan bantuan Satsujin Mashin, Luticia, selaku walikota Lestallum, bisa memenuhi permintaan Ekspor dari beberapa negara besar. Dengan syarat, mereka juga harus memburu iblis mereka sendiri dan memberikan seluruh bangkainya kepada Lestallum agar mereka bisa dengan terus menerus memperkaya bumi ini dengan senjata yang bisa membunuh para iblis.


Keputusan yang sembarangan ini memunculkan banyak pertentangan dari dunia sihir, karena mereka merasa kalau manusia masih bisa menyalahgunakan senjata-senjata ini dan menciptakan perang antarbangsa.


Luticia pun mengadakan pertemuan ulang untuk menambahkan persyaratannya, syarat yang mengatakan kalau mereka tidak boleh berperang dengan satu sama lain dan tetap mengerti kalau lawan mereka satu-satunya adalah para iblis.


Mereka menyetujui persyaratan itu, kemudian pulang ke negara masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenny, Keshi, dan Jojo memiliki akar keturunan yang sama yaitu Shingen, anak paling spesial dari penyihir agung. Mereka akan terus bereinkarnasi untuk menyeimbangkan kekuatan sihir di muka bumi ini karena mereka adalah kartu Ace yang dikirimkan oleh tuhan." Terang Agung, yang sedang bertumpang dagu disebelah Arka. "Jadi, jangan salahkan dirimu atas kematian mereka, karena tidak seharusnya mereka berkelahi dengan satu sama lain."


Melihat Arka yang masih lesu, Agung kasian dan mencoba untuk menghiburnya lagi. "Hei, sampai kiamat pun, malaikat dan iblis akan selalu berkelahi, dan malaikat tidak bisa selalu memenangkan pertarungannya."


"Sudahlah, Agung. Kau buruk dalam hal ini." Kesal Yuna yang sedang hamil. Ia berjalan kehadapan Arka lalu meraih tangannya. "Mau ikut denganku?"


Arka mengangguk, lalu membiarkan Yuna menariknya pergi menjauh dari Agung.


Semua orang mengira kalau kematian Kenny adalah sebuah kehendak murni atas kekalahannya terhadap Onimaru didalam ruang.


"Kau mengerti maksudnya, kan?" Tanya Yuna sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. "Kenny, Keshi, dan Jojo akan kembali bereinkarnasi."


"Tapi semua itu tidak akan bisa menggantikan guru Kenny dan guru Jojo." Bantah Arka, lelaki itu duduk bersandar di dinding teras."Mereka adalah orang-orang hebat yang berkembang dari pengalamannya. Reinkarnasi dari mereka tidak akan bisa memiliki semua itu."


"28 tahun kehidupan penuh makna, kuhancurkan demi keegoisan semata." Imbuh Arka sebelum mengacak rambutnya kasar.


"Kalau memang itu yang mengganggu pikiranmu, kenapa tidak temui reinkarnasinya saja?" Ucap Yuna, sebelum kembali menghisap rokoknya.

__ADS_1


Arka mengernyit heran, "Apa maksudmu?"


"Bayi diperutku ini adalah milik Kenny. Kami membuatnya saat kalian sedang ada misi di Lestallum." Ungkap Yuna. Membuat Arka sontak menoleh kearahnya. "Tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali kau, aku, dan Kenny."


"Jadi, maksudmu..."


"Benar. Bayi ini akan menjadi reinkarnasi darinya." Lanjut Yuna sambil mengelus perut setengah bulat itu. "Semua sudah direncanakan dengan matang oleh Kenny. Dia memang pantas untuk mendapatkan gelar yang ia pegang teguh dengan bangga."


Yuna tersenyum, "menjadi sebuah kebanggaan untuk bisa dipercaya olehnya."


"Kapan anak ini akan lahir?" Tanya Arka, antusias.


"24 Desember. Tengah malam saat natal." Yuna membalas tatapan Arka, lalu berkata: "Berjanjilah untuk menjadi kuat, karena aku akan mempercayakan anak ini padamu."


"Kenapa?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Agung yang ditinggal oleh Yuna dan Arka tanpa sengaja menemui seorang pria dengan dua pedang iblis dipunggungnya. Pria itu sedang berdiri, menatapi rekonstruksi bangunan lobi akademi.


"Kau siapa?" Tanya Agung.


Lelaki itu menoleh, lalu menghampiri Agung. Dia meraih tangan Agung untuk bersalaman formal dengannya. "Namaku Usugurai Hikari, dan kedatanganku kemari adalah untuk menitipkan pedang iblis ini kepada akademi sihir."


Hikari menyodorkan pedang Odenta kepada Agung. "Aku berhutang terimakasih pada Arka. Tolong sampaikan padanya."


"Kenapa tidak kau sampaikan sendiri? Kau sedang buru-buru?" Agung penasaran.


"Ya, aku ingin mengunjungi suatu tempat di Jepang."

__ADS_1


"Hmmm, baiklah. Terimakasih sudah mempercayai akademi sihir." Agung membungkukkan badannya, disahut oleh Hikari. "Berhati-hatilah, Tn. Usugurai."


Hikari mengangguk, lalu memutar balik badannya dan berjalan pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat di Bandung, Arka tidak lupa untuk mengunjungi Aura, diantar oleh Asep. Perempuan itu sedang fokus dengan pendidikannya, sementara mimpi pendidikan Arka sudah hangus. Dia sudah di keluarkan dari sekolahnya karena sudah tidak hadir untuk beberapa bulan. Rumor kematiannya pun dapat menyebar luas kesepenjuru daerah walau tanpa bukti yang konkret.


SMAN 8 Jakarta beserta sekolah-sekolah yang lainnya sedang menjalankan pembelajaran sistem daring, sama seperti zaman Covid dulu. Membuat Aura tidak perlu kembali ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.


Rapot bisa dikirim secara online, pertemuan dilaksanakan melalui zoom, rasanya seperti anak homeschooling.


"Aku iri denganmu." Ucap Arka, yang sedang tertidur diatas kasur Aura sambil memainkan boneka-boneka yang berjejer di samping kasur, yang paling menarik perhatiannya adalah boneka beruang ungu bernama Rere. Selain karena warnanya yang unik, wanginya juga sangat harum.


Arka mengaku kalau dia iri dengan cara Aura menjalani hidup, begitu sesuai dengan tatanan kehidupan yang layak. Kedua orangtua dan ekonomi yang sejahtera.


Namun Aura yang sedang duduk dimeja belajarnya malah membantah rasa iri itu, mengatakan kalau seharusnya dia yang iri kepada Arka. "Aku selalu menunggu kedatanganmu yang tidak pasti karena aku selalu menyukai cerita-cerita unikmu. Iblis kera, penyihir teleportasi, dan kakek tua sakti ditengah hutan. Semua terdengar seperti cerita fantasi yang dikarang oleh anak-anak, tapi aku tahu kalau semua itu benar-benar terjadi."


"Awalnya aku tertarik denganmu karena sisi penampilan, jiwa atletis, dan kegigihanmu dalam belajar. Namun tiba-tiba saja di sore hari, kau datang kerumahku untuk memperkenalkanku dengan dunia yang baru."


"Dunia yang mampu mengubah pandangan banyak orang mengenai tatanan kehidupan yang layak, dunia yang benar-benar nyata. Aku iri dengan duniamu, Arka." Tutur Aura. "Kau telah menjadi segalanya diduniaku, tapi aku belum tentu bisa menjadi seseorang diduniamu."


"Maka dari itu aku juga sangat berterimakasih kepadamu, karena kau selalu menyempatkan diri untuk datang kerumah ini hanya untuk menemui perempuan sepertiku." Aura menundukkan kepalanya entah karena merasa malu atau sedih. "Aku sangat, sangat berterimakasih."


Arka pun dengan sigap mendatanginya dan memberikannya satu pelukan erat untuk meyakinkan Aura bahwa dia akan terus berusaha untuk tetap selalu berada disisinya sampai kapanpun itu.


Aura mungkin tidak tahu, tapi Aura adalah satu-satunya alasan Arka ingin terus hidup dan menyelamatkan dunia. Dia tidak ingin mimpi wanita itu hancur karena keegoisannya sendiri, namun pemikiran itu malah mengakibatkan kedua gurunya tewas dalam minggu yang sama.


"Aura, kamu adalah duniaku." Bisiknya. Ia kembali terisak begitu mengingat kalau banyak nyawa malah terancam sebab keberadaannya. Dia harus tetap tegar pada pemikirannya, walau tanpa ia sadari, itu adalah keegoisan yang baru.

__ADS_1


__ADS_2