Pedang Iblis

Pedang Iblis
Kemarahan


__ADS_3

Agung sebelumnya merupakan senior di akademi sihir. Dia bekerja sama dengan seorang penyihir bernama Ruben untuk mendukung Kenny saat dia berada di desa Fukui. Sebulan kemudian, Agung bekerja sama dengan Ruben dalam sebuah misi tetapi misi tersebut ternyata lebih sulit dari yang mereka sadari. Setelah misi selesai, Agung berada di kamar mayat sementara Kenny memeriksa mayat Ruben dan menjelaskan bagaimana misinya menjadi lebih sulit. Setelah Agung lulus dari Akademi, dia memutuskan untuk berhenti menjadi penyihir karena dia merasa sakit. Agung kemudian mulai bekerja sebagai karyawan swasta, namun ternyata, pekerjaan itu hanya mementingkan uang. Setelah menyelamatkan warga dari gangguan iblis, Agung tersadar dan memutuskan untuk kembali menjadi penyihir.


Tak lama kemudian, Onimaru terjadi. Agung diperkenalkan kepada Arka oleh Kenny, dan sisanya adalah sejarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pertarungan sengit di ruang tahta, kini Agung sedang berdiri dititik skakmat. Erca telah menyentuh tubuhnya, tidak ada masa depan dimana dia akan selamat.


"Aku tidak tahu kau ada disini." Ucap Agung.


"Daritadi aku disini. Kau yang mengganggu." Balas Erca. Dia sedang menaruh tangannya di tengah-tengah dada Agung. "Tapi yang sudah lalu biarkanlah berlalu. Mau mengobrol?"


Agung menundukkan kepalanya.


"Hei, jangan berkecil hati. Walau iblis-iblismu itu termasuk kelas rendahan, tapi kau mampu memainkan pertarungannya dengan sangat jenius." Puji Erca.


"Kenny... Apa sih yang aku coba lakukan?


Aku lari. Walaupun aku lari, aku kembali dengan alasan yang tidak jelas."


Bayangan Kenny dikepala Agung menunjuk ke sebuah arah, dan saat Agung mengikutinya, dia menemukan Arka.


"Pak Agung!" Seru Arka. Wajahnya panik, dia dipenuhi ketakutan.


"Tidak, Kenny. Itu salah. Aku tidak boleh mengatakan itu kepadanya...


...Karena Itu hanya akan menjadi kutukan baginya."


"Arka..." Agung tersenyum, dengan senyuman paling tulus yang pernah Arka lihat. "Aku serahkan sisanya kepadamu."


Transfigurasi wujud. Agung mati dalam sekejap mata setelah Erca mengalirkan sedikit energi jiwanya ketubuh Agung.



"Kau..." Arka terbata. Emosinya meluap. Dari yang hanya sekedar amarah berubah menjadi kebencian. "KAU AKAN MEMBAYAR SEMUANYA!! ERCA!!!"

__ADS_1


Arka menyerbu Erca, siap membalas dendam atas mentornya yang gugur. Erca dengan tenang menjentikkan manusia kecil yang bertransfigurasi ke arah Arka dan mengubahnya menjadi manusia yang dapat mengeluarkan duri dari kepalanya. Arka menghindari serangan lonjakan, tetapi Erca menggunakan manusia yang ditransfigurasi untuk berada di belakang Arka dan mempersiapkan teknik Soul Multiplicity/Multiplisitas jiwa nya.


Multiplisitas Jiwa memungkinkan Erca untuk menggabungkan dua jiwa atau lebih. Dia menindaklanjuti dengan melepaskan Body Repel, sebuah reaksi karena penolakan jiwa terhadap fusi. Dengan memanfaatkan efek ini untuk keuntungannya sendiri dan meningkatkan energi jiwa, Erca dapat menghasilkan output yang luar biasa dari gabungan manusia transfigurasi.


Erca menembakkan monster transfigurasi panjang yang mencoba menggigit Arka dengan mulut raksasanya. Arka berhasil mengatupkan gigi monster itu dan menghentikan serangannya, tetapi Erca muncul dari dalam mulut raksasa itu dan mendaratkan pukulan lurus dari kanan yang keras hingga cukup untuk menghancurkan wajah lawannya. Arka meringis lebih dari biasanya karena wajahnya terbelah oleh serangan itu. Erca telah mentransfigurasi tangannya untuk memasukkan senjata tumpul berbentuk persegi tepat di atas buku-buku jarinya.


Arka bertanya : "Bagaimana bisa kau mempermainkan kehidupan seseorang tanpa tujuan?!"


Iblis itu hanya menertawainya. Erca sendiri tidak pernah mencari alasan dan dia tidak menyesal sedikit pun. Jawaban terbaik yang bisa diberikan Erca padanya adalah demonstrasi. Dia menciptakan wajah Guntur dengan satu tangan dan menusuknya dengan tangan lainnya.


"Kau adalah aku." Ucap Erca. Mengejutkan siswa akademi tersebut. "Sampai kau bisa menerima kenyataan ini, kau tidak akan pernah menang."


Saat Arka hendak termakan oleh kebencian yang lebih tinggi, dia teringat sesuatu.


"Aku serahkan sisanya kepadamu."


"Pak Agung tidak pernah kehilangan ketenangannya." Arka mengalter kebencian dihatinya, menjadi energi jiwa. "Buktikan kepadanya... Bahwa kau, adalah seorang penyihir!"


Erca menyeringai. "Transfigurasi tidak bisa bekerja pada Arka. Meningkatkan ukuranku dengan memanipulasi jiwa juga hanya akan membuatku menjadi target yang lebih besar. Itu sama saja dengan bunuh diri." Energi jiwa terkumpul ditinjunya. "Aku akan tetap memanipulasi anggota badanku, yang mana seharusnya bukanlah sebuah masalah seperti sebelum-sebelumnya."


"Aku harus fokus pada formasi tubuhku untuk mempertahankan ketangguhan... Pasti itu yang Arka pikirkan. Dia berencana untuk memprediksi gerakanku dengan membaca energi jiwa yang mengalir." Tebak Erca, berdasarkan pengalaman. "Aku tidak akan mengubah bentuk jiwaku. Kekuatan masksimum! Pertahankan formasi ini! dan dengan serangan energi jiwa yang murni dan diperkuat, aku akan menusuk jantung milik Arka!"


Pelepasan lutut.


Teknik seni bela diri kuno yang menghilangkan gerakan awal. Arka tidak hanya melepaskan lututnya, tetapi juga pinggul dan bahunya. Alih-alih jatuh, gerakan ini menuntunnya ke kaki Erca. dari posisi yang lebih rendah, ia memanfaatkan momentum untuk menyerang Erca dengan tendangan manji seni bela diri taido.


Erca dan Arka melanjutkan pertempuran di istana. Iblis mencoba menebas Arka di jendela istana, tetapi Arka melompati serangan itu.


Setelah hilang, Erca berlari melewati taman istana dan menggunakan transfigurasi tertunda untuk membuat Arka lengah. Arka menghindarinya lagi dan Erca menindaklanjuti dengan serangan meninju dari lengan ekstra besar yang diperkuat melingkari tubuhnya. Arka menangkap serangan itu dan Erca segera menyadari bahaya yang ditimbulkannya.


Arka melakukan serangan balik tetapi Erca memotong-motong lengannya sendiri, mentransfigurasinya dengan kaki sehingga mereka berdua dapat melarikan diri. Erca berlari melewati gerbang istana dan bergabung kembali dengan lengan yang terpotong begitu mereka berada pada jarak yang aman.


Arka memperhatikan bahwa Erca telah membuka beberapa trik baru sejak terakhir kali mereka bertarung. Erca tahu bahwa menyerang secara langsung adalah risiko besar baginya, jadi dia memutuskan untuk tetap menggunakan manusia transfigurasi. Namun, mengurangi risiko bukanlah satu-satunya alasan untuk strategi ini.


Erca berlari ke area berbeda di istana dan menghilang dari pandangan Arka. Siswa muda itu ditemukan oleh tentara istana yang memperingatkannya bahwa terlalu berbahaya untuk berkeliaran.

__ADS_1


Arka yakin Erca berlari ke atas dan mencoba menyuruh kedua penjaga itu untuk bersembunyi. Tiba-tiba lengan Erca muncul dari dalam salah satu mulut mereka dan meninju Arka. Iblis kelas khusus itu memanjat keluar dari dalam mulut salah satu penjaga seolah-olah dia sedang melepaskan kulitnya dan mengubah tentara yang lainnya menjadi pedang, membuat Arka marah.


"Kau harus melatih imajinasimu." Ucap Erca, berharap untuk bisa menghancurkan semangatnya.


Sebuah peluru dari bilah bambu melubangi tubuh Erca.


"Serangan itu..." Arka memberi lirikan ke sumber serangan dan menemukan Jang Uk yang sedang berdiri dengan gaya.


"Maju! Muridku!" Teriak Jang Uk.


Arka tersenyum, lalu menghajar Erca yang sedang tersetrum oleh serangan bilah tadi. Dia dengan sungguh-sungguh berterima kasih kepada Jang Uk. Arka yakin dia belum bisa menyelamatkan siapa pun dan bahwa dia telah menyia-nyiakan upaya semua orang, tetapi bantuan Jang Uk telah menunjukkan kepadanya bahwa dia tidak sendirian. Terinspirasi, Arka terus menekan dan bersiap untuk menyucikan Erca di sini dan saat ini.


Sebelum Arka dapat menghabisi Erca, iblis kelas khusus itu terbagi menjadi dua. Salah satunya mengeluarkan energi jiwa, membuat Arka berpikir bahwa itu adalah tubuh utama Erca dan menghancurkannya. Namun, ini adalah tipuan, dan saat Arka tersadar, ia melihat Erca yang sedang berlari menuju Jang Uk.


"Guru! Lari!"


Erca mencetak pukulan langsung ke wajah Jang Uk, berpotensi menjadi akhir untuknya. Arka berlari untuk memeriksa Jang Uk. Erca menunggu untuk melihat apakah satu sentuhan akan cukup untuk membunuhnya karena itu tidak cukup untuk membunuh Agung pada pertemuan mereka.


Jang Uk menyentuh wajahnya dan mengingat kembali kehidupannya ketika dia masih berada di akademi sihir cabang cina. Saat itu dia percaya semua orang di sekitarnya aneh dan dia adalah satu-satunya orang waras di sana.


Itu semua bermula ketika Jang Uk secara lantang mengatakan bahwa dia tidak pernah menyukai Keshi. Dia merasa bahwa kekuatannya hanya datang dari berkat keturunan.


Namun Sima Yi serta guru-guru yang lain selalu membela Keshi dengan argumen bahwa Keshi lebih dari itu. Kalau memang lebih dari itu, lantas mengapa Jang Uk tidak pernah menemukan kelebihannya.


Rasa dengki semakin menebal setiap harinya, sampai pada titik dimana Keshi harus kehilangan sepasang matanya. Melihat pria berambut putih itu kesusahan dalam berjalan membuat Jang Uk tambah yakin bahwa Keshi tanpa mata dewa bukanlah apa-apa selain sampah.


Namun lagi dan lagi, Sima Yi membelanya. Mereka masih mempercayai kelebihan yang di sembunyikan oleh Keshi. Membuat Jang Uk kesal dan frustasi.


Hingga suatu hari, Sekte penyembah iblis datang menyerang akademi. Rasa iri, benci, dan dengkinya seketika sirna saat Keshi datang untuk melindunginya. Mengorbankan nyawanya agar Jang Uk bisa selamat dan memperingatkan akademi sihir cabang Indonesia dari serangan yang mengerikan ini.


Orang buta yang menurutnya tidak bisa apa-apa ternyata bisa menjadi sekuat itu. Membuktikan bahwa segala presepsi buruk milik Jang Uk merupakan sebuah kesalahpahaman yang 100% persen salah dan hanya dibenar-benarkan oleh dirinya sendiri.


Jang Uk pun kini percaya, bahwa orang-orang akademi ini memang aneh, dan...


Jang Uk melihat ke wajah khawatir milik Arka.

__ADS_1


"Ternyata, menjadi aneh itu... Tidak terlalu buruk, ya?"


Saat itu, wajah Jang Uk membengkak di sekitar mata kirinya dan meledak dari efek transfigurasi. Arka menyaksikan dengan ngeri saat mata Jang Uk keluar dengan keras dari kepalanya dan darahnya berceceran di wajahnya.


__ADS_2