
Hari itu adalah hari kerja biasanya bagi para pekerja lemburan. Kopi di atas meja, mata yang layu, ruangan yang gelap juga cahaya komputer yang terlalu terang. Namun tiba-tiba saja, muncul mahluk raksasa setinggi gedung dengan kepala berbentuk gunung api, ditengah jalanan kota. Menyinari malam hari hanya untuk meledakan jakarta selatan dan meratakannya ke tanah. Orang-orang berlari, saling menabrak satu sama lain, mereka mentingkan diri mereka sendiri. Seorang ibu bahkan rela meninggalkan anaknya yang tertinggal saat keluar dari mobil.
Ares adalah salah satu korban dari insiden sepuluh Juni, dan yang menyelamatkannya dari kematian adalah Madara. Dengan teknik pembaliknya yang setara dengan Shin Yuna, dia mampu menyembuhkan luka fatal pada tubuh Ares. Membuatnya berpikir bahwa Madara adalah seorang individu yang baik. Namun Madara adalah seorang pria dengan visi, dari semua pergerakan yang berhubungan dengan sekte penyembah iblis, ada Madara yang menjadi otak dari segalanya. Dia selalu berada di balik bayangan, memperhatikan aksi dan reaksi untuk mencari celah.
Seo Yul memang menjadi serangan pembuka dalam menghancurkan akademi sihir cabang cina. Namun, yang mengakhirinya adalah Madara. Dia membunuh Sima Yi dan menyuruh Ares meminum darah segarnya untuk memperoleh kekuatan.
Kekuatan manipulasi darah yang sekarang Ares gunakan untuk bertarung sengit dengan Arka.
Dengan kekuatan ini, Ares bisa meningkatkan kinerja tubuhnya dengan memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh, memungkinkan mereka untuk mengambil lebih banyak oksigen. Ini meningkatkan denyut nadi Ares dan jumlah sel darah merah, memberikan peningkatan kekuatan dan kecepatan yang drastis
"Bagaimana bisa bocah ini menyamai kekuatan fisikku yang sudah ditingkatkan?" Batin Ares saat bertukar tinju dengan Arka. "Apakah aku harus bermain dengan jarak?"
Konvergensi, Memampatkan dan memadatkan darah hingga batas absolutnya dengan energi jiwa. Ini adalah salah satu teknik Ares yang paling sering digunakan secara berurutan karena merupakan kunci mengisi serangan terkuatnya, Piercing Blood dan Supernova. Ada sikap tradisional untuk mengaktifkan Konvergensi tetapi Ares telah menggunakan cara lain untuk melakukannya juga.
Ares menepuk tangannya sambil mengucap : "Piercing Blood."
Piercing Blood, Serangan laser dari darah mematikan yang ditembakkan dari tangan Ares yang tergenggam setelah mengisi Konvergensi. Ia memiliki kecepatan luar biasa dan kekuatan menusuk yang sangat hebat, seperti namanya. Ares mampu membengkokkan serangan itu dan membuatnya memantul jika meleset, tetapi Piercing Blood tidak mempertahankan tingkat kecepatan ekstrem yang sama seperti saat tembakan pertamanya.
Arka menghindari serangan itu sambil terus berlari ke arah Ares untuk memperkecil jarak mereka.
"Satu pukulan telak. Itulah yang kubutuhkan." Batin Arka.
Arka tidak tahu bahwa serangan darah itu dapat memantul sehingga ia tertembak dengan telak dan terpental ke sebuah toko sepatu. "Sial, aku kurang waspada." Arka menoleh kesamping dan menemukan si penjaga toko sedang bersembunyi dibalik kasir. Arka memintanya untuk tetap diam dengan menaruh telunjuk didepan bibir. "Semua akan baik-baik saja." Ucapnya.
Ares kembali menembakkan Piercing Blood hingga menghancurkan kaca toko dan merusak rak-raknya. Serangan darah itu terus memantul ke seluruh penjuru toko, membuat semuanya tidak lagi baik-baik saja.
Arka membawa penjaga toko tadi keluar dengan selamat lalu menjaganya hingga ia berhasil turun dari lantai yang sama.
"Kenapa kau melindunginya? Kau bukan pahlawan." Bingung Ares.
__ADS_1
"Mungkin tidak diceritamu, tapi aku adalah pahlawan terkeren diceritaku sendiri." Jawab Arka dengan senyuman ramah.
Tanpa bersikap acuh, Ares kembali menjaga jaraknya.
"Dia akan mengeluarkan serangan itu lagi." Prediksi Arka. "Serangan darah itu terlalu cepat! kesempatanku untuk menghindarinya adalah 50:50. Jika aku salah tebak sekali lagi, aku akan mati!"
"Tapi itu tidak akan menghentikanku." Arka melompat tinggi untuk memancing Ares. Ares mengetahui hal itu, tapi dia mengikuti alurnya saja.
"Piercing Blood!"
"Karena aku... tidak akan pernah menyesali jalan hidupku!" Arka menghindari serangan itu lalu berlari ke arah Ares dengan kecepatan penuh. "Serangannya akan memantul, tapi kecepatannya akan berkurang. Asal aku lebih cepat dari serangan itu, aku pasti bisa memenangkan pertarungan ini!"
"Supernova."
Teknik manipulasi darah buatan Ares, meledakkan beberapa bola darah yang dipadatkan dengan Konvergensi dan menembakkan peluru darah yang diperkuat ke segala arah. Itu juga dapat disalurkan ke satu bola yang berukuran lebih besar dan akan meledak menjadi serangan yang lebih dahsyat. Arka menerima ledakan itu dengan mutlak.
"Yang itu baru." Batin Arka. "Bola-bola itu, aku harus waspada terhadap bola-bola darah itu."
Arka tiba-tiba saja berlari ke sebuah lorong.
"Bersembunyi? Sekarang?" Ares heran. Ia pun mengikutinya dengan berjalan, sesampainya disebuah ruangan bernama toilet, yang ia temukan hanyalah keran-keran yang dihancurkan oleh Arka juga air yang terciprat kemana-mana karenanya.
"Air. Kelemahan dari darah adalah air!"
toilet wanita dan pria berseberangan. Saat Ares berada didepan toilet pria, Arka akan berlari dari toilet wanita dan mendorongnya masuk kedalam toilet pria agar membuatnya basah kuyup.
Manipulasi darah menghentikan pembekuan darah untuk sementara waktu. Dengan alasan itu, darah Ares akan lebih mudah larut dari darah biasanya. Untuk tambahan, sekarang darahnya terkena air dibawah tekanan osmotik, membran darah merah mulai pecah/robek. Sel darah, yang membentuk hampir 45 persen darah, menjadi tidak terkendali. Konvergensi pun terhalau.
Dalam keadaan seperti ini, Ares tidak bisa mengontrol darah diluar tubuhnya.
__ADS_1
"Skala merah mengalir." Rapal Ares. Ia baru saja meningkatkan lebih lanjut peningkatan output yang disediakan ke tingkat yang lebih tinggi. Ini memberi Ares kemampuan untuk bersaing dengan kekuatan fisik manusia super milik Arka. Dia juga dapat menyalurkannya ke fungsi tubuh tertentu seperti memfokuskannya ke otot mata untuk membaca gerakan.
"Aku tidak mengerti logikanya." Batin Arka. "Aku juga tidak peduli dengan apa yang baru saja dilakukannya."
"Yang ku tahu pasti adalah, kau sedang berada di wilayahku!"
Detik kemudian mereka beradu tinju diruangan kecil itu. Setelah semua peningkatan yang dilalui oleh Ares, namun Arka tetap menjadi pemenangnya. "Kau tidak bertarung dengan segenap hati." Ucap Arka.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa merasakannya melalui tinjumu. Kau tidak bertarung dengan sungguh-sungguh." Jelas Arka.
Ares menghela napas panjang, "dari awal aku memang tidak ingin bertarung denganmu, yang kuinginkan hanyalah pedang itu." Ucap Ares. "Karena hanya dengan cara inilah aku bisa bebas darinya."
"Dari siapa?"
"Madara." Melihat reaksi kebingungan dari Arka, Ares pun menimpali. "Dia ketua dari sekte penyembah iblis."
"Sekte penyembah iblis?" Arka tertegun. "Kau bekerja sama dengan mereka?"
"Pada insiden 10 Juni. Dia menyelamatkanku dari kematian." Ungkap Ares. "Dan karena alasan itu sendiri, aku jadi merasa berhutang dengannya."
"Dia yang membunuhmu dan dia juga yang menyelamatkanmu." Arka jongkok untuk menyamai derajat mereka. "Dari sudut pandangku, Kau tidak berhutang apapun padanya."
"Benarkah?"
Arka mengangguk kemudian mengulurkan tangannya dengan intensi mengajak. "Mari akhiri pertarungan kita disini. Aura sedang menunggumu dirumah."
"Aura?" Ares nampak tersenyum. Lalu saat Ares menerima ajakan Arka, seorang pria berambut biru keabu-abuan panjang muncul didepan pintu toilet. Sekilas terlihat di wajahnya terdapat jahitan yang terus merambat hingga kesekujur tubuhnya yang membuatnya tampak dijahit menjadi satu.
__ADS_1
"Sudah kuduga kau akan berkhianat, Ares." Ucap Erca, iblis yang tampak seperti manusia dengan wajah tambal sulam dan mata abu-abu.