
Bidikan di atas kepala Tokyo pada malam hari ditampilkan, perlahan-lahan diperkecil untuk mengungkapkan bahwa area tersebut hampir gelap gulita. Tokoh tak dikenal mulai mendiskusikan situasi tersebut dan mengungkapkan bahwa 23 bangsal telah hampir hancur total, dengan hanya beberapa area yang bersih. Mereka berencana membuat rencana evakuasi untuk lima juta penduduk, dengan perkiraan setidaknya sepuluh juta iblis telah dibebaskan.
Salah satu orang terperangah karena mereka berencana untuk mengevakuasi seluruh area, bertanya-tanya tentang berbagai konsekuensinya. Seseorang mengatakan bahwa mereka harus memperluas dua penghalang ke batas prefektur, dan yang lain khawatir tentang mengumumkan keberadaan iblis. Seseorang meyakinkan yang lain bahwa penyihir melindungi pengungsi di dalam kota, dengan tambahan lain bahwa mereka dapat memberi tahu publik bahwa iblis tidak hanya muncul di Tokyo. Ketika seseorang khawatir tentang intervensi oleh militer asing, yang lain berdebat bolak-balik tentang bagaimana menangani seluruh situasi.
Di sebuah toko serba ada, seorang gadis muda berlutut di lantai sambil mengonsumsi berbagai macam makanan dan minuman. Dia tiba-tiba melihat sosok menyeramkan di ambang pintu yang menyuruhnya datang dan itu berbahaya. Itu juga menyebutkan pemandian air panas dan mereka bisa menyanyikan lagu. Gadis itu bertanya di mana ibunya, dan sosok itu menjawab bahwa ibu, ayah, kakak perempuan, adik laki-laki, dan guru semuanya ada di sana. Dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki adik laki-laki dan dia membenci gurunya. Setelah sosok itu mengulangi kata-kata gadis itu, dia menjadi bingung dan bertanya apakah mereka mau minum. Sosok itu mengatakan untuk memberikannya kepada mereka, dan saat gadis itu berjalan di luar toko, roh terkutuk yang sangat besar dengan gigi setajam silet menarik umpan yang mereka gunakan dan membuka mulutnya untuk melahapnya.
Melompat dari atas, Kale tiba-tiba muncul dan menusuk kepala makhluk itu dengan katana.
Dengan senyum murah hati di wajahnya, dia bertanya pada gadis itu : "Maaf, apakah aku menakutimu?"
Dia bertanya apakah gadis ith bersama ibu atau ayahnya, tetapi dia menjawab bahwa dia tidak tahu. Kale mencatat daerah tersebut dan meragukan bahwa sang gadis tinggal di sana, usai memperhatikan betapa usang sepatunya dan menanyakan apakah dia telah berjalan jauh.
Saat Kale mengatakan kepadanya bahwa dia telah melakukan pekerjaan dengan baik, makhluk yang tadi tumbang tiba-tiba bangkit dari tanah dan membuka mulutnya lebar-lebar bersiap untuk melahapnya, namun makhluk itu mendadak terlempar ke belakang dengan keras dan terlempar ke dinding. Gadis itu memperhatikan serangan tadi, dan Kale dengan sopan berkata : "Odenta, tolong jangan berlebihan."
Kale menutupi mata gadis itu dan menjauhkannya dari pembantaian.
Setelahnya, Kale bertemu dengan para tetua yang memuji usahanya. Dia terus terang mengatakan kepada mereka untuk langsung ke intinya dan mengatakan bahwa mereka tahu dia akan mematuhi perintah mereka. Salah satu dari mereka terkekeh dan mengatakan bahwa pembunuhan roh terkutuknya tidak membuktikan apa-apa. Kale bertanya sebagai balasan apakah dia harus membuat Sumpah Mengikat, lalu meyakinkan mereka bahwa dia tidak peduli jika orang itu adalah murid Kenny. Dia mengatakan bahwa sejak Arka membunuh Kenny, dia akan membalasnya sendiri.
Lima pemberitahuan diberitahukan oleh The Saint. Pertama, Madara dipastikan masih hidup dan telah dijatuhi hukuman mati. Kedua, Luticia dianggap sebagai kaki tangan insiden di Lestallum dan diasingkan secara permanen. Ketiga, Yuna akan dieksekusi karena melahirkan anak Kenny. Keempat, eksekusi Arka akan dilanjutkan dan segera dilaksanakan. Terakhir, Kale ditunjuk sebagai algojo Arka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam kilas balik, Gin sedang berbicara di telepon dengan seseorang dan meminta maaf karena tidak bergerak lebih awal, mengatakan bahwa dia hanya mengawasi sesuatu. Dia dengan malu-malu berkomentar bahwa dia mungkin belum tentu berada di pihak mereka, menambahkan bahwa dia hanya ingin menyingkirkan dunia dari iblis. Dia mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya akan bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak yang hadir, akhirnya mengungkapkan bahwa dia berencana untuk menghadapi The Saint.
Saat Arka yang sedih duduk sendirian di tangga besar, Ares mendekatinya dan bertanya tentang lukanya.
"Aku baik-baik saja. Semua karena Onimaru, yang sepertinya semakin kuat." Ucap Arka. "Kau sendiri bagaimana?"
Ares mengedikkan bahunya, "Kau ingin mencari angin?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berdiri sendirian di jembatan, Arka bertepuk tangan beberapa kali untuk mengeluarkan beberapa iblis yang berkeliaran ditempat itu. Dia membawa mereka semua ke jalan bawah tanah tempat Ares muncul, membunuh sebagian besar dari mereka dengan satu tembakan Piercing Blood. Satu-satunya iblis yang tersisa melompat ke arah Ares, tetapi Arka dengan mudah menghadapinya dengan membenturkannya ke dinding.
Ares terkesan tidak hanya dengan kekuatan Arka tetapi juga dengan kemahiran dalam mengendalikan energi jiwa, menggambarkannya sebagai dewa iblis meskipun dia masih belum pulih sepenuhnya.
"Kau tidak pernah berhenti untuk membuatku takjub, adikku." Ucap Ares.
Arka mendecih. "Kau akan terus memanggilku dengan sebutan itu?" Tanyanya
Ares mengangguk, dan menjawab: "Lagipula kau adalah suami dari adikku."
"S-suami?" Arka merasa aneh, namun ia juga jadi kepikiran dengan kondisi Aura sekarang. Apa kabar wanita itu?
"Aku tidak melihat Enka." Ucap seseorang dengan penampilan desa yang Ares kenali. Dia adalah Shin Lee, dan dia tiba-tiba muncul diatas mereka. "Apakah aku orang pertama yang sampai disini?"
"Dia siapa? Apakah dia baru saja menyebut marga Farel?" Batin Arka.
Lee menengok ke bawah, dan masih mendapati Arka dan Ares yang masih bengong ditempatnya. "Apa yang kalian berdua lakukan? Kalian benar-benar mencolok, tidakkah kalian ingin lari?"
"Lari?" Bingung Arka.
"Kau tidak tahu? Eksekusimu sudah dilanjutkan sejak kematian Agung dan Kenny." Ungkap Lee.
"Eksekusi?" Batin Ares.
Arka kemudian teringat dengan kata-kata Toru tentang berapa banyak penyihir yang telah diselamatkan Kenny.
"Bisnisku adalah dengan Enka, jadi sejujurnya aku tidak terlalu peduli jika kau mati atau hidup." Jujur Lee. "tapi aku tidak bisa membuatmu berlarian, jadi aku akan mulai dengan mematahkan kakimu."
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan dari Farel?" Tanya Arka.
"Aku akan membunuhnya. Tapi aku akan membantunya menulis sesuatu terlebih dahulu." Dengan kecepatan fisik yang mendekati Faiz, Lee terlihat seperti berteleportasi ke belakang Arka dan Ares. "Aku dengar Farel sedang mencarimu."
Meskipun Arka mengenali kecepatan Lee, dia tidak dapat menghindari serangan ke wajahnya.
Sebelum Arka atau Ares dapat mendaratkan pukulan mereka sendiri, Lee dengan cepat melompat menjauh dan keduanya menduga bahwa itu pasti teknik sihirnya.
"Kau lebih tangguh dari dugaanku." Ucap Lee, tertuju pada Arka. "Haruskah aku meningkatkan kecepatanku?"
Secara tiba-tiba, ketiganya merasakan kehadiran yang luar biasa.
"Guru Kenny?!" Selaju Arka membalik badannya, semakin tersadar dia dengan seberapa jauh perbedaan esensi energi jiwa dari keduanya. "Sesuatu yang lebih mengerikan!"
Dia mendongak dan melihat Kale yang dengan tenang sedang menyiapkan senjatanya. "Loh, kau tidak sendirian?" Ucapnya.
Ares menarik kerah Arka, dan membawanya lari kedalam terowongan. "Dia adalah algojomu."
"Hah?!"
"Si pirang tadi cepat, tapi aku yakin itu bukan teknik sihirnya. Akan sangat menyebalkan untuk bermain kejar-kejaran dengannya." Cermat Ares. "Aku akan menghadapinya."
"Akankah kau baik-baik saja?" Khawatir Arka.
"Ya, tenang saja. Incaran mereka bukan aku, melainkan dirimu, Arka." Jawab Ares. "Jangan pedulikan aku, pikirkan saja caranya kabur dari pria berambut hitam itu. Hanya dengan merasakan energi jiwanya, aku yakin dia selevel dengan Madara."
Saat mereka mencapai sisi lain terowongan, Lee melompat turun untuk menangkap Arka. Namun, Ares menginterupsi. "Lari! Arka!"
Arka mempercepat langkahnya. Walau tidak ada suara hentakan kaki, dia dapat merasakan bahwa Kale sedang berada tepat dibelakangnya.
__ADS_1
"Bukankah dia terlalu cepat untuk seseorang yang sedang menggendong dua pedang?" Batin Arka.