
"Mangetsu adalah iblis berkekuatan bulan. Dengan kekuatan itu, dia bisa mempercepat pemanggilan Holocaust namun yang selama ini kau lakukan hanyalah mengurungnya didalam pedang." Madara melangkah mendekat, dan jalan setapak itu mulai hancur. "Berikan pedang itu padaku atau mati konyol. Pilihlah dengan bijak."
"Sebelum itu, bolehkah aku bertanya?"
Madara mengangguk mempersilahkan Hikari untuk bertanya, Ia lalu melenyapkan aura iblisnya yang sedari tadi meledak-ledak. "Kenapa kau sangat terobsesi dengan hari kiamat?" Tanya Hikari.
"Karena itu adalah peristiwa alam yang harus terjadi untuk melenyapkan seluruh pendosa." Jawab Madara.
"Apakah itu termasuk dengan dirimu?"
"Tentu tidak." Madara menggunakan kedua tangan untuk memperjelas tampilan dari pakaiannya. "Seperti yang kau lihat, aku adalah seorang biksu."
"Kenapa kau memiliki rambut?"
"Mantan. Seorang biksu." Koreksi Madara.
Hikari menjepit dagunya dengan telunjuk dan jempol seolah berpikir. "Apakah setelah ini kau akan memburu pedang iblis lainnya?"
"Sekiranya begitu."
Hikari terkekeh. "Sekarang aku mempunyai alasan kuat untuk membunuhmu."
Hikari mengacungkan pedangnya ke arah Madara, hanya untuk membuatnya tersenyum. "Tidak bijak. Tapi aku akan mewajarinya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat sedang berjalan menyusuri lorong akademi, Reisya dan Farel mendengar suara dentuman kencang datang dari gerbang.
Mereka pun dengan segera datang kesana dan menemukan tubuh Gere yang sudah babak belur.
__ADS_1
Diatasnya, terdapat seorang pria muda yang relatif tinggi dengan tubuh yang bugar. Dia memiliki mata coklat yang tajam dan rambut pirang yang diwarnai dengan aksen akar hitamnya. Dia hampir selalu memiliki seringai sombong terpampang di wajahnya dan memiliki penampilan yang sesuai dengan kepala klan. Dia memiliki tiga tindikan di telinga kirinya, satu di cuping telinganya, dan dua lagi di bagian atas.
Pria itu mengenakan pakaian tradisional yang menyerupai sebagian besar anggota klannya. Dia memakai kemeja putih lengan panjang dengan kancing warna di bawah kimono biru gelapnya. Dia melengkapi pakaiannya dengan bawahan dan sandal hakama berwarna terang.
"Anggota klan Shin?!" Reisya kaget. "Tapi aku sudah membunuh semuanya..."
"Tidak semuanya." Bantah pria itu. "Namaku Shin Lee, dan aku akan membunuh kalian semua untuk merebut pedang-pedang iblis."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak kecil, Lee selalu dipuji dan disebut jenius oleh orang lain. Dia sangat dimanjakan sebagai anak bungsu dan paling menjanjikan dari anak-anak Han. Dia dikondisikan untuk melihat dirinya sebagai penerus ayahnya dan akibatnya, kesombongan Lee tumbuh ke tingkat yang tak terkendali bahkan sebagai seorang anak kecil. Dia memandang rendah semua orang yang dia anggap lebih lemah darinya, yang merupakan sebagian besar orang yang ditemui oleh Lee.
Satu-satunya orang yang tampak dihormati oleh Lee adalah Faiz. Pada suatu hari dia pergi mengunjunginya untuk mengolok-olok pria malang yang tidak memiliki energi jiwa itu, tetapi dia langsung menyadari bahwa Faiz sangat kuat meskipun demikian. Hal ini membuat Lee menganut ideologi bahwa dosa orang yang tidak penting adalah ketidaktahuan akan kekuatan sejati. Lee merasa dialah satu-satunya orang yang memahami Faiz dan berusaha untuk menjadi luar biasa seperti dirinya.
Itulah mengapa dia sangat amat membantah saat anggota klan Shin yang selamat, memberikan Reisya gelar "Reinkarnasi Faiz."
Lee dengan percaya diri mengejar kekuatan sampai pada titik di mana dia menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri. Dia menolak untuk mengakui bakat siapa pun, mengacu pada tetuanya, Taeyong dan Chaemin sebagai lemah meskipun pengalaman mereka sebagai anggota senior klan. Sikap Lewang sembrono dan angkuh bahkan membuat jengkel sesama anggota klannya, sampai pada titik di mana Taeyong dan Chaemin menyerangnya karena terlalu sombong.
Lee menolak untuk mengakui bahwa Reisya berada di ranah kekuatan yang sama dengan Faiz. Itu adalah gelar yang diinginkan Lee dan dia akan melawan Reisya untuk menolaknya lebih dari yang dia lakukan untuk membalaskan dendam klannya sendiri atau bahkan perintah Madara.
"Akulah yang terkuat!"
Lee berlari kearah Reisya, dan yang Reisya lakukan adalah meminta Farel untuk tidak ikut campur. Farel pun menurut, ia juga memprioritaskan keselamatan senior Gere dan membawanya kepada Yuna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Arka sedang jalan-jalan di mall bersama Aura, ia didatangi oleh seorang pria yang dikenali oleh keduanya.
"Ares?" Sebut Aura.
Ares adalah kakak laki-laki Aura yang dulu hilang dalam insiden 10 juni. Dia sempat ingin memeluk rindu lelaki itu tetapi menyadari adanya perubahan yang begitu kontras.
__ADS_1
Ares memiliki perawakan tinggi tegap dengan rambut hitam diikat rapi kebelakang.
Ares mengenakan jubah longgar berwarna cokelat muda yang menutupi badan, lengan, dan kakinya. Itu dikenakan di bawah rompi ungu gi-seperti yang menutupi tubuhnya dalam bentuk "v" dan memiliki bagian bawah yang meluas ke daerah pinggang Ares. Dia juga selalu mengenakan syal bundar di lehernya yang serasi dengan gi dan sepatu bot cokelatnya.
"Bagaimana bisa?" Bingung Arka.
"Aku mengizinkanmu mengencani adikku. Tapi terus terang, aku harus mengambil pedang iblis itu darimu." Ares melirik punggung dan genggaman Arka, tapi tidak kunjung menemui pedang Onimaru. Hanya kantong belanja titipan ibu mereka. "Kau tidak membawanya?"
Arka menggeleng. Dia meninggalkan pedang itu di mobil Asep untuk tidak menarik perhatian orang awam.
"Sialan, informasinya kurang lengkap." Kesal Ares. Dia adalah seorang perfeksionis. "Bisa bawakan pedang itu kepadaku? Aku akan menunggumu disini."
"Tidak bisa." Tolak Arka. Ia mengoper kantong belanjaannya pada Aura. "Aku tidak tahu apa motifmu, tapi aku tidak bisa mempercayai seseorang yang telah lama menghilang dan datang tiba-tiba."
"Kalau aku mengalahkanmu, maukah kau memberikannya padaku? Aku ambil sendiri juga tidak masalah." Tanya Ares.
Arka mengedikkan bahunya. "Entahlah."
Ares melesat ke arah Arka dan menghajarnya kuat-kuat ditengah kerumunan hingga menabrak tembok. "Aura! Lari!" Titah Arka.
Aura kabur, dan saat Ares hendak mengejarnya, Arka menarik kerah Ares untuk mencegahnya dan balik menghajar Ares sebagai bentuk pembalasan.
"Kau bekerja dengan siapa?" Tanya Arka.
"Sebaiknya tidak kuberi tahu." Ares nampak berpikir. "Ah, bagaimana kalau kita bertaruh?"
Arka mengernyitkan dahinya.
"Yang kalah harus menjawab pertanyaan dari yang menang." Ucap Ares.
Arka nyengir, lalu memasang kuda-kuda. "Kalau begitu, aku takkan kalah!"
__ADS_1