
Venma adalah penyihir dari ribuan tahun lalu yang berinkarnasi menggunakan tubuh Luticia. Pada era keemasan, Venma adalah penyihir wanita terkuat dari Rusia yang terobsesi dengan Madara dan Onimaru.
Venma adalah wanita jangkung dengan tubuh atletis, kulit putih, dan mata berwarna terang. Dia memiliki rambut hitam panjang, dan alis tebal yang sedikit membulat di bagian dalam. Seribu tahun yang lalu Venma lebih suka telanjang dan hampir tidak mengenakan pakaian. Di hari pertemuannya dengan Madara, Venma hanya mengenakan jaket bulu yang tidak terikat.
Venma menjelma dalam tubuh Luticia untuk pemburuan reinkarnasi Kenny serta kelima pedang iblis dan memutuskan untuk tidak membengkokkan penampilannya. Dia mengenakan wajah Luticia dan mengenakan pakaian tempur untuk pertarungannya dengan Kale dan Yuki. Venma mengenakan setelan tubuh gelap tanpa lengan dengan celana longgar berwarna terang yang dimasukkan ke dalam sepatu bot. Dia juga memakai ban lengan berwarna gelap yang dihubungkan dengan kain mirip sayap yang juga dipasang di punggung Venma.
Venma adalah wanita percaya diri, liar, dan kurang ajar yang bertindak hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.
Tuan-tuan yang santun pada zaman itu menyebut Venma sebagai orang Rusia udik.
Venma berperilaku janggal dan menjengkelkan. Dia tidak menghargai formalitas dan memiliki sedikit keakraban dengan tradisi populer.
Venma memilih untuk tidak memakai pakaian dan tidak terlalu memperhatikan peringatan petugasnya agar dia lebih halus saat menghadiri festival formal. Dia tidak menyesali perilakunya dan tidak peduli jika pelayannya dihukum terus-menerus karena itu, dengan menyatakan bahwa mereka seharusnya sudah terbiasa sekarang.
Obsesi Venma terhadap Onimaru dimulai pada pandangan pertama dan keinginan langsungnya
untuk meringankan kesepian Onimaru dengan cinta. Dia ingin menjadi orang yang membunuh Onimaru dan menikmati kesendiriannya untuk dirinya sendiri.
Seperti Yuki, Venma menyetujui sumpah pengikat untuk bertarung dengan lawan terkuat, yaitu Onimaru. Seribu tahun kemudian, keinginan utama Venma adalah menemukan Onimaru dan mengajarinya tentang cinta. Dia selalu percaya bahwa dia bisa menunjukkan kepadanya kekuatan dan kesendirian yang datang dengan cinta. Venma menolak untuk percaya bahwa ada orang lain yang bisa menunjukkan Onimaru dan berniat untuk melakukan tindakan itu sendiri dengan sepenuh hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kale dan Yuki mengalami kesulitan yang cukup menjengkelkan saat menghadapi seorang penyihir seperti Venma. Kekuatan mereka sudah terkuras habis pada lawan sebelumnya, dan hanya bisa bertahan ditempatnya berdiri begitu bertemu dengan lawan yang lebih kuat.
"Kalian membuang waktuku." Ucap Venma, bersikap remeh. "Kutanyakan sekali lagi, dimana Onimaru?"
Hentakan pedang kencang dari belakang ia tepis tanpa sadar menggunakan sihirnya.
"Kau bukan Onimaru." Celetuk wanita itu ketika sudah membalik wajahnya dan hanya bertemu dengan wadah Dojigiri.
Kale terlihat begitu serius setelah serangan nekat dari Yeoul tadi berujung gagal, bersiap dengan tubuh lemahnya untuk segala kemungkinan terburuk. "Apa yang kau rencanakan?" Batin Yuki.
__ADS_1
"Enyahlah." Venma meninju perut Yeoul hingga melubangi perutnya dan melemahkan genggamannya, merebut pedang Dojigiri lalu menebas dada sang gadis begitu dalam serta membelah kepalanya hingga tewas. Disaat-saat seperti ini, yang ada dipikiran Yeoul hanya wajah calon suaminya, Hikari.
Mungkin, kalau dia memilih lari bersamanya, semua akan baik-baik saja sekarang.
"Yeoul!" Seru Yuki. Dia ingin menolong, namun darah merah tiba-tiba keluar dari mulutnya. "Apa-apaan?"
"Berikan Onimaru kepadaku." Venma mematahkan pedang Dojigiri dengan pahanya, memanggil aura kegelapan dari dalam pedang, keluar ke permukaan. "Bangkitlah... Dojigiri kunit--"
Belum sempat pangeran iblis itu terstruktur dengan sempurna, Kale menggunakan manipulasi bayangannya untuk kembali mengurung sang iblis kedalam ruang bayangan yang baru saja diciptakan olehnya.
"Menarik..."
Venma tersenyum takjub, saat ia hendak menerjang Kale dengan tekniknya, ia dibuat gemetar oleh hawa mencekam dari seorang pria yang sedang menatapnya dari kejauhan.
Seorang penyihir dengan banyak pengalaman, pembunuh senyap, saudara dari Kenny.
Si penyihir tenang, Toru, telah tiba.
"Dia juga tidak bisa keluar dari tirai, kan?" Tanya Toru, memastikan. Sambil memasang sarung tangan kain berwarna hitam miliknya.
"Mari kita mulai." Toru dan Reisya berlari dari gedung ke gedung untuk bisa memberikan serangan kepada Venma, sementara Ares dan Aura menembakinya dari kejauhan.
Konstruksi : Bergantung pada keakraban dan pelatihannya, Venma dapat menciptakan kembali zat apa pun yang ia kenali kecuali alat terkutuk khusus.
Liquid Metal : Setelah membuat beberapa jenis peralatan tempur, Venma menggunakan pengalamannya untuk mengembangkan logam cair sebagai senjata utama dalam perjalanannya menjadi penyihir veteran. Logam cair memiliki volume yang dapat diubah dengan sifat fisik yang stabil karena energi jiwa semi-otonom yang memanipulasinya.
Namun itu semua tidak masalah, selama Toru dan Reisya bisa menghindarinya dalam kecepatan tinggi.
Toru juga sudah mengaktifkan jam lemburnya, membuat semua ini semakin sulit dan menyudutkan sisi Venma.
"Menciptakan sesuatu dari ketiadaan membutuhkan banyak energi jiwa, alhasil teknik ini tidak hemat energi dibandingkan dengan teknik sihir lainnya." Cermat Toru. "Kesimpulan yang didapat : kita akan menang selama kita bisa bertahan cukup lama sampai energi jiwanya habis."
__ADS_1
Zirah Serangga : Venma menggunakan logam cair untuk membuat pelindung daging yang dikhususkan untuk mengambil berbagai fungsi biologis serangga. Dia melihat solusi untuk kelemahan teknik sihirnya dalam efisiensi serangga. Venma menganggap karapas serangga adalah baju besi pamungkas dan subjek yang ideal untuk konstruksi. Ini sangat meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahannya, meningkatkan semua kemampuan tempur jarak dekatnya. Dia juga bisa mengatur pertempuran jarak menengah dengan terus mengontrol logam cair di luar baju besi.
"Zirah itu akan menetralisir seranganku dan Reisya, zirah itu adalah sesuatu yang hanya bisa dihancurkan oleh kekuatan murni."
Venma nampak menyadari sesuatu. Dia menoleh, dan menggumamkan nama : "Onimaru."
Toru mengikuti arah tolehannya, dan mendapati Arka yang telah sampai di tempat itu dengan segenap keteguhan yang terpampang jelas diwajahnya.
Venma pun melesat ke arahnya, menghajar pinggulnya lalu melemparnya ke gedung-gedung dibelakang. "Keluarkan Onimaru!!!" Serunya.
Tanpa setitik kemarahan, Arka mengepalkan tangannya dan mengalirkan energi jiwanya ke ujung tinju. "Siapa? Aku tidak pernah mendengarnya."
Farel muncul dibelakang Venma, lalu memasukkan Arka beserta penyihir wanita itu kedalam ekspansi ruang.
"Oomiwa!"
"Aku tidak mengenalmu, juga tidak peduli dengan siapa dirimu." Ucap Arka. "Tapi aku akan tetap membunuhmu... tanpa bantuan darinya."
Setelah kematian Asep, Arka tidak memandang pembunuhan dengan kebencian sebagai bentuk dari pembalasan. Arka akan membalas kematian dari seluruh rekan-rekannya dengan suatu bentuk yang lain, yakni dengan terus bertahan hidup dan menyelamatkan dunia.
"Kilatan hitam." Arka menghancurkan sebagian zirah Venma dengan percikan hitam yang menggeliat diseluruh tubuhnya. Farel kemudian menindak lanjuti serangan itu dengan pukulan api yang meledak-ledak karena sudah ditingkatkan oleh efek dari ekspansi ruang. Mereka terus melalukan itu dengan berulang, hingga pada akhirnya Venma menciptakan sebuah bulatan hitam yang menjadi epitoma dari bola sempurna.
True Sphere : Dalam keadaan normal, bola sempurna dianggap mustahil untuk dibuat. Venma mampu melakukannya dengan membentuknya dari logam cair. Bola sempurna tidak memiliki area kontak dan menghasilkan tekanan tak terbatas sebagai hasilnya, membuatnya tidak dapat disentuh oleh siapapun. Bola itu bergerak menuju target Venma dengan kecepatan sedang dan pasti mengenainya jika dia membuka ekspansi ruang.
Oomiwa dipaksa hancur oleh serangan bola itu. Namun bola itu berujung meleset dan menghancurkan semua yang mengenai kontak dengannya sama seperti fusion milik Kenny.
Karena menciptakan bola itu, Venma mencapai batasnya, energi jiwanya habis, dan zirah serangganya sepenuhnya luntur menjadi energi jiwa yang menguap.
"Kenapa..." Venma muntah darah, keringat mengucur deras di tubuhnya. Perempuan itu telah kehilangan semangat juangnya. "Kenapa kau menghalangiku untuk bertemu dengan..."
"Dia yang kau cari sudah tewas. Seperti seharusnya." Ucap Arka. "Sekarang giliranku bertanya. Kenapa kau menggunakan tubuh itu? Bukankah kau sudah menjalani hidupmu terlalu lama?"
__ADS_1
Venma yang ketakutan mulai melarikan diri.
"Maafkan aku, Luticia." Arka mengejarnya dan menghabisinya dengan tinju sejati.