Pedang Iblis

Pedang Iblis
Dendam


__ADS_3

Toru menghantam leher iblis itu dengan pedang tumpulnya, namun bukannya terpental, leher sang iblis malah memanjang. Terus memanjang seperti ular.


"Dia seperti Erca!" Batin Stardust.


"Kau tidak bisa terus memanjang, kan?" Toru mengayunkan lengannya sekuat tenaga hingga iblis itu pada akhirnya terlempar menjauh dari Stardust dan menabrak dinding dipertigaan lorong.


"Padahal tinggal sedikit lagi." Kesalnya, sambil memulihkan panjang lehernya.


"Kau bisa bicara?" Tanya Toru dengan tatapan dingin seorang pembunuh. "Dengan siapa kau bekerja?"


Merinding. Reaksi naluriah yang didapatkan oleh Orochi adalah kabur dari tempat itu. Dia berlari ke timur, namun piercing blood milik Ares memaksanya untuk berhenti dan menghindar. Dari sisi yang berbeda, Aura menembaknya dengan panah yang ternyata sudah di ikat dengan kertas mantra ledakan.


Saat Orochi sedang sibuk melindungi dirinya dari ledakan, Toru berlari kencang kearahnya lalu menghajarnya dengan kilatan hitam hingga menembus dinding yang tadi sudah retak, dan masuk keruangan lain.


"Orang itu berbeda." Batin Orochi. "Sangat berbeda dari gambaran Oda."


Orochi melanjutkan pelariannya, lalu melompat keluar dari jendela untuk benar-benar menghilang dari jangkauan Toru.


"Sial, dia akan lari!" Ares hendak mengejarnya, namun Toru menghalangi pergerakan Ares hanya dengan menaikkan tangan kanannya setinggi dada.


"Resiko perangkap." Ucapnya. "Dia jelas bekerja sama dengan seorang penyihir. Kita harus waspada."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pria culun dengan senjata tumpul apanya? Dia adalah monster dengan wujud manusia!" Batin Orochi sambil terus meliuk-liuk diatas tanah selayaknya ular yang sedang melarikan diri.


"?!"


Saat sedang melewati sebuah perumahan tua, Orochi tanpa sengaja mendeteksi keberadaan dari reinkarnasi Kenny yang sangat mencolok. Dia akhirnya terpaksa berhenti, lalu berdiri tegak. "Dia disini--"


Ketika Orochi menoleh, dia langsung saling tatap dengan seorang pemuda yang memiliki energi jiwa mengerikan seperti pangeran iblis. Walau demikian, faktor yang membuat Orochi takut bukanlah energi jiwanya yang menegangkan, melainkan sensasi sadis yang identik dengan Toru.


"Kenapa dia ada disini? Bukankah aku sudah--"


Dengan kecepatan tinggi, Arka menendang wajah Orochi dua kali lalu menghajarnya sampai rata ke tanah.


"Aku tidak bisa lari!" Orochi memanjangkan lehernya untuk menghindari dan menjauhi pukulan Arka. Namun, Arka malah mencekik lehernya lalu menariknya agar kepala Orochi kembali mendekat.


Saat wajah Orochi sudah cukup dekat, Arka melepas genggamannya, lalu menghantam kepala Orochi dengan kilatan hitam. Orochi pun terhempas ke sebuah rumah, namun Arka menindaklanjuti serangannya dengan serangan lain.


"Teknik pukulannya sama, tapi hawa nafsunya jauh berbeda." Simpul Orochi. Dia mulai menyadari kalau Toru dan Arka adalah dua orang yang berbeda. "Sejak kapan manusia menjadi sekuat ini?!!"


Arka menabrakan wajah Orochi ke tembok, lalu membuka rak laci didekatnya untuk mencari pisau. Setelah mengaliri benda pipih itu dengan energi jiwa, dia kemudian menancapkan kepala Orochi ditembok itu untuk mencegahnya beregenerasi.

__ADS_1


"Apakah semua itu benar-benar perlu?" Tanya Yuna yang sedang menggendong reinkarnasi Kenny.


"Aku terbawa suasana. Dia mengingatkanku kepada Erca." Jujur Arka.


Walau pedang Onimaru sedang duduk dibelakang punggungnya, Arka ogah menggunakannya bahkan setelah melakukan kontrak pertemanan.


Setelah kematian Kenny, yang ada di lubuk hati Arka hanyalah kebencian dan dendam berkepanjangan.


"Iblis sudah mulai berdatangan. Kita harus bergerak."


Arka akan selalu berada didepan untuk memimpin jalan mereka. Dia selalu mengobservasi tempat lebih dulu sebelum membiarkan Yuna dan reinkarnasi Kenny masuk untuk memastikan keselamatan mereka.


Namun saat mereka sedang berjalan keluar dari perumahan itu, ledakan didekat akademi mencuri perhatian Arka sepenuhnya. Saat dia melihat ke arah akademi, dia melihat tirainya rubuh.


"Sebuah penghalang dapat dihancurkan ketika penyihir yang menciptakannya dihancurkan." Gumam Arka, mengingat ucapan Kura. Matanya pelan-pelan melebar, alisnya berteru, bibirnya bergetar. Rasa takut tergambar diwajahnya. "Pak Asep!"


Arka melesat pergi meninggalkan Yuna sendiri bersama reinkarnasi Kenny yang tidak bisa apa-apa.


Pada detik itu, Arka tahu Asep sudah mati. Aksinya tidak akan mengubah apapun dan hanya akan menaruh Yuna diposisi bahaya. Tetapi kali ini Arka memiliki kesempatan untuk membalas dendam dan hanya karena alasan itu sendiri, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mereka adalah penyihir dari ratusan tahun lalu yang sudah melakukan sumpah pengikat dengan Madara untuk berpartisipasi dalam pemburuan reinkarnasi Kenny dan kelima pedang iblis." Jelas Kale, dia mendapatkan informasi ini langsung dari Kai yang mengaku kalah. "Madara benar-benar datang bersiap."


Saat mereka sedang asik menganalisis pertarungan, tiba-tiba saja sebuah tirai terpasang di 4 titik : Bekasi, Sukabumi, Indramayu, dan Garut.


Seolah mereka sedang menciptakan sebuah arena berbentuk persegi yang mengurung para penyihir akademi didalam. Memustahilkan penyerbuan Madara dan memperbesar kemungkinan untuk memburu reinkarnasi Kenny dan pedang-pedang iblis.


Terlihat seorang penyihir baru saja memasuki tirai.


Kale pun berkesimpulan bahwa tirai ini memperbolehkan para penyihir masuk namun melarang mereka semua untuk keluar.


"Farel, Rere. Tolong informasikan tim Toru dan tim Arka untuk berkumpul." Pinta Kale. "Kita harus membuat rencana baru."


Reisya dan Farel langsung menurutinya dan pergi meninggalkan lokasi.


Yuki yang sedari tadi memperhatikan penyihir asing itu mulai tersenyum. "Dia datang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Melihat seorang pria sedang terbang diatas langit, Arka langsung melompat dari gedung ke gedung untuk meraihnya. Saat jarak mereka sudah dekat, Beth, seorang penyihir wanita, menggunakan teknik sihirnya untuk mendorong dirinya sendiri dan terbang dengan kecepatan tinggi, dan langsung menabrak Arka.


Dia terus menabrak, tanpa peduli sudah menghancurkan dua bangunan yang dilaluinya. Sebuah serangan yang akan menghancurkan sebagian besar penyihir awam. Namun, Arka tidak terluka dan pulih dari benturan itu dengan cepat, mengejutkan Beth.

__ADS_1


Arka berhasil mendapatkan pijakan dengan mendarat di sebuah bangunan dan mengambil sikap bertarungnya.


Beth menyadari ketangguhan lawannya dan memanggil partnernya ke sisinya. "Portho!"


Arka dengan cepat melempar batu kecil yang mengenai perut bagian bawah Beth. Beth terluka parah dan menyadari bahwa Arka telah mengambil puing-puing dari bangunan yang dia hancurkan dan mengalirinya dengan energi jiwa. Terluka parah, Beth kehilangan ketinggiannya dan jatuh ke gedung di bawahnya.


"Semudah itu?" Arka terkejut dengan betapa mudahnya sang musuh dikalahkan. "Belum cukup! Aku butuh lebih!"


Rekan beth, yang bernama Portho, menggunakan teknik sihirnya yang mirip helikopter untuk melayang di belakang Arka. Marah, dia menuntut untuk mengetahui apa yang telah dilakukan Arka pada wanita itu. Arka menghadapi lawan barunya dan memutuskan untuk menjadikan pertarungan ini pertarungan balas dendam.


Arka memulai pertarungan dengan melemparkan batu yang terlapisi energi jiwa ke arah Portho. Lelaki berkumis tebal itu menghancurkannya dengan baling-baling yang berputar cepat dan Arka menggunakan celah untuk menutup jarak.


Dia berlari melintasi atap gedung dan melompat tinggi ke udara, memungkinkan Arka untuk meraih kaki Portho.


Arka menggunakan kekuatan fisiknya untuk menarik Portho ke bawah dan menyeretnya ke sisi bangunan. Saat dia menabrak dan menghancurkan bagian luar gedung bertingkat tinggi, Portho dipaksa untuk mengenali kemampuan manusia super milik Arka.


"Masih belum!--" Batin sang murid.


Portho lepas dan mencoba melakukan serangan balik dengan baling-balingnya sehingga Arka memutuskan untuk mundur.


Arka menyadari bahwa Portho tidak memanfaatkan dataran tinggi dan hanya menyerang dengan baling-balingnya. Dia membawa Portho ke dalam ruangan di mana Portho yakin baling-balingnya dapat menghancurkan semua yang terlihat, termasuk batang baja. Portho berputar ke arah lawannya dengan kepala lebih dulu seperti bor, mencoba untuk memotong semua yang menghalangi jalan.


Arka percaya bahwa Portho dapat dikalahkan dengan mudah karena teknik sihir berbasis rambutnya membuat seluruh tubuhnya tidak terlindungi oleh energi jiwa. Entah diperkuat atau tidak, kepala tetap menjadi titik vital. Selama dia bisa memukulnya tanpa menyentuh baling-baling, dia yakin dia bisa memecahkan kepala Portho.


Saat musuh berputar dengan kecepatan tinggi ke arahnya, memotong koridor hingga berkeping-keping, Arka meninju Portho tepat di atas kepalanya.


Sesuai prediksi, Portho terhenti di jalurnya dan mengeluarkan banyak darah dari kepalanya. Meski rotator dan baling-balingnya patah selain trauma di kepalanya, Portho tetap berdiri.


Buku-buku jari Arka terpotong akibat benturan. Portho dengan terlalu percaya diri menganggap Arka telah mematahkan tangannya dan menyebutnya sebagai pecundang dalam pertarungan ini.


"Apakah mulutmu juga secerewet ini saat membunuh Pak Asep?" Tanya Arka.


Dia segera menghabisi Portho dengan tendangan dan menghilangkan kerusakan, mengklaim bahwa tangannya tidak patah.


Portho tidak sadarkan diri tapi Arka sadar semua itu masih belum cukup untuk membalaskan dendam Asep. Dia tidak yakin soal bagaimana caranya membalas dendam, namun kebenciannya sudah pasti.


"Mungkin... Ada cara yang lebih baik untuk membalas dendam." Monolognya.


"Arka!" Farel datang bersama Yuna dan reinkarnasi Kenny.


Arka tersenyum, lalu memeluk Farel dengan sangat erat. Farel tidak terlalu mengerti kenapa temannya melakukan itu, tapi dia tetap membalas pelukannya. "Kau tidak apa?"


  

__ADS_1


__ADS_2