
Suara tembakan dari jauh memanggil Hanai dan serigalanya lebih mudah dari dugaan Garou. Si serigala langsung berlari ke arah umpan, dan disinilah semuanya dipertaruhkan.
Scarlett memejamkan matanya saat iblis ganas itu hendak menerjang, namun tiba-tiba saja mereka berdua bertukar tempat membuat serangan sang serigala meleset jauh.
Saat serigala itu berputar balik, tiba-tiba saja Garou terjun dari atas dan menghajarnya dengan kilatan hitam. "Headshot!!" Serunya.
"Sejak kapan dia diatas sana?" Bingung Hanai dan Scarlett.
Pertukaran.
Teknik Garou adalah salah satu teknik paling mudah untuk dipahami namun paling sulit untuk ditebak. Peluru yang dilontarkan Scarlett tadi adalah peluru yang dibalut energi jiwa, dan Garou menggunakannya sebagai media bertukar tempat dan melandaskan serangan telak.
Siapa yang akan menduga datangnya serangan seperti itu ketika mereka baru pertama kali bertemu dengan Garou?
Jawabannya adalah tidak ada. Selain Kenny, mereka semua adalah mangsa yang buta. Dan Garou selalu memanfaatkan peluang ini untuk menghabisi semua musuh yang ia temui.
"Sudah kuduga... hanya dia (Arka) yang bisa memakmsimalkan teknik ini." Batin Garou. Dia menendang wajah sang serigala hingga menabrak sebuah toko.
Hanai melesat ke arah Garou sambil mengayunkan tombak tajamnya untuk memaksa pria itu menjauh dari anjing kesayangannya.
Saat Garou ingin melakukan pertukaran tempat, ia mendeteksi banyak energi jiwa lain disekitarnya.
Ia langsung menukar Scarlett dengan Hanai, lalu menggendongnya lagi untuk pergi dari sana.
"Ada apa?" Tanya Scarlett. (Karena tekniknya, deteksi energi jiwa Garou lebih mutakhir dari Scarlett)
"Dia memanggil bala bantuan, kita harus pergi."
"Jadi kita akan kabur?"
"Tidak." Jawab Garou sambil tersenyum. "Kita hanya akan memperluas lapangannya."
"Memperluas lapangan?"
"Kau masih ingat dengan ra dan do? (ada dichapter sebelumnya)" Tanya Garou. Scarlett mengangguk sambil mengingat-ingat. "Kita akan melakukannya sekarang. Bisa berlari disampingku?"
Garou berhenti disebuah lorong, lalu menurunkan Scarlett. "Percaya padaku, oke?"
Pada awal Chapter, Garou menyadari bahwa sang serigala lebih cepat dari Hanai. Hal yang sama seharusnya juga berlaku pada pemburu iblis lainnya. Maka, kejar-kejaran seperti ini adalah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk melakukan pembunuhan terhadap si hewan buas tanpa diganggu oleh siapapun.
"Dia datang!" Garou kembali berlari, begitu juga Scarlett. Mereka bergerak lurus-lurus untuk mempermudah jalannya rencana.
__ADS_1
Serigala itu terlihat sangat kelaparan, hawa nafsu membuat mulutnya basah. Dia berlari lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Menginjak hingga remuk mobil-mobil yang terpakir dipinggir jalan.
"Ra!"
Scarlett berhenti dan menembak kedepan.
"Do!"
Scarlett berputar, mendapati serigala yang hendak menerkamnya, namun tiba-tiba saja ia bertukar tempat dengan pelurunya sendiri. Ia langsung masuk ke posisi mengeker dan karena belum terbiasa, ia menembak serigala itu tepat di kaki kanannya.
Saat melihat serigala itu terjatuh, Scarlett lengah dan menerima luka besit dipipi kanannya karena telat mengelak. "?!"
Peluru yang tadi bertukar tempat dengannya ternyata belum sepenuhnya berhenti melaju.
"Scarlett, kau tak apa?!" Khawatir Garou.
Wanita itu mengacungkan jempolnya, lalu kembali pada posisi mengeker karena sadar bahwa serigala itu masih berdiri tertatih-tatih. Kaki kirinya kemudian ditembak oleh Scarlett, lalu rahangnya hancur, disusul oleh mata kirinya yang meledak.
"Leon!" Seru Hanai, sebelum melompat masuk kedalam pertarungan.
"Do." Ucap Garou.
Scarlett berputar, kemudian posisinya dengan Hanai kembali ditukar oleh Garou. Scarlett menembakkan pelurunya sedetik kemudian, dan Hanai yang baru mendarat pun menerima serangan itu dengan telak dari belakang.
"Itu mereka!" Seru salah seorang pemburu iblis.
"Mereka telah membunuh Hanai!"
"Cih, cerewet sekali." Keluh Garou.
Tanpa banyak basa-basi, Scarlett langsung membidik, dan menembak dua orang yang tadi saling berseru. Pemburu iblis lainnya mulai berlarian, namun tidak ada yang bisa lari dari mata elang milik perempuan itu.
Garou terkekeh, lalu melipat kedua tangannya didepan dada. "Kau tidak menyisakan satu orangpun untukku."
"Aku masih membutuhkan staminamu untuk membunuh Hope." Scarlett menaruh senapannya diatas bahu, lalu mulai berjalan pergi. "Ayo berkumpul dengan yang lainnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo? Garou, apa kau mendengarku?"
Setelah gagalnya misi penembakan, Gin secara terus menerus berusaha untuk menghubungi Garou namun radio mereka sepertinya mengalami malfungsi.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Bingung Liliard. "Tembakan senyap Scarlett tidak pernah meleset."
__ADS_1
Gin melempar radionya, lalu berbalik badan. "Bersiaplah. Kita harus pergi dari sin--"
Tiba-tiba seorang pria masuk kedalam tempat persembunyian mereka, lalu memancarkan frekuensi gelombang suara yang sangat tinggi hingga menghancurkan gendang telinga mereka semua.
Darah mengalir keluar dari telinga mereka, namun kembali pulih dalam sekejap mata karena kemampuan regenerasi milik Urahara yang sudah meningkat jauh sejak kematian Jang Uk.
Blue print, adalah teknik bawaan milik Gin yang memungkinkannya untuk menciptakan sebuah alat, teknologi, dan senjata menggunakan sepercik kertas biru dalam bentuk hologram yang keluar dari jam tangannya ditengah pertarungan. Semakin bagus kreasinya, semakin banyak energi jiwa yang digunakan.
Untuk melawan Sonic, Gin berinisiatif untuk menciptakan sebuah penyumbat telinga yang sangat kedap suara lalu bergerak maju untuk menebas Sonic dengan pedangnya.
Walau tidak menggunakan penyumbat telinga, Liliard juga ikut maju karena ia percaya dengan kemampuan regenerasi milik rekannya.
Setelah pita suaranya di sobek, Sonic menerima bogeman kencang dari gorila milik Phoenix (Liliard) hingga menembus dua bangunan.
Gin menghapus penyumbat telinganya untuk mengembalikan energi jiwa. Lalu berjalan mendekati Liliard. "Mereka akan mulai berdatangan." Ucapnya.
"Akan kusambut dengan tinjuku." Liliard berjalan keluar dari persembunyiannya dengan energi jiwa yang terpancar begitu hebat. "Selama aku masih bernapas, aku adalah kingpin dari Lestallum!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah portal yang terbuka membuat seorang professor tua menolehkan kepalanya.
Dr. Joshua adalah professor yang berafiliasi dengan sekte penyembah iblis. Dia adalah hamba yang setia dari Justice.
Joshua adalah pria yang cukup tua dengan perawakan gemuk dan pendek. Dia benar-benar botak dan memiliki kumis yang sangat besar dan lebat. Sebagai professor, dia memakai satu set kacamata yang agak aneh yang berbentuk seperti roda gigi, bersama dengan jas lab berkancing putih.
Sebagai pimpinan Rumah Sakit Umum, Joshua mengganti kacamata berbentuk roda giginya dengan kacamata biasa berbentuk lingkaran dan hitam. Dia juga menghiasi kemeja dan dasi di bawah jas lab biasa.
Teknik bawaan Kyudai yang diberikan Justice, Life Force, membuatnya tampak lebih muda dari yang sebenarnya. Tanpa teknik bawaan ini, kulitnya lebih pucat dan lebih banyak kerutan, dengan matanya yang cekung.
"Bagaimana?" Tanyanya.
"Berjalan dengan lancar, hanya saja, terjadi sebuah penyerangan." Ucap Justice. "Oleh sebab itu aku meninggalkan Cloud."
"Kau benar-benar mempercayainya?"
"Cloud?"
"Bukan, Hope." Koreksi Joshua. "Sejarahnya tidak begitu baik. Dia adalah manipulator."
Justice tersenyum, lalu duduk diatas bangkunya. "Kau sudah hidup didunia ini terlalu lama tapi masih belum mengerti apapun." Ejeknya. "Tidak ada yang bisa membohongi sumpah pengikat, bahkan Kenny sekalipun."
"Bukan begitu! projek ini adalah projek terbesar yang pernah kulakukan! Jadi aku tidak ingin ada orang asing dengan sejarah mencurigakan yang berkemungkinan untuk mengacaukan segalanya untuk kita!" Jelas Joshua.
__ADS_1
Justice melirik tabung kaca berisi cairan hijau, lalu berkata : "Projek ini pasti akan berhasil."