Pedang Iblis

Pedang Iblis
Sin


__ADS_3

Sejak kecil, Lee selalu dipuji dan disebut jenius oleh orang lain. Dia sangat dimanjakan sebagai anak bungsu dan paling menjanjikan dari anak-anak Han. Dia dikondisikan untuk melihat dirinya sebagai penerus ayahnya dan akibatnya, kesombongan Lee tumbuh ke tingkat yang tak terkendali bahkan sebagai seorang anak kecil. Dia memandang rendah semua orang yang dia anggap lebih lemah darinya, yang merupakan sebagian besar orang yang ditemui oleh Lee.


Saat berusia 5 tahun, Lee mendapat kabar bahwa ada seorang pria dewasa dari klannya yang tidak memiliki energi jiwa. Lee pun dengan segera mengunjungi kediaman pria itu dengan keinginan untuk mengolok-oloknya.


"betapa mengerikannya perasaan itu." Pikir Lee sambil berlari mendekati rumah pria tersebut dengan wajah yang ceria. Yang dia tidak bisa bayangkan adalah betapa menyedihkannya orang itu.


Namun, saat seseorang keluar dari rumah itu, yang Lee lihat bukanlah seorang pria yang menyedihkan dan bukan juga seorang pria yang lemah. Dia adalah Shin Faiz Enka, si pemburu penyihir. Aura horor terpancar darinya, membuat senyum lebar di wajah Lee secara drastis berubah menjadi teror.


Dari caranya berdiri, berjalan, dan bernapas, Lee tahu kalau pria itu adalah pria yang kuat. Tatapannya keji dan selalu mengawasi sekitarnya.


Lee menjadi kagum dan menghormati Faiz.


Hal ini membuat Lee menganut ideologi bahwa dosa orang yang tidak penting adalah ketidaktahuan akan kekuatan sejati. Lee merasa dialah satu-satunya orang yang memahami Faiz dan berusaha untuk menjadi luar biasa seperti dirinya.


Tak lama setelah pertemuan itu, Faiz (28 tahun) pergi meninggalkan keluarga Shin dan membuat sebuah keluarganya sendiri. Saat menginjak usia remaja, Lee (12 tahun) pun mengikuti jejak Faiz (35 tahun) dengan pergi meninggalkan keluarga Shin. Namun aksinya ini malah mempertemukannya dengan Madara.


Madara menjadikan Lee sekutunya, setelah memberitahu Lee bahwa Faiz sudah meninggal ditangan Kenny.


Bersama anggota sekte penyembah iblis lainnya, mereka meneror dunia dari balik bayangan. Tujuan mereka pada saat itu adalah menghancurkan tirai kain dewi ciptaan penyihir agung, dan menurut Madara yang mampu melakukannya adalah kekuatan Limitless. Namun pengguna Limitless yang sekarang (Jojo) adalah jalan buntu, dia tidak bisa meracik kekuatan yang diperlukan untuk merusak tirai kain dewi milik penyihir agung.


Mereka pun mengirim Seimei Abe, murid Madara, untuk memicu konflik yang akan menggerakan Kenny dan Keshi. Sisanya, adalah sejarah. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Madara, namun semua ini malah membuat Lee lengah dengan kondisi keluarganya.


Shin hancur dibantai oleh Reisya, dan Lee hanya bisa menatapi reruntuhan juga orang-orang yang dibuat cacat oleh perempuan itu.


"Dia mengerikan." "Dia terlalu kuat."


"Dia adalah Reinkarnasi Faiz!"


Mendengar itu dari mulut para penyintas membuat Lee merasa geli. Dia pun mengakhiri hidup mereka lalu kembali ke Madara. Bertepatan dengan itu, Madara sedang berencana untuk menyerang akademi sihir. Lee pun dengan sukarela mengajukan dirinya untuk membuktikan kepada dunia bahwa Reisya bukanlah reinkarnasi dari Faiz.


Lee menghajar Reisya habis-habisan, namun wanita itu masih sanggup berdiri.


"Berhentilah sok tegar!" Batin Lee. "Kau bukan Faiz!"

__ADS_1


Lee memiliki teknik yang sangat merusak yang dapat memunculkan tinju raksasa yang didorong oleh energi jiwa seperti misil. Tinju besar ini disertai pukulan fisik Lee sendiri. Dia mampu membentuk setidaknya tujuh dari tinju ini sekaligus, masing-masing cukup besar dan kuat untuk dengan mudah menghancurkan bangunan selama rentetan serangan.


"Akulah pemenangnya!!"


Saat Lee melesatkan tujuh tinju besar secara beruntun, Reisya menahannya dengan mengadukan tinjunya sendiri mengakibatkan luka yang hampir fatal pada kedua tangannya.


"Bodoh, kau akan menjadi cacat jika melakukan itu!" Batin Lee. "Bila kau pikir dengan melakukan itu dapat mengalakanku, kau adalah penipu!"


"Setelah tujuh tinju itu, akan ada jeda." Ucap Reisya, membuat Lee tersentak. "Kau kalah."


Dengan cepat, Reisya menyengkat Lee membuatnya terjatuh dalam posisi telentang. Ia kemudian menendang perutnya ketanah dengan kaki yang berbeda lalu mengakhiri pertarungan dengan memusatkan seluruh energi jiwanya yang sangat sedikit pada ujung tinjunya yang terluka, menciptakan kilatan hitam.


Satu tinju pada wajah Lee membuat rahangnya patah dan hilang kesadaran.


Tangan Reisya patah dan terbakar oleh kilatan hitam itu sendiri. "Senior!" Panggil Farel yang baru saja kembali dari uks.


Melihat kondisinya yang buruk membuat Farel iba. Dia pun membantu Reisya ke UKS untuk menemui Yuna. Sementara Lee di ikat dengan rantai dan di awasi oleh iblis milik Agung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan Madara, maaf, aku gagal." Ucap Erca yang baru saja tiba di lokasi.


Madara melirik, lalu berkata: "Tak apa, semua masih sesuai dengan rencanaku."


"Masih?" Erca bingung lalu celingukan. "Ares berkhianat, dan Lee tidak kembali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"


Madara tersenyum miring. "Mangetsu sudah cukup untukku. Sekarang, mari bermain kapal."


Dengan kekuatan iblisnya, Madara menghancurkan semua kapal-kapal cargo yang mengirim persenjataan militer dari Lestallum ke dunia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


3 hari setelah menerima laporan dari Agung mengenai penyerangan dihari itu, The Saint langsung mengundang akademi sihir dan para pemegang pedang iblis lainnya untuk datang ke Light Territory.

__ADS_1


Mereka menawarkan perlindungan dibalik tirai kain dewi yang diciptakan oleh The Saint, walau tidak sekuat ciptaan penyihir agung, namun masih tergolong aman.


Arka yang sedang berada di rumah Aura bersama Ares, mendapat kabarnya melalui ponsel. "Saint angel?"


"Ya, kita semua harus segera pergi kesana untuk merencanakan semuanya matang-matang dengan aman. Setidaknya itu yang Pak Agung katakan kepadaku." Ucap Farel.


Arka nampak bimbang. "Boleh aku membawa Aura?"


"Bawa saja, bila itu membuatmu lebih tenang."


"Benarkah? Terimakasih banyak!" Arka mematikan ponselnya lalu mengajak Aura untuk pergi.


"Tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibu?"


Arka jelas lupa dengan hal itu. Ia pun kembali merasa bimbang.


"Tidak apa, kalian pergilah saja." Ucap Ibu yang baru saja memasuki ruang keluarga dari dapur. "Bantu tenangkan pikiran Arka. Jangan buat dia bimbang seperti ini."


"Tapi bu..." Aura terlihat tak tega.


"Sudah, ibu dan ayah akan baik-baik saja disini." Ibu nampak menaruh kedua tangannya diatas pundak Aura. "Jaga diri kamu baik-baik, ya?"


Aura memeluk ibunya erat-erat.


Setelah itu, Ibu pergi mendatangi Arka. "Dan untuk Arka, tolong jaga Aura, ya?"


Arka mengangguk. "Terimakasih, bu." Dia mengambil tangan Ibu untuk salim lalu pergi ke kamar Aura ntuk membantunya menyiapkan barang bawaan.


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Ares.


"Karena menahan kalian disini adalah hal bodoh." Jawab Ibu. "Ayah dan Ibu ingin kalian hidup bahagia. Tapi, kalian tidak akan bisa menjalani hidup itu bila kalian tidak bisa memenuhi peran kalian masing-masing dengan baik." Lanjut Ibu. "Melepas kalian adalah pilihan mulia. Dan menurut Ibu, itu adalah peran kami. Peran orangtua."


Ares tersenyum, lalu memeluk ibunya. "Terimakasih, Bu."

__ADS_1


Mereka terlarut dalam pelukan itu sampai Ayah memberi celetukan: "Jangan mati, Res." Ares melirik ke arah kursi sofa tunggal. "Aku tidak ingin mendatangi makam mu dua kali."


Ares mengangguk, lalu menghampiri Ayahnya untuk salim. Setelah semuanya berpamitan, mereka pergi menggunakan titik lompat dan berkumpul di akademi untuk pergi bersama ke Saint Angel, Light Territory.


__ADS_2