
Farel dan Guntur yang sedang duduk di meja panjang paling pojok milik kantin, didatangi oleh Kale yang merasa bersalah atas tindakannya dihari kemarin.
"Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya tenang. Aku juga tidak menginginkan pertarungan itu." Tutur Kale. "Aku tidak pernah menyangka kalau Keshi akan bertindak kasar pada muridnya, aku sungguh minta maaf."
Farel diam sejenak, kemudian berkata pada Kale: "angkat kepalamu, senior."
Kale menurut, dan menatap wajah Farel.
"Aku mengakui kekuatan kalian bertiga. Tapi aku juga tidak akan meremehkan kekuatan regenerasi milik Onimaru." Jujur Farel. "Aku yakin Arka masih hidup diluar sana. Kami pasti akan kembali bertemu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Kale mengangguk paham, lalu pamit pergi. "Bicara padaku bila kalian menemukan kesulitan."
Farel dan Guntur membalasnya dengan anggukan, kemudian meratapi kepergiannya. "Aku tidak terlalu mempercayai pria itu." Ucap Guntur
"Aku juga ragu. Tapi apapun ide yang ada dikepalanya, kita masih membutuhkan bantuan senior Kale untuk memburu Seimei Abe."
Ya, Seimei Abe. Dia masih menjadi ancaman.
3 hari sebelum serangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oi, bocah." Suara berat yang tidak disukainya itu kembali terdengar. Suara itu adalah suara yang mengubah hidup Arka selamanya. Suara itu pula semakin lama semakin kencang seperti sebuah kotak alarm yang dulu duduk di meja belajar rumahnya.
Matanya pun terbuka, ia sedang tertidur diatas genangan air.
"Aku dimana?" Tanya Arka.
"Kita sedang berada di alam bawah sadarmu." Jawab Onimaru. Arka secara reflek melihat kesekelilingnya. Mereka berada di tengah-tengah ruang hampa, yang menjadi pijakan hanyalah genangan air merah seperti darah. "Kita belum mati. Tapi kita juga tidak hidup."
Arka menatap wujud Onimaru, dan merasa kesal karenanya. "Bukannya kau bisa meregenerasi tubuhku?" Tanya Arka.
"Ya. Tapi sekarang tubuh kita sedang berada dibawah kendalimu. Jadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Bagaimana aku bisa mengambil alih? 'kan kau yang terakhir kali memakai tubuhku?!" Bentak Arka.
"Keinginanmu untuk bebas masih sering silih berganti dengan kebencianmu yang memperbolehkanku untuk mengambil alih." Ungkap Onimaru. "Hanya kontrak yang bisa menyelamatkan kita."
"Kontrak?"
"Jika kau terima syaratku, akan kuperbaiki tubuhmu dan membuatmu hidup kembali." Terang Onimaru. "cukup simpel, bukan?"
"Apa syaratnya?"
"Aku punya dua syarat. Pertama, kau akan menyerahkan tubuhmu padaku selama sehari penuh pada tanggal 10 Juni. Kedua, kau akan melupakan perjanjian ini."
"10 juni? Bukankah itu tanggal penyerangan Seimei Abe?" Heran Arka.
Onimaru mengangguk. "Kenny gagal mengalahkan pendeta itu dan hal tersebut membuatku penasaran." Jujur Onimaru. "Seharusnya hanya aku yang menjadi tantangan bagi Kenny. Tapi badut itu malah menaruh dirinya diatas kasta tanpa izin."
"Posesif." Ledek Arka.
"Intinya, aku akan membunuh pria itu pada tanggal 10 Juni." Tegas Onimaru. Melihat wajah ragu Arka, Onimaru pun jengkel. "Kalau begitu, aku juga berjanji untuk tidak membunuh teman-temanmu dalam satu hari itu. Begini oke, 'kan?"
__ADS_1
"Kau pikir aku bakal percaya?!" Protes Arka.
"Bukan masalah percaya atau tidak, ini adalah perjanjian mengikat. Aku yang akan mendapatkan hukuman jika melanggarnya." Jelas Onimaru. "Ada konsekuensi jika kita serakah. Harusnya kau paham karena pernah mengalaminya."
Arka merenung, lalu mengakui kebenaran itu. "Perjanjian mengikat berdasarkan kepentingan bersama. Ini merupakan salah satu faktor penting didunia penyihir." Lanjut Onimaru.
"Baiklah, aku terima syaratmu." Cetus Arka. "10 Juni, aku serahkan Seimei Abe padamu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arka terbangun ditengah hutan. Pakainnya penuh sobek. Ia tidak mengingat apa-apa. Ia hanya mengingat wajah Onimaru yang sedang tersenyum mengerikan kearahnya.
"Menyebalkan." Batin Arka. Ia kemudian bangkit, seolah tubuhnya tidak pernah terluka. "Hm, dimana pedang itu (pedang Onimaru)?"
Tanpa peduli, Arka kembali berjalan jauh, menyusuri hutan bambu yang terasa asing. Ia kemudian dicegat iblis ular berukuran raksasa. Arka pun terpaksa melawannya dengan tangan kosong karena ia tidak pernah diajarkan teknik sihir apapun oleh akademi.
Kesulitan yang Arka alami membuatnya memilih untuk melarikan diri. Namun, tiba-tiba saja datang seorang kakek-kakek kekar bersenjatakan celurit panjang. Ia membunuh iblis ular tersebut dengan sekali serang.
Sambil mengatur napas yang tergesa-gesa, Arka berterimakasih.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya kakek tersebut.
"Aku tersesat." Jujur Arka.
Setelah bercakap-cakap sebentar, pria itu pun akhirnya memutuskan untuk membawa Arka pergi bersamanya. Nama pria tua itu Usugurai, dia adalah seorang mantan pemburu iblis. Sekarang dia pensiun, dan menjadi penjaga lembah ini.
"Kotamu akan diserang?" Kaget Usugurai.
"Kau mempunyai tinju, 'kan?" Balas Usugurai. "Kita akan menjadikan tinjumu senjatamu."
"Didunia sihir ini, memangnya bisa?" Khawatir Arka.
"Aku akan memperkenalkanmu pada sebuah teknik." Usugurai menaruh celuritnya, lalu berjalan kedekat sebuah pohon.
"Teknik ini cukup mudah untuk dilakukan, hampir semua penyihir bisa, tapi tidak semua penyihir bisa mencapai potensi utamanya." Ucap Usugurai. "Pukulan yang ditingkatkan. Teknik sihir yang dapat dikuasai dengan hanya menumpukkan energi jiwamu pada ujung tinju."
"Tapi kalau kau berhasil mencapai potensi utama dari teknik ini, kau bisa menciptakan..." Usugurai melesatkan tinjunya dengan sangat kuat hingga muncul segelintir kilat berwarna hitam yang memperkuat serangannya. Tinju itu mampu menghancurkan beberapa pohon disekitar mereka dengan mudah. "...kilatan hitam."
"Kilatan... Hitam?"
"Sekali lagi, tidak semua penyihir bisa melakukannya. Bahkan aku pun hanya bisa melakukannya bila pikiranku sedang kosong." Ungkap Usugurai. "Selain itu, kilatan hitam juga merusak tubuhmu. Tapi dengan regenerasi yang kuat, pasti bukan masalah."
"Sekarang giliranmu." Titah Usugurai.
Arka pun melangkah maju, dan menaruh kedua tinjunya didepan badan.
"Fokus. Pusatkan energi jiwamu pada tinju." Ingat Usugurai.
Setelah mengikuti instruksi yang diberikan kakek tua itu, Arka pun dengan percaya diri melesatkan tinjunya. Namun, amarah yang ia rasakan dihari kemarin, tiba-tiba kembali merasuki tubuhnya dan membuatnya hilang konsentrasi. Tangannya pun cidera, kulitnya sobek, dan tulangnya retak.
Sebuah tamparan kencang diterima oleh Arka. Dengan wajah datar, Usugurai menatapnya dalam-dalam. "Bagi penyihir, kemarahan itu sebuah pemicu penting. Tapi, memancing amarah lawan terkadang bisa membuatmu kalah."
"Itu pun berlaku sebaliknya. Kemarahan bisa mengganggu energi jiwamu, membuatmu tak bisa memanfaatkannya secara maksmimal dan kalah."
__ADS_1
"Kotamu, orang yang kau sayangi sedang dalam ancaman. Jadi, aku mengerti alasanmu dipenuhi amarah."
"Tapi, kemarahanmu yang sekarang terlalu berlebihan. Sebaiknya ditahan dulu."
Usugurai kembali menggampar wajah Arka, namun Arka tidak bergerak bahkan semeterpun. "Bagaimana, apa masih ada yang mengganggu pikiranmu?"
Arka tersenyum, kemudian kembali mengeratkan pukulannya. "Tidak satu pun." Balas Arka. "Terimakasih, guru."
Arka mendekati pohon yang sama untuk kedua kalinya, namun kini hatinya lebih yakin.
..."Kau tidak akan bisa menolong siapapun, bila kau tidak bisa menolong bahkan dirimu sendiri."...
Arka memasang kuda-kuda, lalu memusatkan seluruh energi jiwanya pada ujung tinju. Walau tangannya sedang terluka, Arka tidak akan lari lagi.
..."Jadilah berani."...
Kilatan hitam. Sebuah distorsi pada ruang yang lahir dari benturan energi jiwa dalam waktu 0,01 detik setelah pukulan. Kekuatannya sama dengan pukulan normal di pangkat 3. Tidak ada penyihir yang bisa menggunakannya dengan sesuka hati.
Akan tetapi, bagi mereka yang telah merasakan Kilatan hitam, dibanding dengan mereka yang belum. Pemahaman tentang esensi energi jiwa jadi sangat jauh berbeda.
Angin berhembus, tapi Arka tidak mengedipkan matanya sama sekali.
"Konsentrasi yang luarbiasa." Batin Usugurai.
Pada saat terjadi benturan energi jiwa dalam waktu 0,01 detik setelah pukulan, ruang akan mengalami distorsi dan energi jiwa akan bersinar hitam.
..."Tolonglah orang sebanyak-banyaknya."...
..."kau adalah senjata pamungkas."...
..."Aku akan menunggumu."...
..."Kau adalah anomali!"...
"Tidak.
^^^Aku adalah Arka Sadewa."^^^
Arka melempar tinjunya dengan sangat kuat, ia menciptakan kilatan hitam yang memperkuat kekuatannya.
"Kau berhasil." Ucap Usugurai. "Kau sudah memahami rasa energi jiwa."
"Selama ini, kau hanya memasukan bahan masakan yang belum pernah kau rasakan kedalam panci, dan merebusnya dengan asal-asalan."
"Tapi, melalui kilatan hitam, sekarang kau paham rasa dari bahan masakan yang disebut energi jiwa itu. Sebagai penyihir, sekarang kau berada di level yang berbeda dengan dirimu 3 detik lalu."
"Selamat, muridku. Kau bisa menjadi kuat." Tutur Usugurai.
Arka menatap kedua tangannya, dan menyadari kalau ujung tinjunya sudah tidak lagi terluka. "Regenerasiku meningkat?" Batin Arka.
"Apa rencanamu selanjutnya, Arka?" Tanya Usugurai.
"Aku akan menguasai teknik ini. Aku harus berlatih sampai tanggal 10 datang." Arka mengeratkan tangannya, lalu berseri bahagia. "Aku harus bertambah kuat!"
__ADS_1