Pedang Iblis

Pedang Iblis
Yuki


__ADS_3


Yuki adalah seorang penyihir dari 400 tahun lalu yang saat ini menghuni tubuh seorang wadah yang sudah disiapkan oleh Madara. Yuki saat ini berperan sebagai salah satu penyihir yang akan memburu Onimaru.


Sebelum kebangkitannya kembali, Yuki merupakan seorang pria tua dengan mata berwarna cyan yang memiliki garis zig-zag pendek di bawahnya. Dia memiliki alis tebal dan rambut panjang berwarna cyan yang diikat menjadi satu dengan gaya acak-acakan. Sebagian besar diikat ke belakang dengan satu pita hingga mencapai tepat di belakang lehernya. Dia juga memiliki beberapa rambut di bagian atas yang dibelah dan diikat menjadi dua sanggul di sisi kanan dan di sisi kiri kepalanya. Dia mengenakan haori tradisional berwarna gelap.


Yuki adalah contoh sempurna dari penyihir dari masa lalu yang hidup hanya untuk mencari lawan yang kuat. Menjelang akhir hidupnya, setelah mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya melawan para penyihir, Yuki akhirnya bosan dan tidak puas dengan semua pertempuran yang dia temui.


Yuki juga menilai kehidupan dengan sudut pandang yang sangat berbeda dari orang-orang di zaman modern, dan hanya akan menyetujui persyaratan Madara untuk melawan Onimaru. Lawan yang dia anggap memiliki potensial yang paling kuat.


Yuki memiliki tingkat energi jiwa yang sangat mengesankan dan sangat mahir dalam mengendalikannya. Yuki tidak hanya mengontrol teknik bawaannya yang kuat dengan kemahiran elit, tetapi dia bahkan mampu memanipulasi energi jiwanya menjadi energi jiwa pembalik, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit penyihir. Yuki juga ahli menerapkan energi jiwa dalam bentuk dasarnya dan menggunakannya untuk menguatkan tubuh.


Teknik bawaan Yuki memberinya kemampuan untuk membuat dan memanipulasi es. Bisa dalam jumlah kecil hingga besar, tergantung pemanfaatan yang diinginkan.


Winter : Yuki memanipulasi udara, membekukannya hingga terwujud menjadi es tebal dan embun beku untuk menjerat musuh. Teknik ini terbukti sangat efektif melawan sekelompok orang, langsung membekukan seluruh pasukan penyihir di tempat.


Ice drop : Yuki dapat menghasilkan es berduri dalam jumlah besar yang dapat dikontrol untuk mengapung secara telekinetik di atas udara seperti pecahan. Es itu membekukan targetnya saat bertumbukan dan menghujani es tajam untuk menusuknya juga. Serangan ini sangat mematikan, hampir menundukkan sekelompok target sekaligus.


"Aku harap kalian cukup kuat." Ucap Yuki sambil menciptakan embun dingin disekitarnya untuk memperkuat daya tahan dasar dari tekniknya.


"Izinkan aku untuk melawannya seorang diri." Kata Ignis.


Agni mengangguk, mempersilahkan Ignis untuk maju mengambil langkahnya dan mendekati Yuki.


Ignis mewarisi energi jiwa unik yang bila tingkatkan ke tingkat tertentu akan menghasilkan efek bakar yang membakar segalanya bahkan tubuhnya sendiri. Pada usia dini, ini adalah sebuah masalah yang menyiksa mental Ignis. Namun sekarang, tubuh Ignis sudah beradaptasi dengan meningkatkan imunitas terhadap segala rasa sakit. Memberikannya gaya bertarung yang sangat terkenal tidak jauh dari kata biadab.

__ADS_1


Saat bertarung dalam jarak dekat, Ignis meningkatkan panas pada tangannya sehingga mampu menciptakan lubang pada tubuh lawan dalam sentuhan terlembut sekalipun.


"Aku harus menjaga jarakku." Batin Yuki. Dia melemparkan beberapa projektil es tanpa henti, namun semua itu meleleh sebelum sempat menyentuhnya.


Mereka bermain dengan suhu. Siapapun yang bisa menaruh kontrol pada suhu arena bertarung, dialah pemenangnya.


"Projektil es yang dilemparkan semakin besar." Analisis Agni. "Aku mengerti pola pikirnya, tapi semua itu hanya akan berakhir sia-sia karena Ignis bisa melelehkan semua itu dalam sekejap mata."


Flameshot : Ignis meningkatkan energi jiwanya ke tahap serius dan akan memanipulasinya menjadi sebuah serangan laser yang bisa membakar hangus tubuh lawan.


"Dia juga bisa memberikan serangan jarak jauh?!" Dengan gesit, Yuki menghindari semua serangan itu lalu membalasnya dengan projektil es yang lebih besar dari sebelumnya. "Apakah sudah saatnya untuk pertempuran ruang?"


"Ignis menguasai pertarungan ini, namun semua itu akan berakhir dengan cepat begitu lawan membuka ekspansi ruangnya." Teliti Agni. "Tapi tidak apa. Dengan mengorbankan Ignis, aku bisa memenangkan pertarungan selanjutnya."


"Ekspansi ruang : Blizzard!"


"Tanpa penghalang?!" Agni langsung mengaktifkan Esuna, seni rahasia yang diwariskan oleh Keluarga Penyihir agung sebagai penanggulangan ekspansi ruang.


Tidak seperti ekspansi ruang sederhana, di mana si pengguna memanifestasikan ruangnya sendiri untuk meniadakan serangan sure-hit ekspansi ruang, Esuna menyelubungi pengguna dalam energi jiwa yang menyerang balik saat sure-hit ekspansi ruang melakukan kontak. Energi jiwa melindungi pengguna secara otomatis, membalas serangan apa pun dengan kekuatan yang sama untuk meniadakannya.


Esuna berubah ketika kekuatannya diterapkan pada permainan pedang. Tidak hanya pengguna diselimuti energi jiwa, tapi pedang mereka juga. Hal ini memungkinkan bilah untuk secara otomatis menyerang apa pun yang bersentuhan dengan energi jiwa.


Tubuh Ignis yang tadi diselimui api kini padam bersamaan dengan membekunya area disekitar. Perlahan dimulai dari kaki, tubuh Ignis menjadi kaku.


"Membuang waktuku saja." Yuki melesat lalu menusuk perut, jantung, dan kepala Ignis dengan pedang es hingga tewas. Setelah itu, Yuki menunjuk Agni. "Sekarang, giliranmu."

__ADS_1


Blazing courage : Teknik ini memungkinkan penggunanya untuk mengeluarkan api dari senjata mereka. Agni menggunakan teknik ini dengan katananya, mampu menyemburkan api untuk mengganti bilah yang patah dan mengintensifkannya untuk membuat api yang lebih mematikan.


"Esuna, sudah lama aku tidak menjumpai teknik ini." Batin Yuki. "Hanya ada satu cara untuk mengalahkannya."


Yuki menciptakan badai salju yang membutakan indra penglihatan Agni. Saat mendekat, Yuki meredupkan energi jiwanya, lalu menusuk Agni dengan pisau kecil yang diberikan oleh Madara.


"Bergabunglah dengan saudaramu, brengsek." Bisik Yuki, sambil terus memperdalam luka di jantung Agni.


Setelahnya, dia langsung pergi menuju gedung emas milik The Saint. Namun ditengah perjalanan, dia tidak sengaja melihat seorang pemuda menggendong pedang iblis sedang berlari menuju hutan. "Onimaru?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Madara memasuki gedung emas, dia secara tidak langsung memasuki penghalang kosong ciptaan The Saint.


Di tengah-tengah penghalang tersebut, ada Ares yang sedang bergeming.


"Kau hidup lebih lama dari kegunaanmu dan tidak lagi menarik dimataku." Ucap Madara.


"Aku tidak tahu apakah ini dianggap sebagai ketertarikan, tapi aku memiliki keinginan unik untuk membunuhmu." Jujur Ares.


"Dimana para tetua?" Tanya Madara, celingukan.


"Mereka tidak ingin menemuimu. Sepertinya kau tidak terlalu disukai." Ledek Ares.


"Aku akan menyimpulkan, kalau kau adalah pakan ternak sekali pakai. Jadi tolong, lakukan yang terbaik." Balas Madara. "Lagipula rencanaku sudah berjalan dengan lancar. Lestallum sudah runtuh, para penyihir pun sudah berkurang dalam jumlah besar-besaran."

__ADS_1


"Lantas mengapa kau kemari?"


"Raja manusia." Ucap Madara. "Aku berencana untuk membunuhnya."


__ADS_2