
Setelah 3 minggu berlatih dengan konsisten di akademi sihir cabang cina, kabar mengenai penyihir bernama Seimei Abe kembali terdengar. Dia sedang berada di Indonesia, mengancam akan melakukan serangan massal di ibukota Jakarta pada tanggal 10 Juni nanti. Farel pun merasa bahwa sudah waktunya bagi dia dan yang lainnya untuk mengajukan izin kepada Keshi dalam melanjutkan misi pemburuan pendeta Seimei Abe.
"Siapa saja yang ingin kau ajak sebagai anggota tim mu?" Tanya Keshi.
"Guntur dan Arka."
"Guntur ikut, tapi tidak dengan Arka." Ucap Keshi, lalu pergi meninggalkan Farel beserta yang lainnya.
"Kenapa?" Farel tidak terima dengan jawaban itu, begitu pula dengan Arka. Namun lelaki itu hanya bisa diam ditempatnya, mendengarkan segala pertentangan dari Farel.
"Arka adalah wadah. Mengirimnya langsung kepada Seimei Abe adalah ide konyol." Jelas Keshi. "Dia akan kita kurung diakademi ini sampai ke-5 pedang iblis terkumpul. Itulah jalan terbaik."
"Jalan terbaik?" Arka akhirnya bersuara. "Mengurungku disini adalah jalan terbaik?!"
"Kau tidak akan mengerti, nak."
"Aku ingin terus hidup untuk menyelamatkan banyak orang, aku rela menjadi wadah pangeran iblis untuk bisa menyelamatkan banyak nyawa dan sekarang kau bilang aku harus duduk manis disini disaat negeriku sedang diserang?!"
Keshi menoleh dengan dahi berkerut. "Kau memang tidak seharusnya berada disini." Ucapnya. "Kau adalah anomali! Keberadaanmu dimalam itu adalah kutukan! Tidak seharusnya kau ada disana!"
Arka dan yang lainnya seketika senyap karena untuk pertama kalinya selama puluhan tahun, Keshi murka kepada seorang murid. "Pilihanmu lah yang membuatmu seperti ini. Mengubah statusmu menjadi seorang wadah. Bukan kami. Bukan takdir. Bukan juga salah pamanmu. Jangan lupakan fakta itu."
"Kau akan tetap disini sampai seluruh pedang iblis terkumpul." Tegas Keshi yang kemudian kembali melanjutkan kepergiannya. "Ini bukan permintaan, ini paksaan."
"Kalau memang tragedi pada malam itu menjadi pilihanku..." Arka nampak menggenggam Onimaru erat-erat. "Maka menentangmu, juga menjadi pilihanku."
Arka langsung berlari cepat menuju pintu keluar. Sementara Keshi yang hendak mengejarnya ditahan oleh Farel yang membela pilihan Arka. Guntur pun ikut membantu dengan menembakkan petir kearah puing-puing, membuat reruntuhan bangunan menghalangi jalan keluar mereka tepat setelah Arka meninggalkan ruangan.
"Kale! Gabriel! Kejar dia!" Perintah Keshi.
Mereka berdua yang sedari tadi hanya diam, kemudian menurut, dan mengejar Arka.
Saat sedang diluar ruangan, Gabriel mengajak murid-murid lainnya untuk mengepung Arka. Hal tersebut membuat Arka kewalahan. Namun karena emosinya yang sedang tidak stabil, energi jiwa Onimaru mengalami kebocoran dan keluar dari tubuhnya, menghancurkan wilayah di sekitar dan melukai beberapa murid.
"Menjauh dariku!!" Seru Arka.
__ADS_1
"Arka, tenanglah!" Pinta Kale. "Ikuti kata guru!"
"Diam!" Arka mengayunkan pedangnya, dan menebas pundak Kale hingga pria itu terjatuh ketanah tak sadarkan diri.
"Kale!!!" Panik Gabriel.
Lelaki itu kemudian memilih untuk menyerang Arka dengan teknik sihirnya. Sebuah teknik sihir yang bisa memperkuat daya hancur sebuah pukulan. "Pistol!"
Pukulan itu mampu merobek udara, dan mendarat tepat diwajah Arka. Lelaki itu dibuatnya terpental dan terjatuh. Namun pertarungannya masih belum berakhir, Arka kembali bangkit dan menyerang Gabriel hingga tubuhnya terbelah menjadi 3 bagian.
Murid-murid akademi pun tambah ketakutan, mereka tidak bisa bergerak. Arka memanfaatkan momentum itu untuk kembali berlari.
Hingga pada akhirnya, ia lagi-lagi dipertemukan dengan Keshi.
Lelaki itu menatap Arka penuh kebencian. "Dua temanmu sudah lumpuh. Sepertinya kita impas." Ucapnya.
Arka yang masih emosional, kemudian melemparkan pedangnya kearah Keshi. Keshi pun menghindar, namun ternyata Arka sudah berencana untuk melakukan sebuah trik teleportasi.
"Dia memasang mantra titik lompat pada pedangnya?!" Batin Keshi yang masih shock.
Arka telah pergi meninggalkan akademi sihir cabang cina, dia kini memasuki sebuah desa kecil yang berada di dekat sana untuk menyamarkan energi jiwanya dengan para warga.
Tanah-tanah disekitar desa tersebut kemudian terbelah akibat tekanan energi jiwa yang sangat besar dari Keshi. Semua warga juga dipaksa membungkuk karenanya.
Arka yang tidak bisa mengontrol emosinya, kemudian dikuasai oleh Onimaru.
Onimaru adalah penghasut handal, kebencian seseorang akan meningkat sangat drastis bila menjadi wadahnya.
"Akan kusucikan kau disini!" Seru Keshi, ketika menyadari perubahan energi jiwa milik Arka. Dia lalu meningkatkan tekanan energi jiwanya, membuat dampak kerusakan pada desa itu tambah brutal.
Onimaru tersenyum mengerikan, ia lalu melesat kearah Keshi yang sedang terbang diatas udara. Tekanan yang begitu kuat seolah tidak bisa dirasakan olehnya. Dia adalah pangeran iblis.
Onimaru mengayunkan pedangnya kearah Keshi, namun Keshi berhasil menghindarinya.
Keshi mulai menyadari besarnya perbedaan kekuatan diantara mereka. Ia pun mengalihkan pertarungan kembali kedaratan sehingga ia bisa bertarung lebih maksimal.
Sama seperti Kenny, Keshi adalah mahluk spesial. Dia memiliki mata dewa agung yang mampu melihat masa depan. Tapi bukan hanya itu, mata dewa agung juga memiliki beberapa kemampuan lain seperti meniru secara persis teknik sihir penyihir lain, dan melihat secara jelas bentuk dari energi jiwa. Hal ini memberikannya satu kemampuan baru, yakni memanipulasi energi jiwa itu sendiri.
__ADS_1
Dia memiliki kontrol yang sangat baik atas energi jiwanya, mampu mengaktifkan berbagai macam teknik sihir dalam seperkian detik, menggunakan teknik sihir pembalik, bahkan menggabungkan energi jiwa positif dan negatif.
Penggabungan ini di namakan Ultima, dan di jadikan Keshi sebagai jurus pamungkas.
"Ultima."
Sebuah serangan laser berwarna ungu menghapus pepohonan dan menghancurkan dataran tinggi disekitar mereka dengan sangat destruktif. Onimaru berhasil selamat dari serangan itu berkat kemampuan regenerasinya yang kuat.
"Kau memang menyebalkan." Ucap Keshi.
"Butuh lebih dari itu untuk mengalahkanku." Ledek Onimaru.
"Pistol!" Hantaman kencang dari atas mengenai kepala Onimaru, membuatnya sedikit tertunduk dan mengalami pusing. Setelah itu, bayangan yang berada dibawahnya berubah wujud menjadi sebuah tangan-tangah hitam untuk menangkap tubuh Onimaru.
Gabriel dan Kale telah kembali kepertarungan berkat bantuan Yuna.
"Daya tahannya meningkat." Ungkap Gabriel.
"Guru, Gabriel! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Ucap Kale.
"Maka akan ku akhiri disini." Keshi maju selangkah, lalu kembali memasang kuda-kuda yang sama. "Dengan bantuan mata dewa, aku bisa memasang 200% pengeluaran energi jiwa." Batin Keshi. "Ultima yang kali ini, pasti akan membunuhmu!"
Sinar ungu kembali terpancar, namun kali ini lebih besar dan daya rusaknya lebih ganas. Gunung dibelakang Onimaru pun ikut hilang bersamanya.
"Apakah dia benar-benar mati?" Tanya Gabriel.
"Entahlah, tapi kita berhasil mendapatkan pedangnya." Ucap Keshi, Sambil berjalan mendekati pedang Onimaru Yasutsuna yang sedang tertancap begitu dalam diatas tanah. Ia kemudian menghapus mantra sihir titik lompat yang Arka pasang dipedangnya, agar keduanya tidak dapat bertemu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keshi dan yang lainnya pulang ke akademi dengan keadaan lusuh. Melihat pedang iblis berada digenggaman Keshi, namun tidak ada tanda-tanda dari keberadaan Arka, Farel dan Guntur pun merasa kecewa.
"Arka telah tiada. Onimaru telah lenyap." Cetus Keshi. "Kita mendapatkan pedangnya! Kita menang!!"
Seluruh akademi bersorak gembira, seolah kabar buruk tadi hanyalah angin lewat. Memang tidak ada yang pernah menyukai Arka sejak awal pertemuan, namun tidak berduka atas kematiannya adalah tindakan yang salah bagi Farel.
"Bukan ini yang guru Kenny inginkan." Ucap Guntur. "Kita salah langkah."
__ADS_1
"Maka kita harus memperbaikinya, atau kita akan malu seumur hidup." Ucap Farel. Menatap senyum Keshi penuh kebencian.