Pedang Iblis

Pedang Iblis
Akhir Dari Sentralisasi pt.3


__ADS_3

Rencana awal Farel untuk pertarungan ini, adalah mengalahkan Liliard di awal pertarungan. Maka dari itu, ia menyerahkan Liliard pada Guntur beserta Soul-nya. Sementara Farel sendiri akan mengalihkan perhatian kedua muridnya, yakni Coal dan Snow, selama pertarungan itu berlangsung.


Namun ternyata, meski sudah mengeroyoknya, Guntur masih kesusahan untuk mengalahkan Liliard. Lelaki itu bagaikan monster yang menyerupai wujud manusia. Reflek dan gerakannya mampu mendominasi pertarungan, kekuatannya mampu membunuh seseorang dalam satu serangan telak.


Hal ini membuat Farel kewalahan. Pasalnya, ia tidak merencanakan pertarungan selama ini dengan kedua murid Liliard. Ia mulai kehilangan arah dari serangan-serangan kencang milik Coal dan Snow. Ia mulai memakan serangan-serangan tak terlihat itu dengan sangat telak. Tubuhnya kian melemah, harapannya mulai hancur.


Disaat Farel hendak menyerah, ia teringat dengan ucapan Jojo pada malam itu.


"Kau tentu tahu, kan? Kalau teknik itu hanya memanfaatkan kekuatan otak."


"Fokuskan energi jiwamu pada otak, pada pikiran. Bila sudah bertemu dengan titik temunya, aku yakin akan mudah."


"Titik temu apa yang kau maksud?" Batin Farel, penglihatannya perlahan memudar.


Namun satu tendangan ke arah kepala dari Snow, membuat Farel mendengar suara-suara dari sosok misterius didalam kepalanya. Suara-suara itu menyebutkan satu kata yang sama secara bergantian. "Oomiwa."


Tiba-tiba saja, mereka berada di dalam sebuah dimensi yang sangat luas. Bagaikan ruang hampa yang ada diluar angkasa, sangat tenang dan damai. Jarak di antara Farel dengan Coal dan Snow pun menjadi sangat terjaga. padahal sebelum memasuki dimensi ini jarak dari mereka bertiga hanya tersisa 1 meter sebelum akhirnya mereka bisa mengakhiri Farel.


Oomiwa adalah teknik ekspansi ruang yang hanya dimiliki oleh Klan Enka. Oomiwa menciptakan ruang metafisik yang menyebabkan abilitas, energi jiwa serta kekebalan penggunanya meningkat drastis. Tidak ada yang bisa keluar dari ruang dimensi itu kecuali penggunanya berhasil dikalahkan oleh lawan yang secara kemungkinan sangatlah mustahil. Namun, kelemahan dari teknik ekspansi ruang yang sangat awam, adalah semakin kuat kendali didalam ruang, semakin rentan dalam menerima serangan dari luar.


***ekspansi ruang juga dimiliki oleh penyihir lain namun dengan cara pembangkitan juga efek yang berbeda dari Oomiwa.***


Mengetahui ilmu dasar tersebut, Farel pun langsung bertindak untuk menyerang Coal dan Snow yang sedang terdiam didalam ruang dimensi yang sama. Mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi, karena ini semua adalah hal baru bagi mereka. Hal itu membuat Farel semakin unggul dalam pertarungan ini.


Sesuai dengan kesimpulan yang telah Keshi buat di beberapa chapter lalu: "bila tingkat kekuatan juga level panasnya ditingkatkan, dia bisa menjadi lebih kuat dan lebih cepat."


Farel menjadi iblis didalam zonanya sendiri. Dan berhasil mengalahkan kedua murid Liliard dalam hitungan waktu yang baru beberapa menit saja. Namun, walau waktu didalam dimensi itu telah berlalu beberapa menit, dalam dunia nyata, pertarungan itu hanya berlangsung selama 0,2 detik. Perbedaan alur waktu tersebut memberikan Farel keuntungan yang sangat besar, karena semakin cepat waktu berlangsung, semakin mustahil seseorang dapat mengusik pertarungannya didalam dimensi itu.


Farel keluar dari dimensi itu dalam kondisi yang sama seperti saat sebelum ia memasuki ruangan itu. Sementara Coal dan Snow tergeletak lemah diatas tanah, tak sadarkan diri.


Farel kemudian kembali bangkit tertatih-tatih, kearah Guntur yang sedang bertarung sengit dengan Liliard.


Namun suara ledakan dari arah istana membuat mereka semua menoleh dan berhenti dari pertarungannya masing-masing.


"Onyx!" Liliard langsung pergi meninggalkan pertarungan itu untuk menyusul Onyx.


Guntur yang hendak mengejar Liliard dihadang oleh Farel. "Bawa aku bersamamu." Pintanya.

__ADS_1


"Tapi kondisimu..."


"Aku masih bisa bertarung." Tegas Farel. "Arka masih membutuhkan bantuan kita, dan aku akan menolak rubuh sampai kita berhasil membawanya pulang ke akademi."


Guntur mengangguk paham, lalu membantu Farel berjalan kearah istana Lestallum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hei, bangun."


Arka membuka kedua matanya, dan langsung mendapati Stardust yang tengah berdiri tepat diatasnya.


Insting bertarung Arka lenyap, sepertinya Stardust sudah tidak berniat untuk melukainya. "Pedang kita hilang." Ucapnya. "Sepertinya seseorang telah mencurinya."


"Apakah ada tebakan liar?" Tanya Arka.


Stardust menggeleng, lalu menatap Arka. Mereka berdua sama-sama diam disana, tidak mengetahui apa yang harus dilakukan setelahnya.


"Oh, ya. Kita 'kan bisa mendeteksi energi jiwa yang terpancar dari pedang." Celetuk Arka.


"Benarkah?"


"Entahlah, aku tidak pernah berpisah sejauh ini dari pedangku." Ungkap Stardust.


Arka melamun, lalu berpikir tentang seberapa seringnya dia berpisah dengan pedang iblis yang dititipkan oleh Kenny padanya. Dia kemudian kembali fokus, untuk merasakan pancaran energi jiwa yang dimiliki oleh pedang.


Dan betapa terkejutnya dia, ketika mengetahui letak keberadaan dari pedangnya itu.


"Sial."


Stardust pun mengikuti arah pandang Arka, dan mendapati istana megah milik kota Lestallum yang dapat dilihat dari kejauhan. "Istana?"


*DUMMMMNNNN


Istana tiba-tiba meledak didepan mata mereka, membuat Arka dan Stardust tersentak kecil juga merinding tak karuan ketika merasakan teror yang luar biasa datang dari arahnya.


Stardust pun berubah menjadi sosok iblisnya, kemudian hendak terbang meninggalkan Arka.

__ADS_1


"Tunggu!" Cegah Arka. "Bawa aku bersamamu!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Untuk menghidupkan kembali istrinya yang sudah lama mati, Lucius bersekutu dengan iblis yang diperkenalkan oleh Clarus Lazarus si penasihat, yang sebenarnya adalah anggota dari sekte penyembah iblis. Iblis itu bernama Beelzebub, iblis yang terkenal atas kerakusannya.


Lucius dijanjikan bisa mendapatkan istrinya kembali dari liang lahat, bila saja ia bisa mengumpulkan dua pedang iblis yang tersegel di beberapa belahan benua.


Terdengar mustahil, namun keberuntungan memihak kepada Lucius. Dua pedang iblis berkumpul disatu tempat yang tidak lain dari kota Lestallum. Kota yang dikuasai olehnya.


Hal tersebut membuat Lucius rela mengorbankan rencana panjanganya untuk menciptakan acara bualan yang membuat Seinaru percaya diri untuk kembali menyerangnya.


Itu juga menjadi alasan mengapa Stardust berada di dalam istana dan bukan di medan tempur. Semua sudah direncanakan matang-matang oleh Lucius dan Clarus. Dan kini, mereka telah mendapatkan keduanya, meski harus mengorbankan nyawa Clarus sekalipun.


"Kau merindukannya 'kan, Onyx?" Hasut Lucius. "Hanya dengan cara inilah, kita bisa bertemu lagi dengan ibumu!"


"Kita akan mengulang semuanya dari awal, lupakan soal kekuasaan Lestallum, lupakan tentang Sentralisasi! Kali ini kita akan tinggal ditempat yang jauh, dan aku akan mendidikmu beserta adik-adikmu dengan sosok seorang ibu!"


"Kita akan hidup dengan bahagia!"


Terdengar suara tertawa dari atas dinding. Beelzebub menertawai mimpi Lucius. "Manusia memang naif." Ucapnya.


"Apa maksudmu?" Sahut Lucius.


"Kau benar-benar berpikir, kalau aku akan mengabulkan permintaanmu?" Ledek Beelzebub, kemudian ia kembali tertawa.


"Kau pikir aku ini apa? Pembantumu?" Ucap Beelzebub.


"Tapi kita sudah berjanji!" Tegas Lucius.


"Bahkan manusia lemah sepertimu pun bisa mengingkari janji." Beelzebub memasang wajah mengerikan, membuat Lucius gemetar ketakutan. "Apa yang membuatmu berpikir, kalau iblis tidak bisa berbuat hal yang sama?"


Beelzebub mengangkat pedang Onimaru serta Juzumaru menggunakan sihirnya.


"Yang aku inginkan hanyalah menghancurkan pedang-pedang iblis ini agar mereka tidak mengacaukan kedatangan Holocaust." Ungkap Beelzebub. "Kau adalah pionku. Dan aku, aku adalah tuhanmu."


Ia kemudian membelah kedua pedang itu menjadi dua bagian. Menciptakan ledakan besar yang didengar oleh Farel, Guntur, Liliard, serta dilihat pula dirasakan oleh Stardust, dan juga Arka.

__ADS_1


Ruang tahta Lucius hancur berantakan. Lucius dan Onyx pun dibuat terhempas ke ruangan lain, telinganya tidak bisa berhenti berdengung. Mereka tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya bisa menjadi tikus dari segala percobaan yang akan dilakukan oleh Beelzebub.


Beelzebub tertawa terbahak-bahak. Suaranya memberikan trauma ringan bagi yang mendengarnya.


__ADS_2