Pelita

Pelita
Bab 10


__ADS_3

Panji bertanya mengenai keadaan adiknya.


"Dek, kamu gak papa?" tanya Panji yang cemas pada kondisi adiknya yang memang baru sembuh.


"Gak papa bang!"


"Sur, titip adek aku ya!"


Kata Panji pada Surya yang juga akan pergi bersama Pelita dan Riri dalam satu mobil dengannya.


"Iya bang, aman!" kata Surya yang memang terlihat meyakinkan.


Mereka pun berangkat menuju rumah Arman. Tak lama waktu yang yang diperlukan untuk sampai di rumah Arman yang memang jaraknya tak jauh dari sekolah. Meski juga tidak dekat kalua harus di tempuh dengan jalan kaki atau bersepeda.


Suasana setelah Surya memarkirkan mobilnya di bantu oleh para warga yang memang atas kesadaran mereka sendiri membantu warga lain yang sedang tertimpa musibah.


Bendera kuning sudah terlihat di depan gang tadi, dan di sebuah pohon di depan rumah Arman. Bendera itu juga sudah terpasang. Ada tulisan besar di atas pagar rumah Arman yang cukup besar itu.


*Ketua RT 019


Bpk. Afrizal Ahmad


Tulisannya seperti itu, dengan alamat rumah dan juga lingkungan di bawah tulisan itu. Juga ada tulisan tamu harap lapor, 1×24 jam dengan warna yang berbeda dari lainnya.


Suasana duka begitu terasa, sebab terdengar suara tangis yang begitu memilukan dari arah dalam.


"Teman sekolahnya Arman ya?" tanya salah seorang pria paruh baya yang menghampiri Surya dan yang lain saat baru turun dari dalam mobil mereka.


"Iya pak, saya Surya. Kami teman sekelas Arman. Kami bisa masuk atau...?"


"Oh, boleh. Tapi jangan semua langsung ya. Ganti-gantian aja gimana yang masuk. Di dalam itu Arman sama adiknya dari subuh tadi histeris terus. Kalau ada teman dekatnya, tolong kasih pengertian. Tolong di tenangkan ya Arman nya!" kata pria itu.


Surya pun mengangguk paham. Dia memutuskan mengajak empat orang dulu, dan salah satunya adalah Pelita dan Riri yang memang cukup dekat dengan semua teman sekelas mereka. Karena memang mereka yang paling ceria dan baik.


Begitu masuk dan mengucapkan salam. Pelita lantas merasakan perasaan yang sama ketika berada di atas jembatan sungai itu. Tapi Pelita berusaha untuk tidak menghiraukannya karena memang melihat Arman yang tak mau melepaskan pelukannya dari sang ibu.


"Arman, kami turut berdukacita ya. Kamu yang sabar!" ucap Pelita yang matanya sudah berkaca-kaca.


Melihat Arman menangis terisak, membuat Pelita, Riri juga yang lain ikut sedih. Apalagi melihat adik Arman yang masih kecil terus memeluk ibunya sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kemarin ibu masih baik-baik saja Pelita, pulang sekolah masih bantuin aku ngerjain tugas Bu Magdalena. Mau tidur semalam ibu masih buatin aku sama Retno susu. Rasanya aku gak bisa percaya ini...!"


Arman kembali terisak, Pelita dan Riri bahkan juga sudah ikut menangis. Tapi Pelita dan Riri terus berusaha mengusap punggung dan lengan Arman agar dia kuat.


"Kamu harus ikhlas Arman, kasihan adik kamu!" kata Riri pelan pada Arman.


Pandangan Arman lalu mengarah ke adiknya. Dan Arman langsung memeluk Retno adiknya sambil masih terus menangis.


Pelita dan semua orang yang berada di tempat itu tidak bisa jika tidak menangis melihat pemandangan yang begitu menguras emosi dan mengharukan itu.


*Lihat ke halaman belakang


Pelita mendengar seseorang berkata padanya. Pelita melihat ke sekelilingnya dengan cepat. Ke arah kanan dan kiri tempat itu. Tapi tidak ada yang sedang bicara padanya.


*Ini Carolina, lihat ke halaman belakang Pelita.


Suara itu terdengar lagi. Karena suara itu menyebutkan siapa dirinya. Pelita yakin kalau itu benar adalah Carolina.


Pelita langsung menepuk pelan lengan Riri.


"Aku ke belakang dulu ya!" kata Pelita.


Pelita menggelengkan kepalanya dengan cepat. Setelah itu pelita bergegas menuju ke arah sumber suara yang tadi memanggilnya dan memintanya untuk melihat ke arah halaman belakang rumah Arman.


"Neng, cari apa?" tanya salah satu ibu yang membawa nampan berisi beberapa gelas kecil teh manis.


"Oh, ini Bu. Saya mau cari toilet!" jawab Pelita.


"Toil... apa neng?"


Ibu itu terlihat bingung dengan apa yang di sebutkan Pelita tadi. Mengerti kalau mungkin saja ibu itu tidak tahu apa itu toilet. Pelita pun meralat ucapannya.


"Itu Bu, kamar mandi!" kata Pelita lagi.


"Oh, itu neng di sebelah sana!" kata si ibu yang baru mengerti maksud Pelita.


"Terimakasih Bu!"


Pelita lalu menuju arah yang di tunjuk ibu tadi. Kebetulan dia melihat sebuah pintu yang terbuka. Semakin dia berjalan menuju pintu semakin pekat aura hitam yang dia rasakan, bahkan dia sudah bisa melihat semacam asap atau kabut hitam yang terus bergerak terbawa angin ke sana dan kemari. Yang tentu saja, hanya dia yang bisa melihat semua itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" gumam Pelita.


Pelita yang terus melangkah maju sebenarnya sudah sangat merinding, bulu kuduknya sudah berdiri semua. Namun karena dia yakin yang Carolina ingin sampaikan, perlihatkan padanya itu adalah hal yang penting. Maka Pelita terus maju.


Langkah Pelita berhenti ketika dia mendengar...


"Mas, dia kan sudah mati. Jangan lama-lama ya kamu berkabunya. Kamu harus segera nikahin aku!"


Mata Pelita terbelalak lebar ketika mendengar hal itu. Pelita tidak berani melihat ke balik dinding pembatas itu. Tapi dia penasaran, karena si wanita menyebutkan tentang masa berkabu. Pelita takut kalau pria yang di ajak wanita itu bicara adalah ayah Arman, karena pria itu tak kunjung bersuara. Pelita pun mengeluarkan ponselnya, dan berusaha melihat siapa sebenarnya yang bicara dari lubang udara yang ada di atas dinding pembatas itu.


Pelita mengarahkan kameranya sambil berjinjit. Dan betapa terkejutnya Pelita setelah melihat hasil jepretan kamera ponselnya. Ternyata benar, pria yang di ajak wanita itu bicara adalah ayah Arman, Afrizal.


Mata Pelita juga membelalak ketika menyadari kalau wanita yang bicara dengan ayah Arman itu adalah wanita berpakaian minim yang kala itu dia lihat di jembatan.


Pelita menelan salivanya dengan susah payah.


"Artinya ayahnya Arman selingkuh, dan ibunya ..!" Pelita menjeda karena mendengar seseorang memanggilnya.


"Pelita!"


Pelita menoleh ke arah sumber suara.


"Riri!"


"Ayo, gantian sama yang lain!" kata Riri mengingatkan kalau mereka harus gantian sama yang lain untuk bisa memberi ucapan dukacita pada Arman.


"Iya!"


Begitu Pelita berada di luar, ternyata wanita yang tadi bicara dengan ayah Arman juga ikut keluar.


Tapi begitu wanita itu keluar, seorang wanita dengan kerudung hitam bercorak kuning langsung mendekatinya dan menjambak rambutnya yang memang tidak di tutupi kerudung. Kerudungnya hanya di selampirkan di bahunya.


"Dasar wanita jahat, kamu pasti yang sudah bikin adik saya bunuh diri kan?" kata wanita paruh baya itu sambil terus menarik rambut wanita yang tadi bicara dengan ayah Arman dan minta untuk segera di nikahi.


Sontak saja kejadian itu membuat semua orang terkejut. Bahkan teman-teman sekelas Arman dan juga Pelita yang langsung berdiri dari kursinya karena terkejut dan tak menyangka akan ada kejadian seperti itu di rumah duka.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2