
Pelita yang masih belum bisa menduga apa yang akan terjadi pada wanita yang di bonceng tadi pun. Hanya terus bersembunyi di belakang punggung Panji. Sampai rombongan anak-anak motor itu pergi.
Panji juga mengendarai motornya dengan pelan, karena memang beberapa anak lain dengan sepeda motornya juga akan masuk ke sekolah melewati gerbang sekolah.
"Ih itu kan si Tia ya, anaknya ibu yang dagang di kantin!"
Karena Panji melaju dengan kecepatan yang sangat lambat. Maka Pelita pun bisa mendengar dia orang siswi yang berjalan melewati gerbang di sampingnya dengan berjalan kaki.
"Iya, itu Tia. Pagi tadi tuh pacarnya yang anak motor tuh udah jemput dia, padahal semalem aja pulangnya larut malam. Bapak ku yang giliran jaga ronda semalam yang bilang. Bapakku sampai wanti-wanti aku jangan pacaran sama anak motor. Ya ampun kelakuannya, di bilangin sama ibunya malah ibunya di dorong. Di bentak-bentak, aku aja yang lihat tadi pagi sampai elus dada sendiri!" jawab teman yang di sebelahnya.
Setelah itu Pelita tidak mendengar lagi obrolan mereka karena Panji mempercepat kendaraannya menuju tempat parkir khusus murid di sekolah nya.
"Dek, Abang mau ke perpustakaan dulu, mau pinjem buku. Kamu ke kelas kamu sendirian gak papa kan?" tanya Panji.
Pelita pun lantas mengangguk. Saat berjalan di koridor yang sepi. Tiba-tiba saja makhluk hitam setengah putih setengah muncul di depannya dengan posisi terbalik.
"Allahuakbar!"
Seru Pelita yang tentu saja terkejut dengan kehadiran Jem yang muncul dengan posisi terbalik itu. Mana bola mata Jem putih semua kan. Pelita benar-benar langsung terhuyung ke belakang lalu mengusap dadanya sebagai ekspresi tanda dia begitu terkejut.
Namun makhluk yang tiba-tiba muncul tadi malah menghilang. Pelita pun mulai menyeimbangkan posisi berdirinya dan melihat ke arah kanan, ke arah kiri, bahkan sampai menoleh ke belakang.
"Loh mana dia?" tanya Pelita.
"Aku di sini!" kata Jem yang muncul di belakang Pelita.
Sontak Pelita kembali berbalik, dan karena Jem sudah memberi kode. Meskipun berbalik tiba-tiba. Kali ini Pelita tidak se-terkejut saat pertama kali Jem muncul tadi.
"Jem, kamu hampir bikin aku jantungan!" kata Pelita memprotes kemunculan Jem yang tiba-tiba itu.
"Kamu hampir bikin aku terbakar, untuk aku pakai rompi anti panas!" jawab Jem membuat Pelita mengernyitkan keningnya karena bingung.
"Terbakar? rompi anti panas?"
Pelita yang bingung pun bertanya, tapi makhluk dengan warna berbeda di sisi kanan dan kirinya itu malah melambaikan tangannya yang berwarna hitam.
"Sudah, itu tidak penting. Ke toilet sekarang, toilet yang ada di belakang laboratorium IPA. Carolina dan Shaka sedang menunggu di sana!" kata Jem
Dan mahluk dia warna itu langsung menghilang begitu selesai menyampaikan apa yang ingin dia katakan pada Pelita.
"Eh, tapi ini sudah mau masuk. Ih... main hilang aja!" kata Pelita.
__ADS_1
Pelita sedikit bingung, antara ke kelasnya atau ke toilet di belakang laboratorium IPA seperti yang di minta Jem tadi.
"Kenapa di sana sih, toilet belakang aula juga lebih dekat!" ucap Pelita lagi.
Meskipun Pelita terlihat tidak setuju kalau mereka bertemu di tempat paling jauh dari kelasnya itu. Tapi langkah kaki Pelita justru menuju ke tempat tersebut.
Setelah beberapa lama, Pelita pun sampai di tempat yang di katakan Jem tadi dengan setengah berlari dan kadang berlari cepat kalau tidak ada yang melihat.
"Jem!"
"Caroli...!"
"Pelita!" pekik Carolin yang langsung mendekati Pelita namun sosoknya tembus begitu saja ketika ingin memeluk Pelita.
"Yah tembus!" kata Carolina kecewa.
"Ha ha ha !"
Jem tertawa puas begitu muncul di belakang Pelita.
"Masih ada wudhu doi, say!" kata Jem berkelakar.
"Sudah diam jangan bercanda!" ucap Shaka yang lebih dingin di antara ketiganya, bahkan lebih dingin dari es di kutub Utara.
"Kami sudah tahu, kamu lupa? kami bisa mengetahui apapun yang kamu lihat!" kata Carolina kembali mengingatkan Pelita.
Mendapatkan penjelasan itu Pelita pun langsung mengangguk paham.
"Pagi ini, aku melihatnya lagi. Dan auranya kali ini benar-benar pekat. Bahkan sampai merinding aku dibuatnya. Apa yang akan terjadi pada wanita muda itu?" tanya Pelita pada ketiga makhluk di sekitarnya itu.
"Artinya cara dia meninggal akan lebih mengenaskan!" ucap Shaka.
"Astaghfirullah!"
Pelita sampai terhuyung ke belakang, sangking terkejutnya mendengar ucapan Shaka.
"Jadi maksudnya semua yang aku lihat dengan aura gelap akan meninggal?" tanya Pelita dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan suara yang gemetaran.
Pelita tak menyangka, dia akan mengalami hal mengerikan seperti ini. Mengetahui hal ini, bagi Pelita adalah sesuatu yang sangat menakutkan.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" tanya Pelita yang terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Kami tidak tahu, lebih tepatnya kamu belum tahu. Tapi...!"
Jem terdiam, sepertinya dia mengingat suatu hal.
"Apa kalian ingat, Putri? gadis ke 77 yang kita lindungi waktu itu. Dia menggagalkan seorang nenek yang akan bunuh diri di real kereta api, dan pusaka itu muncul! sebuah cermin yang tiba-tiba mampu melindungi Putri. Apa kalian ingat?" tanya Jem pada Carolina dan Shaka.
Kedua makhluk itu saling pandang dan mengangguk.
"Tapi Putri tidak punya kemampuan melihat aura gelap itu, dia hanya mendapatkan vision!" kata Carolina.
"Mungkin Jem benar, sebaiknya kita ikuti wanita itu dan selamatkan dia sebelum ada hal buruk menimpanya. Kita lihat apa yang akan terjadi kalau kita berhasil menyelamatkannya!" kata Shaka.
Kedua makhluk lain mengangguk paham dan setuju.
"Tapi aku tidak ikut ya, aku harus sekolah!" kata Pelita yang memang sebentar lagi harus masuk ke dalam kelas.
"Huh, beginilah repot nya kerja pas bukan waktu liburan!" keluh Jem.
"Sudah jangan mengeluh, ayo!" kata Carolina.
Tapi saya ketiga makhluk itu akan melayang, Pelita baru ingat sesuatu.
"Tunggu, kenapa kalian beberapa hari ini tidak menampakkan diri? aku panggil kalian tidak datang?" tanya Pelita.
Jem lalu terbang kembali ke arah Pelita.
"Shaka merasakan kehadiran mak Kondang, karena itu kami tidak bisa menemui mu. Jika kamu melakukan itu Mak Kondang bisa tahu kalau kamu adalah gadis terpilih selanjutnya. Nyawamu bisa dalam bahaya!"
Saat Jem mengatakan itu, Pelita gemetaran. Tentu saja dia takut. Siapa yang tidak takut mendapati dirinya berada dalam bahaya.
"Jangan takut, sebelum usia mu 17 tahun, Mak Kondang tak akan dapat mengetahui kamu gadis yang terpilih, asalkan kami tidak di dekatmu saat itu!" lanjut Jem.
Setelah mengatakan itu ketiga makhluk itu menghilang. Meninggalkan Pelita yang merinding sendirian di depan toilet yang memang sudah tidak terpakai lagi.
Brakk
"Astaghfirullah"
Pekik Pelita yang langsung mengambil langkah seribu meninggalkan toilet itu mendengar suara benda yang terjatuh.
Meong...
__ADS_1
***
Bersambung...