
Sebelum Pelita bicara, Panji yang melihat gelagat adiknya itu pun sudah bisa menduga. Kira-kira apa yang ada di pikiran adiknya itu.
"Kamu mendapatkan mendapatkan petunjuk atau sesuatu mengenai apa yang akan terjadi pada mang Untung?" tanya Panji yang sudah mulai paham tentang mata batin adiknya yang terbuka itu sekarang.
Pelita pun mengangguk.
"Tapi aku harus pastikan sesuatu bang, apa orangnya masih ada di luar?" tanya Pelita dan langsung di balas anggukan oleh Panji.
"Antar aku yuk bang!" ajak Pelita.
Panji pun langsung meletakkan pangsit goreng yang dia beli sebelumnya di atas meja. Kemudian dia menggandeng tangan Pelita dan mengajaknya keluar untuk menemui penjual pangsit goreng dan rebus yang bernama Untung itu.
Saat Panji dan Pelita tiba di dekat gerobak mang Untung. Pria yang kemungkinan usianya sekitar empat puluh tahunan lebih itu sedang memasak pangsit goreng untuk pembeli yang lain.
Mau bertanya pun Pelita jadinya tidak enak. Jadi Pelita menunggu sampai mang Untung selesai menyiapkan pesanan pembeli yang lain tersebut.
Setelah beberapa lama, baru tiba giliran Panji dan Pelita.
"Loh, mas ini yang tadi kan. Mau pangsit kuah atau goreng?" tanya mang Untung sambil membersihkan wajan yang dia pakai untuk memasak semua pesanan dari para pembeli.
"Mau pangsit apa Pelita?" tanya Panji.
"Yang kuah!" jawab Pelita cepat.
"Yang kuah satu mang, jangan pedas ya!" kata Panji.
"Siap!" kata mang Untung yang langsung menuang minyak di wajah tersebut.
Panji pun mulai melirik ke Pelita. Pelita yang mengerti maksud sang kakak langsung bertanya pada mang Untung.
"Sudah lama jualan pangsit keliling mang?" Tanya Pelita pada mang Untung.
Mang Untung mendengar pertanyaan Pelita itu. Sambil terus memasukkan bahan-bahan untuk membuat satu porsi pangsit kuah. Mang Untung pun menjawab sambil berusaha tersenyum ramah.
"Sudah neng, sudah delapan tahunan. Tapi yah, namanya perantauan ya begini gini aja neng. Apalagi kadang cuaca juga ya, kadang hujan tak menentu. Pokoknya mah di syukuri aja, yang penting tiap Minggu masih bisa kirim uang buat anak istri di kampung sudah Alhamdulillah neng!" jawab mang Untung yang malah sepertinya curhat colongan pada Pelita.
"Iya mang, rejeki kan sudah ada yang mengaturnya ya!" kata Panji menyambung ucapan mang Untung.
__ADS_1
"Iya mas!" sahut mang Untung lagi.
"Sudah punya anak berapa mang?" tanya Pelita lagi.
"Alhamdulillah sudah dua neng, menuju tiga. Istri di kampung sedang hamil, sudah mau tujuh bulan!" kata mang Untung lagi.
Kali ini pelita terlihat serius. Dia yakin kalau wanita yang ada di penglihatannya ketika dia bercermin tadi memang adalah istri dari mang Untung.
"Wah, tok cer juga ya mang?" tanya Panji berkelakar.
Mang Untung terkekeh sambil menuang kecap di pangsit kuah pesanan Pelita.
"Alhamdulillah, biar menemani istri di kampung pas saya lagi jualan begini. Karena kan saya pulang ke kampung gak tentu, kadang satu bulan sekali bisa pulang, tapi kalau ngepress kondisinya ya, kadang saya baru pulang dua sampai tiga bulan sekali!" jelas mang Untung.
"Tetap semangat ya mang!" ucap Panji memberi semangat mang Untung.
"Kampungnya di mana ya mang?" tanya Pelita yang ingin ke kampung tempat mang Untung.
Pelita merasa karena dia mendapatkan vision atau penglihatan seperti itu. Maka sebenarnya dia di arahkan untuk bisa menolong wanita yang adalah istrinya mang Untung ini. Jadi Pelita berpikir untuk segera kesana. Karena dalam penglihatannya, wanita mengalami kesakitan dan perutnya tiba-tiba menjadi kempis pada malam hari. Pelita yakin sekali, peristiwa itu akan terjadi malam ini.
"Di desa Curigan neng!" jawab mang Untung.
Mang Untung yang mendengar pertanyaan Pelita tersebut lantas menghentikan aktivitas nya sejenak. Dan melihat ke arah Pelita dengan ekspresi bingung.
"Sepesi apa neng?" tanya mang Untung yang ternyata tidak mengerti maksud Pelita.
"Oh, maksud adik saya. Alamat lengkapnya mang. Desa apa, RT berapa gitu kan dek?" tanya Panji pada Pelita.
Tapi saat Pelita mengangguk, mang Untung malah heran.
"Emangnya kenapa ya neng?" tanya mang Untung.
"Istri mang Untung sedang...!"
"Gak apa-apa mang cuma pengen tahu aja. Kok sampai bisa pulang sebulan sekali. Emang jauh ya mang desanya?" tanya Panji menyela Pelita yang ingin berkata kalau istrinya mang Untung dalam bahaya.
Menurut Pelita, hal itu bisa membuat mang Untung panik. Dan Panji tidak mau kalau ada yang salah paham dengan maksud Pelita. Sebab tak semua orang akan percaya kalau seorang manusia biasa bisa melihat ada bahaya yang akan terjadi pada orang lain.
__ADS_1
"Oh, saya kira kenapa. Yah, lumayan jauh di neng. Saya kan memang gak punya kendaraan. Saya naik bus kalau pulang. Biar irit juga, di desa Curigan neng, dusun hilir! sekitar delapan jam kalau naik bus. Ya kan, bus mah banyak berhentinya nyari penumpang yang lain!" jelas mang Untung.
Tak terasa pesanan pangsit kuah Pelita sudah siap. Mereka pun membayar lantas pulang kembali ke rumah.
"Loh, dimasakin kok malah jajan sih?" tanya Anisa melihat anaknya menenteng plastik khas pangsit kuah.
"Mama mau?" tanya Panji.
"Jangan di tanya, ya maulah ha ha !" kata Anisa sambil tertawa.
Setelah mereka makan, Pelita pun langsung bicara pada ibunya tentang apa yang dia lihat di cermin. Juga mengatakan pada ibunya kalau dia ingin pergi ke desa itu.
"Ya ampun dek, baru juga pulang tadi pagi. Mau pergi lagi?" tanya Panji yang sepertinya masih lelah.
"Bang, tapi ini penting. Bagaimana aku bisa diam disini sementara aku dapat penglihatan itu?" tanya Pelita.
Panji pun akhirnya mengerti apa yang di rasakan adiknya.
"Mama mulai cemas loh, Pelita, Panji. Kalian berdua pergi-pergi begini. Mama benar-benar khawatir. Mana kita gak tahu apa yang akan terjadi di desa itu nanti?" tanya Anisa yang terlihat begitu khawatir.
"Tapi ma...!"
"Sayang, mama bukannya gak ijinkan. Tapi kalian kalau hanya pergi berdua mama khawatir!" kata Anisa.
Rasanya memang wajar kalau Anisa khawatir.
"Kita gak pergi berdua kok ma, ada empu Yasa yang akan melindungi Pelita dan bang Panji!" kata Pelita.
Anisa terkejut bukan main, dia rasanya sangat familiar dengan nama itu.
"Empu Yasa?" tanya Anisa.
"Iya ma, ayahnya kakek. Empu Yasa, kakek buyut papa!" kata Pelita yang membuat Anisa dan Panji tercengang.
Bagaimana bisa Pelita tahu tentang empu Yasa, padahal ayahnya saja belum tentu pernah melihat empu Yasa tersebut yang merupakan kakek buyut Tommy.
***
__ADS_1
Bersambung...