Pelita

Pelita
Bab 7


__ADS_3

Di rumah sakit, kepala sekolah dari di sekolah Pelita. Di temani seorang guru BK dan guru agama sudah tiba di rumah sakit tempat dimana warga itu mengatakan, ada siswa dengan seragam sekolah yang tenggelam di sungai di dekat sekolah tersebut. Tanpa identitas tanpa tas yang dapat menunjukkan siapa mereka. Sehingga membuat para warga hanya bisa berinisiatif, untuk memanggil kepala sekolah atau guru-guru di sekolah tersebut untuk mengetahui siapakah siswa yang hampir saja tenggelam di sungai itu. Karena tidak ada identitas Jadi mereka tidak tahu di mana alamat siswa tersebut, sehingga tidak bisa menghubungi keluarganya.


Setelah kepala sekolah melihat siswa tersebut sepertinya kepala sekolah tidak mengenalnya. Bagaimana mungkin seorang kepala sekolah yang baru menjabat selama 6 bulan, bisa mengetahui satu persatu dari siswa yang berada di sekolahnya yang jumlahnya ada ribuan orang.


Namun berbeda dengan guru BK, yang baru sekali lihat saja dia sudah mengenali siapa siswa yang sedang terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur pasien di dalam ruangan tersebut.


"Oh, ini Martin pak kepala sekolah. Dia sudah sering keluar masuk ruang BK!" jelas guru BK yang bernama Ananto.


Wajahnya terlihat kesal ketika dia menjabarkan siapa siswa tersebut kepada kepala sekolah. Mungkin karena siswa yang bernama Martin itu memang suka cari masalah hingga membuatnya kesal.


Sang kepala sekolah langsung menoleh ke arah pak Ananto.


"Jadi benar kalau siswa ini adalah salah satu murid di sekolah kita?" tanya pak kepala sekolah yang sepertinya tidak perlu dijawab.


Bagaimana tidak, kan sudah jelas tadi pak Ananto mengatakan kalau siswa bernama Martin tersebut sudah berkali-kali keluar masuk ruang BK, tentu saja siswa tersebut adalah siswa sekolah mereka.


Tapi demi menghormati dan menghargai seorang kepala sekolah, yang bertanya kepada seorang guru, yang tentu saja jabatannya berada di bawah seorang kepala sekolah maka pak Ananto pun menganggukan kepalanya.


"Benar pak, dia kelas 11. Dia dan kedua temannya sangat nakal. Bukan sangat lagi sih pak, memang luar biasa nakalnya!" kata pak Ananto ya sebenarnya lebih terdengar seperti curhat kepada kepala sekolah.


Kepala sekolah yang rambutnya semuanya sudah memutih dan memakai kacamatanya itu, hanya menganggukkan kepalanya bertanda dia paham dengan maksud pak Ananto.


"Kok tumben dia sendirian, apa mungkin malah kedua temannya yang nakal itu yang menceburkan dia ke sungai?" ucap pak Ananto mulai mencoba untuk memahami situasi yang mungkin saja terjadi.


"Astaghfirullah, tidak boleh berpikir seperti itu pak!" kata pak Arifin, guru agama yang berada di belakang pak Ananto.

__ADS_1


Pak Ananto langsung memasang wajah tidak enak Karena bagaimanapun juga di sebelahnya ada kepala sekolah. Gara-gara dia memang sangat kesal kepada trio bikin rusuh itu, pak Ananto sampai lupa kalau dirinya adalah salah satu guru BK. Dan memang tidak seharusnya dia berkata seperti itu.


Pak kepala sekolah langsung bertanya kepada warga yang masih menunggu Martin.


"Dia sendirian pak? ada dua orang temannya yang tadi dibicarakan pak Ananto itu tidak pak?" tanya kepala sekolah kepada warga yang masih berdiri di sisi yang bersebelahan dengan para guru yang mendatangi Martin.


Namun dengan cepat warga itu pun menggelengkan kepalanya.


"Tadi pas kita semua para warga angkat rame-rame, anak ini sendirian pak!" jelas warga tersebut.


"Tapi kedua temannya juga bolos pak!" kata pak Anto menjelaskan kepada kepala sekolah.


Tak lama kemudian, Martin berteriak histeris. Dia berteriak-teriak minta tolong sambil menggulurkan tangannya, kedua tangannya yang seperti menggapai-gapai sesuatu ke arah atas. Membuat pak Arifin langsung mendekati Martin dan mengusap kepalanya sambil membacakan doa yang dia ketahui.


Tak lama setelah dibacakan doa oleh pak Arifin, Martin langsung bangun dengan posisi terduduk dia membuka matanya dan melihat ke arah kiri dan kanan dengan wajah bingung dan tatapan mata yang sedikit kosong.


Pak Ananto dan kepala sekolah hanya saling pandang. Sementara pak Arifin terlihat mengambil kan segelas air putih yang ada di atas nakas di samping tempat tidur pasien yang sekarang diduduki oleh Martin.


"Minum dulu Martin!" kata apa Arifin sambil menyerahkan segelas air putih ke tangan Martin.


Setelah Martin meminum hampir setengah dari air yang ada di dalam gelas tersebut. Dan setelah Martin terlihat lebih baik, pak Arifin baru bertanya.


"Apa sebenarnya yang terjadi kenapa kamu bisa tenggelam di sungai itu?" tanya pak Arifin dengan suara yang lembut agar tidak membuat Martin kembali panik atau shock.


Martin terdiam sejenak, dia bahkan tidak ingat kalau dia tenggelam di sungai. Yang dia ingat adalah dia dan kedua temannya sedang menuju ke gerbang sekolah, sebelum sebuah tangan hitam yang sangat berat memegang bahunya dan tiba-tiba menyeretnya ke suatu tempat yang benar-benar gelap dan menyeramkan.

__ADS_1


Martin seolah merasa kehabisan nafas karena tangan hitam yang besar dan menyeramkan itu terus membekap mulutnya, dia bisa melihat kedua temannya juga terlihat sama persis seperti dirinya.


Martin terus berusaha meminta pertolongan Namun sepertinya suaranya tidak bisa keluar dari tenggorokannya.


"Sa... saya tenggelam? saya gak tenggelam pak, saya, Edo dan juga Tosa kami di bekap sesuatu yang berwarna hitam dan tidak bisa bernafas. Kami minta tolong tapi suara kami tak bisa keluar! Mana Edo dan Tosa, pak?" tanya Martin bingung.


Semua orang yang ada di tempat itu termasuk kepala sekolah dan pak Ananto terlihat bingung.


"Jadi yang tenggelam bukan hanya kamu? tapi Edo dan Tosa juga?" tanya pak Arifin yang sepertinya sudah bisa mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada ketiga siswa di sekolahnya itu.


Martin terlihat lebih bingung lagi karena dia benar-benar tidak tahu kalau dia dan ketiga temannya itu tenggelam.


"Lihat bajumu?" kata pak Arifin.


Setelah Martin melihat ke arah pakaiannya, dia baru sadar kalau pakaiannya itu memang seperti habis basah kuyup, dan sekarang sudah mulai mengering meski belum sepenuhnya kering.


"Edo dan Tosa, pak?" tanda Martin lagi yang masih mengkhawatirkan kedua temannya itu.


"Tapi kamu sendirian saat kami para warga menyelamatkan kamu yang hampir kehabisan nafas karena tenggelam di sungai!" kata warga tersebut.


Martin pun terdiam, dia benar-benar sangat mencemaskan kedua temannya tersebut.


Di salah satu sudut ruangan tersebut. Jem sedang melayang memperhatikan Martin yang begitu ketakutan.


"Haih, darah muda... darahnya para remaja... selalu merasa gagah. Ujung-ujungnya sengsara kan, niatnya mau unjuk gigi, malah mencelakai nyawa sendiri. Sudahlah, dia sudah sadar, satu kebaikan pertama setelah kami hibernasi selama 7 tahun... eh kok hibernasi. Meditasi!" gumam Jem yang kemudian langsung menghilang dari tempat itu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2