
Ibunya Tia langsung menutup kiosnya di kantin dan langsung mengikuti Pelita, setelah Pelita mengatakan kalau ada temanya yang bernama Carolina melihat beberapa anak geng motor sedang mabuk dan membawa seorang gadis.
Pelita bilang pada ibunya Tia, kalau tadi pagi dia sempat melihat Tia membonceng salah satu geng motor itu. Pelita bang mereka mabuk dan menghajar seseorang, Pelita takut terjadi apa-apa pada Tia.
Itu yang Pelita katakan pada ibunya Tia.
"Aduh, dimana nak Pelita? Astaghfirullah Tia... tadi pagi ibh sudah punya firasat tidak baik. Semakin di larang malah Tia semakin ngamuk ke ibu!" keluh ibunya Tia.
Wanita paruh baya itu dengan motor maticnya mengikuti Panji dan Pelita yang menunjukkan jalan padanya.
"Kesana bang!"
Namun Panji menghentikan laju motornya.
"Dek, di sana itu kan tempat bisanya geng motor uang suka rusuh itu minum-minum. Yakin nih, kita gak papa ke sana. Satu dua orang sih Abang bisa lawan, kalau banyak. Abang takut keselamatan kamu terancam dek!" kata Panji.
Tapi menurut penglihatan Pelita pada kaca spion Panji tadi. Semua anak geng motor yang telah berbuat jahat pada Tia dan Boy sudah tidak ada di sana. Mereka sudah melarikan diri dan di sana kini hanya ada Boy yang tak sadarkan diri dan Tia yang sudah tak bernyawa.
"Tapi kata teman aku, setelah menghajar seseorang mereka langsung pergi bang. Kita lihat dulu, aku benar-benar takut terjadi sesuatu pada Tia. Ayo bang!" ajak Pelita pada Panji.
Karena merasa Pelita sangat yakin, maka Panji pun mengangguk setuju dan melajukan kembali motornya. Di ikuti ibunya Tia di belakangnya.
Begitu tiba di tempat kejadian. Panji langsung menghentikan motornya dan langsung mengajak Pelita untuk turun.
"Astaghfirullah!" ujar Panji.
Ibunya Tia yang sudah bisa melihat putrinya terkulai tak berdaya di atas sebuah papan palet langsung berteriak histeris dan langsung berlari menghampiri mayat Tia.
__ADS_1
"Tia...!" teriak ibunya Tia.
"Tia, apa yang terjadi nak. Tia...!"
Ibunya Tia menangis histeris memeluk putrinya, ibunya bahkan melepas switer yang dia pakai untuk menutupi tubuh anaknya yang pakaiannya sudah robek di sana sini.
Pelita juga terduduk lemas, dengan bertumpu pada dua lututnya dia bahkan sudah menangis melihat apa yang telah terjadi pada Tia. Sementara Panji berusaha menghubungi pihak kepolisian dan juga ambulance.
Ibunya Tia terus memeluk Tia sampai para petugas polisi dan media datang. Bahkan saat para petugas ingin memeriksa Tia. Ibunya Tia berteriak histeris lagi.
Panji dan Pelita di ajak ke kantor polisi untuk di jadikan saksi. Panji melihat adiknya sedang shock maka dia pun mengarang bagaimana dia tahu kalau Tia berada di sana.
"Saya lagi di kamar mandi pak pas mau pulang sekolah. Saya dengar ada yang mengobrol di luar kamar mandi pria itu. Mereka bilang saat pergi memfoto copy, mereka melihat anak-anak motor yang tadi pagi balapan di depan sekolah lagi mabuk dan menghajar orang. Di tempat parkir, saya menceritakan hal itu pada adik saya. Dia ingat kalau Tia ikut dan membonceng salah satu dari mereka. Adik saya khawatir Tia kenapa-napa. Jadi kami ke sana!"
Terang Panji menggantikan Pelita yang masih shock dan tidak dapat berkata apa-apa. Pelita benar-benar tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Pelita tak bisa membayangkan rasa sakit yang sudah Tia alami sampai matanya mendelik seperti itu ketika dia kehilangan nyawanya.
"Baiklah, keterangan adik kami catat. Kalau kami memerlukan keterangan adik berdua. Kalian bersedia kan datang lagi dan membantu kami?" tanya salah satu petugas.
"Kelihatannya adik kamu shock. Kami punya dokter...!"
"Tidak usah pak polisi terimakasih. Adik saya memang shock melihat kondisi korban tadi. Tapi tidak apa-apa. Saya dan kedua orang tua saya yang akan mengurusnya!"
"Baiklah. Hati-hati di jalan ya!" kata pak polisi itu dan di balas anggukan kepala oleh Panji.
Panji dan Pelita akhirnya pulang ke rumah. Mereka tidak ikut ke rumah Tia. Karena Tia akan di bawa ke rumah sakit dulu untuk di autopsi. Sedangkan Boy, lukanya juga sangat parah. Entah dia bisa selamat atau tidak.
"Assalamualaikum!" seru Panji ketika dia dan Pelita masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, kenapa baru pulang nak. Loh ini Pelita kenapa Panji?" tanya Anisa yang terkejut mendapati Pelita terlihat sangat sedih dengan mata yang berkaca-kaca.
Anisa lantas memeluk Pelita dan mengajaknya untuk duduk di sofa setelah Anisa meminta salah satu asisten rumah tangganya mengambilkan air minum untuk Pelita.
Panji pun menceritakan semuanya pada Anisa.
"Astaghfirullah, kasihan sekali ibunya Tia. Dia pasti sangat terpukul!"
Anisa langsung mengusap lembut punggung Pelita yang menangis sedih di pelukan Anisa.
"Sudah sayang, ini semua sudah takdirnya Tia. Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Ibunya sudah memperingatkan dia, tapi dia tidak mau mendengarkan. Jadi semua ini sudah takdir yang di pilih oleh Tia. Kamu sebaiknya berwudhu. Agar kamu bisa sedikit melupakan kesan buruk ketika melihat mayat Tia tadi ya!"
Pelita mengangguk paham atas apa yang di katakan Anisa.
Malam harinya, setelah makan malam. Anisa masih menemani Pelita di kamarnya sampai putrinya itu tertidur. Setelah keluar dari kamar, Anisa kembali mengobrol dengan Tommy dan Panji yang masih ada di ruang tengah.
"Jadi begitu pa, rasanya ada yang aneh dengan Pelita belakangan ini. Pertama tentang mimpinya, dia bermimpi tentang ibunya Arman yang meninggal gantung diri. Dan keesokan harinya, itu benar terjadi. Lalu tadi, dia bengong beberapa saat melihat ke arah kaca spion motor ku. Aku panggil-panggil beberapa kali dia tidak merespon. Begitu dia sadar dia langsung menarik tangan ku dan mengajak ku ke kantin, lalu apa yang dia katakan di kantin itu membuatku terkejut. Setahu ku dia tidak kemana-mana. Dan temannya tidak ada yang bernama Carolina!"
Jelas Panji panjang lebar yang sudah merasa ada yang aneh dengan adiknya akhir-akhir ini.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Anisa yang terlihat cemas.
"Besok coba papa telepon mas Usman. Dia kan guru ngaji, coba besok papa konsultasi sama dia tentang Pelita!" jawab Tommy sambil menghela nafas panjang.
Sementara itu di rumah duka ibunya Tia. Ketika pembacaan doa sedang di lantunkan oleh para pen-takziah. Sesosok wanita dengan pakaian robek menangis di depan pintu rumah itu. Tanpa menapak, bahkan bisa di tembus orang yang keluar masuk rumah itu.
"Ibu, aku menyesal tidak mendengarkan nasehat ibu, hiks.. hiks...!" sosok yang mirip dengan Tia itu mengais pilu tanpa ada yang bisa mendengarnya.
__ADS_1
***
Bersambung...