Pelita

Pelita
Bab 21


__ADS_3

Setelah mengantarkan Dian ke kelasnya. Pelita kembali berjalan ke koridor menuju kelasnya. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Galuh. Kakak kelasnya yang juga adalah kakak tiri dari Dian.


Sepertinya Galuh sengaja menunggu Pelita di koridor menuju kelas Pelita. Caranya menghentikan Pelita juga membuat Pelita yakin kalau maksud dari Galuh menghentikan dirinya bukan maksud yang baik.


"Hei, jadi orang itu gak usah ikut campur urusan orang lain bisa kan?" tanya Galuh membuat Pelita menatap Galuh dengan tatapan malas.


"Dan awas ya, sampai kamu ngadu ke Panji. Atau sama orang lain. Aku bakalan bikin hidup Dian lebih menderita lagi! ingat itu!" seru Galuh yang langsung meninggalkan Pelita begitu saja.


Pelita merasa kalau Galuh ini orangnya sudah bukan di kategori jahat pemula. Karena caranya mengancam Pelita, namun tidak menggunakan Pelita sebagai orang yang di ancam. Malah menggunakan nama Dian, maka Pelita yakin kalau Galuh itu memang sudah terlatih untuk bersikap jahat. Dia tahu bagaimana cara efektif dan efisien dalam mengancam seseorang. Dan Pelita makin tahu lagi, kalau selama ini hidup Dian memang benar-benar menyedihkan dan penuh kesulitan.


Pelita menghela nafasnya panjang sebelum dia kembali melangkah ke dalam kelasnya.


Beberapa lama kemudian, bel pulang pun berbunyi. Panji sudah menunggu Pelita di parkiran motor para siswa. Pelita juga langsung menuju ke tempat parkir begitu dia sudah berpamitan pada Riri dan Surya yang juga terakhir keluar dari kelasnya.


Dari jauh, Pelita bisa melihat Galuh dan teman-temannya melihat ke arah Pelita dengan tatapan begitu mengintimidasi.


'Ya ampun, masalah lagi masalah lagi... siapa juga sih yang mau kasih tahu aib orang lain ke orang lain. Masalahku sama Mak Kondang aja gak kekar-kekar sampai sekarang, mana mungkin aku cari masalah lagi. Berasa seperti tersangka aja di awasi terus gini!' keluh Pelita dalam hatinya.


Begitu berada di dekat Panji, kakak Pelita itu langsung menghampiri Pelita dan langsung memakaikan adiknya itu helm.


Setelah itu mereka berdua pun naik ke atas motor lalu meninggalkan sekolah tersebut.


Dari jauh Galuh dan teman-temannya berbicara.


"Yakin, tuh adek tiri kamu gak ngomong yang aneh-aneh sama Pelita?" tanya salah satu teman Galuh.


"Ngomong juga aku gak perduli, memangnya bisa apa mereka!" sahut Galuh dengan sombongnya.


***


Setibanya di rumah, Panji dan Pelita melihat mobil ayahnya ada di rumah.


Sambil melepaskan helm, Pelita bertanya kepada Panji.


"Bang, papa gak kerja? bukannya pas kita sarapan pagi udah gak ada? kata mama papa sudah berangkat?" tanya Pelita penasaran.


"Iya papa gak kerja, maksud mama itu papa sudah berangkat, bukan berangkat ke kantor. Tapi ke rumahnya paman Usman!" jawab Panji sambil mengaitkan tali Helm ke samping jok motornya.


Pelita pun manggut-manggut seolah paham, tapi satu detik kemudian. Dia bertanya lagi.


"Memangnya papa ngapain ke rumah paman? ada acara di rumah paman? atau ada yang sakit?" tanya Pelita bertubi-tubi karena penasaran.

__ADS_1


Panji tidak langsung menjawab pertanyaan Pelita, tapi langsung merangkul adiknya itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Ayo masuk, nanti kamu juga tahu kenapa papa ke rumah paman Usman, bahkan mengajak paman Usman kemari!" kata Panji.


"Assalamualaikum!"


Sapa Panji, yang kemudian di ikuti Pelita. Ketika mereka masuk dan melihat ada apaan Usman, Tommy, dan Anisa di ruang tamu sedang duduk dan terlihat membicarakan hal yang serius.


"Waalaikumsalam!"


Sahut ketiganya yang menoleh bersamaan juga ke arah Panji dan Pelita.


"Sudah pulang nak?" tanya Anisa.


"Iya ma!"


Sahut Panji dan Pelita lalu menghampiri paman Usman, Tommy dan Anisa untuk menyalami mereka satu persatu.


"Panji, Pelita.. kalian ganti baju dan makan siang dulu ya. Setelah itu kalian ke sini ya!" kata Anisa yang di angguki oleh Pelita dan Panji bersamaan.


Beberapa saat kemudian, setelah Panji dan Pelita selesai makan siang. Mereka segera menghampiri kedua orang tua mereka dan paman Usman.


"Mas, di kamar mandi ruang tamu juga ada keran...!"


Maksud dari Tommy mengatakan itu adalah agar kakaknya mengetahui kalau di kamar mandi dekat ruang tamu juga ada keran yang bisa di pakai untuk berwudhu. Namun belum juga Tommy selesai dengan apa yang mau dia katakan. Usman lebih dulu menyela.


"Berwudhu tidak boleh di lakukan di ruangan yang sama dengan toilet. Di kamar mandi boleh, tapi di kamar mandi yang tidak ada toiletnya! itu mutlak!" kata Usman yang langsung membuat Tommy terdiam.


Tommy merasa tidak enak, karena dia sudah sok tahu, padahal dia tidak tahu apapun. Dan kata-kata mutlak dari Usman membuat Anisa dan Tommy menjadi malu. Sampai setua ini mereka baru tahu hal tersebut.


Setelah berwudhu, Usman pun meminta agar Pelita duduk di depan Usman.


Pelita yang mendengar perintah dari pamannya itu langsung menoleh ke arah mamanya. Setelah mamanya mengangguk, Pelita baru pindah ke kursi yang ada di depan sang paman.


Setelah itu Usman juga meminta Panji berdiri di belakang Pelita. Meski belum paham apa maksud pamannya, tapi Panji percaya pada pamannya itu dan langsung mengikuti perintah sang paman.


"Assalamualaikum Pelita!"


Kata paman Usman, membuat Pelita refleks menjawab.


"Waalaikumsalam!"

__ADS_1


Tapi setelah menjawab, Pelita langsung tidak sadarkan diri. Untung sebelumnya Usman sudah meminta Panji berdiri di belakang Pelita.


Panji langsung menangkap Pelita.


"Paman...!" kata Panji yang khawatir.


Tapi paman Usman juga tidak merespon. Dia memang duduk tegap dengan mata terbuka. Tapi pandangan mata pamannya itu lurus ke arah lantai.


"Pa, ma...!"


Panji memanggil papa dan mamanya.


"Tidak apa-apa Panji, kamu bisa kan menahan tubuh adikmu. Mau papa bantu?" tanya Tommy.


"Kalau tidak masalah, tidak apa-apa. Aku akan menahan Pelita di sini!" kata Panji.


Dia tadi memanggil paman, papa dan mamanya hanya cemas karena Pelita pingsan. Begitu dia tahu adiknya tidak apa-apa. Panji pun merasa tenang.


Cukup lama paman Usman seperti patung di sana. Sampai beberapa saat kemudian.


"Astagfirullah!"


Tommy, Anisa dan Panji langsung melihat ke arah Usman yang mengucapkan istighfar.


"Ada apa mas?" tanya Tommy panik.


"Mata batin Pelita telah di buka!"


Sontak saja jawaban Usman membuat Tommy, Anisa dan Panji terkejut disertai cemas.


"Di buka?" tanya Anisa yang terlihat sangat khawatir pada keadaan putri bungsu nya itu.


Usman lalu mengangguk.


"Tapi ada yang aneh, di buka tapi tidak seluruhnya. Sepertinya sengaja di lakukan untuk sebuah tujuan tertentu!"


Jawaban Usman semakin membuat Tommy, Anisa dan Panji khawatir. Siapa yang sudah membuka mata batin Pelita, dan untuk apa.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2