
Carolina dan Jem masih berusaha mengalahkan Serena yang kekuatannya memang lebih tinggi dan lebih besar dari mereka berdua.
Serena, hantu dengan pakaian minim dengan dua tanduk berwarna hijau tua di kepalanya itu tertawa puas melihat Jem dan Carolina jatuh tersungkur menabrak tembok.
Serena bahkan sengaja membuat tembok di belakang Jem dan Carolina tak dapat mereka tembus. Itu di sengaja untuk menyakiti keduanya.
Serena punah kekuatan lebih dari Jem dan Carolina, Serena bahkan bisa menggerakkan suatu barang di hadapan manusia. Itu dia dapat dari kuntilanak albino yang bernama Umbok. Kuntilanak albino blasteran pribumi dan Eropa, masih keturunan jenderal Daendels. Hanya saja karena sifatnya yang serakah dan selalu ingin menghasut, Kuntilanak albino itu di coret dari nama keluarganya. Akhirnya seorang pribumi yang menemukan jasadnya menulis nama Umbok di batu nisannya.
"Ha ha ha, sudahlah. Kalian itu memang cocok jadi pesuruh. Percuma kalian melawan ku. Mau sampai kapan kalian sok baik, sudahlah. Sampai kapanpun kita ini tidak akan bisa memusnahkan Mak Kondang. Jika batas waktu perjanjian itu berakhir, kalian juga tetap akan kehilangan jiwa putih kalian. Buang-buang waktu saja mencari gadis terakhir itu!" ucap Serena panjang lebar.
Namun Carolina dan Jem kembali melayang dan menghampiri Serena yang sedang melayang dengan posisi tiduran miring. Posenya itu membuat para hantu penghuni rumah susun itu melirik dan melihat dengan tatapan penuh n4fsu pada Serena.
"Heh, hantu centil. Kamu tuh yang sekarang seharusnya khawatir. Emang jadi budak Mak Kondang enak apa? kamu di suruh ini, di suruh itu. Godain ini, godain itu. Kita ini kaum bangsawan, masak kamu mau sih di suruh-suruh macam pembantu gitu?" tanya Carolina yang sebenarnya masih kerabat jauh dari Serena.
"Bangsawan itu saat kita masih jadi manusia Carolina, jangan halu kamu. Itu sudah Beratus tahun lalu. Sekarang kita cuma mahkluk yang tak terlihat, tak di pedulikan. Hanya beberapa orang saja yang bisa melihat kita, dan mereka langsung lari ketakutan. Sudahlah... jangan banyak bicara. Sekarang mau menyerah atau tidak?" tanya Serena.
"Tidak! selamanya pun tidak. Jika pada waktunya nanti kami harus kehilangan jiwa putih kami. Setidaknya kamu sudah berjuang mempertahankannya sampai detik terakhir. Tidak seperti mu yang bahkan menggadaikannya demi sebuah kekuatan yang bahkan tidak berguna!" sahut Jem.
Sontak saja apa yang dikatakan Jem, membuat Serena matanya langsung mengeluarkan api berwarna hijau.
"Hah, apa katamu. Tidak berguna, lihat apa gunanya kekuatan ku!" kata Serena marah.
Serena langsung merubah posisi melayangnya, dan kini dia melayang dengan. posisi berdiri.
"Kalian yang meminta ini ya!"
Pekik Serena dan langsung mengarahkan tangannya lurus ke depan. Dia telapak tangannya yang terbuka mengeluarkan asap pekat berwarna hijau. Asap itu mengincar Jem dan Carolina.
Jem dan Carolina langsung saling pandang dan mengangguk. Yang bisa mereka lakukan hanya menghindari asap hijau pekat itu. Karena jika mereka terkena asap hijau pekat yang keluar dari kedua telapak tangan Carolina itu. Mereka akan sangat merasakan sakit, seperti tulang mereka di tarik dan sangat panas seperti di siram minyak panas. Sangat menyakitkan.
Jem dan Carolina pun segera terbang, mereka berpisah dan saling terbang menjauh agar konsentrasi Serena terpecah.
Namun secepat apapun mereka terbang, asap hijau pekat itu bahkan seperti sebuah rudal yang jika sudah di tentukan targetnya. Maka kemana pun targetnya menghindar asap hijau tua pekat itu tetap akan bisa mengejar dan menemukannya.
__ADS_1
Jem dan Carolina mulai kehabisan tenaga mereka. Mereka benar-benar dalam kesulitan saat ini.
"Carolina, terbang kemari. Aku akan menahan serangan Serena untukmu!" teriak Jem.
"Heh, Jem. Kamu akan terbakar nanti. Butuh waktu sangat lama untuk pulih. Sudah kita terbang saja menjauh, kalau memang mau kena ya sudah nasib!" kata Carolina yang tak mau Jem terluka.
Tapi dia juga pasrah kalau memang akan terluka karena kekuatan Serena itu.
"Ha ha ha, masih juga drama kalian. Rasakan ini!" pekik Serena lagi sambil menambah kekuatan pada asap hijau tua pekat yang mengejar Jem dan Carolina.
"Kalian berkumpul!"
Suara itu terdengar sangat familiar.
"Shaka!"
Seru Jem dan Carolina bersamaan. Mendengar instruksi dari Shaka tersebut, Jem dan Carolina langsung saling terbang mendekat. Mereka melihat sekelebat bayangan hitam dan putih yang mereka yakini adalah Shaka.
"Shaka, darimana saja kamu?" tanya Carolina.
Shaka lantas mengeluarkan cermin pusaka itu, begitu asap hijau tua pekat itu datang menghampiri mereka. Shaka mengarahkan cermin itu ke arah dua mata asap hijau tua pekat tersebut.
Wush wush
Kedua asap itu langsung terhis4p ke arah cermin. Bahkan cermin tersebut terus menghisap asap itu sampai Serena mengalami kesulitan mempertahankan posisi berdirinya.
Serena bahkan merasa ikut tertarik dengan sangat kuat oleh cermin tersebut.
Serena melafalkan mantra untuk memperkuat serangannya. Namun tak bisa, Serena bahkan sudah benar-benar tertarik dan terbang menuju cermin itu.
Sampai dia berteriak memanggil Umbok, dengan kekuatan batinnya.
Swush
__ADS_1
Serena pun di tarik oleh kuntilanak putih Umbok itu.
Sebelum terbang menjauh, Umbok sempat melihat ke arah cermin yang di pegang oleh Shaka.
"Cermin itu, bagaimana bisa cermin itu di temukan sebelum gadis terakhir di temukan?" gumam Umbok bertanya-tanya.
Umbok berpikir seperti itu karena memang dia juga belum bisa merasakan kehadiran gadis terakhir yang terpilih, yang konon di ramalkan bisa memusnahkan Mak Kondang junjungan Umbok juga.
"Gadis apa?" tanya Serena yang tengah sekarat.
"Heh, dasar tak berguna. Sudah di ajari ilmu seperti itu tak bisa juga mengalahkan ketiga makhluk sok suci itu!" Umbok malah mengomel pada Serena.
Membuat Serena hanya bisa diam. Tapi dia juga penasaran, benda apa yang di pegang Shaka itu sampai dirinya bisa terluka sepatu itu.
Sementara Carolina dan Jem terlihat melonjak-lonjak senang.
"Wah, Shaka itu cermin yang waktu itu kan. Yey... apa Pelita juga sudah dapatkan kekuatan menghentikan waktu itu?" tanya Carolina sangat excited.
"Iya, tapi entah dia bisa menyadarinya atau tidak!" jawab Shaka.
"Kenapa tidak di beritahu saja?" tanya Carolina lagi.
Plukk
Sebuah pukulan mendarat di kepala Carolina. Dan pelakunya adalah Jem.
"Kamu lupa, gadis sebelumnya kita beritahu dan dia malah menggunakannya untuk hal yang tidak terlalu penting. Saat di perlukan dia malah tak bisa menggunakannya. Biar Pelita menggunakan itu, untuk saat paling genting!" kata Jem panjang lebar.
Dan mereka semua mengangguk setuju.
***
Bersambung...
__ADS_1