Pelita

Pelita
Bab 27


__ADS_3

Pak tua itu lantas pergi, karena lututnya sudah mulai sakit terlalu lama berdiri menjawab pertanyaan Devano. Yah, sejak tadi memang hanya Devano saja yang terus bertanya kepada pak tua tersebut. Sementara Pelita dan Panji memilih diam dan menyimak saja.


Setelah pak tua itu pergi, Devano pun menghadap ke arah Pelita. Dan tentu saja hal itu membuat Pelita sedikit terkejut karena tiba-tiba saja teman dari abangnya itu berdiri di depannya begitu saja.


"Jadi maksudnya, yang harus kita selamatkan itu adalah anak dari tuan Bowo kan?" tanya Devano pada Pelita.


Panji yang melihat adiknya seperti tidak nyaman langsung berdiri tepat di hadapan Devano untuk melindungi Pelita.


"Hei, bicaranya jangan seperti orang mengintrogasi seperti itu!" ucap Panji protes pada apa yang baru saja Devano lakukan.


Mendengar ucapan Panji yang seperti bentuk protes itu Devano lantas langsung tersenyum dan menepuk bahu Panji beberapa kali dengan pelan.


"Hei bro, aku hanya bercanda! jadi kita masuk sekarang?" tanya Devano lagi yang benar-benar sangat memperlihatkan kalau dirinya begitu bersemangat untuk masuk ke dalam rumah Tuan Bowo tersebut.


Mereka bertiga lantas melangkahkan kaki mereka perlahan mendekati pintu gerbang rumah Tuan Bowo yang begitu besar dan tinggi. Saat mereka akan masuk mereka di hadang oleh beberapa orang penjaga.


"Kalian siapa? dan apa keperluan kalian ingin masuk rumah tuan Bowo?" tanya salah seorang penjaga itu yang badannya lebih besar daripada para penjaga yang lain.


Lagi-lagi Devano yang maju ke depan dan menjawab pertanyaan penjaga tersebut.


"Kami dari kota, kami mendengar kalau putra dari tuan Bowo sedang sakit. Kami turut prihatin dan kami ingin mencoba menyembuhkan putra tuan Bowo tersebut!"


Sontak saja apa yang barusan Devano katakan itu membuat Pelita dan Panji lantas saling pandang dengan wajah yang terkejut.


'Apa-apaan sih dia, main asal bicara mau sembuhkan. Memangnya bisa?' tanya Pelita dalam hati.


Menurut Pelita, Devano itu memang terlalu berani dan terlebih lagi dia terlalu percaya diri. Pelita saja yang mendengar bahwa putra dari Tuan Bowo itu sakit selama 98 hari tidak bisa bangun. Merasa ngeri mendengar hal tersebut, dan Devano malah tiba-tiba bilang ingin menyembuhkannya. Pelita sampai geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Sama dengan Pelita, Panji bahkan menarik lengan Devano ke belakang hingga Devano berdiri sejajar dengan dirinya lalu berbisik ke telinga sahabatnya tersebut.


"Jangan bercanda, anak tuan Bowo itu sakit apa saja kita tidak tahu, mau menyembuhkannya, apa kamu tidak waras?" tanya Panji.


Masalahnya mereka bertiga hanya anak muda biasa. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Panji. Dan mereka kesini untuk menyelamatkan seseorang, menurut Panji bahkan mungkin bukan putra tuan Bowo itu orangnya. Masalahnya dia sakit 98 hari tidak bangun, mana bisa juga adiknya yang bukan dokter dan tidak tahu apapun tentang ilmu kesehatan bisa menyembuhkan orang seperti itu. Jadi menurut Panji, apa yang dikatakan Devano tidak masuk akal.


Belum lagi, Panji memikirkan konsekuensinya jika mereka tidak bisa menyembuhkan penyakit anak tuan Bowo tersebut. Karena sepertinya tuan Bowo itu bukan orang sembarangan. Mereka bisa-bisa tidak bisa kembali lagi ke kota.


"Aku waras, bukankah adikmu ingin menolong seseorang. Aku yakin, anak tuan Bowo itu yang dia maksud!" jelas Devano.


"Kalian jangan main-main ya! sudah ada 15 orang yang babak belur keluar dari rumah ini karena hanya main-main saja, bilangnya ingin mengobati anak Tuan Bowo tapi malah memperburuk keadaan. Kalian mau jadi orang-orang yang ke 16?" tanya penjaga itu yang kelihatannya dari wajahnya kalau pengawal itu sangat lelah sepertinya.


"Kami yakin!" kata Devano membuat Panji hanya bisa menghela nafas saja.


"Baiklah, kalian masuk dan ambil nomer antrian untuk mengobati!" kata pengawal itu.


Terdengar seperti seseorang yang sudah putus asa ya karena mempersilakan siapa saja, tapi memang seperti itulah kondisi Tuan Bowo sekarang dia memang sangat putus asa. Hingga dia pun sampai mengumumkan akan memberi apapun kepada orang yang bisa menyembuhkan anaknya.


Saat Pelita, Panji, dan Devano mengambil nomer antrian. Ternyata nomor mereka sangat jauh. Mereka harus menunggu sekitar 36 orang lagi.


Karena hari sudah menjelang siang, mereka pun mulai merasa haus dan lapar. Tapi untungnya, tak lama setelah mereka merasa lapar. Ada seorang penjaga yang mengarahkan mereka ke ruang tunggu dan mengatakan kalau mereka bisa makan siang di sana.


Pelita, Panji dan Devano pun masuk ke ruangan itu. Dimana banyak orang yang katanya akan mengobati anak tuan Bowo juga sedang menunggu.


Namun begitu akan masuk, Pelita mendadak menghentikan langkahnya dia menggenggam erat lengan Panji yang berada di depannya.


Apa yang Pelita lihat benar-benar mengerikan. Salah seorang wanita yang berdiri di depan meja prasmanan, awalnya Pelita melihat wanita itu sangat cantik dengan kebaya yang dia pakai. Namun setelah Pelita berkedip dan kembali melihat ke arah wanita tersebut, wanita itu berubah menjadi makhluk yang sangat menakutkan.

__ADS_1


Rambutnya yang tadinya tersanggul rapi, di pandangan Pelita saat ini rambut wanita itu benar-benar sangat berantakan. Warnanya yang tadinya hitam menjadi putih kemerahan, bahkan seperti sebuah sangkar, di mana di sana terdapat beberapa ular yang berwarna coklat kehitaman. Bahkan melata dan keluar dari rambut itu menjulur-julur seperti akan terjatuh dari rambut wanita itu.


Sekujur tubuh Pelita benar-benar merinding, apalagi setelah melihat dari wadah makanan yang ada di depan wanita itu, yang awalnya terlihat seperti rendang daging. Malah berubah menjadi seperti belatun9 yang berukuran besar, di selimuti bumbu rendang. Bahkan belatun9 itu masih bergerak-gerak.


Pelita sampai mual, dan menutup mulutnya ketika melihat wanita itu menyendokkan rendang belatun9 itu ke piring salah satu orang yang ada di depannya.


"Bang, kak Devano!" panggil Pelita menghentikan abangnya dan juga teman abangnya tersebut agar tidak maju lagi.


"Ada apa?" tanya Panji.


"Keluar dulu!" bisik Pelita.


Karena ajakan dari Pelita, Devano dan Panji lantas keluar dari ruangan itu ke ruangan sebelumnya. Orang yang ada di belakang mereka akhirnya maju.


Setelah tidak ada orang di ruangan tersebut Pelita baru bicara kepada Panji dan juga Devano.


"Bang, kak. Kita jangan makan makanan di sini ya. Tadi kan aku beli roti di minimarket. Kita makan itu saja!" ucap Pelita yang merasa jijik dengan apa yang dia lihat tadi.


"Ada apa, mereka semua makan dan tidak apa-apa kelihatan nya?" tanya Devano yang sepertinya berpura-pura bertanya saja.


"Pokoknya jangan makan ya!" kata Pelita yang tak bisa menjelaskan apa yang dia lihat kepada kedua orang pemuda yang ada di depannya itu.


Karena Pelita takut kalau mereka tidak percaya pada apa yang Pelita ceritakan pada mereka. Lagipula Carolina juga berpesan agar jangan sampai Devano tahu kalau mata batinnya telah terbuka.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2