Pelita

Pelita
Bab 48


__ADS_3

"Assalamualaikum!" sapa Panji, Devano dan Pelita.


"Waalaikumsalam!" jawab semua orang yang ada di dalam rumah.


Pelita tertegun melihat seorang pria berjubah putih, berambut putih dengan sorban warna senada. Janggutnya putih panjang dengan aura yang begitu mulia. Membuat Pelita yang melihat auranya saja sangat tenang dan tenteram dalam hatinya.


"Pelita, Panji, Devano kalian sudah pulang. Duduklah!" kata Tommy.


Ketiganya lantas duduk, setelah itu paman Usman memperkenalkan Pelita pada gurunya.


"Pelita, beri salam pada kiyai Mansyur!" kata Usman.


Pelita pun langsung melihat kedua telapak tangannya dan memberi salam pada guru pamannya tersebut.


Setelah menceritakan siapa kiyai Mansyur pada keluarga itu dan pada Pelita. Kiyai Mansyur langsung mengangkat tangannya, telapak tangan terbuka ke arah atas dan terlihat kiyai Mansyur membacakan sebuah doa.


Semua tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka, ketika dari tangan kiyai Mansyur muncul sebuah cambuk berwarna hitam pekat yang mengeluarkan cahaya. Hanya Pelita saja yang mampu melihat cahaya keemasan tersebut. Yang lain hanya terkejut karena bagaimana bisa telapak tangan yang tadinya kosong, tidak ada apapun, tidak menggenggam apapun. Bisa keluar sebuah benda yang bahkan besarnya melebihi telapak tangan tersebut berkali-kali lipat.


"Pelita, ini adalah cambuk sakti pengikat Sukma. Kamu sudah memiliki cermin kejujuran bukan?" tanya kiyai Mansyur.


Pelita lantas mengangguk cepat. Kedua orang tua Pelita yang tidak mengerti apapun hanya terlihat khawatir karena sepertinya putri mereka akan mengalami hal yang begitu besar dan berbahaya.


Devano yang melihat Pelita mengangguk merasa sedih.


'Kayanya cermin nya tidak ada padanya!' batin Devano sedih dan kecewa.


Meskipun ucapan Devano itu hanya di batin. Tapi kiyai Mansyur langsung menoleh ke arah Devano.


"Nak, cermin itu memang tidak ada pada Pelita. Dia memang mendapatkan nya, tapi cermin itu ada di tangan yang tepat, di tangan yang seharusnya!" kata kiyai Mansyur membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


Pandangan semua orang lantas menuju kepada Devano.


Dan di tatap mereka semua dengan tatapan seperti itu, Devano langsung menunduk dan diam.


"Artinya tinggal satu pusaka lagi, maka kita siap berperang dengan Mak Kondang!" kata kiyai Mansyur yang langsung membuat wajah Anisa dan Tommy cemas.


"Berperang apa pak kiyai? maksudnya bagaimana?" tanya Anisa yang matanya sudah berkaca-kaca. Wanita itu bahkan sudah berpindah tempat duduk ke dekat Pelita dan memeluk anak bungsunya itu dengan erat.


Kiyai Mansyur tersenyum, dia tahu seperti apa kecemasan hari orang tua yang tahu anaknya akan menemui hal besar yang bahkan mungkin bisa membahayakan nyawanya. Namun dengan sabar, kiyai Mansyur menjelaskannya pada Anisa dan Tommy. Jika Mak Kondang tidak di hentikan, akan banyak orang yang melakukan segala macam kejahatan.


Akan banyak orang yang terhasut pada bisikan Mak Kondang hingga membuat saudara dan saudara saling menghabisi. Membuat orang menjadi malas jingga mengandalkan pesugihan untuk memperoleh kekayaan.


Dan menjadikan tumbal-tumbal pesugihan tersebut menjadi budak kerajaan hitam Mak Kondang. Membuat seorang ayah terhasut hingga menyentuh anak kandungnya sendiri, membuat seorang anak durhaka hingga membunuh ibu kandungnya sendiri.


Menyematkan dalam hati manusia rasa putus asa dan kerapuhan hati. Hingga menghadapi masalah kecil saja lantas memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Menghasut para pemimpin untuk tidak berlaku adil pada rakyatnya, menghasut para pejabat mengambil apa yang bukan merupakan haknya.


Akan semakin banyak manusia yang kelaparan agar setiap keluh kesah dan tangis mereka menjadi bahan bakar di istana kegelapan Mak Kondang.


"Kalian akan bangga pada putri kalian nanti. Dan kamu Devano, kalau kita berhasil memusnahkan Mak Kondang. Adikmu Devi juga akan selamat, makhluk yang bernama Umbok itu adalah pengikut setia Mak Kondang!" jelas kiyai Mansyur.


Devano terkejut pria berjanggut panjang itu tahu apa masalahnya. Tapi dia bersyukur kalau bisa menyelamatkan adiknya, dia kan berjuang membantu Pelita.


"Sekarang kita hanya perlu mencari pemantik api dengan gambar dua wayang dengan ukiran batu merah delima" kata kiyai Mansyur.


Devano yang mendengar itu pun merasa tidak asing dengan benda tersebut.


"Pemantik api dengan ukiran dua wayang dari baru merah delima?" tanya Devano lagi.


Semua lantas melihat ke arah Devano.

__ADS_1


"Benda itu, ayahku menyimpannya...!"


Mendengar apa yang dikatakan Devano, semua orang tampak senang. Mereka lantas pergi bersama Devano ke rumah Devano.


Kiyai Mansyur yang melihat pelindung transparan di rumah Devano lantas menghentikan langkahnya.


"Kodam milik ayahmu itu memang melindungi kalian, tapi apa yang kalian lakukan ini syirik. Tidak akan ada malaikat yang masuk ke rumah kalian kalau seperti ini. Bukankah setiap malam Jumat Kliwon, Kodam itu harus di mandikan dengan darah ayam?" tanya kiyai Mansyur.


Devano tercengang, kiyai Mansyur benar-benar tahu segalanya. Devano masuk memanggil ayah dan ibunya. Mereka kemudian bercerita bagaimana Devi bisa jadi tawanan makhluk bernama Umbok itu. Rupanya karena Devi tidak sengaja menyiram api dupa yang di tujukan untuk memuja Umbok. Untuk ayah Devano yang memang bekerja sebagai stuntman agar tidak cidera dan terluka.


Devi tidak tahu kalau ayahnya sedang mengerjakan ritual, alhasil Devi pun di tawan, dan Umbok mengatakan ayah Devano harus menemukan cermin kejujuran untuk menyelamatkan Devi.


"Jangan terperdaya, kita manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Untuk apa kita meminta dan memuja makhluk yang bahkan juga di ciptakan oleh Allah SWT!" kata kiyai Mansyur membuat ayah dan ibu Devano terdiam.


"Mintalah hanya pada Allah SWT!" tambah kiyai Mansyur.


Setelah menasehati ayah dan ibu Devano, kiyai Mansyur pun kembali pada tujuannya. Dan benar saja, ayah Devano memang memiliki pemantik api itu.


Seiring berkumpulnya dua pusaka, angin kencang pun langsung membuat semua orang terkejut.


Shaka, Jem dan Carolina hadir di tempat itu. Tiga benda pusaka pun melayang di depan masing-masing dari ketiganya. Pelita yang takjub melihat wujud ketiganya berubah rasanya ingin menangis.


Sosok ketiganya sekarang benar-benar berubah menjadi bak malaikat. Putih bercahaya. Sosok hitam Jem tak nampak lagi, sosok belang Shaka berubah menjadi putih semua. Dan Carolina, menjadi seorang wanita muslimah yang memakai cadar juga terlihat ada dua kaki di sana.


Namun hanya Pelita, Usman, dan kiyai Mansyur saja yang dapat melihat mereka. Yang lain hanya mampu melihat angin kencang yang berputar-putar seperti beliung.


Tanpa banyak menunggu, ketiganya langsung menarik Pelita, Devano, ustadz Usman dan kiyai Mansyur pergi dari tempat itu.


Tommy, Panji dan Anisa hanya bisa terus berdoa, agar Pelita berhasil. Begitu pula dengan kedua orang tua Devano. Mereka hanya bisa berharap Devano membawa kembali Devi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2