
Tommy begitu terkejut dengan apa yang telah terjadi pada anaknya. Mata batin Pelita di buka untuk tujuan tertentu. Tapi siapa yang membukanya? dan untuk tujuan apa? Tommy merasa sebelum-sebelumnya tidak ada yang aneh tentang Pelita. Sama sekali tidak ada.
"Mas, apa ini berbahaya bagi Pelita?" tanya Tommy yang was-was pada nasib putrinya selanjutnya. Seandainya terbuka mata batin Pelita ini bisa membahayakan nyawanya.
Usman tampak terdiam sebentar.
"Aku tidak bisa melihat semuanya. Tapi sejak pertama kali mata batinnya terbuka hingga saat ini. Pelita memang seperti di lindungi. Mungkin kita hanya bisa bertanya pada Pelita. Sepertinya hanya dia sendiri yang bisa menjelaskan siapa mereka!" kata Usman menambah teka-teki bagi ketiga orang yang sedang memperhatikan dirinya di ruangan ini.
"Mereka?" tanya Panji.
"Iya, bukan satu...!"
Usman kembali terdiam, dia melihat ke arah bawah seolah sedang mencari tahu berapa sosok sebenarnya yang sedang melindungi Pelita.
"Dua... !"
Usman sampai memejamkan matanya dan dari kerutan di kening dan pelipisnya. Baik, Tommy, Anisa dan Panji tahu kalau Usman sedang berpikir keras.
"Dia bahkan sedang mengawasi kita!" ucap Usman yang langsung melihat ke arah depan.
Shaka sedang melayang tepat di belakang Panji.
Panji yang melihat arah pandangan pamannya itu jadi merinding ketakutan. Di tambah tengkuknya benar-benar terasa ada sesuatu yang membuat buku kuduknya berdiri semua.
Panji menoleh ke arah belakang, merasa ada sesuatu di belakang nya. Namun dia begitu terkejut ketika dia menoleh, tapi malah tidak ada apapun di belakangnya.
"Paman!" panggil Panji pada Usman karena jujur saja saat ini Panji benar-benar sangat takut.
"Tidak apa-apa Panji, dia hanya melihat apa yang sedang kita lakukan pada Pelita. Ini adalah bukti kalau dia melindungi Pelita, betul begitu kan?" tanya Usman pada Shaka.
__ADS_1
Namun mendengar pertanyaan Usman, Shaka masih terdiam. Dengan wajah begitu dingin dan tatapan yang sama sekali tidak bisa di artikan. Begitu tajam, tidak perduli bahkan seperti mengatakan jangan lihat aku dan jaman bicara padaku.
Usman yang tak mendapatkan jawaban apapun dari Shaka, malah terkejut ketika Shaka mengangkat satu tangannya lurus ke depan.
"Berhenti mencari tahu, kamu akan terluka!"
Dan setelah mengatakan hal itu seperti sebuah angin, Shaka pun lenyap dan tak terlihat lagi.
Usman hanya menghela nafasnya. Sebenarnya dia tidak takut pada apa yang dikatakan Shaka. Hanya saja, Usman merasakan kalau aura penindasan yang di berikan Shaka padanya bahkan membuat kaki Usman dan tangannya tak bisa bergerak untuk beberapa detik.
Yang artinya, kekuatan yang dimiliki oleh Usman masih kalah di bandingkan Shaka. Usman berpikir itu hanya satu, bagaimana jika ketiganya muncul bersama. Tapi karena memang Usman tahu ketiganya tidak ada niat jahat pada Pelita. Usman hanya bisa diam dan menuruti apa yang dikatakan Shaka tadi.
Meskipun sebenarnya Usman juga tidak menyerah. Dari sini dia akan menemui gurunya untuk meminta petunjuk, tentang apa yang harus dia lakukan untuk membantu Pelita. Karena sejak awal Usman tahu, sebab gurunya pernah mengatakan.
*Sebaik apapun hubungan kita dengan makhluk tak kasat mata. Berteman, atau semacamnya. Meski memang makhluk itu tidak akan menyakiti kita. Tapi tetap saja, alam kita berbeda. Bergaul, berhubungan atau berdekatan dengan makhluk tak kasat mata dalam jangka waktu yang lama. Tetap akan merusak jiwa kita, manusia.
Usman mengingat hal itu dengan baik. Maka dari itu dari sini nanti Usman akan langsung menemui gurunya.
"Paman!"
Usman lalu melihat ke arah Tommy dan Anisa.
"Yang menjaga Pelita, melarang ku mencari tahu!"
"Bagaimana ini mas?" tanya Anisa panik begitu mendengar hal seperti itu yang dikatakan oleh Usman.
"Jangan khawatir, untuk sementara Pelita aman. Mereka melindungi Pelita...!"
Tapi kemudian Usman menjeda kalimatnya. Usman baru memikirkan hal ini. Ketiga mahkluk itu melindungi Pelita dari apa sebenarnya. Benar-benar tak bisa di lihat oleh Usman meskipun dia sudah mengerahkan hampir semua kekuatannya.
__ADS_1
Usman yang juga ikut merasa cemas langsung menghampiri Pelita lalu mengusap kepalanya dengan perlahan sambil membacakan doa.
"Panji, bawa adikmu untuk istirahat!"
"Ke kamar ibu saja Panji!" kata Anisa yang langsung berdiri dan mengajak Panji yang sedang menggendong Pelita ke arah kamarnya.
"Tommy, jangan lupa untuk selalu mengingatkan Pelita. Kemana pun dia pergi agar dia tetap menjaga kendali diri. Jangan melamun. Aku harus segera pergi, sebentar lagi guruku akan ke luar kota. Sebelum itu aku akan kesana meminta petunjuk tentang apa yang terjadi pada Pelita ini!" ucap Usman yang benar-benar terkesan sangat buru-buru karena terlalu cemas akan apa yang terjadi pada keponakannya.
"Mas, aku antar!" kata Tommy.
"Tidak usah, tempatnya sangat jauh dan tidak bisa di jangkau dengan kendaraan roda empat. Aku pergi dulu, assalamualaikum!"
"Terimakasih banyak mas, waalaikumsalam!" kata Tommy yang langsung menuju ke kamarnya setelah Usman benar-benar pergi.
Begitu sampai di kamar, Pelita masih tidur. Panji menghampiri papanya dan berkata.
"Bagaimana ini pa? bahkan paman Usman saja hanya bisa mengetahui sebatas ada yang membuka mata batin Pelita saja. Dia tidak tahu hal lainnya!"
"Bukan tidak tahu Panji, tapi ada yang mengahalau pamanmu agar tidak mengetahui lebih jauh. Sekarang yang terpenting kita tahu Pelita aman, kamu harus menjaga adikmu kalau di sekolah ya! jangan biarkan Pelita melamun. Soal untuk apa mata batin Pelita di buka, biarlah pamanmu menemui gurunya dulu!" ucap Tommy panjang lebar.
Ucapan Tommy itu dia tujukan agar anak dan istrinya tidak khawatir lagi pada keadaan Pelita. Padahal sebenarnya saat ini justru Tommy yang sangat khawatir pada kondisi Pelita.
Di perjalanan, Usman terus berdzikir karena merasa ada yang mengikutinya sejak dari rumah Pelita tadi. Terus membisikkan sesuatu padanya, dan anehnya meskipun Usman berusaha melihat wujudnya, namun sosok itu benar-benar tidak terlihat.
"Jangan ganggu kami, kami hanya ingin membantu Pelita dan seluruh umat manusia dari kejahatan seseorang. Kami hanya membuka mata batin Pelita satu arah, dia tidak akan bisa melihat makhluk lain yang menyeramkan kalau kami tidak ijinkan. Kami tidak bermaksud jahat, kami hanya ingin melindungi Pelita. Semakin banyak yang tahu apa yang terjadi pada Pelita. Semakin dia berada dalam bahaya!"
"Astaghfirullah!" ujar Usman begitu suara itu berhenti dan menghilang.
"Apa maksudnya? apa maksudnya semakin banyak yang tahu, maka Pelita dalam bahaya? apa sebenarnya yang sedang mengancam Pelita?" gumam Usman yang masih merasa tak bisa memecahkan masalah keponakannya tersebut.
__ADS_1
***
Bersambung...