Pelita

Pelita
Bab 30


__ADS_3

Devano dan Panji menunggu di depan pintu, bersama dengan tuan Bowo, istrinya dan anak-anaknya yang lain.


Attar itu adalah putra ketiga tuan Bowo, satu-satunya anak laki-laki di keluarga tuan Bowo. Maka dari itu, tuan Bowo sangat mengharapkan agar putranya itu lekas sembuh. Apalagi Attar belum menikah. Usianya masih 20 tahun bulan lalu.


Devano dan Panji terus berdoa agar Pelita bisa menemukan apa yang terjadi pada Attar sebenarnya. Meskipun Santi terus memandangi mereka dengan tatapan curiga dan meremehkan.


Di dalam kamar, Pelita sudah sejak dua menit yang lalu terus memanggil nama ketiga makhluk pelindungnya dari Mak Kondang itu.


Tapi hal satupun yang muncul. Hingga Pelita menghela nafasnya panjang. Pelita sangat ingat apa yang di ucapkan Shaka, kalau mereka bertiga merasakan kehadiran Mak Kondang. Maka mereka bertiga tidak bisa muncul mendekati Pelita.


"Haih, apa ada Mak Kondang di sekitar sini?" gumam Pelita.


Namun baru saja Pelita bergumam, Attar yang tadinya berbaring tenang di atas tempat tidur. Mendadak kejang-kejang. Tangan kakinya kejang dengan mata yang masih terpejam.


"Astaghfirullah, ini kenapa?" tanya Pelita bingung.


Namun Pelita ingat tentang perkataan sebuah suara yang dia mimpikan semalam. Maka Pelita langsung mendekat ke arah Attar. Memegang salah satu lengannya yang tertutup baju yang posisinya dekat dengan Pelita, lalu berseru.


"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!"


Swing


Mendadak Pelita seperti di bawa melintas waktu.


Saat membuka matanya Pelita sedang berada di depan rumah tuan Bowo. Di sebuah sore yang terlihat jelas dari kemilau senja yang menghiasi langit.


Pelita melihat ke sekitar, lalu dia menemukan seorang nenek tua yang berjalan mendekati pintu gerbang. Posisi Pelita saat itu ada di dalam pintu gerbang. Di depan teras yang luas itu.


Nenek itu berjalan perlahan, sangat perlahan. Dengan tongkat kayu di tangannya sebagai alat yang di pakainya untuk membantu keseimbangannya sepertinya.


Dan saat itu datang dari arah berlawanan sebuah mobil yang mewah. Begitu mobil itu akan masuk ke dalam, penjaga pintu gerbang langsung membukanya.


Namun di saat mobil itu sudah masuk, dan penjaga akan menutup gerbangnya kembali.


Brukkk


Nenek tua yang tadi berjalan di depan gerbang itu pingsan dan terjatuh. Pelita hampir saja berlari menghampiri nenek itu sangking khawatir terjadi apa-apa. Namun dia sadar kalau dirinya juga tak mungkin bisa menyentuh nenek itu.

__ADS_1


"Aih, hampir lupa. Aku hanya penonton di sini!" gumam Pelita.


Dan begitu mendengar nenek itu terjatuh, penjaga gerbang yang tadinya mau menutup gerbang pantas menghampiri nenek itu. Di susul oleh Attar, ternyata yang mengendarai mobil mewah itu tadi Attar.


Attar bergegas menghampiri nenek itu.


"Kenapa dia?" tanya Attar pada penjaga gerbang.


"Tidak tahu tuan muda, sepertinya pingsan. Mungkin sakit tuan muda!" kata si penjaga gerbang.


"Bawa masuk saja! dan panggilkan pelayan untuk memeriksanya!" kata Attar pada si penjaga gerbang.


Penjaga gerbang tersebut langsung mengangguk, dan tak lama kemudian mengangkat tubuh di nenek tadi dan membawanya masuk ke dalam.


Dari tempatnya berdiri, Pelita merasa kalau Attar itu orang baik. Pelita makin heran lagi sekarang, kenapa dia mengalami sakit aneh seperti itu. Padahal sejauh yang Pelita lihat dan saksikan. Attar itu memang orang yang baik. Buktinya dia menolong nenek itu dan meminta penjaga gerbangnya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


Pelita pun kembali mengikuti Attar dan penjaga gerbang itu menuju ke dalam, saat akan memasuki pintu, Pelita berjalan perlahan sambil tangannya meraba-raba ke arah depannya takut kalau ada dinding pembatas transparan lagi, dan dirinya akan terpental lagi seperti di rumah sakit waktu itu.


Penjaga gerbang tersebut baru akan menidurkan nenek itu di salah satu sofa yang ada di ruang tamu samping, bukan ruang tamu utama. Namun suara seorang wanita yang memekik pun lantas terdengar.


Mendengar suara wanita yang memekik itu, panjang gerbang tersebut langsung tidak jadi menurunkan si nenek.


"Bawa dia keluar, mengotor-ngotiri rumahku saja!" lanjut wanita itu yang ternyata adalah Santi. Ibu dari Attar.


Dan anehnya, saat penjaga gerbang tersebut membawa wanita tua yang tengah pingsan itu ke luar lagi. Attar malah hanya masuk ke dalam ruangan lain di dalam rumahnya tanpa bicara apapun pada Santi. Atau berusaha untuk tetap wanita tua itu bisa di situ untuk membantunya.


Di sini Pelita mulai garuk-garuk kepala. Namun setelah nenek itu pergi, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah ruang tengah.


Pelita ikut berlari ke sana, bersama dengan Santi dan salah satu anak perempuan Santi yang lain sepertinya. Karena dia terus mengikuti Santi, dan pakaian yang dia kenakan juga sangat bagus. Sepertinya sangat mahal.


Pelita berhenti setelah melihat Attar tergeletak pingsan di dekat salah satu sofa mewah yang hanya di miliki para sultan sepertinya.


"Attar!" pekik Santi.


Santi langsung berteriak memanggil siapapun untuk menolong Attar. Pelita mendengar kalau Attar akan di bawa ke rumah sakit. Saat pengawal yang mengangkat tubuh Attar bertanya, Santi mengatakan rumah sakit Harapan Kita.


Swing

__ADS_1


Pelita merasakan tubuhnya kembali tertarik ke arah belakang. Pelita bahkan merasa kakinya tak lagi menginjak lantai.


Namun beberapa saat kemudian, Pelita kembali merasa kakinya menapak lantai. Tapi kali ini dirinya menapak di tanah.


"Ini dimana lagi?" gumam Pelita.


Mata pelita mengedar melihat ke arah sekelilingnya dan akhirnya Pelita sadar dia sedang berada di dalam sebuah gubuk. Dindingnya geribik, alasnya tanah. Pelita yakin ini pasti sebuah gubuk.


Krieettt


Suara itu sempat membuat Pelita merinding. Namun saat dia berbalik, ternyata sebuah pintu kayu tua yang engselnya pasti sudah hampir lepas, karena suara berkeritnya begitu parah.


Dan dari pintu itu terlihat seorang wanita tua, bukan wanita tua yang pingsan tadi. Tapi seorang wanita tua yang meskipun rambutnya sudah memutih semua namun masih bisa berdiri dengan gagah.


Wanita tua mengajak seseorang untuk masuk.


"Masuklah nak!" kata wanita tua tersebut.


Pelita terlihat bingung, pakaian yang di pakai wanita tua itu memang pakaian ibu-ibu kuno, kebaya dan kain. Tapi sampai sekarang memang masih di pakai, bahkan neneknya Pelita saja masih sering pakai pakaian seperti itu. Ibunya juga kalau kondangan pakai pakaian seperti itu. Tapi yang membuat Pelita sedikit berpikir adalah ketika dia melihat wanita yang dipersilahkan masuk oleh sang nenek. Wanita itu memakai pakaian yang sepertinya pernah dia lihat foto hitam putihnya di rumah neneknya dulu.


Pelita bahkan ingat kalau pakaian itu seperti pakaian ibunya waktu masih gadis.


Model baby doll tapi sangat sederhana. Dan yang lebih membuat Pelita terkejut lagi, wanita yang memakai pakaian kuno dengan kepang dua untuk rambutnya yang di beri putar putih di kedua ujungnya itu membawa seorang bayi.


"Terimakasih nek hiks... hiks...!"


Pelita melebarkan matanya lagi, ketika melihat wanita itu menangis dan jika di perhatikan tangannya seperti ada bekas luka, seperti di pukul rotan atau semacamnya karena ada lebam biru panjang dan bukan hanya satu jumlahnya.


Lalu pipinya juga seorang ada cap lima jarinya. Pelita langsung yakin kalau wanita itu pasti korban penganiayaan.


"Duduklah... lihat apa yang sudah mereka lakukan padamu. Makanya nak, jangan percaya mulut manis para pria. Mereka di depan saja memujamu, menganggap mu dan memperlakukan mu seperti seorang ratu. Tapi pada akhirnya, dia mencampakkan mu!"


Kata nenek itu membuat Pelita semakin bingung apa hubungannya hal yang baru dia lihat ini dengan Attar dan penyakitnya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2