Pelita

Pelita
Bab 28


__ADS_3

Ketika Panji dan Devano tengah bingung dengan sikap Pelita yang melarang keras mereka untuk makan makanan yang di sediakan di rumah tuan Bowo.


Dua orang pria tua tengah berjalan di depan mereka sambil memegang perutnya.


"Aduh, kok perutku sakit begini ya? padahal aku tadi hanya makan nasi dan rendang saja." kata salah satu yang rambutnya gondrong dan keriting tak beraturan.


Sementara pria tua yang ada di sebelahnya juga tak kalah memperlihatkan raut wajah kesakitan. Terlihat wajahnya meringis dengan sebelah mata nyaris tertutup.


"Sama dengan aku kalau begitu, apa ada yang aneh ya dari makanan tadi. Tapi aku sudah puasa tiga hari loh, sebelum kesini. Dan aku tidak merasakan apapun yang aneh saat di ruangan tadi, bagaimana ini?" tanya yang satu lagi terlihat kesal karena segala usahanya ternyata akan sia-sia saja sepertinya.


"Ck... aku bahkan sudah puasa tujuh hari, tapi sepertinya aku tidak bisa konsentrasi mengobati anaknya tuan Bowo!" kata salah seorang di antara dua pria tua yang sedang berjalan di depan Pelita, Panji dan Devano.


Arah pandangan Devano lantas menuju ke arah Pelita. Begitu dua orang tersebut meninggalkan ruang tunggu dan memilih pergi keluar.


"Kamu lihat sesuatu ya?" tanya Devano curiga.


Pelita yang mendapatkan pertanyaan seperti itu lantas menunjukkan ekspresi wajah yang begitu terkejut.


"Lihat apa?" tanya Pelita takut.


Pelita bahkan langsung bergerak ke arah belakang Panji. Seperti sedang meminta perlindungan pada kakaknya itu.


"Hei bro, kan sudah aku bilang tadi. Kalau ngomong sama Pelita, jangan kayak polisi mau interogasi maling jemuran. Adik aku nanti sawan sama kamu!" tegur Panji yang tatapannya begitu serius pada Devano.


Devano pun mahal nafas panjang lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Oke, kita buat semuanya jadi mudah saja ya. Aku punya kelebihan, aku bisa merasakan seseorang itu punya kekuatan supranatural atau tidak!"


Pengakuan Devano sontak membuat Panji sangat merasa terkejut. Namun tidak dengan Pelita. Pelita saat ini bahkan mengerti, apa alasan Carolina melarangnya cerita apapun pada Devano.


"Kamu dukun?" tanya Panji yang memang mengira hanya dukun saja yang bisa melakukan hal seperti itu.


Devano lantas segera menggelengkan kepalanya.


"Bukan, bahasa lain kan banyak bro! kenapa dukun sih? gak keren banget! tahun berapa ini woi!" protes Devano.


Devano protes, karena dari sekian banyak sebutan untuk orang yang mengerti dan paham akan kekuatan lain selain kekuatan logika. Panji justru memilih kata dukun untuk menyebut apa kekuatan yang dimiliki oleh Devano tersebut.


"Lalu apa?" tanya Panji.

__ADS_1


Dari arah belakang, Pelita menarik lengan baju abangnya itu.


"Paranormal bang!" bisik Pelita.


Mendengar kata yang di bisikkan sang adik. Panji pun mengangguk paham.


"Oh paranormal!" ucap Panji.


Tapi mendengar Panji bicara, malah Devano melihatnya ke arah Pelita lagi yang masih bersembunyi di belakang punggung abangnya itu.


"Kamu punya kekuatan supranatural kan?" tanya Devano langsung pada Pelita.


Panji pun langsung menghalangi pandangan Devano dari Pelita.


"Kekuatan apa? supranatural apa? adik aku ini nepuk nyamuk aja gak mati!" seru Panji mencoba untuk melindungi Pelita.


"Ck... Bro, sudahlah. Kamu tahu tidak apa akibatnya kalau kekuatan adik kamu di salah gunakan seseorang atau bahkan sesuatu?" Tanya Devano terkesan seperti menakut-nakuti Panji.


Mendengar apa yang Devano katakan, Panji pun jadi was-was. Masalahnya paman Usman juga pernah mengatakan padanya kalau ada sesuatu kekuatan atau intensitas yang sedang membuka mata batin Pelita untuk tujuan tertentu.


Mengingat apa yang dikatakan oleh Paman Usman dulu dan juga apa yang dikatakan Devano barusan, membuat Panji berbalik lalu melihat ke arah Pelita.


"Dek, mungkin sebaiknya kamu jujur saja!" ucap Panji perlahan.


Devano hanya mencoba menghela nafas panjang lagi.


"Pelita, Panji. Aku bukan orang jahat. Aku juga ingin membantu anak tuan Bowo itu. Maka bekerja samalah denganku Pelita. Karena meski kamu punya kekuatan supranatural, yang aku lihat fisikmu sangat lemah. Sebaliknya, aku tidak terlalu tajam penglihatan tentang hal-hal seperti itu. Tapi fisikku sangat kuat. Jika kita bekerja sama, aku yakin kita bisa menyelamatkan nyawa putra tuan Bowo yang hanya tinggal dua hari lagi saja itu!" terang Devano panjang lebar.


Mata Pelita dan Panji terbelalak kaget, mendengar apa yang baru saja Devano katakan tentang umur anak pak Bowo yang Devano bilang tinggal dua hari lagi.


"Apa maksudnya umur anak tuan Bowo tinggal 2 hari lagi?" tanya Panji kaget.


"Inilah maksudku, adikmu punya kekuatan yang besar. Tapi tidak tahu apapun, aku tahu semuanya. Aku dan keluarga ku memang adalah orang-orang yang berusaha untuk menghentikan kejahatan yang di anggap tak nyata di dunia ini. Karena kamu percaya, kalau yang lebih menyeramkan dari seseorang yang membawa pisau dengan marah tapi sadar atas apa yang dia lakukan adalah, seseorang yang membawa pisau dengan tatapan mata nanar karena bisikan makhluk tak kasat mata!" jelas Devano kembali.


Pelita terdiam, dia bisa mengerti apa yang di katakan Devano. Sedangkan Panji menggaruk kepalanya karena bingung.


Tapi Pelita masih ingat apa yang dikatakan Carolina. Bahwa Devano punya tujuan lain tentang pusaka itu.


Namun Pelita juga ingin bisa menyelamatkan anak tuan Bowo itu. Dia yang sudah pernah kecewa pada dirinya sendiri karena meski punya kekuatan tapi tak bisa menggunakannya untuk menyelamatkan ibunya Arman dan Tia. Tak ingin kejadian itu terulang lagi. Pelita ingin menyelamatkan anaknya tuan Bowo.

__ADS_1


Setelah berpikir cukup dalam, dan cukup lama. Pelita pun memutuskan, kalau tawaran Devano untuk bekerja sama dengannya boleh juga. Toh, dalam mimpinya kemarin, kalau kali ini Pelita bisa menyelamatkan seseorang di desa Umbul Petang ini, maka dia akan mendapatkan salah satu pusaka yang kemungkinan adalah salah satu dari tiga pusaka yang bisa membinasakan Mak Kondang.


Asal nanti dia tidak mengatakan kalau tujuannya untuk mendapatkan pusaka itu. Pelita berpikir kalau mungkin tidak akan menjadi masalah kalau dia bekerja sama dengan Devano.


Devano yang tak kunjung mendapatkan jawaban Pelita, dan hanya melihat gadis itu diam pun bertanya lagi.


"Pelita, ini menyangkut sebuah nyawa. Tujuan kita sama, menyelamatkan anak tuan Bowo. Apa lagi yang kamu pikirkan?" tanya Devano seolah mendesak Pelita.


Pelita lantas melihat ke arah Devano. Panji masih siaga di depan Pelita. Kalau Pelita menolak, dia akan menjadi orang yang mendukungnya meskipun Devano adalah sahabatnya. Meskipun ilmu beladiri Panji masih kalah jauh di bandingkan dengan Devano. Tapi sebagai kakak, apapun keputusan pelita, Panji akan mendukung dan melindungi Pelita.


Baru saja Pelita akan membuka mulutnya untuk mengatakan dia setuju bekerja sama atau tidak. Terdengar teriakan dari ruang tunggu yang juga ruang makan tersebut.


Setelah teriakan itu, orang-orang yang tadinya sedang makan siang di dalam mendadak langsung berhamburan berlarian ke luar ruangan tersebut.


Tentu saja hal itu membuat Pelita, Panji dan Devano bingung.


"Ada apa?" tanya Devano setelah berhasil menghadang seorang pria yang berpakaian jubah berwarna putih dengan sorban di berwarna kuning di kepalanya.


"Ada yang keracunan di dalam! mengerikan... tubuhnya terbakar!"


Jawab pria itu yang terlihat sangat ketakutan, suara bergetar. Dan setelah mengatakan hal tersebut. Pria itu lantas langsung mendorong bahu Devano agar dia bisa segera berlari dan keluar dari sana.


Tapi setelah mendengar jawaban pria tadi, Pelita dan Panji terlihat sangat kaget. Panji bahkan langsung merangkul Pelita.


"Ini sudah semakin tidak benar, ini sudah semakin tidak masuk akal. Dek, kita pergi saja dari sini!" kata Panji yang ingin mengajak adiknya meninggalkan tempat itu karena sudah merasa keselamatan mereka, terutama keselamatan Pelita mungkin akan dalam bahaya kalau tetap berada di tempat itu.


Pelita masih diam, karena dia merasa apa yang di katakan Panji juga ada benarnya. Namun saat Pelita akan mengikuti Panji, Devano berdiri di depan keduanya untuk menghadang mereka.


"Hai, mau kemana kalian? Apa kalian lupa apa tujuan kita datang kemari?" tanya Devano kembali mengingatkan kalau tujuan mereka kemari untuk menyelamatkan seseorang.


"Tapi ini terlalu berbahaya, lihat orang-orang itu. Mereka pasti punya kekuatan lebih di banding adikku. Mereka saja lari ketakutan?" balas Panji yang tak mau terjadi apa-apa pada adiknya.


"Apa kamu lupa, Pelita mengingatkan kita untuk tidak makan. Sedangkan mereka malah makan dengan lahap. Kalau ilmu dan kekuatan mereka melebihi Pelita, kenapa mereka tidak bisa menyadari itu? aku yakin mereka hanya oknum abal-abal yang sok tahu dan sok pintar, supaya dapatkan apa yang mereka inginkan!" kata Devano menjelaskan analisanya.


Panji terdiam sesaat, benar juga apa yang dikatakan Devano. Para oknum orang pintar itu malah makan-makan saja makanan di sana. Tapi Pelita...


Panji pun menoleh ke arah adiknya, lalu Panji menoleh lagi ke arah Devano.


"Panji, aku akan menjaga Pelita. Jika sesuatu yang buruk akan terjadi. Itu akan mengenai aku dulu sebelum Pelita, aku janji!" ucap Devano terdengar begitu berani dan sangat meyakinkan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2