Pelita

Pelita
Bab 6


__ADS_3

Sementara itu Carolina dan Shaka sudah menentukan siapa yang akan selamat dari dua orang siswa itu.


"Aku memang, selamatkan yang berambut keriting itu!" kata Shaka.


"Hei, bagaimana caraku menyelamatkannya. Kamu pikir aku Serena yang bisa menyentuh manusia. Aku tidak bisa melakukannya!" sanggah Carolina.


"Ck.. yang menyuruhmu menyentuh manusia siapa? kamu tinggal bisikan saja pada manusia lewat untuk melihat apa yang terjadi di sini!" kata Shaka lagi.


"Ah iya, kamu benar. Aku sampai lupa hal itu! sebentar!" kata Carolina lagi.


Carolina lantas terbang ke atas jembatan, dan mengejar seorang pria yang kebetulan lewat di sana.


Sementara Shaka mendatangi makhluk penunggu sungai yang memang sedang mencoba untuk menenggelamkan ketiga siswa tersebut.


"Sudah kau putuskan!" kata makhluk penunggu sungai itu.


"Iya sudah, jangan tarik yang berambut keriting di sana itu!" kata Shaka.


Akhirnya makhluk penunggu sungai yang sejak tadi memang masih mencoba untuk menenggelamkan ketiganya, kini menyisakan satu dan langsung menarik keduanya hingga tak terlihat lagi di permukaan.


Shaka dengan ekspresi datarnya, hanya bisa melihat ke arah perginya dua siswa itu.


"Tolong... tolong... ada yang tenggelam!" teriak seorang pria yang memegang jerigen di tangannya.


Pria itu adalah pria yang tadi sudah di bisikkan sesuatu oleh Carolina.


Pria itu terus berteriak sehingga membuat semua orang yang berada di sekitar tempat itu yang awalnya tidak menyadari keberadaan ketiga siswa yang tenggelam itu, langsung berusaha untuk menyelamatkan satu orang siswa yang tersisa dan sepertinya sudah kelelahan dan nyaris tak sadarkan diri.


Beberapa orang menceburkan diri mereka dan menarik pemuda itu ke pinggir sungai.


"Astaghfirullah, kasihan sekali. Ini dari sekolah yang di sana itu kan. Cepat kasih tahu sekolahnya!" kata seorang pria paruh baya yang berusaha menelan perutnya untuk mengeluarkan air yang masuk ke tenggorokannya.


Dia orang pria yang tadi melihat langsung pergi, mereka berdua akan menuju ke sekolah dan memberitahukan pada pihak sekolah kalau ada siswanya yang nyaris tenggelam di sungai.


Sementara pria yang berteriak minta tolong tadi langsung di datangi oleh ketua RT di tempat itu.

__ADS_1


"Kang Samsul, gimana ceritanya tadi?" tanya pak RT.


"Begini pak RT, saya tadi kan mau beli solar buat mesin genset saya. Awalnya saya lewat aja di sini nih...!"


Pria bernama Samsul yang merupakan saksi mata itu mempraktekkan dimana dia berjalan tadi.


"Saya jalan di sini, tapi saya gak lihat apa-apa!" kata Samsul menjelaskan.


Dirinya sendiri pun sampai bingung, kenapa ketika pertama kali dia lewat tadi, dia tidak lihat apapun di tempat itu yang mencurigakan. Benar-benar tidak mendengar apapun.


"Tapi pas saya sampai tengah jembatan, kok saya kayak denger suara.. 'Lihat ke sana , ayo lihat kesana'.. gitu pak RT. Saya kan langsung balik lagi, lihat ke arah sungai. Gak tahunya ada yang hampir tenggelam, saya langsung teriak minta tolong sama warga yang ada dekat sini!" jelas Samsul dengan ekspresi yang begitu terkejut dan bingung.


"Iya pak RT, tadi saya juga papasan sama kang Samsul di sini, tapi saya juga gak lihat apa-apa. Makanya saya kaget, pas kang Samsul teriak-teriak ada yang tenggelam!" tambah seorang pria penjual gorengan keliling dengan gerobak.


Pak RT yang bernama Junaidi itu pun lantas diam dan berpikir.


'Astagfirullah!' batin pak RT yang merasakan firasat tidak baik.


Tak lama setelah itu, ambulance datang. Siswa itu pun langsung di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Sementara itu pihak sekolah juga langsung menuju rumah sakit untuk mengetahui apakah benar siswa itu adalah murid sekolah mereka. Masalahnya mereka yang menyelamatkan siswa tadi tidak menemukan identitas apapun di sungai. Jadi mereka hanya menjadikan seragam sekolah siswa itu saja sebagai satu-satunya yang bisa di jadikan petunjuk identitas siswa tersebut.


"Kalau belum sembuh, sebaiknya kamu istirahat saja dulu di rumah Pelita. Pihak sekolah juga pasti bisa memakluminya!" kata kak Ersa. Perawat yang bertugas di UKS sekolah itu.


"Saya takut ketinggalan pelajaran kak, sudah satu minggu saya tidak masuk sekolah!" jawab Pelita yang masih berbaring di tempat tidur pasien yang ada di ruang UKS.


"Saya paham, tapi kesehatan itu lebih penting. Mungkin karena kamu terkejut setelah satu minggu tidak memikirkan pelajaran jadi kaget gitu, saya akan keluar sebentar ya, carikan obat untuk kamu di apotik dekat sekolah. Riri...!" kak Ersa memanggil Riri yang duduk di ruang tunggu.


Meras di panggil Riri pun menghampiri Ersa.


"Iya kak!" kata Riri sopan.


"Pelita gak kenapa-napa, dia cuma lelah saja. Kamu bisa kembali ke kelas!" kata kak Ersa.


Riri pun mengangguk paham, sebelum pergi dia juga berpamitan pada Pelita. Setelah semua orang keluar dari ruang UKS. Pelita masih terpikir pada ketiga siswa yang sudah di pastikan dia diantara mereka pasti tidak selamat.

__ADS_1


"Lagi mikirin apa?"


Tiba-tiba Carolina muncul di depan Pelita. Bahkan makhluk berpakaian bangsawan itu muncul tepat di atas Pelita.


Meski hampir terbiasa, namun tetap saja Pelita terkejut melihat kehadiran Carolina yang tiba-tiba itu.


Pelita mengusap dadanya dan mendengus kesal.


"Pakai salam gitu kenapa kalau muncul, kaget tahu!" keluh Pelita.


Carolina hanya nyengir lalu terbang ke samping kiri Pelita.


"Bagaimana dengan ketiga siswa itu?" tanya Pelita yang terlihat sangat sedih.


"Itu salah mereka juga!" jawab Carolina.


"Hah, maksudnya gimana? salah mereka gimana?" tanya Pelita yang penasaran tapi juga merasa bingung.


"Mereka buang air kecil sembarangan!" kata Shaka yang hadir di sebelah kanan Pelita.


Lagi-lagi Pelita harus mengusap dadanya karena terkejut.


'Siap-siap nih, satu lagi nongol dimana nih, astagfirullah. Ni tiga mahkluk gak bisa gitu munculnya barengan aja. Kagetnya kan sekaligus. Gak kaget tiga kali begini, aman gak nih jantung aku!' batin Pelita.


Carolina yang memang mengerti dan bisa membaca apa yang di batin Pelita hanya tersenyum.


"Jem, gak akan nongol. Dia lagi di rumah sakit!" kata Carolina.


Pelita sampai garuk-garuk kepala karena tak enak hati, dia lupa kalau Carolina bisa mendengarkan suara hatinya.


"Tapi.. tapi.. tadi kenapa? mereka buang air sembarangan? jadi itu yang membuat mereka tenggelam? gimana sih?" tanya Pelita bingung.


"Mahkluk penunggu sungai itu sedang tidur di salah satu pinggiran sungai ketika mereka bertiga beradu batas paling jauh jatuhnya air yang mereka keluarkan itu. Mereka tidak sopan, mereka sembarangan. Harusnya mereka permisi dulu, supaya makhluk itu bisa pindah kan, tapi mereka langsung mengeluarkannya tanpa permisi. Jadi makhluk itu marah!" jelas Shaka dengan ekspresi datar.


Pelita mengangguk paham, ternyata sebenarnya apa yang menimpa ketiganya itu akibat ulah mereka sendiri yang bersikap tidak sopan dan buang air sembarangan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2