
Sementara di dalam ruang makan yang memang disediakan untuk umum tersebut. Saat ini benar-benar terlihat kacau. Belasan anak buah tuan Bowo yang bekerja di sana sedang sibuk memadamkan kerusakan akibat seorang pria tua yang tengah terbakar tersebut. Mereka menggunakan banyak sekali alat pemadam sederhana dan apapun yang sekiranya bisa mereka gunakan untuk memadamkan api.
Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya memadamkan pria tua yang tadinya terus berlari kesana kemari meminta pertolongan itu. Namun sekarang tubuh pria tua itu tak lagi bergerak dan hanya terbujur di lantai. Api melahap tubuhnya dengan begitu ganas. Benar-benar mengerikan.
Entah bagaimana caranya, pria itu bisa seperti itu. Tiba-tiba muncul api yang langsung berkobar dengan kencang lalu membuat pria tua itu menjerit histeris karena terkejut, kesakitan dan ketakutan dalam waktu yang sama. Bahkan ketika pria itu menyentuh benda lain, benda tersebut juga ikut terbakar. Itulah yang membuat semua orang menjauh darinya dan berhamburan keluar dari ruangan tersebut. Mereka yang bisa melihat secara langsung benda yang ikut terbakar setelah pia itu memegangnya tak ingin memiliki nasib yang sama dengan benda tersebut.
Mereka yang ada di ruangan itu lantas pontang-panting menyelamatkan diri mereka masing-masing. Membuat semua benda yang ada di sana jadi berantakan, pecah berserakan semua karena di senggol atau bahkan tidak sengaja tersenggol oleh orang yang lari untuk menyelamatkan diri.
Dan setelah setengah jam berlalu, setelah para pengawal dan anak buah tuan Bowo berusaha memadamkan api, jasad pria itu bahkan tak berbentuk lagi. Sudah habis menjadi abu yang yang bahkan terus hilang saat ada angin kencang meniup tubuhnya.
Melihat kekacauan yang terjadi, tuan Bowo yang terkejut mendengar hal itu bisa terjadi di rumahnya yang penjagaannya begitu ketat langsung terduduk lemas, di atas sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya tuan Bowo.
Tuan Bowo memegang kepalanya yang rasanya benar-benar mau pecah. Belum lagi memikirkan nasib anaknya yang sudah begitu lama tak bisa bangun dan terkadang kejang-kejang. Kini harus melihat rumahnya porak-poranda sebagian.
Mendengarkan keluh kesah dari tuannya itu, tak satupun orang di sana yang dapat menjawabnya. Salah satu anak tuan Bowo, Sekar bahkan menangis ketika melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang berusaha mengobati kakaknya tersebut. Sekar begitu shock, bukan hanya satu dua orang yang mengalami nasib begitu mengerikan, tapi sudah kesekian kalinya. Sekar sampai tak kuat lagi berdiri. Perlahan tubuhnya terhuyung dan jatuh pingsan.
Tuan Bowo yang sudah sakit kepala karena semua hal yang terjadi di depannya. Bertambah sedih lagi melihat putrinya pingsan. Namun setelah salah seorang pelayan memeriksa Sekar dan katanya tidak apa-apa. Tuan Bowo pun menghela nafas lega. Setidaknya Sekar baik-baik saja.
Pandangan tuan Bowo pun menatap nanar ke segala arah. Melihat tempat itu yang awalnya banyak orang yang katanya datang untuk mengobati anaknya, kini mereka semua tidak ada. Mereka semua sudah pergi ketakutan karena peristiwa yang baru saja terjadi.
Tuan Bowo sedang memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memeriksa rekaman CCtv sambil berkata.
"Semuanya sudah pergi!" ucap tuan Bowo terdengar putus asa.
"Attar... bagaimana sekarang Attar akan sembuh!" lirih tuan Bowo yang masih menunggu di kursi itu. Cemas dan putus asa.
Tapi ketika mendengar tuan Bowo bicara begitu, anak buahnya yang membawa rekaman CCtv pun memberitahukan kalau di ruang tunggu masih ada tiga orang yang tadi sudah mengambil nomer urut pendaftaran untuk mengobati putra satu-satunya tuan Bowo yang bernama Attar.
Mendengar laporan dari anak buahnya tersebut, tuan Bowo langsung meminta mereka bertiga masuk. Yang dimaksud mereka bertiga itu adalah Pelita, Panji dan Devano.
Pelita, Panji dan Devano lantas di bawa ke dalam rumah besar itu. Langsung menuju ke arah sebuah kamar yang pintunya terlihat lebih besar dan mewah di bandingkan pintu-pintu yang lainnya.
__ADS_1
Begitu pintu itu terbuka, terlihat sebuah ranjang besar yang mewah. Sebenarnya ranjang itu bisa untuk tempat tidur lima sampai enam orang. Itu sepertinya ranjang yang di PO. Karena tak mungkin ada toko furniture yang menjual ranjang sebesar itu.
Tapi di atas tempat tidur yang begitu mewah itu hanya ada seorang pria yang wajahnya tampan namun sangat pucat.
Pelita, Panji dan Devano berjalan dengan perlahan ke arah seorang pria tua yang adalah tuan Bowo. Di sampingnya ada seorang wanita cantik, mungkin usianya sudah seperti tuan Bowo namun wajahnya masih sangat cantik dan anggun. Dia adalah Santi, istri tuan Bowo.
"Kalian yang mau menyembuhkan putraku, Attar? yang benar saja?" tanya istri tuan Bowo terlihat sangat tidak percaya, dan begitu memandang remeh Pelita, Panji dan Devano.
Panji yang memang tidak punya kekuatan apapun dan hanya ingin melindungi sang adik sebenarnya sangat kesal mendengar cibiran dari Santi tersebut. Ingin rasanya saat itu juga, Panji mengajak Pelita untuk pulang saja.
"Santi, tolong jangan berkata seperti itu. Jangan lihat kemampuan seseorang dari apa yang bisa kamu lihat dengan mata mu saja. Memangnya yang terlihat seperti guru besar dan orang hebat itu bisa menyembuhkan anak kita? tidak bukan?" tanya tuan Bowo.
Mendengar tuan Bowo berkata seperti itu, niat Panji mengajak Pelita pulang pun akhirnya menghilang begitu saja.
'Suaminya baik, istrinya kayak demit!' batin Panji melirik sekilas dengan tatapan tak suka pada Santi.
"Siapa nama kalian?" tanya tuan Bowo.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Pelita dan Panji lantas menoleh secara bersama ke arah Devano.
"Apa?" tanya Devano pelan.
"Kamu kan juru bicara kita, jawab saja!' sahut Panji dengan suara bernada rendah.
Sambil sedikit menghela nafas, Devano pun melihat ke arah tuan Bowo dan mulai menjawab pertanyaan tuan Bowo tersebut.
"Nama saya Devano tuan, ini adalah Pelita dan ini adalah Panji!" jawab Devano sambil menunjuk ke arah Panji dan Pelita bergantian.
"Kalian yakin bisa menyembuhkan anakku?" tanya tuan Bowo dengan mimik wajah serius.
"Kami yakin, atas kehendak yang maha kuasa!" jawab Devano diplomatis.
Pelita dan Panji hanya saling pandang. Pelita sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah abangnya.
__ADS_1
"Bang, inikah teman yang katamu sangat pendiam itu?" tanya Pelita pada Panji.
Pasalnya Panji selalu bilang pada Pelita, kalau dia berteman dengan Devano karena Devano tak banyak bicara dan tak banyak kepo. Orangnya pendiam dan tenang.
"Aku juga tidak tahu, ternyata dia bisa jadi duta komunikasi begini!" balas Panji pada Pelita.
Mendengar jawaban Devano, tuan Bowo terlihat mengangguk setuju.
"Baiklah, apa yang kamu butuhkan?" tanya tuan Bowo.
Karena sebelum-sebelumnya ada ada saja yang para paranormal dan oknum, juga dukun lain yang meminta persyaratan ini dan itu untuk media menyembuhkan Attar. Ada yang dengan ritual bunga setaman, ada yang minta ayam hitam, ayam putih, sirih merah bahkan sampai hal yang tak masuk akal yaitu, air comberan.
Segalanya tetap di sanggupi oleh tuan Bowo. Karena dia sudah tak dapat harapan lagi cari medis. Namun setelah semua itu, tak kunjung putranya mendapatkan kesembuhan.
Devano langsung menoleh ke arah Pelita.
"Apa yang kamu butuhkan untuk mengetahui apa yang terjadi padanya?" tanya Devano sambil berbisik pada Pelita.
"Tidak ada, tinggalkan saja aku dan orang itu di ruangan ini!" kata Pelita yang ingin meminta bantuan pada Jem, Shaka atau Carolina.
Devano pun mengangguk paham.
"Tuan Bowo, kami tidak membutuhkan apapun. Hanya saja, tinggalkan ruangan ini, biarkan Pelita sendirian di sini dengan putra tuan!" kata Devano.
Mendengar apa yang dikatakan Devano. Santi yang semula duduk di sebelah tuan Bowo pun langsung berdiri.
"Apa maksudmu meninggalkan dia dengan anakku, siapa yang akan tahu apa yang akan dia lakukan pada Attar!" kesal Santi yang tidak mau mengambil resiko sama sekali.
Devano bisa maklum tentang kecemasan Santi tersebut.
"Baiklah nyonya, saya yang akan jadi jaminannya. Jika terjadi sesuatu pada Attar, saya yang akan menanggung akibatnya!" tegas Devano yang membuat Panji dan Pelita menatap kagum sekaligus tak percaya ke arah Devano.
***
__ADS_1
Bersambung...