
Malam harinya, Pelita lantas menceritakan apa yang terjadi di rumah duka keluarga Arman. Tommy dan Anisa sampai bergidik ngeri mendengarnya.
"Itulah ya, apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai! Mengerikan!" kata Anisa.
"Tapi Panji tak habis pikir ya ma, pa. Di jaman seperti sekarang ini masih ada saja yang percaya hal-hal seperti itu!"
"Yang namanya kepercayaan tiap orang, siapapun tidak bisa mengaturnya. Yang pasti Panji sama Pelita harus ingat, tidak boleh percaya sama hal-hal seperti itu. Pergi ke dukun, orang pintar, itu tidak boleh. Kenapa? karena semua itu adalah perbuatan syirik. Tidak akan ada hal baik terjadi, untuk niat yang tidak baik. Mintalah pada Allah, karena hanya Allah sang maha pemberi pertolongan!" nasehat Tommy pada Panji dan Pelita.
Panji dan Pelita pun mengangguk paham bersamaan. Setelah cukup lama mengobrol, Pelita dan Panji pun naik ke lantai dua untuk istirahat di kamar mereka masing-masing.
Pelita masuk ke dalam kamarnya, dia sedikit heran. Kenapa tiga makhluk itu sejak kemarin tidak nampak. Padahal ada banyak hal ingin di tanyakan oleh Pelita padanya.
Sementara itu di sebuah pohon besar di dekat pemakaman dimana ibunya Arman dan wanita bernama Mala itu di makamkan. Sebuah sosok bayangan hitam kembali bertengger di dahan pohon besar itu sambil menatap ke arah makan Mala yang tiba-tiba saja, dari pusara makam itu muncul asap yang aromanya tidak sedap.
"Hihihi.. hihihihi... hihihihihi!"
Makhluk itu pun lantas terbang secepat angin.
Beberapa orang yang kebetulan lewat di tempat itu. Karena makam itu berada di dekat jalan umum warga. Langsung menutup hidung ketika lewat tempat itu. Aroma busuk benar-benar mengganggu mereka.
Dia lain tempat, Jem, Carolina dan Shaka sedang berkumpul di sebuah bangunan tua yang cukup jauh dari kota. Letaknya di tengah hutan, bukan hanya ada mereka di sana. Banyak beragam jenis makhluk tak kasat mata lain yang tinggal di tempat itu. Namun mereka sudah menyewa satu ruangan untuk mereka sendiri.
"Dia sudah pergi"
Shaka melihat ke arah Jem yang sedang bicara.
"Kamu sedang membuat pernyataan atau pertanyaan?" tanya Shaka.
Jem garuk-garuk kepala mendengar apa yang Shaka katakan.
"Yang bisa merasakan keberadaannya kan cuma kamu. Aku bertanya, dia sudah pergi belum?" tanya Jem.
Carolina yang duduk di sebuah kursi pun mendekati kedua temannya itu.
__ADS_1
"Bagaimana dia juga bisa kemari sih? harusnya belum tercium kan aroma Pelita oleh Mak Kondang?" tanya Carolina bingung.
"Aku kan kangen sama Pelita!" keluh Carolina lagi.
Yang sedang mereka bicarakan adalah, keberadaan Mak Kondang yang dapat di rasakan oleh Shaka.
Shaka merasakan kehadiran Mak Kondang beberapa waktu ini. Karena itu mereka bertiga tidak bisa dekat-dekat dengan Pelita. Atau Mak Kondang yang juga bisa merasakan keberadaan mereka itu, akan tahu siapa gadis selanjutnya yang bisa di jadikan rumah baru bagi Mak Kondang.
Karena sebelum usianya yang ke 17 tahun, Mak Kondang tak akan bisa menemukannya.
"Aku pikir memang Mak Kondang datang ke kota ini bukan untuk Pelita. Tapi mungkin dia mau membuat koloni barunya!" ucap Shaka yang biasanya bicaranya sangat irit.
"Maksud mu?" tanya Carolina yang memang IQ nya lebih rendah dari kedua temannya tersebut.
"Mak Kondang sedang membuat pasukan!" kata Shaka dengan raut wajah datarnya.
Carolina dan Jem terlihat terkejut namun dengan ekspresi yang berbeda. Jem dengan ekspresi datar seperti Shaka, dan Carolina dengan ekspresi heboh di wajahnya.
"Ini mengerikan, akan semakin banyak orang jahat nantinya. Mak Kondang benar-benar harus di musnahkan!" kesal Carolina.
"Benar, akan banyak manusia yang saling bunuh. Manusia yang mendapat bisikan dari pasukan kegelapan Mak Kondang pasti akan saling menjatuhkan, saling mencuri, saling menyakiti bahkan saling membunuh. Bahkan banyak yang di bisiki untuk bunuh diri. Mak Kondang benar-benar meresahkan!" lanjut Jem.
"Kita harus bantu Pelita mendapatkan ketiga pusaka itu, sebelum usianya 17 tahun. Hanya itu cara untuk membinasakan Mak Kondang selamanya!" sambung Shaka.
Keesokan harinya...
Seperti biasanya, Panji dan Pelita berangkat sekolah bersama-sama.
Setibanya di sekolah mereka melihat beberapa orang yang balapan di jalan depan sekolah.
Panji yang kebetulan saja harus mengerem mendadak karena tiba-tiba ada motor yang melaju kencang di depannya di buat kesal.
"Astaghfirullah!"
__ADS_1
Panji lantas membuka kaca penutup helm full face nya.
"Pagi-pagi udah balapan gak jelas, gak tahu apa itu bukan cuma membahayakan nyawanya sendiri, nyawa orang lain juga bisa dalam bahaya. Dasar!" kesal Panji.
Pelita yang tak ingin abangnya terkena masalah karena memekik di depan rombongan anak-anak yang balapan itu menepuk bahu Panji perlahan.
"Abang udah, gak usah di ladenin. Sabar, tunggu mereka semua lewat kita baru nyebrang!" kata Pelita.
Panji pun menutup kembali kaca helm nya dan mendengus kesal.
Pelita memalingkan wajahnya ke arah lain karena dia juga malas meyaksikan anak-anak nakal itu lewat di depannya. Tapi kemudian matanya malah tertarik untuk melihat ke sebuah arah. Dimana ada dua orang berboncengan sepeda motor yang sepertinya adalah salah satu rombongan anak-anak nakal itu. Satu orang pria dan yang di bonceng adalah seorang wanita.
Aura gelap yang sama membuat Pelita sangat merinding. Terlihat jelas mengerubungi wanita yang memeluk pria di depannya itu dengan sangat erat.
"Astaghfirullah!"
Keringat dingin langsung membasahi wajah dan telapak tangan Pelita.
Karena tak kuat merasakan kengerian akibat aura hitam dan pekat itu Pelita sampai menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Panji.
"Kenapa dek?" tanya Panji.
Pelita yang mendengar suara Panji pun tak mau abangnya itu cemas.
"Gak papa bang, panas aja, aku ngumpet deh!" jawab Pelita memberi alasan pada Panji padahal dia takut.
"Ha ha, kamu ini. Ini masih pagi, panas pagi sehat dek!"
'Panas pagi memang sehat bang, dan sebenarnya aku bukan takut panas. Apa yang aku lihat di depan itu mengerikan! seperti akan ada hal buruk yang terjadi pada wanita itu' batin Pelita.
***
Bersambung...
__ADS_1