
Semua orang yang ada di tempat itu tercengang, wajah mereka pucat dengan mata terbelalak melihat ke arah ledakan besar yang di timbulkan akibat beradunya dua buah mobil yang sama-sama melaju kencang tadinya.
Tapi orang-orang yang tadinya ada di minibus itu langsung melihat ke arah tubuh mereka masing-masing.
"Kita selamat, ya Tuhan... kita selamat!" seru seorang wanita paruh baya yang terlihat langsung meraih balita kecil yang tergeletak dia sebelahnya dan menangis karena kaget mendengar dan melihat ledakan besar itu.
Semuanya tak percaya, bahkan si supir truk yang juga adalah seorang pria tua dengan rambut yang sudah berubah putih semua. Dia terlihat terduduk lemas dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi yang jelas dia terlihat begitu pucat dan seperti tak ada darah yang mengalir di tubuhnya melihat ke arah kecelakaan yang terjadi.
Para penumpang minibus itu saling peluk dan terlihat sangat bersyukur mereka tidak ada di dalam minibus itu saat mobil itu meledak karena hantaman keras dengan truk.
Karena mobil di depan mereka terbakar, Devano berinisiatif menghubungi 112. Dan mengatakan di mana lokasi mereka.
"Bagaimana kita bisa di luar?" tanya wanita muda yang langsung meraih bayinya dari wanita paruh baya.
"Ibu juga gak tahu Tiwi, tapi Alhamdulillah. Kita selamat nak. Apa jadinya kalau kita ada di dalam mobil itu?" tanya wanita paruh baya yang pertama bicara setelah tercengang cukup lama tadi.
Panji yang melihat adiknya terduduk lemas, langsung menghampiri Pelita.
"Dek, kamu gak papa?" tanya Panji cemas.
Pelita hanya menggelengkan kepalanya, sementara Devano masih berusaha mencerna dengan baik semua yang terjadi di hadapannya.
Seorang pria paruh baya yang tadinya duduk diam lantas berdiri dan menghampiri Pelita, Panji dan Devano.
"Adek-adek ini tahu tidak apa yang terjadi? kami tadinya ada di dalam mobil itu. Tapi kami bisa ada diluar sekarang dan kami selamat. Sebenarnya apa yang terjadi ya dek?" tanya pria paruh baya itu terlihat begitu penasaran.
Panji yang memang tidak mengerti pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak tahu pak, kami juga terkejut. Adik saya sampai shock ini!" kata Panji.
__ADS_1
Pria paruh baya itu langsung melihat ke arah Pelita yang masih terduduk lemas seperti beberapa anggota keluarganya yang lain di sebelahnya.
Pria paruh baya itu lantas menjauh dari Pelita, Panji dan Devano menuju ke keluarganya. Sementara Devano, semakin dia melihat ke arah Pelita, semakin dia merasa kalau semua ini adalah ulah Pelita.
Apalagi ketika dia melihat ada sebuah luka di lengan Pelita. Yang awalnya Devano yakin tidak ada. Luka itu adalah luka yang di akibatkan ketika Pelita berusaha membuka pintu truk. Tangannya terluka karena itu.
Beberapa saat kemudian, petugas pun datang dan mengurus semuanya. Sayang tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Semuanya mengatakan jawaban yang sama, termasuk Pelita yang di bantu Panji menjawab karena Pelita sangat lemah.
Berdiri dengan kakinya sendiri saja, Pelita belum mampu melakukannya. Jawaban semua orang yang sama seperti itu yaitu tidak tahu apa yang terjadi. mereka hanya bilang kalau mereka sedang berada di dalam mobil, dan mobil itu akan bertabrakan, mereka sudah panik tapi entah apa yang terjadi. Mereka malah sudah berada di pinggir jalan ketika kedua mobil itu bertabrakan.
Dan keterangan yang di sampaikan Panji dan Devano juga sama. Mereka sedang berada di tepi jalan, mengecek bensin mereka dan mencari pon bensin di maps ponsel mereka. Namun mereka melihat ada dua buah mobil dari arah berlawanan yang melaju kencang. Tapi ketika mereka menyadari ada ledakan, semua yang ada di dalam mobil itu sudah ada di sebelah mereka.
"Adik saya sampai shock ini pak!" kata Panji pada petugas.
"Gimana kalau kalian ikut ke rumah sakit juga, memastikan kondisi adik kamu?" tanya petugas.
"Tidak pak, tidak usah. Saya istirahat sebentar juga sudah tidak apa-apa!" kata Pelita menolak untuk di bawa ke rumah sakit.
"Dek, kamu mau minum?" tanya Panji yang melihat ada petugas yang membagikan air minum tak jauh dari tempat mereka berada.
Pelita yang memang haus pun langsung menganggukkan kepalanya cepat.
"Ya sudah sebentar ya, Devano titip Pelita sebentar ya!" kata Panji yang langsung di angguki Devano.
Setelah Panji pergi, Devano langsung duduk di sebelah Pelita.
"Ini semua ulah kamu kan? kamu yang menyelamatkan semua penumpang kendaraan itu?" tanya Devano yang tak membuat Pelita terkejut.
Devano sudah pernah mengatakan padanya kalau Devano juga punya mata batin, tapi berbeda dengan Pelita. Mata batin Devano sangat lemah.
__ADS_1
"Kamu bilang kita jangan pergi dulu, aku yakin kalau kita pergi. Mungkin saja yang kecelakaan itu malah akan kita dengan mobil truk itu. Atau kalau kita menghindar, mungkin juga para penumpang minibus itu tidak akan selamat. Iya kan?" tanya Devano yang sudah menebak semuanya tapi masih minta kejelasan dari Pelita.
"Bagaimana kamu melakukan semuanya?" tanya Devano lagi karena sangat penasaran.
Padahal pertanyaannya yang pertama dan kedua saja belum di jawab oleh Pelita.
"Kak Devano, aku tidak bisa jelaskan. Semua begitu cepat...!"
"Pelita, ini minumnya!" kata Panji yang bergegas membuka tutup botol setelah berlari ke arah Pelita.
"Terimakasih bang!" kata Pelita menyambut botol air mineral dari Panji.
Pelita minum air, dan Devano pun menjauh sedikit dari kedua kakak beradik itu.
'Aku yakin, kalau menyelamatkan semua penumpang minibus itu saja bisa dia lakukan. Aku yakin dia bisa menyelamatkan Devi. Pasti bisa!' batin Devano yakin kalau Pelita bisa menyelamatkan adiknya yang di tawan oleh makhluk yang bernama Umbok.
Setelah semuanya di urus petugas, Pelita, Panji dan Devano juga di perbolehkan untuk pergi. Karena memang mereka dalam perjalanan pulang. Petugas sudah menghubungi orang tua Panji dan Devano.
Ketika dalam perjalanan pulang. Panji terus berhati-hati membawa motornya. Dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Begitu sampai di rumah, Pelita sangat terkejut. Rumahnya terlihat berbeda, aura putih dan bau harum menyelimuti rumahnya.
Ketika Panji dan Devano akan masuk ke dalam rumah. Pelita bahkan masih terdiam di depan pintu.
"Pelita, ayo masuk! ajak Panji yang melihat sang adik malah berdiri sambil memandang ke seluruh rumah.
"Ada apa Pelita?" tanya Devano yang mengerti kalau Pelita merasakan sesuatu yang aneh.
"Rumah ini, ada seseorang yang sangat baik di dalam!" kata Pelita yang membuat Panji dan Devano saling pandang dengan ekspresi yang sangat bingung.
__ADS_1
***
Bersambung...