
Pelita sampai bengong karena ekspresi sang ibu dan abangnya yang begitu panik. Kang Ujang yang tak lain adalah tetangga sebelah rumah Pelita juga sama kagetnya dengan Pelita.
Pasalnya ketika kang Ujang tadi sedang mau memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Panji berlari masuk ke dalam pintu gerbangnya dan berteriak-teriak memanggil namanya.
Panji bilang.
"Kang... kang Ujang tolong kang. Tolong Pelita, dia kejang-kejang, tolong antar ke rumah sakit!"
Panji bilang begitu dengan wajah yang begitu panik. Sampai kang Ujang langsung mengeluarkan mobilnya lagi dari garasi dan langsung membawa mobilnya, mengendarai mobilnya dengan cepat ke depan rumah Pelita. Sementara Panji berlari kembali ke rumahnya.
Tapi begitu kang Ujang tiba di depan kamar Anisa, dia sedikit terkejut melihat Pelita yang sepertinya baik-baik saja.
"Bang, Pelita gak apa-apa!" kata Pelita membuat Panji juga langsung berlari menghampiri sang adik.
Pelita melihat kening dan baju Panji yang basah. Pelita sedih melihat itu semua.
"Maaf ya bang, Abang panik gara-gara aku!" sesal Pelita.
Namun Panji langsung memeluk adiknya itu dan mengusap kepala Pelita dengan lembut.
"Alhamdulillah, kamu gak kenapa-napa dek!" kata Panji lega.
Mengetahui Pelita sudah baik-baik saja. Kang Ujang juga terlihat menghela nafas lega.
"Kalau begitu saya permisi saja ya Bu Anisa, Pelita, Panji!" kata kang Ujang yang merasa dirinya sudah tidak di perlukan lagi berada di tempat itu.
Panji langsung melepaskan pelukannya dari Pelita dan langsung menghampiri kang Ujang. Panji mengantar kang Ujang sampai di di depan pintu rumahnya.
"Mohon maaf ya kang Ujang, dan terimakasih karena kang Ujang tadi sudah mau me.bantu saya!"
Namun kang Ujang malah menepuk bahu Panji pelan.
"Panji, itu gunanya tetangga. Syukurlah Pelita sudah tidak apa-apa. Kalau ada apa-apa lagi, dan kalau papa kamu belum pulang. Kamu bisa ketuk rumah saya saja. Saya ada di rumah kok malam ini!" ujar kang Ujang.
"Terimakasih banyak kang!" sahut Panji.
__ADS_1
Dan kang Ujang pun mengendara kembali mobilnya ke rumahnya. Tapi tidak di masukkan ke dalam garasi. Hanya dia biarkan di teras rumahnya saja.
Panji kembali ke kamar mamanya. Malam itu memang Tommy dapat telepon penting tentang pekerjaan nya. Karena itu Tommy membawa mobilnya pergi. Sedangkan Panji dan Anisa hanya memiliki sepeda motor saja. Sedangkan Pelita tadi dalam kondisi tak sadarkan diri dan kejang-kejang. Oleh karena itu Panji memilih untuk meminta bantuan pada tetangga.
Keesokan harinya adalah hari libur. Pelita yang sudah mencari tahu dimana itu desa Umbul Petang segera mengetuk pintu kamar Panji.
Tok tok tok
"Bang, udah bangun belom? bang?" seru Pelita dari luar kamar Panji yang ada di sebelah kamarnya.
Cukup lama Pelita menunggu di depan pintu kamar Panji. Karena mang sepertinya sebelum Pelita mengetuk pintu kamar abangnya itu, Panji masih asik di alam mimpinya.
Ceklek
"Kenapa dek?" tanya Panji sambil mengucek-ngucek matanya.
Pelita langsung nyengir.
"He he, bang... mau ngomong bentar deh!" kata Pelita yang langsung nyelonong masuk ke kamar Panji.
"Bang, temenin aku ke desa Umbul Petang yok!" ajak Pelita yang langsung duduk di salah satu sofa di kamar Panji.
"Desa Umbul Petang, baru denger?" tanya Panji yang memang baru mendengar nama desa itu.
"Mumpung hari minggu nih bang, dengar-dengar di sana ada yang seru! gak jauh kok bang, menurut gog. maps. Cuma sekitar satu jam dari sini. Ada air terjun loh disana, terus katanya banyak kembang desanya juga loh!' kata Pelita bermaksud agar Panji tertarik mengantarnya ke desa itu.
"Mingguan itu ke mall, main futsal, nonton film dek. Mingguan kok ke desa, pulang juga gak ada yang di bawa!" kata Panji yang sepertinya tidak tertarik dengan apa yang di katakan Pelita.
Tapi bukan Pelita namanya kalau menyerah begitu saja.
"Plis bang, ini penting banget...!"
Panji pun terdiam, tadi nyawanya belum kumpul semua. Makanya dia menanggapi Pelita dengan santai. Tapi sekarang setelah nyawa Panji kumpul semua. Dia baru menyadari betapa adiknya itu ingin pergi ke desa yang bernama desa Umbul Petang itu.
Panji ingat kalau adiknya ini memang sudah terbuka mata batinnya. Jadi Panji berpikir kalau semua ini pasti ada hubungannya dengan mata batin Pelita.
__ADS_1
"Dek, apa kamu dapat mimpi lagi?" tanya Panji.
Setelah mendengar ucapan sang kakak itu, akhirnya Pelita mengangguk perlahan.
"Iya bang, aku semalam mimpi. Tapi aku gak bisa jelasin detailnya, lupa-lupa ingat gitu. Yang jelas. Aku harus pergi ke desa Umbul Petang dan menyelamatkan seseorang yang sedang dalam bahaya!" jelas Pelita.
Namun mendengar penjelasan Pelita, Panji malah mengernyitkan dahinya.
"Dek, emang kita bisa apa?" tanya Panji yang ragu kalau Pelita dan dirinya bisa menyelamatkan seseorang.
Panji merasa kalau dia mungkin bisa melindungi dirinya, mungkin juga dengan Pelita. Tapi kalau hanya melawan satu dua atau tiga orang saja. Kalau yang menyerang mereka jumlahnya banyak, dia juga was-was.
"Bang, kita coba dulu yuk. Pasti aku di suruh ke sana itu memang karena kemungkinan aku bisa membantu meski gak banyak. Kalau enggak ngapain sosok putih itu nyuruh aku ke sana...!"
Panji langsung menyela ucapan Pelita.
"Sosok putih apa?" tanya Panji yang merasakan seluruh bulu di tubuhnya telah berdiri.
Panji bahkan sudah memegang tengkuknya yang sudah merinding.
"Sosok putih yang menyelamatkan aku ketika aku tenggelam...!"
"Tenggelam?" tanya Panji lagi makin bingung.
"Iya bang, pokoknya kita harus kesana. Aku gak mau sampai terlambat lagi sama seperti ibunya Arman atau kak Tia!" kata Pelita yang terlihat sangat bersemangat.
Panji terdiam sejenak, tapi dia juga harus memikirkan hal lain.
"Abang ajak Devano boleh ya? dia kan jago beladiri!" kata Panji yang ingin mengajak teman akrabnya Devano. Sebab ilmu beladiri Devano lebih hebat dari Panji.
Pelita pun mengangguk setuju. Setelah itu Panji pun menghubungi Devano. Panji bahkan terkejut ketika Devano langsung setuju begitu Panji mengajaknya.
Mereka pun minta ijin pada Tommy dan Anisa. Pelita juga mengatakan kalau ini adalah petunjuk mimpinya. Awalnya Tommy tidak mengijinkan karena khawatir pada Pelita. Namun setelah mengetahui Pelita dan Panji tidak pergi sendiri, dan pergi bersama Devano yang memang juara karate. Tommy akhirnya mengijinkan Panji dan Pelita pergi.
Mereka pun menyusul Devano ke rumah teman Panji itu. Tapi begitu berhenti di depan rumah Devano. Pelita bisa melihat ada aura yang begitu aneh mengelilingi rumah tersebut.
__ADS_1
***
Bersambung...