
Devano melihat kilatan cahaya hitam dan putih yang beradu di atas sebuah gubuk tua. Devano pun makin mengencangkan larinya, bahkan mendahului Panji yang tadinya lebih dulu berlari menyusul Pelita di depan Devano.
Panji sempat terkejut ketika melihat Devano yang begitu kencang berlari. Hingga saat dia menyebrangi jembatan, jembatan itu bahkan bergoyang dengan kencang ke arah kanan dan kiri setelah terkena hempasan angin akibat kencangnya Devano berlari.
Sementara itu di dalam gubuk tua itu, Pelita hanya berusa terus membaca kalimat doa yang terdengar di telinganya. Seperti ada yang menuntunnya untuk mengucapkan semua kalimat doa tersebut. Hingga ketika makhluk api itu ingin menyerang Pelita, seperti ada tameng transparan yang menahannya untuk tidak bisa lagi maju ke depan.
Dan setiap makhluk api itu membentur tameng yang melindungi Pelita. Terdengar suara keras, dentuman yang keras di atas gubuk tua itu dan terlihat kilatan cahaya yang begitu menyilaukan.
"Allahumasholialasyayiddina Muhammad, waalaalisyayiddina Muhammad!"
Begitu Pelita mengumumkan kalimat itu, sebuah cahaya putih menyilaukan menghantam makhluk api yang hanya memiliki dua lubang hitam di matanya dan lubang hitam besar sebagai mulutnya itu.
Bammm
Brakkkkk
Devano langsung mendobrak pintu gubuk itu dan menghampiri Pelita.
Namun saat Devano akan mendekat, dia malah terpental.
Brukk
Di saat itu Pelita masih tak mengetahui kalau Devano terpental. Karena di masih terus mendengarkan dan mengucapkan apa yang terdengar di telinga sebelah kanannya. Suara berat seperti seorang pria yang sudah sangat tua. Dengan kalimat yang begitu ajaib, setiap kalimat yang dia bisikkan ke telinga Pelita. Yang kemudian di ucapkan lagi oleh Pelita seperti sebuah tamparan dan cambukan bagi makhluk api itu.
Devano yang tak mampu membantu Pelita, akhirat beralih ke Raka yang sedang pingsan. Ketika makhluk api itu terpental agak jauh, Devano buru-buru menarik Raka menjauh dari makhluk api itu dan menyeretnya ke arah belakang Pelita.
"Sadarlah!" kata Devano sambil menepuk-nepuk wajah Raka.
Sementara makhluk api yang ingin melukai Pelita itu makin mengganas saja. Dia tak terima dirinya yang sudah menjadi makhluk api selama ratusan tahun tak bisa melukai barang sedikit saja bocah yang masih bau kencur itu.
__ADS_1
Makhluk api pun menger4ng marah. Dirinya bahkan merubah wujudnya menjadi lebih besar lebih besar dan besar lagi. Sampai atap gubuk tua itu hancur. Panji yang sudah dekat dengan gubuk itu pun langsung berlari masuk, dan ketika dia melihat Pelita terduduk di depan makhluk api itu. Panji langsung mendekati Pelita dan menariknya berdiri.
Devano terkejut, kenapa Panji bisa menembus tameng transparan yang melindungi Pelita sedangkan dirinya tidak.
Namun melupakan semua itu, Panji langsung berteriak pada Devano agar Devano membawa Raja keluar dari gubuk yang nyaris akan tubuh karena atapnya sudah di jebol oleh makhluk api yang sekarang berukuran raksasa itu.
"Devano lari keluar!" teriak Panji yang menarik Pelita dan mengajaknya berlari keluar dari gubuk yang ternyata benar-benar tubuh ketika Panji berhasil menarik Pelita keluar.
Devano sedang berusaha menyeret Raka yang tak sadarkan diri. Ketika mata Devano melihat sesosok pemuda yang meminta bantuan, berteriak minta tolong. Dan di penglihatan Devano. Pemuda itu adalah Attar.
Namun sayang, karena gubuk itu hancur dan terbakar. Devano hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika, di depan matanya gedebong pisang itu hangus terbakar. Yang artinya, Attar pun pasti tidak akan bisa selamat.
"Manusia bodoh... kenapa begitu mudah terhasut bisikan set4n!" kesal Devano karena merasa Attar hanya korban dan tak tahu apapun.
Pekikan Devano itu di tujukan pada Raka yang belum sadarkan diri. Sementara makhluk api itu sudah terbang hendak menyerang Pelita lagi. Namun dengan cepat Pelita berdiri di depan Panji yang awalnya ingin melindunginya.
Dengan dua kali gerakan saja, makhluk api itu pun musnah. Tapi bertepatan dengan itu, Pelita juga langsung terjatuh lemas ke tanah. Panji yang memang berada cukup jauh darinya tak bisa menangkap tubuh adiknya itu meskipun dia sudah berlari dan menggusrukkan tubuhnya agar cepat sampai ke Pelita.
"Pelita!" pekik Panji panik.
Pelita jatuh ke tanah lumayan keras. Namun saat itu sekilas Devano melihat cahaya putih transparan keluar dari tubuh Pelita dan terbang ke.arah musnahnya makhluk api tersebut.
Gubuk di depan mereka terbakar sangat parah, untung saja gubuk itu tidak berada dekat dengan pepohonan atau tanaman lain. Jika tidak kebakaran itu pasti meluas dan menyambar benda lainnya.
Panji langsung mengangkat Pelita ke pangkuannya. Dan Devano hanya bisa terduduk lemas, karena yakin kalau Attar pasti tidak selamat. Dan tujuannya datang ke tempat ini sia-sia.
Sementara itu di kamar Attar, semua orang begitu terkejut melihat tubuh Attar yang memerah, setelah itu menghitam. Dan saat tuan Bowo mendekati Attar, dia sudah tak bisa merasakan hembusan nafas anaknya lagi. Tuan Bowo terduduk lemas di lantai. Jangan tanya seperti apa nyonya Santi, dia sudah berkali-kali pingsan, sadar dan pingsan lagi. Bahkan ketika melihat tubuh atas menghitam. Santi berteriak histeris sebelum kembali pingsan lagi.
Tuan Bowo menangis sejadi-jadinya. Penyesalan dalam hatinya sungguh berlipat-lipat ganda. Dia dulu begitu percaya pada Santi sampai tidak mencari lagi keberadaan Asmarani yang katanya lari dengan pria lain padahal sedang sakit dan menderita.
__ADS_1
Karena ulahnya anaknya sekarang jadi korban, bahkan anaknya yang satu lagi yang menjadi penyebab semuanya itu terjadi. Tuan Bowo benar-benar lemah tak berdaya.
Beberapa jam kemudian, Pelita pun sadar. Dia lalu melihat ke arah gubuk yang sudah menjadi abu itu.
Devano juga terus berusaha membuat Raka sadar, tapi tetap tidak bisa. Padahal dia masih merasakan detak jantung dan denyut nadi Raka.
"Pelita, kamu sudah sadar dek?" tanya Panji yang sudah sangat khawatir sejak tadi.
"Attar?" tanya Pelita ke arah Devano.
Devano tak bisa menjawab pertanyaan Pelita, Namun dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah sedih.
Pelita yang mengetahui apa maksud Devano pun matanya berkaca-kaca.
"Padahal dia tidak tahu apapun, tapi menjadi korban!" sesal Pelita.
Panji hanya bisa terdiam dan merangkul kedua pundak adiknya mencoba untuk menguatkan Pelita.
"Tapi Raka, kenapa dia tidak bangun?" tanya Devano.
Pelita menatap lirih ke arah Raka.
"Dia menjual jiwanya pada makhluk api itu, penderitaan Attar selama 98 hari, dia akan menanggungnya, dia akan merasakannya juga. Sebenarnya tidak ada kebaikan sama sekali dari yang namanya balas dendam!" lirih Pelita yang kasihan melihat Raka.
"Apa tidak ada cara menolongnya?" tanya Devano yang masih berharap mendapatkan apa yang dia inginkan dari tuan Bowo.
***
Bersambung...
__ADS_1