
Umbok membawa Serena pergi dari rumah susun tempat tinggal para makhluk yang masih belum bisa move on dari urusan dunia mereka.
Para makhluk yang memang belum menyelesaikan urusan dunia dan belum bisa move on memang tak bisa pergi ke alam atas. Atau alam dimana mereka bisa tenang nunggu hingga akhir jaman. Mereka masih akan luntang-lantung di dunia fana ini namun dengan dimensi yang berbeda dengan makhluk hidup nyata pada umumnya.
Awalnya mereka juga sama sekali tidak bisa menyentuh atau keluar mengganggu manusia. Namun justru karena keserakahan manusia sendiri dan keinginan mereka ingin sesuatu di luar nalar. Membuat batas antara dua dimensi tersebut terbuka dan makhluk dari dimensi lain bahkan bisa mengganggu manusia. Semua karena ulah beberapa oknum yang ingin kaya tapi tak mau kerja keras, atau ingin pintar tapi tidak mau belajar, ingin di cintai orang kaya hingga menggunakan segala jenis cara bahkan menyembah seharusnya yang tidak perlu di sembah. Mengagungkan benda-benda yang di anggap keramat, yang membuat makhluk dari dimensi lain yang memang bertinggal di benda-benda tersebut malah naik level dan kekuatannya bertambah seiring level mereka naik.
Tanpa para manusia itu sadari, semua itu adalah fana. Hanya sekejap mata saja, dan harga yang harus di bayar oleh mereka juga tidak mereka sangka-sangka.
Meski sudah banyak contoh dan bukti kalau tidak ada yang baik tentang semua hal itu. Keinginan manusia untuk hidup enak membuat mata mereka menjadi buta. Tak mau melihat contoh menyedihkan yang ada. Membuat telinga mereka menjadi tuli. Tak ingin mendengar nasehat dari para pemuka agama. Hingga membuat kita menyadari kalau memang benar, neraka itu bahan bakarnya memang dari manusia. Itu benar-benar mengerikan.
"Umbok, aku merasa dadaku sangat sesak. Apa aku akan musnah?" tanya Serena yang terluka cukup parah akibat cermin itu.
"Diam Serena, jangan banyak bicara. Kita akan menemui Mak Kondang!"
"Tapi... Umbok. Aku belum mau musnah sebelum menghabisi semua keturunan Mustaji. Dia sudah membuatku seperti ini" lirih Serena yang terlihat sangat kesakitan.
"Aku juga tidak akan membiarkanmu musnah, sebelum semua keturunan Mustaji lenyap!" kata Umbok yang terus membawa Serena terbang menuju sendang Kali Carang.
Tempat dimana markas Mak Kondang berada. Hanya makhluk berhati hitam dan jahat saja yang bisa menemukan markas Mak Kondang. Karena itu baik empu Yasa maupun Trio pengawal Pelita tak akan mampu menemukan markas kegelapan Mak Kondang.
Sementara itu Mak Kondang yang sudah merasakan firasat akan di temukan salah satu pusaka yang bisa membuat dirinya musnah mulai geram.
Dia meluluh lantakkan sebuah desa yang di huni orang-orang tidak beragama. Karena memang sangat mudah meluluh lantakkan desa yang seperti itu.
Membuat rumah-rumah terbakar, dan para penduduk desa berlarian ke sana kemari. Dalam penglihatan mereka hanya ada sebuah bola api yang berukuran tidak terlalu besar. Bahkan hanya sebesar bola sepak saja. Namun bola api terus terbang ke sana kemari membuat atap ilalang desa itu hancur berantakan.
"Hihihi... hihihi... meratap lah kalian, jadilah putus asa, dan saling membunuh lah kalian untuk bertahan hidup. Hihihi... hihihi!"
__ADS_1
Dengan mengamuk seperti itu, setidaknya Mak Kondang tidak akan melampiaskan kekesalannya pada anak buahnya. Kalau dia marah, dia bahkan akan membakar hangus pada pengikutnya.
Umbok dan Serena sudah tiba di sendang Kali Carang. Mereka menunggu Mak Kondang yang sedang tidak ada di sana.
Tangisan dan rintihan dari para mahkluk tangkapan anak buah Mak Kondang yang tak mau menjadi pasukannya membuat Serena malah semakin merasa kesakitan pada dirinya.
Umbok pun melakukan telepati pada Mak Kondang. Baru dia terpejam, bayangan hitam secepat kilat datang di hadapannya.
Kali ini dengan wujud raksasa hitam yang begitu mengerikan.
"Ternyata benar, gadis itu sudah mereka temukan. Jika tidak bagaimana pusaka itu ada pada mereka. Hah... aku sudah tidak sabar menunggu 2 tahun lagi. Gadis terakhir itu harus musnah di tanganku! hihihi... hihihi!"
"Tolong sembuhkan Serena tuanku, dendamnya belum terbalas!" kata umbok sambil melipat kedua tangannya di depan Mak Kondang.
Mata merah membara dan berkilat Mak Kondang lantas menatap ke arah Serena yang sudah sekarat.
Setelah berkata seperti itu Mak Kondang lantas pergi. Mata Serena membelalak sempurna.
"Ma... makan janin?" tanya Serena yang ketakutan.
Membayangkan nya saja sudah membuat Serena rasanya mau muntah. Apalagi benar-benar memakannya.
"Kamu sudah dengar kan. Sejarang ayo kita cari janin itu!" kata Umbok yang langsung membawa Serena terbang meninggalkan sendang Kali Carang.
Sementara Serena benar-benar tak habis pikir, setelah menggadaikan jiwa putihnya untuk balas dendam. Dia malah mengalami banyak hal yang menjijikan dan membuatnya berkali-kali harus merasa kesakitan.
Sementara itu kembali pada Pelita, gadis remaja itu baru saja terbangun dari tidurnya. Dia bangun dengan segar karena tidak mengalami mimpi buruk apapun.
__ADS_1
Baru ketika dia selesai membersihkan diri dan melihat ke arah cermin. Dia melihat seorang wanita hamil yang menjerit-jerit kesakitan sambil memegangi perutnya yang terlihat sudah besar.
Wanita berambut hitam panjang itu seperti tergeletak di tanah. Lantainya masih tanah. Dan wanita itu terlihat terus berteriak kesakitan. Sambil memanggil manggil nama Mas Untung.
Tak lama setelah wanita itu menjerit kesakitan, dia pun pingsan. Tapi yang membuat mata Pelita terbelalak dan mendekat ke arah cermin adalah. Wanita hamil itu perutnya langsung kempes. Seperti tidak ada lagi janin di dalam perutnya. Tapi anehnya tak ada darah sama sekali yang mengalir di kaki atau di bawah pakaian wanita itu.
"Astaghfirullah!"
Begitu kalimat itu di sebutkan oleh Pelita. Gambaran di cermin itu menghilang seketika.
Pelita lantas mengingat-ingat lagi, siapa orang di sekitarnya yang bernama Untung. Tapi Pelita tak bisa mengingatnya. Dia merasa tak ada orang dekat, saudara, atau warga di tempatnya tinggal yang bernama Untung.
Pelita pun memutuskan untuk keluar dari kamar karena dia memang sudah lapar. Ketika dia menuruni anak tangga, dia melihat Panji baru datang dari luar membawa bungkusan di tangannya.
"Apa itu bang?" tanya Pelita yang sudah sampai di anak tangga yang terakhir.
"Ini pangsit, mau? tuh mamangnya masih di depan. Pangsit mang Untung ini enak loh Pelita!" kata Panji.
Pelita langsung terdiam.
"Siapa nama penjual ya bang?" tanya Pelita memastikan dia tidak salah dengar.
"Mang Untung!" jawab Panji yang ikut terdiam melihat ekspresi wajah Pelita yang mulai horor lagi.
***
Bersambung...
__ADS_1