
Panji masih terus mengikuti langkah lambat wanita yang mengandeng anak berusia sekitar lima tahun itu. Jalannya sangat lamban, wajahnya juga pucat. Pelita bahkan mengira kalau wanita itu sakit.
Namun di sebuah gang kecil, wanita itu masuk ke dalam gang yang sangat kecil. Mungkin hanya bisa di lalui pejalan kaki saja. Panji dan Pelita akhirnya turun dari motor. Dan memarkirkan kendaraan Panji, di tepi jalan. Panji dan Pelita lanjut menyusul wanita itu dengan jalan kaki.
Mereka terus berjalan, sesekali wanita itu di sapa olah orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Dan wanita itu juga terlihat tersenyum sambil mengangguk. Sementara anak laki-laki umur lima tahun yang dia gandeng terlihat sudah mulai bosan. Anak itu lantas berjongkok.
"Ibu, aku capek!" kata si anak tadi.
Wanita tersebut langsung ikut berjongkok. Pelita dan Panji masih memperhatikannya dari jauh.
"Kan, tadi ibu sudah bilang. Akbar tunggu di rumah saja. Biar ibu yang beli buburnya!" kata wanita tersebut.
"Kenapa tidak di makan di sana saja?" tanya anaknya yang memang sepertinya sudah sangat lapar.
"Lalu kak Hana nanti sarapan apa? uang ibu kan hanya ada ini saja. Ibu mau beli beras kamu bilang mau bubur ayam, ibu mau masakkan bubur sendiri, kamu bilang kalau masak sendiri tidak ada ayam dan telurnya. Bapak kamu kan belum pulang dari ngojek. Ibu gak ada uang lagi!"' kata wanita tersebut.
Pelita langsung memeluk lengan kakaknya dengan erat. Dia benar-benar sedih mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu pada anaknya. Pelita bahkan yakin, kalau nanti sampai di rumah. Wanita itu juga tidak akan ikut makan makanan yang di beli itu. Pasti dia hanya melihat kedua anaknya makan sambil minum air putih sampai kenyang.
Pelita sampai berkaca-kaca. Dia begitu sedih melihat apa yang di depannya itu. Pelita yakin, bukan hanya wanita itu saja yang hidup dalam keadaan serba kekurangan. Bahkan pasti masih banyak di luaran sana yang bahkan tidak bisa makan dalam waktu tertentu karena memang keadaan mereka tidak memungkinkan.
Kehidupan memang sudah di atur sedemikian rupa, tapi Pelita masih tidak mengerti kenapa ada ketimpangan seperti ini. Di saat ada manusia yang membuang-buang makanan mereka hanya karena tidak sesuai selera atau kurang memasaknya lima menit saja, atau bahkan over cook satu menit. Banyak orang kaya yang seperti itu, mereka lebih memilih membuang makanan itu daripada memberikannya pada orang yang bahkan seumur hidup tidak pernah makan makanan seperti itu.
Tapi di kehidupan si miskin, satu butir nasi pun sangat berharga. Pelita begitu sedih, kenapa bisa terjadi ketimpangan kehidupan seperti itu.
Panji yang melihat adiknya menangis pun mengusap kepala Pelita dengan perlahan. Karena wanita dan anaknya itu sudah kembali berjalan, Pelita pun menyeka air matanya dan mengajak Panji kembali mengikuti mereka.
Sampai di dekat sebuah perlintasan kereta api. Wanita tersebut terlihat semakin lambat berjalan, mungkin saja dia memang belum makan. Karena tadi dia bilang baru mau beli beras tapi anaknya malah minta bubur ayam. Kemungkinan wanita itu memang belum makan. Wajahnya pucat, jalannya jugal lambat.
Ketika dia akan menyebrangi rel, anaknya terlebih dulu berlari karena melihat seekor kucing hitam melintas di depannya. Dan mengeong tepat di depan anaknya itu. Anaknya langsung melepaskan tangan ibunya dan berlari mengejar kucing itu.
"Akbar, jangan lari. Itu ada kereta nak. Tunggu dulu keretanya lewat!" teriak wanita itu sambil tersengal-sengal. Sepertinya dia memang sangat lemas.
__ADS_1
Namun bukannya anak itu berhenti mendengarkan seruan sang ibu. Anak bernama Akbar itu malah semakin kencang berlari.
Wanita itu terlihat sangat takut kalau anaknya berlari tak melihat ke arah kereta yang sudah terlihat mendekat dan semakin mendekat itu. Wanita kemudian berusaha berlari menyusul anaknya.
Wanita itu berusaha keras berlari meski sepertinya dia benar-benar lemah. Dengan segenap tenaga yang dia miliki, dia terus berusaha mendekati putranya yang tak mau dengar seruan darinya itu.
"Akbar!"
Panggil wanita itu, tapi tiba-tiba saja,
Brukk
Wanita itu malah terjatuh tepat di tengah rel kereta, kakinya seperti keseleo dan dia sangat kesulitan untuk bangun.
Pelita yang melihat kereta sudah semakin mendekat lantas berlari ke arah wanita tersebut.
Panji begitu terkejut melihat adiknya malah lari ke arah rel. Padahal keretanya sudah dekat dengan posisi wanita itu berada.
Sambil terus berlari Pelita pun menggumamkan doa pada sanga maha pencipta.
"Ku serahkan keselamatan ku padamu ya Allah! Allahuakbar!"
Ucap Pelita yang merasa kalau mungkin dirinya tak akan selamat. Karena dia bahkan belum sampai pada wanita itu ketika kereta itu sudah berada tak jauh darinya.
Brakk
"Astaghfirullah Pelita!" pekik Panji yang juga berlari mendekat ke arah Pelita.
Panji langsung berlari ke arah Pelita yang terjatuh bersama dengan wanita itu. Kereta api terus melaju, dengan kecepatan yang semakin berkurang sepertinya. Karena masinis tadi juga berusaha menghentikan laju kereta setelah melihat ada seorang wanita terduduk di tengah rel.
Namun laju kereta api terlihat semakin cepat ketika tahu wanita itu sudah di selamatkan. Yah, wanita itu berhasil di selamatkan oleh Pelita.
__ADS_1
"Ya Allah, ya Allah... aku masih hidup?" gumam wanita itu tak percaya.
Dia bahkan menyentuh tangan dan kakinya, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau dirinya masih hidup.
Wanita itu begitu shock, itu terlihat dari tatapan matanya yang kosong beberapa saat, hingga kemudian wanita itu melihat ke arah Pelita.
"Ya Allah dek, terimakasih banyak. Kamu yang menolong saya. Terimakasih, ya Allah... Akbar... Akbar!"
Wanita itu sempat mengucapkan terimakasih beberapa kali pada Pelita. Sampai dia kembali tersadar kalau anaknya saat ini tidak ada di dekatnya.
"Akbar!"
Seru wanita itu yang berusaha berdiri. Dia juga melihat bubur ayam yang terjatuh berantakan di sebelahnya. Air matanya mengalir.
"Ya Allah, ini bubur ayam untuk Akbar...!"
Pelita yang masih shock dan terdiam pun langsung berusaha berdiri. Dia kemudian melihat ke arah seberang rel. Saat kereta itu sudah lewat seluruhnya.
Pelita melihat anak ibu itu menangis terisak dengan beberapa orang yang ada di sana. Begitu kereta lewat, beberapa orang langsung menghampiri wanita itu sambil mengajak anaknya ke wanita itu.
"Teh Murni, teh Murni teh teu naon naon. Masyaallah teh, kumaha bisa begini?"
Salah seorang warga terlihat khawatir dan memeriksa kondisi wanita itu yang ternyata namanya Murni.
"Akbar!"
Murni tak perduli dengan pertanyaan semua orang. Dia hanya fokus pada anaknya dan langsung memeluk Akbar dengan posisinya yang masih terduduk lemah di tanah.
***
Bersambung...
__ADS_1