
Pelita tidak menjawab pertanyaan Devano, karena sesungguhnya dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan Devano itu.
Devano lantas berdiri karena Pelita tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Pasti ada kan Pelita, kamu bilang seharusnya yang kita selamatkan itu memang bukan Attar kan? kamu yang bilang kan?" tanya Devano yang sepertinya tidak puas dengan hasil usaha dirinya sendiri dan juga Pelita.
Pelita terdiam, karena dia memang menyadari hal itu setelah mengalami banyak hal. Setelah penglihatannya tentang gubuk tua ini dan apa yang dilakukan Raka.
"Pelita!" pekik Devano.
Panji yang ada di dekat Pelita langsung berdiri dan menghadang Devano yang ingin maju mendekati Pelita.
"Kita sudah berusaha, kita bukan pahlawan atau superhero Devano. Kita manusia biasa, Pelita sudah melakukan apa yang dia bisa, kamu juga! hasilnya seperti apa, kita harus bisa menerimanya!" ujar Panji yang melihat kekecewaan di mata Devano.
Devano langsung berbalik dan mengacak rambutnya kasar.
"Kalian tidak tahu betapa aku membutuhkan cermin itu...!" gumam Devano.
Namun apa yang di gumamkan Devano itu, yang bahkan tidak bisa di dengar oleh Panji. Dapat di dengar oleh Pelita. Karena sejak mata batinnya terbuka pendengarannya memang lebih tajam.
'Jadi benar kata Carolina, Devano memang inginkan cermin itu juga. Aku harus apa sekarang?' tanya pelita dalam hatinya.
Namun ketika Pelita masih kebingungan dia harus apa. Tiba-tiba dia melihat bayangan putih masuk ke dalam tubuh Raka. Devano kala itu sedang berdiri membelakangi Raka. Jadi dia tidak menyadarinya.
Pelita langsung menjauh dari kakaknya dan Devano, lalu mencoba berkomunikasi dengan Carolina lewat batinnya.
'Carolina'
'Aku melihatnya Pelita, itu jiwa Raka yang di selamatkan oleh empu Yasa. Leluhur mu! jangan katakan itu pada Devano. Aku yakin kali ini Devano akan langsung pergi. Setelah itu kamu bawa Raka ke tuan Bowo, minta dia untuk bertaubat!'
Mata Pelita langsung terbuka. Dia langsung kembali berjalan ke dekat Panji.
"Bang, kita bawa Raka pergi dari sini!" ajak Pelita.
"Devano, ayo!"
Devano yang terlanjur kesal pun malah mendengus.
"Huh, kalian saja sendiri. Aku mau pergi saja. Percuma berada di sini!" kata Devano yang langsung pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Pelita terdiam, dia tidak menyangka Devano akan pergi. Apa benar yang dikatakan Carolina kalau memang Devano itu punya niat lain.
"Devano, ada apa denganmu? kita pergi bersama, pulang juga bersama!" kata Panji yang masih berusaha untuk menjelaskan keadaan pada Devano.
"Kalian tidak tahu, aku ini membutuhkan sesuatu dari tuan Bowo. Aku sangat butuh benda itu. Aku harus cari cara lain. Kalau kalian masih mau mengurus manusia bodoh ini. Kalian urus saja! aku akan pergi! benar-benar hanya buang-buang waktu!" keluh Devano yang langsung meninggalkan Panji dan Pelita.
Ketika Panji masih berusaha untuk menahan Devano. Pelita menahan lengan kakaknya itu.
"Bang, biarkan!" kata Pelita pelan.
"Tapi Pelita, Devano biasanya tidak seperti itu. Bisa bahaya kalau dia mengendarai motor dalam keadaan marah begitu?" tanya Panji pada Pelita karena mencemaskan Devano sahabatnya.
"Dia akan baik-baik saja. Sekarang kita harus bawa Raka ke tuan Bowo!" kata Pelita.
Mendengar apa yang dikatakan Pelita. Panji jadi bingung. Jiwanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi kan, lantas untuk apa membawa Raka pada tuan Bowo.
"Kamu bilang jiwanya sudah tergadai pada makhluk api...!"
"Itu benar, tapi kita harus membawanya kepada tuan Bowo. Sebenarnya tadi aku sempat melihat ada cahaya putih masuk ke dalam tubuh Raka, aku yakin jiwanya telah kembali. Ayo bang!" kata Pelita.
Panji tertegun.
"Devano punya maksud lain mengikuti kita. Dan maksudnya itu tidak sama dengan tujuanku. Abang bisa mengerti kan?" tanya Pelita yang tidak bisa mengatakan maksud Devano sesungguhnya.
Panji lalu mengangguk paham. Dia memang seharusnya lebih percaya pada Pelita daripada Devano. Panji dan Pelita lantas membawa Raka ke rumah tuan Bowo.
Begitu sampai di sana, mereka pun menghela nafas sedih karena sudah ada bendera kuning di depan rumah tuan Bowo. Mereka tahu, Attar memang tidak akan selamat.
"Permisi pak!" kata Panji pada penjaga rumah tuan Bowo.
Melihat Panji dan Pelita, penjaga rumah itu langsung terlihat terkejut.
"Kalian! kalian darimana saja. Tuan Attar dan nyonya Santi meninggal!" kata penjaga rumah itu.
Sekarang giliran Panji dan Pelita uang terkejut.
"Nyonya Santi?" tanya Pelita tak percaya.
Masalahnya mereka tak menduga kalau Santi juga akan meninggal.
__ADS_1
"Iya, begitu tahu tuan Attar meninggal, nyonya Santi langsung histeris, seperti orang stress dia langsung mengamuk bahkan menggor0k lehernya sendiri...!"
"Innalilahi wa innailaihi raji'un!" ucap Pelita dan Panji bersamaan.
Tapi pandangan penjaga rumah itu langsung tertuju pada Raka.
"Tuan ini, ini kan yang waktu itu...!"
"Iya pak, bisa bantu kami membawanya pada tuan Bowo?" tanya Pelita.
Penjaga rumah itu langsung mengangguk, dia memanggil salah seorang temannya. Lalu membawa Raka masuk ke dalam rumah. Di pintu masuk samping, bukan lewat pintu utama di mana jenasah Attar dan Santi masih di semayamkan di sana.
Pelita dan Panji pun mengikuti penjaga rumah itu. Lalu mereka menunggu penjaga rumah itu memanggil tuan Bowo.
"Kalian!" seru tuan Bowo yang terkejut melihat Panji dan Pelita.
"Kenapa kalian pergi, Attar...!" tuan Bowo tampak sangat sedih.
"Kami sudah berusaha tuan, tapi kami tidak bisa menyelamatkan Attar. Maaf tuan!" kata Pelita dengan mata yang berkaca-kaca.
Pelita sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi. Seperti kata Panji tadi, mereka memang hanya manusia biasa. Bukan pahlawan atau superhero.
"Itu...!" kata tuan Bowo dengan mata berkaca-kaca.
"Ini Raka tuan!" kata Panji.
"Raka...!" tuan Bowo langsung mendekat ke arah Raka.
Tuan Bowo menatap anaknya yang sudah puluhan tahun tidak pernah dia lihat dan temui. Tuan Bowo menyentuh kepala dan wajah Raka. Air matanya pun berlinang.
"Raka memang salah tuan, tapi dia melakukannya demi ibunya. Saat dia bangun, dia pasti akan sangat menyesali semua perbuatannya. Jika kalian saling memaafkan, dia pasti akan bertaubat tuan!" ujar Pelita.
Panji terus terang saja sampai bengong mendengar adiknya bicara seperti itu. Sambil menangis tuan Bowo memeluk Raka yang masih pingsan. Semua ini memang tak lepas dari salahnya juga yang terlalu percaya pada Santi. Tuan Bowo mengangguk paham.
Setelah pemakaman Attar dan Santi. Raka pun siuman. Dan momen haru pertemuan ayah dan anak pun terjadi. Pelita sudah menjelaskan semuanya pada Raka. Raka terlihat menangis dan menyesali semua perbuatannya. Tuan Bowo pun memaafkan Raka dan mereka juga saling memaafkan.
Tuan Bowo lantas bertanya apa yang di inginkan Pelita dan Panji. Pelita lalu berkata jujur, dia membutuhkan sebuah cermin yang konon katanya di miliki secara turun temurun oleh keluarga tuan Bowo.
***
__ADS_1
Bersambung...