
Bugh
"Aghkkkk!"
Pekik Pelita yang terpental jatuh ketika dia ingin melangkah maju ke depan. Pelita membuka mulutnya ingin berteriak pada arwah Tia agar berhenti melakukan hal itu.
Namun suaranya mendadak menghilang, Pelita mencoba untuk bangun lagi, mencoba untuk berdiri dan maju lagi untuk menghampiri Boy ataupun arwah Tia. Namun keanehan yang sama terjadi, Pelita kembali terpental seperti sebuah ada dinding yang menahannya agar tidak mendekat ke arah mereka.
Pelita mengusap lengannya yang sakit karena benturan ke lantai.
'Tubuhku sakit, ini mpi atau apa?' tanya Pelita dalam hatinya kebingungan.
Pelita melihat arwah Tia terus menerus menoleh ke arah kirinya. Tapi ketika Pelita melihat ke arah di mana arwah Tia terus menoleh seperti mendengarkan seseorang. Pelita tak menemukan siapapun atau apapun di sana.
Pelita menggelengkan kepalanya, karena jika tetap seperti ini maka Boy pun tidak akan selamat. Pelita tidak mau sampai terjadi seperti ibunya Arman, ataupun kejadian seperti meninggalkan Tia. Pelita tahu itu akan terjadi, namun tak bisa berbuat apapun.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya. Pelita berdiri kembali, bergerak mundur ke arah belakang. Dan siap mengambil ancang-ancang untuk menerobos dinding transparan yang sejak tadi menghalanginya untuk bisa menolong Boy.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Pekik Pelita yang langsung berlari ke arah dinding pembatas transparan itu.
Buggghh
"Aughk!"
Pelita membuka matanya, dan saat ini dia sedang berada di lantai. Saat Pelita melihat ke arah sekelilingnya. Dia menyadari kalau ini adalah kamarnya. Dia terjatuh dari atas tempat tidur.
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka setelah sebelumnya terdengar seperti ada suara orang berlari.
"Dek...!"
Panji langsung berlari menghampiri Pelita yang tengah terduduk sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit.
"Kamu kenapa?" tanya Panji yang langsung membantu Pelita bangun berdiri dan menuntun adiknya itu untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu jatuh?" tanya Panji lagi.
__ADS_1
Pelita masih bingung, itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Pelita bahkan berkali-kali melihat ke arah sekelilingnya.
"Bang... aku tadi mimpi. Tapi bukan seperti mimpi!"
Panji langsung bengong, dia sebenarnya sudah menangkap beberapa keanehan dari adiknya itu sejak sadar dari komanya selama tujuh hari setelah mereka mengalami kecelakaan tempo hari. Panji merasa sangat kasihan pada Pelita. Adiknya itu seperti seorang yang kebingungan, dan suka terjadi hal-hal aneh yang tak masuk akal sehat.
Panji langsung memeluk Pelita dan mengusap lembut kepala adiknya itu beberapa kali untuk menenangkan Pelita.
"Tidak apa-apa Pelita, itu pasti hanya mimpi. Kamu jangan terlalu....!"
"Boy meninggal bang, di cekik arwahnya Tia!"
Ucapan Pelita yang menyela ucapan Panji itu tidak hanya membuat Panji berhenti mengusap lembut kepala Tia. Tapi juga membuat Panji seketika merinding mendengar apa yang baru saja adiknya katakan itu.
"Boy..?"
"Iya bang, malam ini... jam...!" Pelita lalu melihat ke arah jam di dinding kamarnya.
Pelita ingat dia juga melihat jam di dinding kamar rumah sakit dimana Boy di rawat. Di sebelah arwah Tia, ada jam dinding di sana. Dan Pelita melihat waktu di jam itu adalah pukul 1.15 dini hari.
"Sekarang...!" lirih Pelita yang melihat jam di dinding kamarnya juga menunjukkan waktu yang sama.
Pelita mengusap wajahnya dengan kasar, Pelita menangis. Lagi-lagi dia tidak bisa menyelamatkan irang yang ada di vision-nya.
Dan di saat Panji bersama kedua orang tuanya ke kamar Pelita. Pelita masih menangis bahkan duduk di lantai sambil bersandar pada sisi tempat tidurnya.
"Sayang!"
Anisa langsung berlari menghampiri Pelita.
"Sayang, ada apa?" tanya Anisa yang memang belum mendapatkan penjelasan dari Panji.
Karena Panji panik, dan hanya bilang pada orang tuanya saat membangunkan mereka, kalau Pelita menangis dan tidak mau diam meskipun Panji sudah membujuknya.
"Pelita sayang, ini mama... katakan ada apa nak!"
Pelita kemudian menoleh ke arah sang mama. Dan langsung memeluk mamanya dengan erat.
"Ada yang meninggal lagi ma, tapi Pelita tidak bisa berbuat apa-apa!" lirih Pelita.
__ADS_1
Anisa, Tommy dan Panji langsung saling pandang. Anisa lalu menepuk punggung Pelita dengan pelan.
"Itu sudah takdir nak, jangan terlalu di pikirkan. Itu sudah takdir mereka!"
Ujar Tommy yang juga mengelus lembut kepala anak bungsunya yang sepertinya sangat sedih bercampur ketakutan. Tommy bisa melihat tangan Pelita gemetaran, dan nada suaranya begitu pilu.
Tommy dan Anisa merasa sudah tidak bisa menunggu lagi untuk pergi ke rumah sepupu Tommy yang bernama Usman.
Tadinya, Tommy berencana akan pergi sore hari setelah pulang kerja. Tapi sepertinya sudah tak bisa di tunda. Selepas subuh, Tommy akhirnya pergi menuju ke rumah ustadz Usman.
Sementara Pelita masih tidur di pelukan Anisa. Panji juga tidak meninggalkan kamar adiknya. Sampai suara ponsel Panji berdering.
Ketika Panji melihat ke layar ponselnya. Ternyata yang menghubungi Panji adalah salah satu petugas polisi yang menangani kasus Boy dan Tia.
Karena Pelita dan mamanya masih tidur. Panji pun keluar dari kamar Pelita untuk menerima panggilan telepon.
"Selamat pagi pak!"
Panji menyapa sambil menutup pintu kamar Pelita.
"Selamat pagi, kami dari kantor polisi. Kami ingin menyampaikan kalau saksi kunci atas nama Boy, telah meninggal dunia semalam pukul 01.15 dini hari. Kami minta saudara Panji untuk ke kantor polisi hari ini kam sembilan pagi. Karena kasus ini kemungkinan akan di tutup!"
Seperti itulah yang di sampaikan salah satu petugas polisi itu. Panji cukup tercengang dengan apa yang dia dengar.
"Baik pak, nanti saya akan ke kantor polisi!" kata Panji.
Dan panggilan telepon itu pun terputus. Panji langsung terdiam. Dia melihat ke arah pintu kamar Pelita yang tertutup.
"Bagaimana bisa seperti ini, bagaimana bisa Pelita... !"
Panji menjeda apa yang sedang dia gumam kan. Dirinya terlalu terkejut ketika mengetahui waktu yang di sampaikan Pelita mengenai kapan Boy meninggal. Bisa sama persis dengan apa yang di katakan oleh petugas polisi yang barusan menghubunginya.
Panji mengusap wajahnya kasar, karena dia mengingat lagi apa yang adiknya katakan padanya tentang tiga pemuda yang katanya berjalan menunduk dan kelihatan aneh.
Panji ingat ketiga pemuda itulah yang katanya tenggelam di sungai. Lalu yang kedua, Panji ingat dia mendengar Pelita berteriak dan ketika Panji menghampirinya, adiknya bilang melihat ibunya Arman gantung diri. Dan itu pun terjadi, lalu yang terakhir adalah tentang Boy yang meninggal pada jam 01.15 dini hari.
Panji langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak.. ini pasti kebetulan. Bagaimana bisa seseorang meninggal di cekik arwah?" gumam Panji yang saat ini benar-benar kebingungan.
__ADS_1
***
Bersambung...