Pelita

Pelita
Bab 32


__ADS_3

Tuan Bowo masih tetap menunggu Pelita sadar. Tuan Bowo berharap Attar masih bisa selamat. Dirinya ingin bertanya pada Pelita dimana gubuk tua tepat Raka tinggal. Dia akan meminta maaf pada Raka dan mengunjungi kuburan Asmarani.


Dia akan memberikan apapun pada Raka, asal dia melepaskan separuh jiwa Attar. Devano dan Panji juga masih di sana, hari pun sudah menjelang malam. Dan Pelita tak kunjung sadarkan diri.


Panji yang tidak tahu kalau Pelita pingsan akibat ulah Devano masih terus bertanya pada Devano, karena meskipun Panji tidak tahu, tapi dia curiga pada Devano. Pasalnya sejak Pelita keluar dari kamar Attar tadi. Panji sempat melihat Devano mulutnya komat-kamit menghadap ke arah punggung belakang Pelita.


"Ini bukan ulah kamu kan?" tanya Panji berbisik pada Devano.


Mendengar pertanyaan yang menyiratkan kecurigaan Panji. Devano lekas menggelengkan kepalanya.


"Ulah apa? aku tidak tahu apa-apa!" kilah Devano.


Panji tak lantas bicara, dia langsung memicingkan mata ke arah Devano.


"Kalau ini ulahmu, dan adikku kenapa-napa. Aku akan mengajakmu duel nanti!" ucap tegas Panji.


"Duel ya duel saja, paling kamu yang kalah!" sahut Devano membuat Panji menatap sahabatnya itu kesal.


Saat mereka sedang saling pandang dengan kesal, tiba-tiba saja Santi keluar lagi dari kamar Attar. Dan kali ini dia berteriak histeris.


"Mas, mas Bowo. Attar mas... tolong cepat!" teriak Santi histeris sambil menarik lengan suaminya itu.


Tuan Bowo yang terkejut lantas berdiri dari duduknya dan langsung mengikuti langkah Santi. Devano pun mengikuti langkah tuan Bowo dan yang lain. Hanya Panji yang masih berada di ruangan itu untuk menjaga Pelita yang tak sadarkan diri.


Begitu masuk ke dalam kamar, kembali mata semua orang di buat takjub, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Attar melayang kurang lebih dua meter di atas tempat tidurnya. Dengan kepala, tangan dan kaki yang terkulai. Hanya punggungnya saja yang terlihat datar. Tak bisa di bayangkan, apa jadinya Attar kalau sampai dia terjatuh dari ketinggian itu ke lantai. Setidaknya pasti akan terluka cukup parah dengan posisi kepala seperti itu.


Santi menangis histeris sampai terduduk di lantai. Dan tuan Bowo juga sama, dia bahkan menyebutkan nama Raka dan Asmarani dan berkali-kali pula meminta ampun, meminta maaf pada kedua orang yang telah dia sakiti itu.


Sementara di luar kamar Attar, Pelita terlihat sangat gelisah dalam ketidaksadaran nya. Panji berusaha membaca kalimat doa apapun yang dia bisa dan berusaha memegang telapak tangan Pelita sambil terus mengucap doa yang dia bisa.


Dan di alam bawah sadarnya, Pelita seperti berjalan di sebuah jembatan kayu. Di bawahnya adalah sebuah sungai yang aliran airnya sangat deras. Ada dua pohon beringin besar di sisi kanan dan kiri ujung jembatan itu.


Setelah melewati jembatan, dan sampai di ujungnya. Pelita melihat sebuah gubuk yang terlihat sangat terang.

__ADS_1


Sepertinya bukan karena lilin atau lampu. Karena cahayanya begitu terang seperti api unggun.


Tapi kalau itu api unggun, kenapa gubuk itu tidak terbakar.


Pelita pun bergegas ke arah gubuk itu karena sangat penasaran.


Begitu Pelita mendekat, pintu gubuk tua itu terbuka. Dari sana Pelita bisa melihat kalau gubuk itu lah, gubuk tua yang muncul di penglihatannya beberapa saat lalu. Bagian dalamnya sangat sama persis. Bunga, dupa, dan beberapa alat-alat yang persis sama seperti saat nenek tua dan Asmarani menggendong seorang bayi ke dalam sana.


Dan begitu Pelita melihat asal cahaya terang itu, Pelita sampai mundur ke belakang. Begitu melihat sosok seorang pemuda yang terbakar, namun tidak terbakar.


Jadi tubuh pemuda itu di kerubuti api, namun dia tidak terbakar. Dan di depannya ada sebuah gedebong pisang berukuran kurang lebih setengah meter. Dengan foto Attar yang ukurannya cukup besar. Dan di gedebong pisang itu meleleh cairan merah yang sudah agak mengering.


Pelita langsung menutup mulutnya karena merasa mual dan pusing. Begitu dia seperti mau pingsan, kedua matanya terbuka.


Dan begitu Pelita membuka matanya.


"Pelita, akhirnya kamu sadar dek. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Panji panik.


Begitu Pelita mendengar suara Panji, Pelita langsung mencari keberadaan kakaknya itu. Pelita memposisikan dirinya yang tadinya berbaring di sofa, lantas duduk.


"Bang, bukan Attar yang harus kita selamatkan. Ayo bang...!" ajak Pelita yang menggandeng tangan kakaknya dan menariknya.


Panji yang di tarik oleh Pelita akhirnya mengikuti lari Pelita menuju keluar. Devano yang ada di dalam kamar merasakan intensitas Pelita menjauh darinya, Devano pun keluar dari ruangan itu dan berarti mengejar Panji dan Pelita.


"Panji, Pelita kalian mau kemana?" tanya Devano.


"Ayo cepat!" teriak Pelita pada Devano.


Panji dan Pelita kemudian berlari ke arah motornya terparkir. Pelita mengajak Panji untuk naik motor ke suatu tempat yang arahnya terlihat dari cahaya yang hanya bisa di lihat oleh Pelita. Sementara Devano mengikutinya dari belakang.


"Cepat bang!" kata Pelita.


Panji yang merasa sedikit aneh karena biasanya adiknya itu tak mau di ajak mengebut. Tapi kali ini Panji benar-benar melajukan motornya dengan kecepatan di atas 80km/jam.


Ketika ada di dekat sebuah hutan, Pelita memukul pundak Panji agar abangnya itu menghentikan motornya.

__ADS_1


"Stop, stop bang!"


Ketika Panji sudah mematikan mesin motornya. Pelita bergegas turun dan berlari masuk ke dalam hutan.


Panji yang mencemaskan Pelita juga langsung berlari mengikuti adiknya yang bukannya jalan masuk hutan tapi malah berlari dengan sangat cepat.


Pelita sudah berlari cukup jauh ke dalam hutan. Dan akhirnya, dia melihat jembatan yang dia lihat dalam vision-nya tadi.


Pelita menyebrangi jembatan itu dengan tetap berlari, matanya mengarah pada dua buah beringin besar. Pelita semakin yakin dengan apa yang dia pikirkan. Hingga saat Pelita tiba di depan sebua gubuk tua.


Dengan cepat Pelita berlari ke arah gubuk tersebut dan membuka pintunya dengan paksa.


"Raka hentikan!" pekik Pelita dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan berlari.


Mendadak api dalam tubuh raja menghilang. Gedebong pisang itu juga terjatuh di depannya.


Brukk


Dan begitu gedebong pisang itu terjatuh, di tempat lain. Attar pun terjatuh ke lantai. Untung saja saat itu tuan Bowo melihatnya dan meminta anak buahnya cepat mendorong tempat tidur ke arah Attar terjatuh. Hingga Attar jatuh ke atas tempat tidur.


Kembali lagi pada Pelita, yang masih berada di gubuk tua.


Raka menoleh ke arah Pelita dengan mata merah karena amarah. Raka tidak suka, apa yang dia lakukan ada yang mengganggunya.


"Pergi dari sini, atau mati!" pekik Raka dengan suara serak dan berat.


"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!"


Tiba-tiba saja, setelah Pelita membaca kalimat takbir sebanyak tiga kali. Sosok api dengan dua tanduk menyala dan tubuh berbentuk seperti angin beliung yang berputar tanpa kaki dan tangan, hanya mata dan mulutnya seperti lubang hitam keluar dari atas kepala Raka.


Begitu makhluk itu keluar, Raka pun jatuh pingsan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2