
Jem dan Carolina mencari di mana keberadaan gerombolan anak motor itu. Rasanya sedikit tidak nyaman berada di tempat itu. Di sebuah gudang, di dekat sebuah jembatan yang isinya adalah para makhluk tak kasat mata dengan sosok menakutkan.
Tak ada satupun makhluk yang lengkap di sana. Ada yang kepalanya hilang, tangannya hanya tinggal sebelah, kakinya hanya sebatas lutut, bahkan tidak ada dua-duanya. Bahkan ada beberapa lagi sosok yang wajahnya bahkan hanya terlihat setengahnya saja. Dengan penampakannya sebelah wajah lagi yang begitu mengerikan, seperti terbakar atau bahkan seperti tergilas sesuatu. Benar-benar membuat kepala Jem dan Carolina pusing melihat semua penampakan itu.
"Mereka tidak sadar, mereka sengaja di bawa kemari. Sungguh kasihan!" kata Carolina.
"Untuk apa kasihan, mereka yang berada di tempat ini jelas-jelas manusia-manusia yang tidak bisa di peringati oleh orang yang sayang terhadap mereka. Aku masih kesal pada gadis itu, bisa-bisanya dia sampai mendorong ibunya. Padahal ibunya sudah susah payah melahirkannya, merawatnya dari kecil sampai besar bahkan menghidupinya sampai saat ini. Benar-benar menyebalkan!" kata Jem bersungut-sungut.
"Mau bagaimana lagi, bisikan pasukan hitam Mak Kondang membuatnya terbuai dengan cinta kekasih berandal nya itu. Sekarang kita harus apa?" tanya Carolina pada Jem.
"Kamu bisikan ke wanita itu agar pergi dari tempat ini, nyawanya benar-benar dalam bahaya!" kata Jem.
Apa yang dikatakan oleh Jem itu bukannya tanpa alasan, dia jelas melihat di sana para pemuda berandalan itu sedang meminum minuman keras. Setelah mereka meminum minuman keras sebanyak itu mereka pasti mabuk, dan entah apa yang terjadi selanjutnya jika wanita tersebut berada di tempat itu. Sedangkan yang wanita di tempat itu memang hanya dia seorang diri.
Dengan pakaian yang jelas akan mengundang kejahatan terjadi pada dirinya sendiri. Kaos tanpa lengan. Dan celana panjang yang begitu ngepress di kaki jenjangnya. Awalnya dia memang tadi memakai jaket, Namun karena tempat ini memang sedikit panas udaranya, wanita tersebut melepaskan jaketnya.
"Seharusnya dia mendengarkan ibunya, firasatku sudah tidak baik. Mana di sekitar tempat ini tidak ada orang melintas!" keluh Carolina namun tetap terbang ke arah wanita yang sedang duduk di samping pacarnya itu.
Tempat itu memang jarang sekali dilalui oleh orang lain. Karena tempatnya memang sudah seperti tempat yang sangat lama ditinggalkan. Bahkan rumput dan semak belukar yang tumbuh di sana pun sudah sangat tinggi. Dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja karena jalannya cukup sempit menuju ke tempat itu.
"Boy, jangan minum lagi. Kalau kamu mabuk, siapa yang mengantarkan aku pulang?" tanya wanita itu pada kekasihnya yang bernama Boy.
"Kenapa cemas Tia, kan ada Abang!" sahut seorang pria yang sepertinya sudah sangat mabuk.
Pria itu bahkan mendekati Tia yang terus menggenggam erat lengan Boy, karena tatapan pria itu begitu mengerikan. Sepertinya seekor serigala yang sedang lapar.
Lidahnya bahkan dia gerakkan seperti melihat makan makanan yang begitu lezat.
"Boy, kalau di lihat lagi. Cantik juga pacarmu ini!" kata pria itu.
"Bang, jangan aneh-aneh bang. Dia masih SMA. Aku saja belum pernah menyentuhnya. Tolong lah bang, jangan ganggu Tia!" kata Boy.
Tia yang mengerti maksud dari pria itu langsung memakai jaketnya kembali dengan terburu-buru.
__ADS_1
Carolina yang sudah tiba di dekat Tia, segera berbisik pada Tia.
'Lari.... cepat lari...!'
Carolina membisikkan hal tersebut dengan sangat cepat berkali-kali. Tapi tangan Tia tetap saja memegang erat lengan Boy. Tia begitu percaya kalau Boy mampu menyelamatkannya dari para pemuda berandalan yang bahkan bukan hanya satu orang saja yang mendekatinya. Namun saat ini sudah tiga orang yang mabuk yang mendekati Tia.
Boy lantas berdiri, dan meminta para pemuda berandal itu menjauh.
'Lari Tia... lari...!'
Carolina masih terus berbisik, namun Tia masih diam di tempat itu. Tia pernah mendengar Boy mengatakan kalau dirinya mampu melawan sepuluh anak motor lain sekaligus. Karena itu Tia jatuh hati pada Boy, dan Tia begitu percaya kalau hanya tiga orang saja, Boy pasti bisa mengatasinya.
Carolina yang sudah berkali-kali membisiki Tia agar lari tapi tak juga di dengar oleh Tia akhirnya melihat ke arah Jem.
"Bagaimana ini?" tanya Carolina.
"Kamu terus suruh dia lari, aku akan ke tempat Pelita!" kata Jem yang langsung menghilang.
Sementara itu tiga orang itu malah semakin kesal karena Boy melarangnya menyentuh Tia.
Tia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia merasa ada yang berkata padanya. Namun karena dia tidak melihat orangnya. Tia pun tak menghiraukan bisikan Carolina.
"Oh ayolah, bagaimana ini?" kata Carolina yang mulai bingung.
'Tia lari, atau kamu akan menyesal. Lari dari sini sekarang!'
Carolina masih terus membisikkan hal itu pada Tia.
Namun tiba-tiba muncul sosok hitam dengan rambut panjang dan baju terkoyak muncul dengan melayang di depan Carolina.
"Jangan ganggu dia, dia akan ku jadikan temanku ha ha ha !"
Makhluk dengan rambut panjang dan baju terkoyak itu memperingatkan Carolina.
__ADS_1
"Hei, makhluk rombeng...!"
"Apa katamu?" tanya makhluk itu menyela ucapan Carolina dengan mata merah menyala.
"Kamu dan di beda alam, kalau mau sengsara gak usah ajak ajak orang kenapa sih?" tanya Carolina kesal.
"Ha ha ha, aku tidak perduli. Harus ada yang merasakan apa yang aku rasakan dulu. Tidak ada yang menyelamatkan aku ketika aku di aniaya dulu. Tidak ada, hiks hiks hiks...!"
Makhluk itu menangis. Carolina lantas berkata.
"Kamu tahu kan rasanya seperti apa, sakitnya seperti apa? maka jangan biarkan orang lain merasakan hal yang sama! bertaubatlah!" kata Carolina.
"Ha ha ha, bertobat katamu? bertobat pada siapa? dimana dia tempatmu bertaubat itu saat aku di aniaya?"
"Kenapa malah menyalah dia, kamu sendiri kenapa bisa sampai di tempat seperti ini?" tanya Carolina yang membuat makhluk itu terdiam.
"Kalau kamu mendengarkan nasehat dari orang yang menyayangi mu. Dan tidak nekat ke tempat seperti ini, kamu juga tidak akan di aniaya. Kenapa menyalahkan orang lain sedang semua adalah akibat perbuatan mu sendiri!"
"Diammmm!" pekik makhluk itu.
"Aku tidak perduli...!"
Makhluk itu lantas mendekati Tia lagi, dan berbisik padanya untuk percaya pada Boy.
Carolina yang kesal lantas menarik makhluk itu.
'Tidak Tia, lari... pacarmu kalau bisa melawan mereka. Sejak tadi sudah dia lakukan!' bisik Carolina.
Mendengar Carolina terus berusaha membuat Tia pergi dari tempat itu. Makhluk rombeng itu langsung menarik rambut Carolina.
"Heh, ngapain tarik-tarik rambut aku. Mau adu jambak, ayo siapa takut!" kata Carolina yang tak mau kalah dan mencoba menarik rambut makhluk rombeng itu.
***
__ADS_1
Bersambung....