Pelita

Pelita
Bab 41


__ADS_3

Di sendang Kali Carang, Mak Kondang benar-benar sedang mengamuk. Dia sudah berusaha mencari keberadaan gadis terakhir yang akan membuatnya bangkit dari kematian. Namun dia tak dapat merasakan sama sekali keberadaannya.


Makhluk-makhluk penghuni sedang Kali Carang sampai lari ketakutan keluar dari sendang tersebut akibat Mak Kondang mengamuk.


Suasana hutan yang biasanya sepi dan hanya terdengar suara suara yang tak dapat di kenali namun dengan pelan, menyayat hati dan memilukan. Malam itu benar-benar penuh dengan teriakan, dan suara terbang para mahkluk meninggalkan hutan.


Banyak pula binatang malam yang berterbangan meninggalkan hutan itu dengan suara-suara mereka yang terdengar mengerikan.


***


Sementara itu di rumah Pelita. Tommy sedang berdiskusi dengan kedua anaknya. Awalnya Tommy juga tak menyetujui Pelita dan Panji terus menerus mengambil resiko untuk menyelamatkan orang-orang itu dari ancaman Mak Kondang.


Akan tetapi setelah mendengarkan penjelasan Pelita dan Panji terhadap apa yang terjadi sebelumnya, kasus tiga pemuda yang hanyut di sungai. Lalu kasus ibunya Arman, juga kasus remaja wanita yang bernama Tia. Dan yang terakhir adalah kasus Raka dan tuan Bowo.


Tommy pun kembali melihat Pelita, putri bungsunya yang tidak di sangka-sangka justru bisa mengetahui ketika seseorang itu sedang dalam bahaya.


Mengingat semua hal itu, Tommy lantas duduk di sebelah Pelita. Tommy mengelus lembut kepala anaknya tersebut.


"Nak, apa kamu yakin?" tanya Tommy.


Pelita pun langsung mengangguk perlahan.


"Papa, jika kita bisa menyelamatkan orang lain. Kenapa kita tidak melakukannya, bukankah papa yang selalu bilang kalau kita harus membantu orang yang membutuhkan. Papa, ada empu Yasa dan... !"


Pelita tidak jadi bicara, karena dia hampir mengatakan tentang Carolina, Jem dan Shaka. Sedangkan Carolina mengatakan kalau jangan beritahu siapapun tentang keberadaan mereka bertiga.


"Dan siapa nak?" tanah Tommy.


"Dan bang Panji!" kata Pelita sambil menoleh ke arah Panji.


Tommy langsung terlihat menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Baiklah, tapi berangkat lah besok pagi, ini sudah malam!"


"Papa, tapi penglihatan ku itu, malam ini. Papa...!"


"Sayang, ini sudah malam nak!"


"Papa, penglihatan Pelita itu waktunya malam hari. Sementara jalan menuju ke tempat itu butuh tiga sampai empat jam. Papa kami harus berangkat sekarang?" kata Panji menjelaskan pada Tommy situasi dan kondisinya.


Panji sadar dia tidak punya kekuatan apapun, namun niat baiknya hanya ingin membantu orang lain dan membantu Pelita. Hasilnya seperti apa nanti, Panji tetap berserah diri pada sang maha pencipta. Beberapa waktu lalu, Panji juga merasakan perubahan perasaan yang luar biasa dalam dirinya.


Membantu Pelita, dan menyelamatkan orang lain. Menurut Panji adalah sesuatu yang sangat berharga. Panji jadi merasa hidupnya berguna. Lebih bermanfaat, dan ada rasa puas yang tak dapat dia jelaskan lewat kata-kata. Karena itu, Panji juga merasa harus pergi bersama Pelita saat ini juga. Karena menurut cerita Pelita di tambah kata mang Untung. Perjalanan ke kampungnya Desa Curigan dusun hilir itu butuh waktu lebih dari setengah hari kalau naik bus. Jika mereka berangkat sekarang, mungkin akan tiba di sana tengah malam. Atau bahkan sebelum tengah malam.


Tapi saat mereka masih melakukan diskusi, tiba-tiba bel pintu rumah Pelita ada yang membunyikan. Asisten rumah tangga Pelita langsung bergegas ke arah pintu utama dan membukakan pintu rumah Pelita tersebut.


"Siapa bi?" tanya Anisa.


"Ini nyah, katanya namanya Devano, mau cari den Panji!" jawab asisten rumah tangga Pelita.


"Suruh masuk bi!" kata Panji.


Asisten rumah tangga Pelita langsung mengarahkan Devano ke ruang tengah.


"Selamat malam om, tante, Panji, Pelita!" sapa Devano sopan.


Panji lantas berdiri dan menuntun Devano untuk duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Panji.


Devano terlihat ragu untuk bicara.


"Maaf sebelumnya, karena waktu itu aku pergi meninggalkan kalian. Aku pikir sudah tidak ada gunanya lagi aku di sana. Tapi saat perjalanan pulang, aku merasa aku harus kembali lagi ke sana. Saat aku ke tempat itu, semuanya sudah hangus terbakar. Salah satu beringin besar di sana bahkan hancur berkeping-keping!"

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruang tengah itu terlihat serius mendengarkan Devano.


"Saat ke rumah tuan Bowo, ternyata Attar dan ibunya sudah meninggal. Tapi Raka selamat. Jadi tujuanku kemari, Pelita... apakah aku boleh pinjam cermin yang di berikan tuan Bowo padamu. Ini sangat penting, nasib adikku tergantung pada cermin kejujuran itu. Aku mohon Pelita!" kata Devano membuat semua yang ada di ruangan itu saling pandang.


'Ternyata benar kata Carolina. Dia memang punya tujuan lain. Tapi ada apa dengan adiknya? tapi bagaimanapun aku kan tidak boleh menyerahkan cermin itu pada Devano!' batin Pelita.


"Cermin kejujuran?" tanya Tommy yang tak mengerti dan kedua anaknya tidak mengatakan tentang cermin itu.


"Iya pa, setelah menyelamatkan Raka. Tuan Bowo memberikan sebuah cermin pada Pelita. Tapi sekarang cermin itu sudah tidak ada pada Pelita pa!" jelas Pelita jujur.


Devano terlihat menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar.


"Tolong Pelita, setelah menyelamatkan adikku. Aku akan kembalikan cermin itu padamu!" desak Devano yang seolah tak percaya pada ucapan Pelita.


Panji yang melihat Devano sedih lantas langsung menepuk bahu sahabatnya itu.


"Devano, Pelita tidak mungkin berbohong! kalau dia bilang cermin itu tidak ada padanya, artinya cermin itu memang sudah tidak ada padanya!" kata Panji mendukung Pelita.


"Lalu dimana?" tanya Devano.


Pelita hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada adikmu?" tanya Panji.


"Ceritanya panjang, aku tidak bisa ceritakan semuanya. Saat itu terjadi aku tidak ada di rumah. Hanya ada ibu dan ayahku, dan kata mereka hanya cermin kejujuran yang mampu melepaskan adikku dari belenggu makhluk yang bernama Umbok!" jelas Devano.


Anisa dan Tommy yang baru kali ini mendengar hal seperti itu lantas merinding.


"Umbok?" tanya Pelita yang memang sering mendengar nama itu di sebutkan ketiga makhluk pelindungnya


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2