Pelita

Pelita
Bab 15


__ADS_3

Sementara itu Shaka sedang berada di kantin sekolahnya Pelita. Shaka melayang ke sana kemari mengikuti ibunya Tia yang sedang berjualan di kantin. Ibunya Tia sedang menyiapkan banyak makanan. Di kantin sekolah ini ibunya Tia berjualan aneka gorengan, dari mulai pisang goreng, tempe goreng, bakwan, tahu goreng, aci goreng, pisang coklat goreng, dan berbagai jenis gorengan lainnya.


Alasan kenapa Shaka berada di tempat itu adalah untuk menunggu ibunya Tia mengingat Tia dan berdoa untuk keselamatan putrinya tersebut. Sebab ketika ibunya Tia mendoakan keselamatan Tia, maka Shaka bisa berubah menjadi angin, api atau bahkan air yang kencang yang akan menyelamatkan Tia di manapun dia berada. Itulah kelebihan yang dimiliki Shaka selain bisa merasakan kehadiran dai musuh terbesarnya yaitu Mak Kondang.


Namun sudah lama Shaka menunggu, ibunya Tia tak kunjung mengingat Tia ataupun mendoakannya. Ibunya Tia mungkin memang tidak sampai memikirkan hal itu dikarenakan kesibukannya saat ini. Dua kompor yang menyala, dan sesekali dia juga harus menata gorengan yang sudah siap dan menyusunnya ke dalam etalase.


Juga merapikan banyak piring dan gelas. Memecah es batu, karena ibunya dia selain menjual gorengan juga menjual aneka jenis minuman es. Bahkan ibunya Tia juga harus menyiapkan sambal-sambal ke dalam botol. Benar-benar sangat sibuk.


Sedangkan Shaka, tak mempunyai kelebihan seperti Carolina yang bisa membisikan sesuatu ke telinga manusia. Dan terdengar oleh manusia yang diberi bisikkan tersebut.


Shaka hanya bisa menunggu dengan gelisah meskipun ekspresi wajah Shaka terlihat datar. Tapi harapan Shaka juga sudah mulai kecil. Karena sejak tadi ibunya Tia benar-benar sibuk.


Sementara itu Jem juga tidak bisa muncul di hadapan Pelita untuk memberitahukannya perihal apa yang terjadi pada Tia. Karena saat ini Pelita sedang berada di dalam ruang kelasnya, dan sedang memperhatikan guru di depan yang sedang menjelaskan tentang pelajaran.


Jem, Carolina dan Shaka tidak bisa muncul di hadapan Pelita kalau masih ada orang lain yang terjaga di sekitar Pelita.


Sadar apa yang dia lakukan percuma, Jem pun menemui Shaka yang masih terus berusaha membaca pikiran ibunya Pelita.


'Haluskan tomat dan sambal!'


Shaka menggelengkan kepalanya begitu mendapati apa yang sedang di pikirkan oleh ibunya Tia.


"Bagaimana?" tanya Jem yang tiba-tiba muncul di depan Shaka.


Shaka pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


'Kemarin bapak kepala sekolah pesan gorengan 50, ya ampun aku lupa. Harus cepat di buat!'


Lagi-lagi Shaka menggelengkan kepalanya,


"Ibu ini terlalu sibuk dengan semua pekerjaannya. Dari tadi yang ada di pikirannya hanya melipat risoles baru piscok, menghaluskan tomat dan sambal, bahkan tentang pesanan gorengan bapak kepala sekolah. Dia sama sekali tidak mengingat anaknya!" kata Shaka dengan wajah tenang.


Jem kemudian diam sebentar dan berpikir.


"Wajar sih, kalau tidak sibuk begini. Ibu ini pasti malah akan sedih terus karena kelakuan anaknya satu-satunya seperti itu. Aku saja kesal melihat saat si Tia itu mendorong ibunya hanya demi ikut dengan pacar berandalannya itu!" kata Jem.


"Carolina bagaimana?" tanya Shaka.

__ADS_1


"Masih berusaha!" kata Jem.


Di tempat lain, pada pria berandal itu sudah menghajar Boy sampai babak belur. Kondisi Tia juga sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Bahkan dua dari tiga berandal yang menghajar Boy sampai pingsan itu sudah menganiaya Tia.


Sementara Carolina masih terus berduel dengan makhluk berambut panjang dan berpakaian rombeng itu.


"Ha ha ha, dia sudah tidak bisa di selamatkan ha ha ha...!"


Pekik makhluk itu dan langsung menghilang begitu saja.


Pandangan Carolina lantas menuju ke arah dimana Tia sedang di aniaya oleh para berandal yang ada di sana bergantian.


"Benar kata pak haji, minuman itu haram. Karena bisa membuat kelakuan, dan perangai manusia menjadi seperti hewan!" kata Carolina yang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi dan akhirnya menghilang.


Carolina menemui Jem pada Shaka di markas mereka.


"Kalian sudah tahu ya?" tanya Carolina.


Ketiganya langsung menunduk.


"Pelita pasti akan semakin sedih mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada Tia besok, ck... seandainya kita bisa menyentuh manusia?" kata Carolina sedih.


Sesosok mahluk dengan rambut hitam sampai mata kaki. Dan dengan bahu putih yang terlihat sangat kotor, penuh dengan noda tanah. Melayang di depan Carolina, Jem dan Shaka.


"Miss K, aku hanya mengeluh. Jangan anggap serius. Kami tak mau menjual jiwa kami demi ilmu itu. Pergilah!" kata Carolina acuh.


"Hihi.. hihi... ya sudah, tapi kapanpun kalian berubah pikiran. Sebut saja namaku tiga kali ya... hihi... hihihi..!"


***


Pulang sekolah, Pelita seperti biasanya menunggu Panji di dekat tempat parkir. Surya pun menghampiri Pelita.


"Mau pulang bareng?" tanya Surya.


Pelita menggeleng pelan.


"Gak Sur, aku pulang bareng bang Panji!"

__ADS_1


"Oh, oke. Duluan ya!"


Pelita mengangguk, dan Surya melambaikan tangannya.


Saat Pelita berbalik ingin mencari tempat yang lebih teduh, dia tidak sengaja menabrak Arman.


"Eh, maaf Man!" kata Pelita.


"Pelita, aku yang minta maaf!"


"Kamu buru-buru sekali?" tanya Pelita.


"Iya, aku harus buru-buru pulang. Adikku Retno, ketakutan kalau di rumah sendirian. Karena ayah sekarang seperti orang linglung!" kata Arman.


Pelita sedikit tercengang.


"Orang linglung?" tanya Pelita.


"Iya Pelita, sejak ayah sadar kalau dia kena guna-guna. Ayah makin aneh, makin linglung. Kadang suka ngomong sendiri, marah-marah tidak jelas. Aku duluan ya Pelita!" kata Arman yang langsung berlari ke arah sepeda motornya.


Pelita hanya bisa menghela nafasnya panjang. Saat ini dia hanya bisa terdiam. Ada rasa kecewa dan sedih dalam hatinya pada dirinya sendiri. Masalahnya dia bisa mengetahui hal buruk yang kemungkinan akan menimpa seseorang tapi dia tidak mampu berbuat apapun. Dia merasa sangat tidak berguna.


"Dek, ayo!" ujar Panji yang menepuk bahu Pelita lalu berjalan di depan Pelita.


Pelita pun mengikuti Panji, begitu tiba di samping motor Panji. Pandangan mata Pelita melihat ke arah spion kaca motor Panji sebelah kiri.


Tapi bukan pantulan dirinya yang terlihat, melainkan seorang wanita dengan kondisi yang amat mengerikan. Darah dimana-mana dan pakaian yang sudah tidak utuh lagi. Matanya melotot ke arah atas, mendelik ke atas dengan tangan dan kaki terkulai tak bernyawa lagi.


"Astaghfirullah!"


Gumam Pelita sambil menangis. Panji yang menyadari adiknya menangis lantas menepuk bahu Pelita.


"Ada apa dek?" tanya Panji.


"Bang, kita harus ke kantin bang. Ayo!" seru Pelita yang langsung menarik tangan Panji untuk segera mengikutinya ke arah kantin.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2