Pelita

Pelita
Bab 11


__ADS_3

Warga yang ada di rumah duka itu di buat terkejut atas apa yang terjadi. Wanita yang sepertinya adalah saudari dari ibunya Arman itu bahkan semakin galak saja. Bahkan saat warga lain datang menghampiri dan berniat membantu melerai, wanita itu malah bertambah gan4s saja dengan raut wajah marah yang sangat mengerikan.


"Mbak Lani sudah... jangan begini mbak. Kasihan, jenazah mbak Nunung juga belum di makamkan. Jangan membuat keributan seperti ini!" kata wanita paruh baya yang berusaha menarik tangan wanita bernama Lani itu saat masih terus berusaha menyiksa wanita beraura hitam menurut pandangan Pelita itu.


Pelita dan teman-temannya yang lain tampak menjauh sedikit dari keributan, sedangkan ayahnya Arman lantas keluar dari dari dalam rumah dengan terburu-buru setelah salah seorang ibu-ibu yang tadi sempat melerai namun tak berhasil masuk ke dalam rumah dan memanggilnya.


"Astaghfirullah, mbak Lani. Lepas mbak. Kenapa mbak seperti ini?" tanya ayahnya Arman seolah tak mengerti apapun.


Setelah di pisahkan oleh beberapa orang pria akhirnya tangan Lani bisa lepas dari rambut perempuan itu. Perempuan itu terlihat menangis, wajahnya memerah.


"Mbak Lani ini kenapa sih? salah saya tuh apa?" tanya perempuan itu yang semakin terisak.


Tapi Pelita bisa melihat dia hanya pura-pura. Sebab tak ada sepersekian detik, Pelita bisa melihat wajahnya menyeringai setelah berakting seperti wanita yang tertindas.


Lani langsung mendorong Afrizal dengan kesal, tatapan matanya menjadi terlihat sangat sedih sekaligus kecewa saat memandang ke arah adik iparnya itu.


"Kamu jahat jal, kalian berdua jahat. Apa salah Nunung. Dia sudah menemanimu dalam suka suka, bahkan saat kalian hidup terlunta-lunta pun Nunung tidak pernah meninggalkan mu. Kenapa begitu kejam pada adik ku. Kenapa berselingkuh dengan wanita tidak tahu malu ini. Dia ini wanita malam yang yang suka merusak rumah tangga orang!"


Semua orang terkejut mendengar apa yang dikatakan Lani. Afrizal lantas mengelak dan memasang ekspresi wajah serius.


"Mbak Lani jangan umbar fitnah ya? saya gak terima saya di fitnah seperti ini...!"


"Fitnah katamu, Nunung sudah tahu semuanya. Dia bahkan menceritakan padaku apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang kamu lakukan kemarin malam di rumah wanita lacur ini!"


Semua warga langsung saling pandang dan saling gunjing.


"Ih, gak nyangka ya. Pak RT kok kayak gitu...!"


"Apa jangan-jangan, Bu Nunung bunuh diri karena gak sanggup di selingkuhin!"


"Astaghfirullah...!"


Mendengar para warga bergunjing, Afrizal pun lebih marah lagi.


"Mbak Lani, jaga mulut mbak ya. Gak ada buktinya... siapa yang tahu mbak berkata jujur atau tidak?" tanya Afrizal.


Lani yang memang sudah tidak tahan dengan apa yang sudah menimpa adiknya lantas berdiri tegap di hadapan Afrizal tanpa rasa takut dan berkata.


"Aku bahkan yakin adikku tidak bunuh diri...!"

__ADS_1


Semua warga tercengang, mereka kembali berbisik-bisik. Pelita juga sempat mendengar wanita paruh baya di sebelahnya berkata.


"Iya, saya pun tak yakin Nunung bunuh diri, dia semalam masih ketemu sama saya. Dari warung, habis beli susu buat Retno. Dia juga bilang dua hari lagi mau nemenin Retno lomba pidato. Kayaknya gak mungkin...!"


Pelita lantas melihat ke arah wanita yang di sebut-sebut sebagai wanita malam itu. Pelita bisa melihat wajah terkejutnya dan sepertinya wanita itu mulai cemas. Dia tidak lagi berdiri dengan tegak. Kakinya terus bergerak ke sana dan kemari.


"Apa maksud mbak Lani?" tanya Afrizal sambil memekik.


"Baiklah, kalau kalian memang tidak bersalah. Kalian pasti tidak takut kan kalau aku lakukan penguburan ayan hitam di makam Nunung nanti...!"


"Astaghfirullah!"


"Astaghfirullah!"


Pelita cukup bingung kenapa begitu wanita yang bernama Lani itu ingin melakukan penguburan ayam hitam di kuburan ibunya Arman semua orang tampak terkejut dan sepertinya sangat tidak menyangka.


"Mbak Lani ini apa-apaan sih... itu gak boleh di lakukan... itu...!"


Afrizal tampak gugup.


"Kalau memang kalian gak salah kalian gak akan takut!"


Tapi salah seorang warga langsung maju mendekati mereka.


"Iya, kalau gak salah gak usah takut. Saya juga gak percaya kalau ibu Nunung bunuh diri!" kata seorang warga yang sepertinya sangat mengenal ibu Nunung.


"Iya, setuju!"


Bahkan wanita yang tadi bicara di samping Pelita, yang sempat mengatakan kemungkinan yang sama pun ikut maju dan berseru.


"Iya, saya tahu betul itu si Nunung, dia mah sabarnya manusia. Gak mungkin lah Nunung bunuh diri!" katanya dengan lantang.


Mendapatkan dukungan banyak warga, Lani terlihat sangat bersyukur. Dia bahkan sampai menangis saat menoleh ke belakang dimana para warga yang mendukungnya untuk mengungkap keadilan sebenarnya berada.


Membuktikan sesuatu yang tidak ada saksi lain, dan juga bukti nyata memang sulit. Bagi Lani, ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kalau ada yang tidak benar uang terjadi pada adiknya.


Setelah di sholatkan, jenazah Nunung pun di bawa ke pemakaman. Afrizal dan wanita bernama Mala itu pun hanya bisa pasrah saat para warga juga menjaga mereka agar tidak sampai kabur.


Ayam hitam yang sejak tadi di gendong oleh Arman juga ikut di kuburkan saat jenazah Nunung dimasukkan ke liang lahat. Seorang yang memang di tuakan di daerah itu. Juga merupakan warga membaca sesuatu sebelum ayam itu di masukkan ke dalam liang.

__ADS_1


Suara ayam yang sepertinya sangat takut dan ingin kabur namun tak dapat bergerak membuat Afrizal dan Mala berkeringat dingin.


Hingga suara ayam pun tak terdengar lagi, ketika makam itu sudah di timpa dengan tanah dan membentuk sebuah gundukan.


Bugh


Afrizal dan Mala jatuh bersamaan, Afrizal masih berusaha menahan beban tubuhnya menggunakan lutut. Namun Mala sudah kejang-kejang di tanah sambil terus memegang lehernya yang sepertinya tak bisa bernafas.


"Astaghfirullah!"


"Astaghfirullah"


Pelita beristigfar, dia tidak menyangka kalau ternyata bisa ada hal yang seperti ini terjadi di depan matanya.


"To... tolong...!" lirih Mala yang sepertinya sudah tidak sanggup lagi menahan nafasnya yang tercekat.


Afrizal yang limbung pun akhirnya jatuh pingsan.


Dan para warga malah menjauh ketika Mala kejang-kejang dengan mata melotot dan lidah terjulur sama persis ketika Nunung di temukan Arman semalam.


Beberapa saat kemudian, Mala sudah tak bergerak lagi. Dengan kondisi yang begitu mengerikan. Tubuhnya bahkan mengeluarkan aroma yang sangat busuk.


Dan seketika Afrizal lantas tersadar.


"Aku di mana ini? loh bapak-bapak, ibu-ibu... siapa yang meninggal?" tanya Afrizal yang di bantu warga untuk bangun.


Lani lantas menghampiri adik iparnya.


Plakkk


"Dasar laki-laki bodohhh! makanya sholat, makanya iman itu yang kuat. Gara-gara kamu kena guna-guna. Adikku meninggal!" keluh Lani sambil terisak.


Afrizal langsung memeluk pusara Nunung dan menangis sejadi-jadinya.


Pelita dan para warga yang melihat hal itu begitu sedih, tapi mereka juga kecewa pada ayahnya Arman.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2