Pelita

Pelita
Bab 46


__ADS_3

Pelita, Panji dan Devano sedang dalam perjalanan pulang, semula perjalanan mereka aman-aman saja. Biasa saja. Sampai di dekat jalan yang menuju ke arah kota terlihat sebuah pohon besar tumbang di depan mereka.


"Gak bisa lewat ini, gimana?" tanya Panji pada Devano.


"Pohon ini terlalu besar, kita gergaji pinjam alat ke warga sekitar juga tidak akan bisa mengangkat bongkahannya!" kata Devano.


"Jadi bagaimana?" tanya Panji lagi.


Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba dari arah lain terlihat seorang seperti petugas kehutanan. Dengan topi bertuliskan perhutani.


"Wah, pohon ini tumbang juga. Padahal besok rencananya kami baru mau tebang!" kata pria tersebut.


"Adek-adek ini mau kemana?" tanya pria itu pada Pelita, Panji dan Devano.


"Kami mau ke kota pak, tapi sepertinya tidak bisa lewat. Jadi bapak petugas? apa pohon ini akan segera di evakuasi?" tanya Panji.


"Iya, saya petugas. Tapi alatnya baru datang besok. Maklum banyak prosesnya, dan alat berat juga gergaji mesin kami di desa tidak ada. Harus order dari kota dulu!" kata petugas itu.


"Jadi baru bisa lewat besok dong pak?" tanya Pelita.


"Iya dek!"


Pelita, Panji dan Devano pun saling pandang. Mereka berpikir, apa mereka harus kembali ke rumah mang Untung lagi. Tapi akan sangat merepotkan nanti.


"Apa tidak ada jalan lain pak?" tanya Devano.


"Oh, ada ada. Tapi lewat hutan, karena kalian pakai motor mungkin bisa. Coba saja kalian lurus ke arah sana!"


Kata petugas itu menunjuk ke sebuah arah. Pelita dan yang lain pun mengikuti arah yang di tunjuk oleh orang tersebut.


"Nah, di sana ada jalan yang biasa di lewati pencari kayu atau pembawa hasil kebun yang ada di hutan. Ikuti terus saja, nanti akan ada jalan raya!" kata petugas itu.


"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih pak!" kata Panji sopan.


"Sama-sama, hati-hati. Meskipun jalannya tidak licin karena memang tidak hujan. Tapi banyak binatang yang tiba-tiba lewat, kadang biawak, kadang ular. Kalau kalian kaget kan bahaya, pokonya hati-hati ya!" kata petugas itu.


Dan ketiganya pun mengangguk bersamaan. Setelah itu mereka pun pergi melewati jalan setapak itu. Jalannya memang benar-benar hanya setapak. Benar-benar hanya bisa di lewati satu kendaraan roda dua saja. Kalau ketemu kendaraan roda dua yang beda arah. Sudah pasti akan ribet jadinya.

__ADS_1


Kanan kiri tempat itu benar-benar hutan belantara. Tapi jalan itu juga seperti sudah sering di lewati karena terlihat rumputnya sudah tak tumbuh lagi di jalan itu. Hanya tanah yang terlihat dan di kanan juga di kirinya rerumputan.


Suara khas hewan hutan juga terdengar, burung bersahut-sahutan lalu suara monyet yang berseru-seruan dan entah suara apa lagi yang bahkan seperti sebuah opera tanpa musik di tengah hutan.


Cukup lama mereka mengikuti jalan itu, hingga akhirnya sampai tengah hari. Akhirnya mereka menemukan jalan raya.


"Wah, jauh juga ya. Aku jadi paham kenapa mama bilang gak boleh nawar penjual sayuran atau buah keliling. Perjuangan mereka membawa hasil kebun mereka ke kota pasti benar-benar sangat melelahkan!" kata Panji yang berhenti sebentar untuk minum.


Pelita hanya mengangguk setuju. Panji lalu melihat ke indikator bensin di motornya.


"Devano, bensin kamu masih aman? punyaku hampir habis?" tanya Panji pada Devano yang juga tengah minum.


Setelah meletakkan botol minumnya, Devano melihat ke arah indikator bensin nya juga.


"Sama bro, dikit lagi. Cari pom bensin dulu!" kata Devano.


Mereka lalu sama-sama mengambil ponsel mereka dan melihat di aplikasi maps mereka dimana letak pom bensin terdekat.


"Gak jauh, bisalah sampai sana!" kata Devano.


Pelita yang hanya diam saat itu sebenarnya bukan tidak paham percakapan antara Devano dan Panji.


Tapi dia melihat aura hitam pekat di jalan raya yang ada di sebelah kanannya. Pelita terus memperhatikannya, aura hitam pekat itu membuatnya benar-benar merinding.


Pelita berpikir, apakah ada banyak makhluk tak kasat mata di sana. Sayangnya dia tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata jika memang tidak ada hubungannya dengan vision-nya selain Carolina, Jem dan Shaka.


Tapi perasaan yang sangat tidak nyaman benar-benar membuatnya tak ingin pergi dari sana. Seperti akan terjadi sebuah hal buruk di tempat itu.


Apalagi ketika Panji malah memutar arah motor ke sebelah kanan itu.


"Loh bang, kok kesana?" tanya Pelita.


"Kan pom bensinnya di sana dek!" jawab Panji.


Pelita pun terdiam, perasaan nya benar-benar terasa sangat tidak nyaman, tidak enak dan tidak tenang.


"Nanti dulu saja bisa ya bang. Aku punya firasat tidak enak!" kata Pelita mengutarakan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Devano yang bisa merasakan Pelita tidak berbohong lantas berkata.


"Bro, tunggu di sini aja bentar. Sampai feeling adek kamu baik lagi!" kata Devano dan di angguki Panji.


Lalu sebuah minibus putih melaku cepat di depan mereka. Dari arah berlawanan terdengar sebuah truk besar membunyikan klakson yang begitu kencang.


Mata Devano dan Panji melebar ketika melihat mini bus yang tadi melaju kencang itu kehilangan kendali karena berusaha mengerem lajunya yang cepat.


Teriakan histeris sudah terdengar dari minibus yang sepertinya penuh dengan penumpang itu. Truk yang sepertinya remnya blong itu juga terlihat kehilangan kendali.


Pelita sudah hampir menangis melihat tabrakan yang mungkin sudah tidak bisa terelakkan lagi. Dan kalau sampai itu terjadi di depan matanya, itu pasti sangat mengerikan.


"Astaghfirullah!" Panji dan Devano hanya bisa menyerukan hal itu.


"Tolong jangan sampai itu terjadi! Berhenti!!!"


Tanpa sadar, dan secara spontan. Pelita mengarahkan tangannya ke depan, ke arah dua mobil yang setengah meter lagi nyaris adu banteng.


Setelah mengatakan itu, pelita menutup matanya karena dia yakin tak akan sanggup melihat peristiwa mengerikan itu terjadi di depan matanya.


Namun beberapa detik kemudian, dia tidak mendengar apapun. Pelita membuka matanya lagi dan ternyata kedua mobil itu berhenti. Bukan hanya kedua mobil itu yang berhenti bergerak. Panji dan Devano juga diam seperti patung.


"Apa ini?" tanya Pelita yang kebingungan.


Tapi daripada kebingungan, Pelita langsung berlari dan membuka pintu minibus itu. Pelita menarik satu persatu orang yang ada di dalam mini bus tersebut.


Dua orang pria paruh baya, tiga orang wanita dengan satu orang wanita paruh baya dan dua orang wanita muda. Juga seorang bayi kecil yang sepertinya belum ada satu tahun. Pelita menarik semuanya keluar dari dalam mobil dan meletakkan mereka di dekat Panji dan Devano.


Peluh benar-benar sudah membasahi seluruh tubuh Pelita. Dia bahkan berusaha membuka pintu truk tersebut. Tapi sangat sulit.


Namun Pelita tak menyerah, dia bahkan berusaha membuka pintu itu sampai berhasil terbuka. Pelita juga langsung membawa turun supir truk itu. Entah tenaga darimana pelita bisa melakukan semua itu. Sampai ketika dia menyeret supir truk itu ke tempat dimana yang lain berkumpul, akhirnya dia terjatuh ke tanah, dan...


Brakkkkk


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2