
Pelita melihat rumah yang auranya begitu hitam pekat.
"Bang, itu rumahnya. Cepat!" kata Pelita pada Panji.
Setelah Pelita berkata seperti itu, Panji langsung mempercepat laju motornya menuju rumah yang di tunjuk oleh Pelita.
Rumah sederhana, biliknya juga hanya dari papan kayu. Dan terdengar suara tangisan dan suara perempuan yang mengeluh sakit.
Pelita langsung turun dari motor abangnya begitu Panji menghentikan motornya. Seperti kata empu Yasa tadi, Pelita langsung melemparkan satu persatu baru ke arah atap rumah, dengan setiap kali melemparkan satu batu, Pelita mengucapkan kalimat takbir.
Devano dan Panji begitu terkejut, karena suara dari lemparan batu Pelita yang di sertai kalimat takbir itu bukan suara seperti batu yang terlempar ke atas genting. Suaranya sangat keras seperti sebuah petasan korek berukuran besar.
Boom
Bahkan asap putih tebal mengepul di atap setelah itu.
"Agkhhh!"
Pekik Serena yang terkena lemparan batu dari Pelita. Sementara Umbok masih sibuk berusaha mengambil janin yang ada di perut Dasimah.
Batu kedua terlempar ke atas.
Boom
Tangan Umbok bahkan seperti terbakar terkena lemparan batu yang kedua.
"Kita tidak bisa melanjutkannya...!" kata Umbok yang sudah mulai khawatir.
"Siapa manusia itu, kenapa dia bisa menggunakan kekuatan seperti ini... akhggg.."
Serena benar-benar sudah sangat kesakitan.
"Tidak bisa Serena, kita tidak bisa bertahan. Ini batu Aji Geni, satu lagi lemparan kita bisa musnah... ayo!"
Umbok lalu membawa Serena terbang. Dan benar saja, satu lemparan terakhir ledakannya benar-benar lebih dahsyat dari yang kedua sebelumnya tadi.
Booooommm
__ADS_1
Anehnya kali ini justru tidak ada sama sekali asap mengepul seperti dua kali lemparan batu yang sebelumnya.
"Bang, masuk lihat ke dalam!" kata Pelita.
Panji dan Devano lantas masuk ke dalam. Pelita melihat ke sekeliling atap rumah, sekilas tadi dia melihat cahaya putih melesat pergi.
Merasa sudah aman, Pelita juga masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah di dobrak oleh Devano. Karena tak bisa di buka.
Begitu pintu di dobrak, anak-anak Dasimah ketakutan dan tambah menangis.
Dasimah juga terlihat masih merintih kesakitan dan terus memegangi perutnya.
"Tenang, tenang adek-adek, kakak mau bantu kalian!" kata Panji menenangkan kedua anak Dasimah.
Sementara Devano memeriksa Dasimah yang sudah pucat.
"Kita harus bawa ke rumah sakit atau puskesmas. Tapi kita tida tahu dimana letak puskesmas atau rumah sakit di sini!" kata Devano.
Pelita yang sudah ikut masuk, melihat perut Dasimah masih besar pun langsung mendekat ke arah Dasimah.
"Bu, ibu bisa dengar saya Bu. Istighfar Bu, istighfar. Astaghfirullahaladzim!"
"Istighfar Bu, astaghfirullahaladzim!"
Pelita tak berhenti membantu Dasimah sampai wanita yang tengah hamil itu mengucapkan istighfar.
"Sekarang kita harus bawa ibu ke rumah sakit, ibu tunjukkan pada kita dimana rumah sakit atau puskesmasnya ya!" kata Pelita dan langsung di angguki oleh Dasimah.
Meski masih sambil meringis menahan sakit, Dasimah pun di bawa ke puskesmas terdekat oleh Panji dan Devano. Sementara Pelita, menemani dua anak Dasimah di rumah.
"Kalian jangan menangis lagi ya, kita doakan sama-sama ya, supaya ibu dan calon adik bayi kalian selamat!" kata Pelita berusaha menenangkan kedua anak Dasimah.
"Tadi ada yang meledak di atas kak.. aku takut!" kata anak sulung Dasimah.
"Iya, kakak juga dengar. Tapi tidak apa-apa, tidak akan terjadi ledakan seperti itu. Yang penting kalian harus rajin ibadah dan selalu ingat sama Tuhan. Dan jangan panik ya, lain kali kalau terjadi seperti itu, maksudnya ibu kalian kesakitan, kalian jangan panik. Kalian harus berani keluar dan cari bantuan, kalian harus cari pertolongan. Pergi ke tetangga, ketuk pintu mereka dan katakan apa yang terjadi. Ya!" kata Pelita yang langsung di angguki oleh anak sulung Dasimah.
Sementara itu di puskesmas. Dokter yang menangani Dasimah terkejut. Ternyata janin yang ada di rahim Dasimah sudah berputar posisinya. Dia sampai bingung, kalau seperti itu posisinya maka Dasimah akan merasa sakit terus.
__ADS_1
"Bagaimana ini, posisinya janinnya kalau terus begini maka ibu ini akan terus kesakitan seperti ini!" kata dokter yang menyadari betul kalau dia sepertinya tak sanggup menangani pasien.
Dia panik, tidak ada peralatan medis yang memadai di puskesmas untuk kasus yang terjadi pada Dasimah ini.
Devano dan Panji yang mendengar hal itu juga Panik. Tapi kemudian Devano ingat sesuatu yang pernah terjadi di keluarganya. Saat itu bibi Devano bayinya juga malang(istilah yang di pakai keluarga Devano waktu itu untuk posisi bayi yang seperti pada Dasimah tersebut).
Dan Devano ingat kalau saat itu, kakeknya memanggil seorang ustadz untuk membenarkan posisi bayi tersebut. Seingat Devano, ustadz itu memberikan satu botol kecil air mineral yang di pakai untuk minum dan menyiram perut bibinya tersebut. Setelah itu posisi janin bibinya kembali normal.
Mengingat semua hal itu, Devano langsung bertanya pada seorang suster di sana.
"Sus, apa di sini ada ustadz atau pemuka agama lain?" tanya Devano.
Suster dan dokter, juga Panji langsung melihat ke arah Devano.
"Ustadz ya, oh.. ada ustadz Komar! di ujung jalan kampung ini!" kata suster itu.
"Suster, bisa tolong tunjukkan pada saya dimana rumah ustadz Komar itu. Ayo sus!" kata Devano.
Merasa kalau apa yang akan di lakukan Devano untuk membatu pasien. Dokter itu lantas meminta suster tersebut ikut dengan Devano dan menunjukkan dimana rumah ustadz Komar.
Beberapa saat kemudian Devano tiba di sebuah rumah yang letaknya di ujung jalan kampung.
"Ini mas rumah pak ustadz Komar!" kata suster itu yang sudah turun dari atas motor Devano sesaat setelah Devano menghentikan motornya.
Devano lantas cepat turun dari motor juga, lalu bergegas mengetuk pintu rumah pak ustadz Komar tersebut.
Tok tok tok
Cukup lama Devano mengetuk, sampai akhirnya beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki dan kunci pintu yang terbuka.
Ceklek
"Assalamualaikum, kamu siapa ya? ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang memakai baju terusan putih panjang sampai ke mata kaki.
"Waalaikumsalam, pak ustadz. Tolong bantu kami pak ustadz, tolong ikut kami!" kata Devano mendesak.
***
__ADS_1
Bersambung...