Pelita

Pelita
Bab 20


__ADS_3

Panji kembali ke sekolah dengan perasaan yang begitu campur aduk. Panji yang awalnya tidak percaya dengan berbagai hal berbau bau seperti itu pun sekarang menjadi bingung sendiri.


Dia sekarang mengerti kenapa adiknya beberapa hari ini terlihat aneh, dan terlihat hidupnya itu penuh dengan beban.


Panji memarkir kendaraan nya di tempatnya semula tadi. Kemudian dia pergi ke kelasnya. Namun begitu dia tiba di kelasnya, banyak teman-temannya yang langsung bertanya padanya. Karena saat itu sedang tidak ada gitu di kelas Panji.


"Gimana? gimana?" tanya salah seorang teman Panji.


Panji yang baru duduk di kursinya dan meletakkan tasnya pun hanya menanggapi pertanyaan temannya itu dengan santai.


"Gak gimana gimana!" kata Panji santai.


.


"Ck... elah Panji. Kepo nih kita. Beneran ya kasusnya Tia anaknya ibu kantin itu di tutup? kasihan banget sih, Tia belum dapat keadilan loh, udah di tutup aja kasusnya!" kata Murni salah satu teman Panji juga.


Panji terdiam, padahal dalam hatinya dia berkata.


'Huh... apa mungkin Tia membuat keadilan untuk dirinya sendiri. Ah, aku kok belum percaya ya, kalau arwah itu bisa cekik orang!'


Melihat Panji yang malah bengong, teman Panji yang tadi bertanya pun menepuk lengan Panji lumayan keras.


Plakkk!


"Lah dia malah bengong!" protes temannya itu.


"Ah sudah, aku gak ngerti. Sudah gak usah di bahas lagi. Biar tenang mereka di alam sana. Sini buku catatan kamu Murni, mau aku salin!" kata Panji yang tak ingin membahas masalah ini lebih lanjut.


Karena menurut Panji, membahas masalah ini lebih jauh lagi. Bukan jawaban yang dia dapatkan. Tapi malah dirinya akan menjadi semakin bingung saja. Jadi lebih baik dia meminjam buku catatan Murni, dan mencatat semua pelajaran yang tertinggal karena dia harus pergi ke kantor polisi tadi.


Sementara Pelita terlihat kurang fokus. Nilai latihannya hari ini bahkan hanya 65. Padahal biasanya nilai paling kecil bagi seorang murid yang rajin seperti Pelita adalah 75. Itu sudah yang paling kecil diantara nilai yang dia dapatkan selama ini.


Riri juga sampai heran.

__ADS_1


"Kok bisa Pelita, nilai kamu segitu?" tanya Riri yang bahkan tidak percaya kalau nilai yang didapatkan Pelita bahkan lebih kecil daripada nilai yang dia dapatkan yaitu 68.


Pelita hanya mengangkat bahunya sekilas.


"Aku lagi gak bisa menangkap materi dengan baik hari ini. Kepalaku pusing!" kata Pelita.


"Istirahat ini kita ke UKS yuk!" ajak Riri yang terlihat mengkhawatirkan keadaan Pelita.


Pelita pun hanya mengangguk setuju. Setelah bel istirahat kedua berbunyi. Riri dan Pelita pun ke UKS bersama-sama. Petugas disana memeriksa Pelita. Dan memang tekanan darah pelita sangat rendah. Kata petugas tersebut, Pelita mengalami gejala kurang darah.


Setelah di beri obat penambah darah oleh petugas tersebut Riri dan Pelita pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka. Tapi baru sampai di koridor dekat aula. Mendadak Riri sakit perut.


"Aduh, Pelita. Perut aku mulas. Kamu duluan aja, aku ke toilet dulu!" kata Riri sambil memegang perutnya.


"Aku temani ya?" tanya Pelita menawarkan diri.


"Tidak usah Pelita, kamu duluan saja ke kelas. Kamu harus minum obat itu segera!" kata Riri yang langsung berlari ke arah toilet yang ada di dekat aula.


Pelita mengintip dari celah jendela kaca yang tertutup tirai dari dalam. Tapi dia tidak melihat apapun. Tapi Pelita yang masih penasaran dengan suara orang tersebut, milih untuk memutari gedung C sekolahnya itu dan berjalan mengarah ke arah belakang laboratorium bahasa Inggris tersebut.


Kalau telinga orang normal, suara yang timbul dari belakang gedung C itu tidak akan bisa terdengar jika orang itu tidak sengaja berteriak sekuat tenaganya. Makanya dari sekian banyak siswa-siswi yang lewat di sana, hanya Pelita saja yang merasa suara itu begitu jelas. Sampai dia berjalan menuju ke balik tembok, dan Pelita langsung mengehentikan langkahnya.


Yang dia lihat saat ini adalah seorang siswi kelas 10, sama seperti dirinya sedang di keroyok beberapa orang siswi yang sepertinya siswi senior. Pelita mengenali salah satunya adalah siswi kelas 12. Masih satu kelas juga dengan kakaknya Panji.


Siswi itu terlihat menunduk sambil menutupi bagian kepalanya yang sejak tadi rambutnya terus berusaha di tarik-tarik oleh seniornya. Bahkan ada yang menendangnya dengan sengaja.


"Hei, kalian sedang apa?" teriak Pelita yang tak takut sama sekali.


Karena dia merasa dia masih ada di lingkungan sekolah. Pasti kalau dia berteriak akan ada yang menolongnya.


Begitu mendengar suara Pelita, para senior itu langsung menoleh ke arah Pelita.


"Adiknya si Panji. Sudahlah, kita pergi saja!" kata siswi yang merupakan teman sekelas Panji.

__ADS_1


Setelah ketiganya pergi, Pelita langsung berlari mendekati siswi yang di keroyok itu.


Keadaan siswi itu terlihat sangat menyedihkan, dengan rambut acak-acakan, pakaian yang sakunya sudah sobek, bahkan roknya juga sudah kotor karena terkena tendangan sepatu dari orang-orang yang mengeroyoknya tadi.


"Kamu bisa bangun?" tanya Pelita sambil menuntunnya untuk berdiri.


Siswi itu terlihat menangis.


"Kamu dari kelas berapa? kenapa kakak-kakak tadi mengeroyok kamu? kamu di palak?" tanya Pelita yang menduga kalau Kakak kelasnya tadi memalak atau meminta uang pada siswi yang tengah menangis di depan Pelita itu.


"Aku Dian, baru pindah beberapa hari lalu. Kak Galuh itu. Kakak tiri aku!" kata siswi itu membuat Pelita terkejut.


'Jadi teman bang Panji itu kakak tirinya Dian. Kok malah jahat banget sih? apa emang semua saudara tiri begitu?' batin Pelita sedih.


"Ya ampun, kok bisa sih kakak kamu meskipun kakak tiri berlaku seperti ini sama kamu. Ya sudah, kita ke UKS yok...!"


Tapi baru akan di ajak ke UKS. Dian malah menarik tangan Pelita. Ketika Pelita menoleh ke arah Dian, Pelita melihat Dian menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan... kalau ada yang tanya, nanti kak Galuh semakin kasar sama aku di rumah!"


Mendengar penjelasan Dian, akhirnya Pelita hanya mengajak Dian ke toilet saja untuk merapikan rambutnya dan membersihkan roknya yang kotor.


"Kamu gak bilang sama orang tua kamu kalau kelakuan kakak kamu seperti itu?" tanya Pelita.


"Aku sudah cerita sama ayah, tapi setiap ibunya kak Galuh ngomong sama ayah. Aku malah yang dimarahi, ayah seperti sangat menurut sama ibunya kak Galuh. Kata bibi yang kerja di rumah, mungkin ayah kena pellet!"


Mata Pelita melebar mendengar kata terakhir yang di ucapkan Dian.


'Pellet? apalagi itu?' batin Pelita yang merasa hal itu pasti ada hubungannya sama yang begitu-begitu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2